Para anak buah Kiang-si bun begitu melihat seluruh tubuh sang Ciang-bun jin terbakar api semua, menjadi panik dan gugup, suasana menjadi kacau balau, ada yang memburu maju berusaha membantu untuk memadamkan api, tapi mereka menjadi kehabisan akal karena tidak tahu cara bagaimana harus bekerja.
Sebagian lagi ada pula memaki kalang kabut terus memburu maju kearah Giok liong, Hakikatnya Giok-liong sendiri saat itu tengah pingsan tak ingat diri, Justru yang lucu dan aneh keadaannya, dari mulut dan hidungnya masih tetap menyemburkan asap tebal yang bergulung panas, setombak disekitar tubuhnya terasa panas tak tertahan, tujuh kaki disekeliling tubuhnya sudah terbakar bangus.
Ada beberapa anak boah Kiang-si-bun yang berani mati menubruk dengan nekad, seketika mereka sendiri bulu dan rambutnya kena tersulut dan terus terbakar juga.
Suasana diatas lapangan berumput itu menjadi semakin gaduh dan panik, Belum lagi yang satu ini dapat dipadamkan yang lain-lain ikut terbakar pula.
Keruan para kurcaci Kiang sibun yang ikut terbakar itu lebih panik dan gaduh mereka bergelindingan ditanah dan menjerit dan menggerang seperti babi hendak disembelih menjelang ajal.
Bagi yang tidak terjilat api menjadi serba sulit pula, Tinggal lari takut kalau nanti api yang membakar Lik mo-kiang-si padam mereka bakal dijatuhi hukuman sebagai penghianat kepada cikal-bakal, lari di medan perang, Kalau tetap tinggal disitu sesaat mereka menjadi bingung cara bagaimana harus menolong para kawan dari jalatan api.
Suasana seri ut cicism kuali panas mereka ii i nnu^ dtiti berputar lari serabutan di aaj l.pFi-ji n )iitnpu! i u, tak thhu daii mana i.
e.i "A harus mulai turun tangan Adalah Lit mo-kiang si meski seluruh tubuhnya sudah terjilat api yang tengah berkobar besar, pikirannya masih tetap segar dalam keadaan gawat itu dengan suara parau ia membentak kepada anak buahnya.
"Pelan-pelan menggelinding, ke Ham cui-khek, menggelinding"
Bilang menggelinding benar-benar menggelinding, dengan membawa kobaran api di badannya ia mendahului bergelindingan terus menggelinding kearah timur dimana kehinaan buah aliran sungai, Anak buahnya yang tidak terjilat api segera berkaok dan bersorak gegap gempita berlari kencang menuju ke sungai di sebelah timur sana.
Mereka yang terjilat api mencontoh ketua mereka terpaksa ikut bergelundungan sekejap saja lapangan rumput menjadi sepi.
Suasana menjadi sunyi, yang terdengar hanya semburan asap tebal yang masih menyemprot keluar dari hidung dan mulut Giok liong yang rebah celentang ditanah.
Di-samping itu rumput dan semak belukar disekitar lapangan rumput itu juga sudah mulai terjilat api, api menjalar terhembus angin dengan cepat mengeluarkan bunyi keretekan.
Tiba tiba sebuah bayangan merah melompat keluar dari semak belukar sebelah sana.
Sosok bayangan merah ini bukan lain adalah Li Hong.
begitu mendaratkan kakinya kontan ia mengernyitkan kening dan mendelong mengawasi keadaan Giok liong yang aneh itu, gumannya ."Kenapa hidung dan mulutnya bisa menyemprotkan api?"
Tiba tiba ia menemukan sumber rahasia dari kobaran api yang terjadi ini.
Kiranya api yang menyembur keluar dari mulut dan hidung Giok liong hanya merupakan segulung hawa panas yang berupa jalur putih terbaur dengan asap hitam, karena tenaga semburan yang besar sampai menimbulkan gelombang panas dan udara mulai bergolak mengeluarkan suara ini.
Kobarn api di sebelah sana menjadi seperti arus tersedot oleh besi semberani meletup keras terus membakar semakin besar.
setelah mengetahui rahasia ini Li Hong menjadi bingung mulutnya berkata sendirian "Untuk menolongnya, aku harus memadamkan dulu kobaran api ini."
Maka mulailah ia bekerja memadamkan api, Pertama tama ia singkirkan dahan-dahan pohon yang belum terjilat api, lalu menjemput sebatang pohon terus mengepruk dan memadamkan api kobaran api terakhir ia menggali tanah dengan tanah inilah ia menguruk j.n,ng dan sisa sisa kayu bakar yang masih menyala, setelah susah payah akhirnya seluruh kobaran api dapat dipadamkan.
Sudab lazim bagi yang bermain air pasti basah, bermain api kena hangus.
Demikian juga keadaan Li Hong, wajahnya yang putih halus dan cantik itu kini sudah kotor oleh arang dan hangus terutama kedua telapak tangan dengan jari-jarinya menjadi lecet dan lebam hitam.
Baju merahnya juga tidak luput terkena abu dan api apalagi seluruh tubuhnya sudah mandi keringat, napas juga ngos-ngosan.
Tuhan memang maha pengasih terhadap yang menderita bekerja Waktu ia menengok kearah Giok-liong yang masih celentang itu, Benar juga mulut dan hidungnya sudah tidak menyemburkan lidah api lagi, cuma dari hidungnya masih menyemburkan hawa panas.
"Tunggu lagi sebentar mungkin keadaannya bisa mendingan."
Demikian Li Hong berpikir sambil mengusap keringat dan kotoran di mukanya.
Pelan pelan ia memeriksa dan meronda di sekitar Kui-ung-peng (lapangan raja setan).
Pertama ia khawatir Lik-mo kiang-si bakal putar balik lagi, kedua ia gentar menghadapi Ci-hu-sin-kun, siapa tahu bangkotan tua itu bisa datang kemari lagi, Betapapun dirinya bukan menjadi tandingan satu diantara mereka berdua.
Sang waktu sedetik demi sedetik terus berlalu.
Kala malam telah menjelang datang.
Pelan pelan dengan langkah ringan Li Hong mulai maju mendekat, dilihatnya Giok-liong yang masih kepulasan, Seperti layaknya orang yang sedang mabuk, d.iir.ian juga iea risau Giok-liong selebar mukanya merah membara kedua biji matanya merem meIek, muIut dan hidungnya menghembus keras hawa panas yang menyembur keluar dari hidungnya masih kelihatan mengandung kabut putih yang samar-samar.
Tapi suhu panas jauh sudah menurun dibanding pertama tadi.
Coba-coba Li Hong berseru membangunkannya.
"Ma Siau hiap ! Ma Giok-Iiong! Giok-liong ! Liong .."
Sedikit reaksipun tak ada, ia coba meraba pernapasannya, belum mati, rada ragu ragu telapak tangannya terulur mendekap jantungnya, tujuannya hendak merasakan apakah jantungnya masih berdetak, tak kira dimana tangannya menyentuh sebuah benda panjang keras, seruling samber nyawa seketika hatinya bersorak.
Pikirnya "Aku mendapat tugas supaya membuntutinya untuk mengambi seruling samber nyawa, inilah kesempatan paling baik bila kuambil, boleh dikata setan juga tidak bakal mengetahui.
Tapi otaknya lantas membatin lagi.
seruling iamber nyawa merupakan senjata pusaka orang orang kuno, merupakan benda antik yang paling diimpikan, berharga oleh kaum persilatan, sekarang aku hanya mengulur tangan saja sudah menjadi milikku, ah, mimpi juga aku takkan bisa menduga."
Sambil membatin itu pelan-pelan ia membuka kancing baju Giok liong.
Dalam kegelapan malam yang sudah menjelang datang ini tiba tiba keadaan sekitarnya menjadi terang benderang tersoren oleh cahaya puiih cemerlang yang terpancar dari Seruling sakti itu, sigap sekali Li Hong merogohnya keluar lalu dielus elus di tangannya.
Sekonyong konyong bayangan gelap membayangi sanubarinya, kedua tangannya yang mengelus-mgelus seruling tanpa terasa menjadi lemas dan turun semampir menindih di atas dada Giok-liong.
seruling samber nyawa melintang lurus didepan dada Giok-liong.
Bila asli membawa pulang Seruling samber nyawa tak lebih harus "disampaikan kepada cukong istana beracun Ibun Hoat, jikalau tidak diserahkan kepadanya tentu terjadi pertikaian hebat antara Tok-kiong dengan Mo khek, Terang kepandaian ayah bukan tandingan Ibun Hoat, apalagi oigfcoa daa sepasang pembantunya.
buk.-.nsan si i-.i,i saja menimbulkan pertempuran konyol.
Kalau kuserahkan kepadanya, apa pula untangku ? Apalagi Seruling ini adalah benda yang selalu diinginkan siang malam ....seluruh miliknya."
Berpikir sampai disini tanpa merasa matanya melirik kearah Giok-liong yang masih rebah tak bergerak.
Saat mana warna merah pada mukanya sudah berangsur hilang.
Tepat pada saat itulah terdengar hidungnya mendengus seolah-olah mengeluh karena kesakitan, lalu menggeleng kepala.
"Ma Siau-hiap ! Ma Giok-Iiong ! Giok-liong !"
Giok-liong tetap seperti tidur nyenyak tenggelam dalam impiannya.
"Bila kehilangan benda sakti pemberian perguruan ini, bagaimana nanti akibatnya ?"
Tak kira kini Li Hong sendiri yang tenggelam dalam pikirannya, perang batin tengah terjadi dalam sanubarinya "perbuatan yang merugikan orang lain kenapa harus kulakukan !"
Demikianlah akhirnya kesadaran dan pikiran terangnya telah menang, cepat cepat ia membuka pula baju Giok-iiong terus menyusupkan seruling samber nyawa ke dadanya.
Sekonyong-konyong sesosok bayangan kuning meluncur datang dan kejauhan sana, belum orangnya tiba suaranya sudah berteriak mendaki .
"Siluman bernyali besar. Lihat pedang!"
Dari tengah udara melancarkan serangannya, pedang pendek diputar menjadi kuntum bunga yang kemilau terus menungkrup keatas kepala Li Hong, sungguh hebat dan cukup ganas.
Li Hong berseru kejut, dalam gugupnya Seruling samber nyawa ditariknya keluar untuk menjaga diri, Terdengarlah suara seruling melengking tinggi, cahaya putih terus menyapu ke depan memapak dan menangkis serangan pedang lawan.
"Siluman keparat, sengaja memang kau hendak mencuri pusaka itu. Cara bagaimana kau telah membikinnya pingsan !"
"Tan Soat-kiau, bicaralah biar jelas!"
"Kenyataan di depan mata, kau masih berani bermulut bandel, merabukan pedang pendek Tan Soat kiau lincah dan lihay, tapi tak berani saling bentur dengan seruling sakti, terpaksa ia putar sekencangnya diluar garis pertahanan musuh, begitu deras sinar pedangnya berputar sehingga bayangan merah kena terbungkus didalamnya. Lagi-lagi terdengar ia membentak .
"Ang-i-mo-li permainan apa yang telah kau lakukan, kau membius Engkoh Liong!"
Walaupun bersenjata seruling samber nyawa, tapi karena Li Hong sendiri juga tidak biasa memainkan jurus-jurus ilmu seruling ampuh ini terpaksa digunakan secara ngawur saja seperti Poan-koan-pit umumnya, peranti untuk jalan darah.
Mendengar tuduhan yang semena-mena itu hatinya menjadi gusar, malunya kembali "Budak tidak tahu malu, terang-terangan kau berani panggil engkoh Liong apa segala, engkoh dari hubungan yang mana?"
Keruan merah jengah melebar muka Tan Soat kiau sampai kepinggir kupingnya malu bukan main, pedang lantas diputar lagi semakin gencar, setiap jurusnya semakin ganas, mematikan tak mengenal kasihan lagi mulut nya pun tak kalah adu lidah.
"Kau kira siluman macam kau ini saja yang tahu? siluman kecil macammu ini baru tidak tahu malu, bukankah kau sendiri yang tadi mencopoti baju seorang laki-laki, sungguh rendah dan hina serta kotor sekali !"
Beringas wajah Li Hong dimaki begitu rendah dan kotor, seruling ditangannya diayun sekuatnya terus mengepruk keatas batok kepala lawan, mulutnya tidak tinggal diam saja.
"Budak tidak tahu malu, kau pintar memutar lidah !"
Begitulah kedua belah pihak saling tuduh dan saling maki, namun gerak gerik mereka dengan senjata masing-masing tidak pernah kendor, Pedang dilarikan begitu kencang mengembangkan bundaran cahaya pedang besar kecil, sebaliknya irama seruling melengking lurus tanpa nada.