Seruling Samber Nyawa Chapter 111

NIC

"Sungguh kebetulan, biar nona besarmu ini mengiring bertempur tiga ratus jurus."

"Baik biar aku mengukur berapa tinggi kepandaian Kaujiang -san."

"Kalau kau punya kepandaian sejati, jangan gunakan seruling sakti itu!"

"Kau kira nonamu mengandal seruling ini untuk menundukkanmu?"

Habis berkata tiba-tiba Li Hong melemparkan seruling di tangannya ke-arah Giok liong seraya membentak ."Sambut!"

Giok liong benar-benar tidak menyangka, kejutnya bukan main sigap sekali dengan hati-hati ia mengulur tangan menyambut loncatan seruling yang keras dan deras ini.

Tepat waktu Giok liong dapat menangkap serulingnya, di sebelah sana Li Hong juga sudah melolos Liong cwan kiamnya.

Ti-ba-tiba terpancar cahaya dingin membungkus seluruh tubuhnya yang mengenakan pakaian serba merah menyolok itu.

Waktu Giok liong memasukkan seruling samber nyawa ke kantong bajunya kedua nona berwatak keras itu sudah berkutet dengan sengitnya, keruan Giok liong menjadi gugup dan gelisah, mulutnya saja yang berkaok-kaok.

"Berhenti! Berhenti!"

"Buat apa kalian berkelahi seperti anak-anak?"

Namun bukan saja mereka tidak mau berhenti, malah masing-masing sudah lancarkan serangan lebih gencar, semakin lama pertempuran semakin seru dan semangat.

Kepandaian kedua belah pihak sudah cukup tinggi termasuk tokoh kelas satu, gerak mereka serba gesit dan cekatan lagi kini, ketemu tandingan yang sembabat, keruan mereka semakin bersemangat untuk menjajal dan mengukur kepandaian sendiri dengan kemampuan lawan.

Hanya Giok-liong sendiri yang dibuat gelisah seperti semut dalam kuali panas, Kalau mau dengan tingkat kepandaiannya gampang saja ia terjun kedalam gelangang untuk melerai perkelahian edan-edanan ini.

Tapi saat ini tak mungkin ia berbuat begitu, pula ia tidak berani, Sebab siapa tahu kalau tidak kebetulan merugikan salah satu pihak, tentu bakal menimbulkan akibat yang susah dibayangkan.

Tan Soat-kiau pernah menolong jiwanya perkenalan ditengah jalan saja, namun dia berulang kali sudah ikut menanggulangi dari kejaran dan keroyokan Hiat hong-pang dan Kim-i pang.

Apalagi sekarang dia sudah di-pungut menjadi anak angkat dari Kim-ling-cu Li cianpve salah satu dari Bu limsu- bi, betapapun ia tidak berani berbuat salah terhadap Soat kiau.

Pertama bersua dengan Li Hong dengan tekun dan prihatin ia melindungi dirinya.

pernah juga menolong jiwanya.

Terang kedatangannya ini adalah mendapat perintah untuk mengambil seruling sakti ini, tak mungkin ia harus mengabaikan perintah ayahnya dan tidak memperdulikan keganasan kaum istana beracun, kenyataan toh ia mengembalikan seruling saktinya, bagaimana juga aku tidak enak menyakiti hatinya.

Pikir punya pikir otaknya semakin terasa butek, semakin kacau balau.

Kalau terang tak mungkin bisa mencegah pertempuran ini untuk apa pula tinggal ditempat ini lamalama, lebih baik tinggal pergi saja seumpama nanti bisa dibedakan siapa lebih unggul dan asor, dirinya juga bakal serba susah lagi.

Karena pikirannya ini Giok-liong lantas putar tubuh tinggal pergi.

Tapi puluhan langkah kemudian mendadak ia menghentikan kakinya lagi, batinnya.

"perkara ini terjadi karena aku, mana mungkin aku tinggal pergi begitu saja tanpa mengurusnya "

Tatkala itu pertempuran berjalan sangat cepat, serang menyerang menggunakan cara kilat, sinar pedang masingmasing menyambar dan membabat atau menikam dengan berbagai gaya yang mematikan, bergulung-gulung ke timur lalu berloncatan kearah barat di lapangan rumput hijau ini, terus saling kejar dan paling hantam.

Memandang dahan dahan pohon dan rumput yang hangus terbakar ditempat itu, mendadak Giok-liong teringat sesuatu.

Bagaimana mungkin hidung dan mulutnya bisa menyemburkan api? samar-samar pengalaman dirinya mulai terbayang dikelopak matanya.

Mendadak ia mengeluh dalam hati.

"Celaka, sebelum lari Ci-hun sin-kun ada berteriak tentang "Le-hwe..."

Sekarang teringat jelas dalam otaknya sebelum lari pergi memang ia mendengar ci-hu sin-kun berteriak ketakutan.

"Bu-ceng le-hwe, Le hwe - - -"

Karena pikirannya inijantungnya menjadi berdebar keras, hatinya menjadi tegang. Terkiang kata kata Cukong Istana beracun Ibun Hoat waktu bertda diatas Im-hong gay .

"setelah terkena Le-hwe bu-ceng-hot kang.... paling banyak masih mempunyai sisa hidup tujuh hari.. ."

Tujuh hari adalah waktu yang begitu pendek- betapa mungkin dirinya lari ko Linglam minta Hui-ting chio kepada Pekschio ang.

apakah mungkln pula mengejar waktu menuju ke laut utara minta Ciat-ham-im.

omongan Ibun Hoat itu naga-naganya memang dapat dipercaya kalau tidak kenapa tanpa sebab dirinya bisa menyemburkan asap dan api.

Mengapa Ci hu-sin- kun sekaligus bisa lantas menyebutkan sumber penyakitnya ini.

Ibun Hoat dan Kiong Ki merupakan tokoh kenamaan yang lihay dari aliran hitam yang sesat dengan tingkat kedudukan mereka tak mungkin sembarangan mengudal mulut bicara bohong atau membual, tak mungkin pula mengada-ngada.

Agaknya memang usia Ma Giok- liong tinggal tujuh hari saja.

"Hidup tua, sakit, mati serta sengsara atau menderita sudah menjadi kodrat alam, bagi seluruh umat manusia takkan luput dari kelima unsur kesukaran ini. Bagaimana mungkin Giok-liong bisa luput dari ketentuan kodrat alam ini ?"

Terpikir olehnya telah tujuh lari kemudian dirinya bakal terbakar hangus dan mampus, tak keruan paran rasa hatinya ini, lesu dan putus asa lagi, semangat gagah dan keperwiraannya sudah hilang dihembus angin lalu.

Tanpa merasa ia menghela napas pula.

gumannya.

"Ai, hidup manusia kiranya juga demikian ini, saja "

Tanpa hiraukan mati hidup pertempuran Li Hong dan soat kiau dengan menunduk kepala langkahnya bergoyang gontai meninggalkan lapangan rumput raja setan itu.

Putus asa benar-benar sudah mencekam seluruh sanubarinya.

Tapi kejadian di dunia ini kadang kadang tak segampang seperti yang di duga oleh manusia umumnya semakin ia berpikir semakin berat rasanya, seperti apa yang dikatakan.

"kalau digunting tidak putus dalamnya masih akan menjadi kacau balau,"

Begitulah karena tidak kuasa mengambil keputusan sendiri hatinya semakin gundah diliputi berbagai bayangan dan kekuatiran. Akhirnya ia ambil keputusan juga, dengan mengepal tangannya ia berseru lantang.

"yang lain boleh aku tidak peduli, seruling sakti ini merupakan senjata yang ampuh mandra guna, betapapun pantang terjatuh ditangan orang jahat. Kalau tidak tentu bakal menimbulkan banyak dosa dan menyesalpun sudah terlambat."

"Tapi - - - "

Pemberian guru inijuga juga harus kukembalikan kepada suhu, tapi di mana aku harus mencari beliau, jejak suhu yang suka kelana mengembara kemanamana itu sulit dijajaki seperti orang linglung mulut kumat kamu langkah sempoyongan.

Akhirnya terpikirjuga cara jalan keluarnya.

"Terpaksa aku harus siang siang pergi ke Gak yang lalu, Kim ling-cu ada mengundang pertemuan pada hari Goan-siau disana, seumpama tidak bisa jumpa dengan suhu, siapa tahu bisa bertemu dengan satu dua orang tokoh-tokoh kenamaan dari aliran lurus atau salah seorang Cianpwe yang punya hubungan erat dengan perguruannya. Baiklah aku tunggu saja disana meninggalkan pesan dan menitipkan pada mereka. Apalagi jangka tujuh hari ini paling cepat cuma kebetulan saja tepat pada waktunya mencapai kota Gak yang."

Setelah mendapat ketetapan hati, hati kecil Giok liong menjadi lapang dan terhibur.

Waktu ia berpaling Kebelakang tak terasa ia sudah jauh meninggalkan Kui-ong-ping, bayangan merah kuning masih kelihatan bertempur dengan sengitnya.

Menghirup napas panjang Giok-liong mengeluh.

"Ai, bertempur dan berkelahi hanya untuk mencari kemenangan dan mengejar nama kosong, akhirnya takkan luput tertimpa kematianjuga, untuk apakah manusia ini hidup "

Pelan-pelan ia salurkan tenaga dari pusarnya dimana tangan berkembang pesat sekali ia kembangkan Ling-hun-toh, laksana seekor garuda tubuhnya mencelat tinggi beberapa tombak setelah mengambil arah tujuan yang tepat sekencang angin ia berlari kedepan tanpa menoleh lagi.

sekejap saja Kui-ong-ping sudah ketinggalan jauh ratusan tombak, sekonyong-konyong terdengar jerit pekik suara perempuan yang ketakutan dari lamping gunung sebelah kiri sana, begitu keras lengking jeritan itu sampai menembus langit menggetarkan alam pegunungan menyayatkan hati.

Tergetar hati Giok liong, badannya giris dan merinding, luncuran tubuhnya menjadi kendor dan mulai pelan pelan berlari.

Tapi terkilas dalam otaknya.

"jiwaku tinggal tujuh hari, orang hampir mati seperti aku buat apa ikut mengurusi segala tetek bengek yang tiada sangkut pautnya dengan diriku "

Segera ia kerahkan tenaganya lagi, tubuhnya lantas mumbul tinggi tiga tombak-luncuran tubuhnya semakin pesat ke depan. Tak diduga jeritan yang menyayatkan hati tadi terulang kembali, malah jaraknya semakin dekat. "Aaaa ...

"

Terlihat dikeremangan lamping gunung sebelah kiri sana melambung tinggi sesosok bayangan merah jambon diiringi teriakan panjangnya, dari suaranya ini jelas sekali bahwa ia seorang perempuan.

Agaknya kepandaian perempuan itu tidak ungkulan atau mungkin sudah terluka dalam, gaya luncuran tubuhnya agak limbung daa seperti meronta dan berlari sipat kuping sekuat tenaga.

Kira kira puluhan tombak, di belakang bayangan merah ini sebuah bayangan putih laksana salju bergerak lincah dan gesit mengejar dengan kencang, dilihat naga naganya sebentar saja bayangan merah di depan itu kena dicandaksambil berlari sipat kuping perempuan baju merah itu berkaok, dan melolong menjerit-jerit, sebaliknya bayangan putih di belakangnya itu tergelak tawa menyeringai seram.

Kalau dalam keadaan biasanya tentu tanpa banyak pikir lagi Giok-liong mengunjukkan diri mengulur tangan menolong si perempuan dari kelaliman.

Tapi saat itu sifat gagahnya sudah amblas terbawa keputus asaan akan bayangan kematian yang mencekam sanubarinya.

Apalagi ia tergesa-gesa memburu waktu untuk pergi ke Gak- yang hendak menyerahkan kembali benda pusaka perguruannya.

Maka walaupun hatinya tergetar dan tak tega akhirnya ia geleng kepala serta menghela napas panjangkakinya tetap meluncur cepat kedepan menempuh perjalanan.

Tak duga kini bayangan merah ternyata membelok dan memapak kearah yang berlawanan dengan arah tujuan Giok liong, jarak yang rada jauh itu sekejap saja menjadi lebih dekat.

Posting Komentar