"Haya"
Tak tertahan lagi tiba-tiba Giok-liong berteriak kejut, saat itu baru dilihat tegas olehnya bahwa perempuan yang lari pontang- panting itu bukan lain adalah Hiat-ing Kong-cu Ling soat-Yan.
Dilain pihak agaknya Putri bayangan darah Ling soat-yan juga sudah melihat Giok liong, saking girang ia berterik keras minta tolong sambil terus berlari dengan kencang.
"M a Giok liong Engkoh Liong"
Meskipun beribu kali tidak sudi turut campur urusan orang lain juga tidak mungkin lagi bagi Giok liong.
Karena itu tubuhnya yang meluncur berderap kedepan mendadak melembung tinggi menerjang ke depan seperti luncuran anak panah dengan gaya Hong-hong-i-hwi (burung hong terbang) terus menubruk kedepan, tangkas sekali kedua tangannya menyanggah kedua pundak Hiat-ing Kong-cu Ling soat yan, mulutnya bertan gugup "Nona Ling kenapa kau?"
Air muka putri bayangan darah Ling soat yan pucat pasi, rambutnya awut-awuran, napasnya ngos ngosan, begitu melihat Giok-liong seperti melihat handai taulan terdekat.
segera menubruk kedalam pelukan Giok- liong terus meluncur turun bersama, setelah berdiri dengan tergegap dan tersengal ia berkata susah payah "Binatang itu- - -dia memukul mati Chiu-ki, berani berbuat kurang ajar pula terhadapku, dia- - -"
Seketika berkobar hawa amarah Giok-liong, menepuknepuk pundak orang ia berkata gusar.
"sampah dunia persilatan biar aku memberi hajaran kepadanya."
"Apakah kau mampu?"
Seiring dengan ejak dingin tanpa perasaan ini muncullah seorang pemuda berpakaian serba putih berdiri setombak lebih.
Pelan pelan Giok- liong melepaskan Ling Soat-Yan, waktu ia angkat kepala hendak mengumbar kemarahannya tak duga seketika ia berdiri melongo terkejut bukan kepalang tanpa merasa kakinya tersurut mundur dua langkah setelah menyedot hawa dingin mulutnya tak kuasa berseru kejut dan heran.
Di lain pihak pemuda baju putih itu juga terkejut waktu melihat wajah Giok-liong berbareng mulutnya juga menjerit kaget.
Giok liong menjublek ditempatnya, hatinya membatin.
"Dikolong langit ini masa ada kejadian begini bebetulan, bagaimana mungkin wajahnya persis benar dengan aku?"
Sementara itu pemuda baju putih itujuga tengah berpikir.
"Apa kau melihat setan di siang hari bolong Kenapa ia serupa benar dengan aku seumpama saudara kembar"
Sebab kedua orang yang berhadapan ini bentak tubuhnya serta muka dan segala ciri cirinya persis benar seperti pinang dibelah dua- Hanya hawa perwatakan ditengah alis merekalah satu satunya ciri khas yang dapat membedakan sifat mereka.
Kecuali hawa perwatakan ditengah alis pemuda baju putih kurang bersih dan guram malah kentara juga sifat bangor dan nakalnya, selain itu tiada perbedaan lain yang lebih menyolok, apalagi kalau tidak ditegasi juga sulit dapat melihat pertanda perbedaan yang khas ini begitulah setelah berselang agak lama masing-masing mematung berdiri berhadapan.
Terdengar Giok liong berkata lantang.
"siapakah tuan ini ? Kenapa dialam pegunungan liar ini menganiaya dan mengejar ngejar seorang perempuan jelita ? Apa kau tidak takut merusak nama baikmu serta nama harum perguruanmu?"
Karena rupa pemuda itu persis benar dengan Giok-liong maka kata-kata yang diucapkan ini rada sungkan dan tuanya bersifat menegor saja. setelah tercengang sebentar pemuda baja putih terlorohloroh menengadah.
"Kau tanya aku ? seharusnya aku yang tanya padamu ?"
"Aku yang rendah Ma Giok- liong ..."
"Ma Giok liong Hahahaha"
"Kenapa tuan tertawa ?"
"Dicari merusakan sepatu besi tak keketemu, sekarang ketemu disini tanpa susah payah Ha sungguh kebetulan sekali "
"Tuan kenal Ma Giok liong ?"
"Tidak, hitung-hitung pernah dengar akan namamu. itu "nada perkataan pemuda baju putih ini rada menghina dan mengandung sindiran lagi tanpa mengenal sopan, Giok-liong berlaku sabar, sahutnya tertawa tawar.
"o, begitu ?"
"Tak heran gadis genit macam keluarga Ling ini begitu melihat aku lantas nanjang pendek dia memanggil aku dengan sebutan Engkoh Liong apa segala dengan mesra dan penuh kasih sayang. Ternyata kalian mempunyai hubungan begitu erat dan rapat, Ma Giok- liong sungguh bahagia hidupmu ini."
Giok-liong menjadi mengerut kening, katanya keras.
"Tuan bicaralah kenal sopan santun dan tata kehormatan "
"Hahahaha Hormat dan sopan santun Apa yang dinamakan sopan santun, jangan kau pura-pura, berlaku sebagai sosiawan, mulutmu mengundal kata bajik dan berbuat susila apa segala hakikatnya kau sendiri menjual tampang memikat kaum perempuan, apakah kau dapat mengelabui mata jeli dari tuan mudamu ini?" "Tutup bacotmu "
Giok liong menjadi berang, suaranya terdengar lantang penuh kemarahan.
"siapa nama tuan ini, dari aliran atau perguruan mana, sebutkan dengan jelas, perlu kiranya aku yang rendah menyelesaikan urusan ini secara adil "
"Kau tanya padaku?"
"ya, tanya kau "
"Kalau kau tanya aku, kau harus ganti dulu nama busukmu itu "
"Haha Hm, hm Asal kau dapat menyebutkan alasannya, aku Ma Giok- liong sedang setegang apa saja boleh kulakukan "
"Baik- berdirilah kuat dan tegak Aku orang she Ma sejak kecil makan nasi sampai besar, bukan bangsa kurcaci yang gampang di gertak silakan katakan"
"Tuan mudamu inijuga she Ma"
"Betapa besar dunia ini, entah berapa banyak orang yang mempunyai she Ma, tak perlu di buat heran "
"Tuan mudamu ini bernama Ma Giok-hou"
"Ma----Giok- - -Hou "
Seketika Giok-liong berdiri kesirna, hatinya sambil menjublek ditempatnya.
"Ma Giok-hou? Masih teringat olehnya bahwa ibunya pernah berkata bahwa dia masih punya seorang adik laki-laki, bukankah ia bernama Ma Giok-hou?"
Karena ingatannya tergetar hatinya, cepat ia berseru.
"Giok-hou Kau adalah. -adikku "
"Cis Kentutmu busuk "
Ternyata kata pengakuan Giok-liong ini membuat pemuda baju putih itu menjadi murka, setelah berludah ia berkata menghina .
"Ma Giok-liong Kau sedang mimpi Tuan mudamu ini adalah adikmu? Kecuali kau lahir pada jelmaan yang akan datang"
Wajah Giok-liong menjadi panas, terasa bahwa tadi ia telah salah omong terpaksa tertawa getir, ujarnya.
"Kalau begitu, ya sudah, harap maaf akan kesalahan omonganku."
Lalu ia angkat tangan menjura dalam. Dengan sikap gelak dan besar-besaran pemuda baju putih mendengus jengeknya.
"Hm, tidak tahu diri"
Rasa curiga Giok liong masih belum hilang, katanya sambil tertawa.
"Tuan tamatan aliran kenamaan apakah boleh memberi tahu dari perguruan mana?"
"Boleh, tentu boleh. Kau sangka tuan mudamu ini tidak punya akar tak punya aliran "
"Sudah tentu begitu tentu.. ."
"Tuan mudamu hidup dibesarkan dilaut utara, menetap dalam Hwi thiat-hay"
"o Hwi thian hay Ma Hun dari laut utara, Ma-loeng-hiong entah ada hubungan apa dengan tuan?"
"Beliau adalah ayahku "
"Maaf kekurangan hormat tadi "
"Panggilan akan tuan muda pada diriku tidak berlebihan bukan" "Tidak sudah tepat benar, keluarga persilatan murid pendekar "
Pemuda baju putih semakin congkak dan takabur dieluelukan, mendadak wajahnya membersut kaku, katanya rendah.
"Kudengar katanya kau mengandal ketenaran nama Toji Pang Giok serta keampuhan seruling sambar nyawamu itu malang melintang dan menjagoi dunia Bulim? Ternyata namamu begitu tenar bagaikan suara guntur di siang hari bolong didalam daerah Tionggoan ?"
Terang-terangan ini adalah tiada angkatan tua memberi teguran dan nasehat kepada angkatan muda, sikapnya sungguh sangat sombong sekali.
Tapi Giok- liong bersikap sabar tanpa ambil marah sedikitpun meskipun rasa hatinya mendelu dan dongkol, namun lahirnya tetap wajar saja, katanya.
"Terima kasih, itu hanya para kawan Kangouw yang terlalu mengelukan, serta anugerah para bulim Cian-pwe"
Tak duga Ma Giok-hou ambil tidak pusing akan penjelasannya ini, air mukanya semakin membeku dingin, tanyanya balik - "Apakah kau tahu apa tujuan tuan mudamu menuju ke Tionggoan sini ?"
"Dari mana aku yang rendah bisa tahu"
"Ketahuilah Khusus aku hendak mencari kau "
"Karena aku?"
"ya"
"Ada petunjuk apakah ?" "Aku bernama Ma Giok-hou, maka kau tidak boleh lagi menggunakan nama Ma Giok-liong "
"Uh Kenapa pula ?"
"Aku bernama "Hou" (macan) sedang kau menggunakan "Liong" (naga) terang sudah tidak mencocoki satu sama lain, apalagi sama-sama menggunakan pula huruf "
Giok" (kumala) bukankah lebih tidak serasi "
"Tidak serasijuga tidak menjadi soal kurasa "
"Tidak orang lain bisa anggap kita adalah saudara sekandung "
"Ini... Hihihi"
Giok-liong menjadi geli sendiri, pikirnya.
"Hwi-thian khek Ma Hun dari Pak-hay sangat tersohor dan berwibawa tata kehidupan keluarganya tentu sangat keras, bagaimana mungkin bisa punya seorang putra yang bangor dan congkak demikian ini omongannya terlalu takabur, sungguh Jenaka dan menggelikan sekali. Terdengar Ma Giokhou menggerung gusar, semprotnya .
"Apa yang kau tertawakan ?"
"Menurut hemat aku yang rendah, nama seseorang merupakan perwakilan yang tercantum belaka, tentang nama tidak terlalu penting, adalah sepak terjang atau tingkah laku seseorang menjadikan garis utama sebagai hidup manusia layaknya, inilah yang terpenting, bagaimana menurut pendapat tuan?"
Nada perkataan Giok- liong ini sudah mengandung sifat kurang senang. Tak tahunya, sikap Ma Giok-hou acuh tak acuh, cemoohnya.
"Sesuatu yang kau anggap tidak penting sebaliknya kupandang sangat penting " "Oh Lalu bagaimana menurut pendapat tuan ?"
"segera kau ganti nama "
"Kau minta aku ganti nama, lalu ganti she dan nama apa ?"
"Terserah mana suka"
"Kenapa begitu ?"
"Sukar dapat dibedakan secara jelas antara. mata ikan dan mutiara "
"siapakah mata ikan, lalu siapa pula yang menjadi mutiara ?"
"
Untuk itu kau tidak perlu urus, pendek kata selanjutnya kau tidak boleh menggunakan nama Ma Giok-Liong "
Giok liong kurang senang, baru saja ia hendak mengumbar wataknya, akan tetapi lantas teringat olehnya bahwa tidak lama lagi jiwa sendiri bakal melayang, termasuk hari ini tidak lebih tinggal tujuh hari saja, buat apa berbuat menurut isi hati melulu.
Apalagi Hwi-tHan khek Mi Hun dari Pak-hay merupakan tokoh kosen yang berwatak sangat aneh, namanya seumpama geledek disiang hari bolong sifatnya lurus dan suka beramal lagi, bagaimana juga ia tidak rela mengikat permusuhan dengan tokoh kenamaan ini.
Maka sedapat mungkin ia menekan gejolak amarah dalam dadanya mandah menggeleng saja ia berkata.
"untuk soal ini kuharap tuan suka maafkan, gauti nama dan she bukan merupakan urusan sepele, seumpama aku sendiri sudah ganti nama, orang lain juga tetap menyebut namaku yang lama, bukankah sia-sia belaka "
Tak sangka Ma Giok hou masih mengukuhi tuntutannya, dengan berbagai alasan yang tidak masuk diakal. Akhirnya Giok- Hou mengerut alis dan berkata serampangan tak mengenal aturan.
"Hoo, seharusnya sejak semula kau menggunakan namamu sekarang "
Saking dongkol gusar dan geli Giok-liong terloroh-loroh.
"Hahahaha Hehehe Hihi"
"Kau masih berani tertawa "
"Harap tanya tuan tahun ini berusia berapa ?"
"Tuan mudamu sudab cukup berusia delapan belas "
"Nah, kan tidak bisa salahkan aku "
"Apa harus salahkan aku?"
"Aku tidak berani salahkan kau, karena aku lebih tua dua cahun dari kau, tentang nama itu terang aku diberi oleh ibunda dan ayahku lebih dulu "