"Dengan baja murni, Pang Giok merantai aku di atas Kui-ongpeng selama tujuh puluh tahun, membuatku sangat menderita batin selama tujuh puluh tahun, hujan kedinginan siang kepanasan oleh terik matahari."
Giok-liong menjadi heran, selanya.
"Kenapa harus tujuh puluh tahun?"
"Setan cilik! Kau masih pura-pura main sandiwara, apakah tidak tahu baja asli yang dibuat rantai gurumu itu adalah Liam kiam-jan-thiat yang akan lumer sendiri setelah tujuh puluh tahun? Masa kau tidak tahu sebelum itu Liam- kiam -jan thiat adalah logam keras yang tak mempan sembarang senjata tajam?"
"Memang aku tidak tahu!"
"Tutup bacotmu! Bocah keparat, kau mau mungkir!"
"Aku ? mungkir?"
"Derita selama tujuh puluh tahun sudah kenyang kukecap!"
"Jadi kau penasaran !"
"Ya penasaran ini harus kulampiaskan pada dirimu, kecuali kau suruh guru setanmu itu muncul kemari menggantikan jiwamu!"
Giok liong harus berpikir panjang sebelum bertindak, direm wasnya situasi sekelilingnya.
Musuh begitu kuat, sedang Cihu- sin-kan enak-enak menggendong tangan berdiri dikejauhan sana sambil tersenyum sinis tanpa berbicara Iagi.
sedang orang-orang aneh berambut panjang di sekelilingnya semua mendelik gusar siap menubruk maju mencacah tubuhnya.
Sambil mengerahkan Jilo melindungi badan bersiaga, mulut Giok liong bersuara.
"Kenapa guruku menggunakan Liat-kiamjan thiat membelenggu kau! Seharosnya kau bisa menilai dirimu sendiri!"
"Kentut!"
Lik-mo-kiang-si berjingkrak gusar, teriaknya ."Gagah-gagahan dia anggap dirinya sebagai pendekar bangsa dewata apa segala, menghina aku sebagai iblis sesat dikatakan aku membahayakan Bulim dengan alasan suka membunuh dan membuat huru-hara dan apalagi, buset!"
Giok liong menjadi tertawa terbahak bahak, ujarnya .
"Hahaha itulah, kalau kau tidak membunuh tidak menyebar elmaut di Bulim, belum tentu guruku mau turun tangan, kau sendiri juga belum tentu harus disiksa selama tujuh puluh tahun. Kau harus merasa beruntung tidak kebentur dalam tanganku! Kalau sampai konangan olehku, hm, hm!"
"Kau, kenapa?"
"Aku tidak akan membantumu menderita siksaan selama tujuh puluh tahun!"
"Kau... Apa yang hendak kau lakukan?"
"Hukum mati dengan cacah jiwa!"
Sedemikian lantang dan keras Giok liong berkata-kata dengan sikap garang dan berwibawa, suaranya laksana guntur menggelegar disiang hari bolong.
Lik-mo-kiang si yang memang sudah penasaran ingin melampiaskan kedongkolan hatinya semakin berjingkrak gusar seperti kebakaran jenggot, gerungnya.
"Setan cilik, cari mati!"
Dengan kalap ia menubruk maju dengan serangan tangan laksana bayangan setan beribu banyaknya, yang diarah adalah dada dan perut Giok liong. Giok liong berlaku tenang, ujarnya sambil menyeringai .
"Di belenggu selama tujuh puluh tahun, namun watakmu masih belum berubah!"
Dimana tangannya didorong kedepan serentak ia menghardik keras.
"sambut ini !"
"Blang!"
Dentuman dahsyat menggetarkan langi dan bumi, Dua bayangan manusia terpental mundur, Lik-mo-kiang-si tertolak mundur sampai setombak lebih, mulutnya menggerung dan giginya berkeriut.
sedang Giok-liong sendiri juga tersurut mundur tiga langkah, wajahnya mengunjuk rasa heran.
Adu pukulan kali ini ternyata sama kuat dan setanding tanpa kelihatan siapa unggul dan asor.
Adalah para anak buah Kiang-si-bun yang menonton berkeliling sejauh tiga tombak itu tak kuat berdiri tegak, semua terdesak mundur oleh damparan angin keras akibat dari adu pukulan tadi, kini lingkaran gelanggang menjadi semakin besar.
Terdengar Ci hu sin kun membuka suara dengan rada sinis rendah .
"Kiang si-kui, Lwekang bocah ini tidak lebih rendah dari Pang Giok sendiri, Menurut hematku sudahi saja pertikaian kalian, mandah menyerah sajalah, supaya kau tidak kejatuhan abu mengotori muka sendiri !"
Hebat inilah kata-kata menghasut yang bersifat mengadu domba, Bagi Giok-liong ia mandah tertawa tawar saja, katanya .
"Kiong cian- pwe! Menurut pendapatku lebih penting kau mencari putrimu saja, kenapa kau berdiam disini menghabiskan waktumu belaka ?"
Terkancing mulut Ci hu sin kun, mukanya merat jengah sekian lama tak bisa bicara.
Pada saat itu berkelebat sebuah bayangan merah menyelinap hilang didalam dedaunan pohon yang rimbun diluar gelanggang lapangan rumput sana.
Setelah mengadu pukulan secara keras lawan keras, muka Lim mo-kiang-si yang semula biru menjadi hijau bersemu kekuningan, diantara warna kuning bersemu putih lagi, kilat mata hijaunya menyapu padang sekian lamanya, mendadak ia berteriak.
"Setan kecil, tak nyana hebat benar kau !"
Tawar tawar saja Giok-liong berkata.
"penderitaan selama tujuh puluh tahun masa masih belum dapat mengubah watakmu, menurut pendapatku yang bodoh, letakkan golok jadilah umat Tuhan yang saleh dan bijaksana. Lepas dari jurang kenistaan dan mati dengan tentram dari pada konyol!"
Giok liong mengudal ludah bertujuan baik untuk menasehati orang sebaliknya bagi pendengaran Lik-mo kiangsi adalah sebaliknya, semakin membakar kemarahannya.
Pelan-pelan kakinya menggeser maju, matanya dipicikan kedua, lengannya lurus turun suaranya rendah berat.
"Katakatamu memang betul, tepat sekali ucapanmu! Di mulut ia berkata halus rnanis, namun kakinya masih terus melangkah mendekat ke depan Giok-liong tidak lebih berjarak tujuh kaki, Mendadak mulutnya menggembor keras.
"Roboh!"
"BIang."
Cahaya merah pecah berhamburan disertai tekanan hawa panas sehingga udara menjadi membara laksana terjadi ledakan gunung yang dahsyat sekali.
Tiga tombak sekelilingnya menjadi hangus terbakar kobaran api membungbung tinggi.
Ternyata Lik-mo-kiang si telah berlaku licik dan kejam, secara membokong ia kerahkan seluruh tenaganya untuk melancarkan pukulan dahsyat, Karena tidak menyangka dan tanpa siaga dengan telak dada Giok liong kena digenjot seperti dipalu godam seberat ribuan kati, untuk berkelit sudah tak mungkin lagi, dalam keadaan yang mendesak dan gawat itu terpaksa ia hanya mampu mengempos hawa murni memusatkan seluruh tenaganya di pusar dia mandah digenjot dengan telak.
Diluar tahunya begitu dadanya terpukul hantaman dahsyat itu tenaga yang terkerahkan dalam pusarnya menjadi mendidih panas dan pedas sekali, seperti minyak mendidih, begitu terdesak oleh tenaga genjotan itu seketika seluruh isi perutnya seperti pecah dan hancur lebur, segulung hawa panas terus menerjang langsung ketenggorokan dan menyembur keluar diri mulut tanpa tertahan lagi, sebelum ia sempat menjerit tubuhnya sudah terkurap jatuh tak ingat diri, kepala enteng terasa pusing tujuh keliling.
Tepat sebelum tubuhnya menyentuh tanah dari mulut Giokliong menyembur keluar selarik lidah api yang bersuhu tinggi terus menyemprot kedepan.
Cemas bukan kepalang kaget Lik mo-kiang-si, sebab dikiranya pukulan bokongannya itu membawa hasil yang memuaskan, tengah ia kegirangan siapa tahu belum lagi ia sempat menarik balik tangannya letupan larik api membara itu sudah menyembur ke arah dirinya.
"Celaka ! Bocah ini pandai main sihir "
Tak sempat mulutnya habis berkata kedua lengan yang terjulur ke depan itu sudah celaka lebih dulu, seluruh bulu yang tumbuh dikedua lengannya itu seketika terjilat api apalagi angin menghembus rada kencang, kobaran api semakin besar, sebentar saja rambut diatas kepala serta bulu didepan dadanya juga sudah terjilat terbakar, beruntun kulit harimau yang dipakainya serta kedua kakinya yang kurus kecil itu juga mulai di makan api.
Sekarang Lik- mo kiang si menjadi segulungan bara api yang menyala besar.
Sambil berkaok dan melolong ia bergelindingan di atas tanah berusaha memadamkan api yang membakar dirinya.
Siapa tahu, kalau dikata memang aneh, api ini agaknya rada berbeda dengan api umumnya betapa juga ia menggelinding dan membanting-banting tubuhnya tetap tak mau padam.
Keruan saking kepanasan Lik-mo-kiang-si berjingkrak berloncatan sambil menjerit-jerit.
Alhasil, malah dengan berloncatan dan bergerak itu membawa desiran hembusan angin lebih besar, bukan padam bara api di tubuhnya seperti desiran minyak dihembus angin berkobar semakin besar.
Ci-hu sin kun sudah kaya akan perbendaharaan pengalamannya selama puluhan tahun merupakan Bingcu dari aliran hitam lagi, sekali pandang saja lantas ia tahu dan tersurut mundur dengan kaget dan takut mulutnya berteriak tak tertahan lagi.
"Wah, Bu Cing le hwe, Lehwe . ,"
Belum selesai teriakannya, sesosok bayangan abu-abu sudah melenting tinggi puluhan tombak terus berlari kencang kearah semak belukar sana seperti dikejar setan.
Saking cepatnya ia berlari laksana anak panah terlepas dari busurnya, sebentar saja bayangannya sudah lenyap dari pandangan mata.