Kalau bayangan kuning mengepung diluar gelanggang dengan gerak-gerik yang lincah dan serangan yang membadai, adalah bayangan merah berdiri sekokoh gunung menggetarkan cahaya putih, membubung tinggi laksana gunung seperti tonggak menyanggah langit.
Suasana sepi di lapangan rumput kini menjadi ramai dengan makian dan angin deras yang menderu-deru, pertempuran seru penuh kebencian dengan serangan yang saling berlomba untuk merobohkan lawan ini terus berjalan sampai ratusan jurus pada babak terakhir ini mulai kelihatan masing-masing mempunyai kepandaian khusus dan ada pula kelemahannya, tapi sedapat mungkin mereka mempertunjukkan kepandaian istimewanya sehingga situasi pertempuran masih sama kuat.
"Hai, apa apaan kalian bertempur disini hayo berhenti !"
Tiba-tiba sebuah gerungan keras berseru disamping sana, Betul juga bayangan kedua orang yang berkuntet lantas mundur.
Tan Soat-kiau menyapukan pedangnya itu menyapu kedepan, dengan tubuh agak doyong ke depan tiba-tiba kakinya menjejak tanah , kontan tubuhnya terus melejit mundur setombak lebih.
Seruling ditangan Li Hong juga bergoyang malang melintang didepan dada menangkis disusul cahaya putih berkelebat tahu tahu ia sudah berdiri tegak sambil melintangkan seruling samber nyawa di depan dadanya.
Dibawah keremangan sinar bintang-bintang yang bertaburan di cakrawala, kelihatan Giok-liong tengah berdiri bertolak pinggang, matanya berkedip kedip celingukan bergantian memandang Tan Soat kiau dan melihat Li Hong, katanya penuh tanda tanya "Apa kalian rebutkan?"
Enteng sekali Li Hong melayang kede-kat Giok-liong, katanya lemah lembut.
"Ma Siau-hiap, kau sudah siuman kembali !""
Giok-liong kucek-kucek matanya, sahutnya sembarangan "Ai, aku sudah bangun, aku ... ."
Sudah tak teringat olehnya pengalaman yang baru tadi, Tak tahu ia apa yang tengah terjadi dihadapannya ini, pikir punya pikir ia berusaha mengingat kejadian apa yang telah menimpa dirinya tadi siang.
Sementara itu melihat Li Hong menggelendot di pinggir Giok-liong, rasa pahit hati Tan Siat-kiau saking mendelu dengan gusar ia memburu maju terus berteriak "Engkoh Liong, hati-hati akan bokongan, siluman licik ini !".
Giok liong tersentak, tanyanya tak mengerti.
"Di bokong?"
Tan Soat-kiau berkata lantang .
"Bukankah seruling samber nyawamu sudah dicuri oleh siluman keparat itu, awas ...
"
Giok liong tersurut mundur sambil berseru tertahan, waktu tangannya merogoh kedalam bajunya lagi-lagi ia berseru kejut sambil berjingkrak.
Baru sekarang dilihatnya bahwa Seruling dicekal ditangan Ang-i mo li Li Hong itu bukan lain adalah Jan hun ti miliknya.
Maka sebelum seruan kejutnya hilang, sigap sekali ia mengulur tangan sambil melangkah kedepan terus menangkap kearah Li Hong.
"Nanti dulu!"
Dengan muka bersungut Li Hong loncat sejauh sembilan kaki, serunya keras.
"Jadi kau percaya obrolannya !"
Memang Giok-liong tengah bingung dan menjadi ceroboh, sahutnya tersekat .
"Tapi Jan-huu-ti ...
"
Tangannya menunjuk seruling yang dipegang oleh Li Hong. Tan Soat-kiau tertawa sinis, katanya.
"Hm bukti ada didepan mata, jangan kau mungkir."
Li Hong menjadi gusar, teriaknya kalap .
"Kau menuduh semena-mena, kau ..."
Yang dipikirkan Giok-liong melulu seruling saktinya itu, maka katanya .
"Tak perduli bagaimana serahkan dulu Jan hun ti itu !"
Tan Soat-kiau membakar pula dengan kata-katanya.
"Benar, rebut kembali seruling itu, jangan sampai ia sempat melarikan diri!"
Benar juga Giok-liong termakan oleh hasutan ini, sikapnya lebih waspada dan berjaga-jaga katanya tertekan .
"Untuk membuktikan kesucian hatimu, serahkan kembali seruling itu kepadaku segala sesuatu baiklah dibicarakan kembali !"
Saking jengkel air muka Li Hong sampai berobah keki membesi hijau, teriaknya keras .
"Kecapa kau tidak percaya kepadaku kenapa begitu gampang termakan oleh hasutan dan adu domba mulut manis Tan Soat-kiau ?"
Namun Giok-liong berkata .
"Sebab bukti memang kenyataan kau telah mengambil serulingku !"
"K,au sangka aku benar-benar mencuri."
Kata Li Hong sembari tertawa getir, tawanya ini menjadi sember karena umbaran dari rasa gusarnya suaranya menjadi seperti pekik orang hutan yang mengeluh di malam nan keIam.
Dengan sedih dan hati hancur pelan-pelan ia angkat seruling diatas kepalanya, wajahnya pucat bergetar, bibirnya sudah memutih, tanpa darah, giginya juga berkerot-kerot, serunya.
"Berdiri disitu, selangkah lebih dekat biar aku hancur bersama Serulingmu ini!"
Agaknya ia benar benar hendak melaksanaancamannya. Tergetar badan Giok liong, lekas lekas ia mundur beberapa langkah, serunya gugup.
"Nona Li, jangan! jangan kau berbuat senekad itu!"
Kini berbalik Tan Soat-kiau yang dongkol, air mukanya menjadi tegang dan membesi, makinya dengan gusar .
"Berani kau! Budak galak! Berani kau merusak sedikit saja seruling itu, akan kuhancur leburkan tubuhmu!"
"Tidak tahu malu, ada sangkut paut apa urusan ini dengan tampangmu!"
Dengus Li Hong.
Giok liong kwatir kalau mereka berdua benar-benar saling cakar cakaran lagi, saking gusar mungkin Li Hong benar-benar melaksanakan ancamannya dengan merusak seruling saktinya itu,l pasti akibatnya sangat runyam dan merugikan banyak pihak, Oleh karena itu, lekas lekas ia menggoyangkan kedua tangannya serta berteriak.
"Bicara saja baik baik, mari kita rundingkan kenapa harus bertengkar!"
Pucat pasih selembar muka Li Hong saking menahan gejolak hatinya, suaranya sedu dan penuh rasa keibaan ."Memang tujuanku hendak mengambil seruling samber nyawa ini, ini memang tidak salah! "
Tampak Soat kiau tertawa hambar penuh kemenangan.
"Nah sudah kentara belangnya!"
"Ma Giok-liong ! Kapan seruling sakumu ini terjatuh di tanganku ? Cara bagaimana jatuh di tanganku ? Apa kau tahu ? Coba katakan !"
Giok-iiong menjadi melenggong, matanya berkedip-kedip suaranya tergagap .
"Aku hanya ingat ...setelah meninggalkan ..."
"Setelah meninggalkan Im hong-gay tak perlu kau uraikan ! selanjutnya bagaimana ?"
"Aku bersua dengan Ci-hu-sin kun akhirnya ..."
"Akhirnya bagaimana ?"
"Akhirnya . , ..disini ! Aku bertemu dengan Lik-mo-kiang si !"
Tan Soat-kiau tertegun kejut, ujarnya .
"Haya, Apakah iblis durjana kejam yang membunuh orang tanpa berkesip dan mendadak menghilang jejaknya pada tujuh puluh tahun ini ?"
Jauh jauh Li Hong T,cnyapkan seruling ditangannya, katanya tak senang.
"jangan cerewet !"
Sekarang Giok-liong sudah menjadi tenang dan ingat segala-galanya.
"Lik-mo-kiang-si mendadak melancarkan pukulan membokong aku pukuIannya.,...Haya, pukulannya itu agaknya tepat mengenai jalan darah besar di dadaku, yaitu Tiong-ting-hiat yang mematikan, Dulam keadaan gawat dan mendesak itu, aku masih sempat mengerahkan hawa tenaga dalam pusar, dengan menghimpun seluruh kekuatan Lwekang untuk menerima pukulan dahsyat musuh !"
Li Hong tertawa tawar, jengeknya dingin.
"Sayang usahamu ini sia sia belaka, Sekali pukul akhirnya kau terbanting semaput di tanah, dari hidung dan mulutmu menyemburkan asap tebal dan bara api yang bersuhu sangat panas sekali !"
Giok liong tak berani banyak berkata, ia tenggelam dalam renungannya. Tan Soat-kiau menjadi tidak sabaran, ia menyela lagi .
"Kentut, jatuh ya jatuh, bagaimana mulut dan hidungnya menyemburkan asap apa segala !"
Ang i mo-li Li Hong tidak menggubriskan lagi, dengan suara nyaring ia bicara panjang lebar .
"untung semburan asap tebal dari mulutnya itu telah menimbulkan kebakaran besar di sekitar gelanggang sini, tidak sedikit anak buah Kiang si bun yang kena terjilat api dan lari pontang panting. Kau sebagai murid tunggal Ji-bun yang suci murni dari I-lwe su cun (empat duta agung mayapada), tapi melatih ilmu sesat yang jahat kejam sampai matipun tak memberi ampun pada orang. Ai, Li Hong terhitung sudah terbuka mataku!"
Enak saja ia berbicara seperti bercerita dengan suara nada yang semakin sengit meninggi dan semangat sampai Giok-liong terlongo kesima.
Agak lama kemudian baru ia bergerak seraya menghela napas panjang, katanya ragu ragu "llmu sesat ? Sampai mati tak memberi ampun ?"
Li Hong menyeringai dingin, ujarnya.
"Hehehe, kejadian ini adalah aku sendiri yang melihat, maka kaupun tak perlu lagi memberi penjalasan."
"Aku ? Aku tidak bisa !"
"Perdengaran kuping mungkin bisa salah tapi penglihatan mana tentu benar. Bagai mana duduk kejadian sebenarnya, Ci-hu-sin-kun bisa menjadi saksi, yang hadir pada waktu itu bukan hanya aku Li Hong seorang saja !"
Giok-liong tak bisa bicara lagi, menengadah ia menghela napas lagi, keluhnya .
"Ai ! Tuhan yang tahu !"
Terdengar Li Hong menyambung lagi.
"Sekian lama kau jatuh pingsan, terpaksa aku bekerja memadamkan bara api, kalau tidak mungkin kau sendiri saat ini sudah hangus terbakar, apa perdulimu tentang Jan-hun-ti segala."
Giok-liong jelajatkan pandangannya ke empat penjuru, memang kata-kata Li Hong rupanya tidak bohong, dengan terlongong ia manggut-manggut, sepasang matanya mengunjuk rasa terima kasih. Li Hong berkata lagi.
"Tatkala itu, berulang kali aku berusaha membangunkan kau, tapi keadaan seperti orang mati. Kalau mau saat itu aku bisa ambil seruling sumber nyawa dan tinggal pergi, kau dapat menuduh siapa? Masa kau bisa tahu akan perbuatanku?"
Mendengar sampai disini, tiba tiba Tan Soat-kiau tertawa cekikikan katanya ."
Hihi, tadi kau terang-terangan mengatakan kedatanganmu ini..."
"Tak perlu kau cerewet, tujuanku memang hendak mengambil seruling ini!"
Giok liong tercengang, katanya ."
"Kenapa kau tidak lantas pergi setelah memperoleh seruling ini?"
"Aku..."
Mulut Li Hong jadi tersendat, bagaimana mungkin secara berhadapan ia bicara "karena aku menyintai kau"
Maka hatiku tega wajahnya berubah merah.
Beruntun berapa kali Tan Soat-kiau mendapat cemooh saat ini kesempatan baginya untuk membalas, desaknya dengan nada dingin ."Ayo katakan.
coba kulihat cara bagaimana kau berbohong mengarang cerita begitu panjang lebar."
Dari malu Li Hong menjadi gusar di senggak begitu rupa, seruling di tangannya tiba tiba diputar ditengah udara menimbulkan suara lengking tinggi, katanya ."Aku menanti orang ingin berkelahi untuk mencoba kekuatan seruling sakti ini!"
Tan Soat-kiau juga seorang nona yang keras di dalam lemah diluar,"
Mendengar tantangan terang-terangan ini segera iapun acungkan pedangnya, katanya terkikik.