"Serahkan dia? Nona Kiong?"
"Kemana kau bawa lari anak putriku?"
Giok-liong menjadi semakin melenggong, cepat ia menyahut.
"Sejak berpisah di Bu-tong-san, bukankah nona Kiong kau bawa pulang? Kenapa sekarang kau menagih kepadaku?"
Geram benar hati Ci hu sin-kun, dari dalam bajunya dirogohnya keluar selembar kain sutra terus diserahkan Giokliong, mulutnya membentak marah.
"Coba baca ini!"
Kain sutra warna merah berkembang mengandung desiran angin keras terus meluncur seperti anak panah, Agaknya Cihu- sin-kun benar-benar marah, maka lemparan kain sutra ini dilandasi tenaga dalamnya yang lihay, kepandaian Lwekangnya memang cukup hebat.
Giok-liong tak berani berajal, sigap sekali ia menggeser kaki miring ke sebalah kiri untuk menghindar daya tekanan dari sambaran angin keras ini lalu mengulur tangan meraih kain sutra dari samping.
Terlihat olehnya diatas kain sutra itu bertuliskan huruf huruf yang indah bergaya lembut diujung paling kanan berbunyi.
"Disampaikan kepada ibunda !"
Sedang isi tulisan selanjutnya berbunyi "Harap maafkan anak tidak berbakti, sehari aku tidak menemukan Giok liong, sehari aku akan kembali ke Ci hu, Tertanda pi ao anak Ling !"
Giok-liong menjadi melongo di tempatnya, perasaannya hampa tak tahu bagaimana ia harus berkata, Pikirnya, kenapa Kiong Ling-ling bisa begitu ke memek terhadap dirinya, sebegitu besar rasa cintanya sampai hendak mencari aku sampai keujung langit atau didalam bumi.
Betapa besar dunia ini seorang perempuan lemah seperti dia bukankah akan hidup sengsara dan merana dalam rantau.
Sedang aku sendiri tidak tabu mena hu tentang hal ini.
Agaknya cinta asmaranya ini akan sia-sia belaka, Sebab hanya menghadapi Coh-Ki-sia seorang saja cukup membuat kepalanya pusing tujuh keliling, bagaimana ia berani menimbulkan banyak kesulitan lainnya lagi? Karena pikirannya ini timbul batin dalam hatinya.
"Nona Kiong ! Ling-ling ! betapa besar rasa cintamu terhadapku, terpaksa aku Ma Giok-liong tidak dapat memberikan harapan."
Seorang diri ia terpekur tenggelam dalam renungannya, sebaliknya Ci hu-sin-kun yang menanti sekian lama sudah tidak sabaran Iagi, air mukanya semakin membara seperti di bakar, biji matanya yang berkilat memancarkan cahaya abuabu, dengan tak sabar ia menggembor.
"Masih ada omongan apa lagi yang ingin kau katakan ?"
Tidak gusar Giok liong sebaliknya tertawa gelak-gelak.
"Apa yang kau tertawakan ?"
"Sambut kembali !"
Kain sutra itu melambai lempang meluncur kembali ke arah Ci-hu-sin kun.
"Anakmu sendiri yang merat tanpa kau jaga, apa hubungannya dengan aku !"
Belum habis kata kata Giok-liong, ia sudah menjejakkan kedua kakinya, tahu-tahu badannya sudah melenting sejauh tiga tombak meluncur ke semak belakar di depan sana. "Keparat, enak benar kau hendak mungkir dari perbuatanmu!"
Gesit sekali Ci-hu-sin-kun juga bergerak laksana mengejar angin memburu kilat berlari kencang mengejar di belakang Giok liong.
"Ai..!"
Terdengar seruan tertahan yang lirih nyaring, setitik bayangan merah meluncur pula kedepan mengejar paling belakang.
"Terjadilah kejar mengejar diantara bayangan putih, abu abu dan merah. Laksana luncuran bintang kemukus mereka meluncur saling kejar diantara lebatnya hutan dan keadaan pegunungan yang penuh jurang- jalang membuat jarak mereka tidak terlalu jauh. Tak lama kemudian jauh didepan sana terdengar kumandangnya suara harpa yang mengalun sedih memilukan Di atas sebidang tanah datar berumput tebal, membumbung tinggi seonggok kayu bakar, beberapa pulun orang orang aneh-aneh yang berambut panjang terurai tengan mengelilingi bara api itu sambil gembar gembor dan menari-nari kegilaan.
"Tang !"
Suara gembreng berbunyi sekali, seketika suara hiruk pikuk menjadi sirap orang-orang aneh yang menari-nari itu juga segera berhenti seluruhnya. Diantara gerombolan besar ini berdiri seorang tua bermuka biru berteriak dengan suasa keras.
"saudara saudaraku, lihatlah !"
Tangannya menunjuk kearah bayangan putih yang melesat datang dengan kecepatan luar biasa langsung meluncur kearah lapangan berumput ini, jaraknya tidak lebih tinggal lima tujuh tombak saja.
Orang tua bermuka biru itu seketika menggerung keras, laksana seekor burung hijau yang besar mendadak ia menjejakkan kakinya tubuhnya lantas melambung tinggi memapak ke depan.
Di tengah udara sekali lagi ia menggerung bengis seraya bentaknya.
"Siapa kau!"
"Dar ...
"
Ledakan dahsyat memekakkan telinga, bayangan putih itu melenting tinggi beberapa tombak baru meluncur turun hinggap di tanah dengan ringan sekali.
Demikian juga orang tua muka biru dengan mata mendelik sebesar jengkol, rambut panjang awut-awutan terjungkir balik turun dari tengah udara, sikapnya garang dan buas penuh nafsu membunuh.
Sementara itu, bayangan abu-abu juga sudah meluncur tiba terus mendarat di sebelah kanan.
Melihat kehadiran sibayangan abu-abu ini berubah air muka si Orang tua muka biru, suaranya mengguntur laksana geledek.
"Ci-hu Loji, berapa tahun tak bertemu, kiranya kau belum mati ?"
Ci hu sin kun Kiong Ki juga berubah dingin, sahutnya penuh keheranan.
"0h ternyata kau !"
"Kau tak menduga bahwa Lit-mo-kiang-si (mayat berambut hijau dari Kiang-si bun (aliran mayat hidup) masih hidup diatas dunia baka ini bukan ?"
Orang tua bermuka biru yang mengaku bernama Lit mokiang- si menggelengkan kepalanya menggemakkati rambut panjang warna hijau diatas kepalanya, nada kata-katanya dingin menusuk pendengaran.
Demikian kedua lengan panjangnya yang tumbuh rambut lebat juga digentakkan sampai berbunyi keretekan, setelah berkata dengan langkah tetap ia mendesak maju ke arah Giok liong yang tengah berdiri melongo di tempatnya, giginya terdengar berkeriut.
Benar seperti dedemit atau siluman penunggu gunung, seolah-olah mayat yang hidup kembali dari liang kubur.
Begitu mendengar kata-kata Ci hun-sin-kun tadi, diam-diam Giok liong sudah waspada, Sebab tiang si bau merupakan aliran sesat yang paling jahat pada ratusan tahun yang lalu, lama sudah aliran ini putus turunan dan sudah lenyap dari kalangan Kangouw, sekarang secara tidak sengaja mendadak ditemui di tempat ini, ini betul-betul suatu hal yang luar biasa.
Sementara itu Lik-mo kiang-si sudah membentak kepada Giok-liong .
"Kawan cilik, siapa kau ini ?"
"Hahahaha ...
"
Belum lagi Giok-liong sempat menjawab, di sebelah sana Ci-hu-sin kun sudan bergelak tawa terbahakbahak, Tiba-tiba tawa panjangnya berhenti sekali berkelebat tahu tahu ia sudah melejit tiba di tengah antara Lik-mo kiangsi dan Giok-liong, dimana tangan besarnya bertepuk sekali seraya berkata.
"jalan di dunia ini kelihatannya memang sempit ! Yang tidak seharusnya bertemu justru sudah bersua tanpa disengaja, sungguh sangat kebetulan !"
Liok mo-kiang-si menengguk liur, katanya, melengking .
"Kiong Lotoa ! jangan suka jual mahal ! Dia ini apamu ?"
Ci-hu sin-kun bergelak tawa lagi sambil menengadah, ujarnya .
"Kiaag si kui ! Apa kau kenal To-ji Pang Giok ?"
"Ha ! Pang Giok Bangkotan tua yang belum mati itu ...
"
"Tutup mulutmu !"
Hardik Giok-liong dengar gusar mendengar Lik-roo kiang-si berani kurang ajar memaki gurunya.
"Kenapa kau semena-mena memaki orang ?"
Dengan senyum penuh arti Ci-hu-sin kun berkata mengadu domba.
"inilah murid tunggal Pang Giok yang kenamaan dengan gelar Kim pit-jan hun, hahahaha !"
Kontan berubah air muka Lik-mo-kiang-si, sepasang matanya memancarkan cahaya hijau rambutnya berdiri tegak nafsu membunuh membayang pada pandangannya, gigi juga berkerot menahan gusar, kedua telapak tangannya digosokgosokan dengan beringas ia tatap Giok-liong, katanya.
"Setan kecil benar kau murid tunggal Pang Giok?"
Giok liong tidak tahu menahu asal usul orang, maka sejujurnya ia menjawab lantang .
"Benar ! Ada urusan apa ?"
"Bagus ! Bagus !"
Dengan langkah kaku Lik-mo-kiang-si melangkah setindak, mendadak jarak beberapa tombak itu diperpendek dengan sekali lompat, lompatannyapun sangat aneh kedua kaki menjejak tanah lapang, badannya lantas melejit ketengah udara, di mana kedua tangannya berkembang jari-jari tangannya laksana cakar garuda mencengkram datang, mulutnya membentak.
"serahkan jiwamu !"
Tubrukannya ini sungguh sangat ganas dan buas seperti serigala kelaparan, serangan tangannya juga bukan olah-olah hebat dan telengas.
Keruan Giok-liong terkejut bukan main, bukankah selama ini belum pernah ketemu dengan Lik-mo kiang-si ini, kenapa sikapnya terhadap dirinya begitu garang seperti musuh punya dendam kesumat.
Sebab sekali ia menyingkir setombak Iebih, seru Giok-liong .
"Tiada dendam dan permusuhan, apa-apaan perbuatanmu ini!"
"Huaaa ... haha ..."
Begitu tusukannya mengenai tempat kosong, mulut Lik-mo-kiang-si lantas berkaok-kaok mengeluarkan suara aneh, Tapi reaksi suaranya ini sungguh mengejutkan.
Terdengar angin berseliweran, ratusan anak buahnya yang berambut aneh seketika merubung datang mengurung Giok-liong dengan rapat.
Tubuh bagian atas mereka telanjang kelihatan badan yang kurus-kurus tinggal kulit membungkus tulang, namun seluruh tubuhnya dirambati bulu-bulu yang tebal panjang, selembar kulit harimau untuk menutupi bawab tubuhnya, kakinya telanjang seperti para kerucut dari istana Giam lo-ong.
Di lain pihak Ci-hu-sin-kun malah bertepuk tangan sambil berjingkrak seperti melihat tontonan yang menggelikan, serunya.
"Lucu! Lucu ! perhitungan ini cukup menyulitkan bukan !"
Terdengar Lik-mo-kiang-si juga membentak beringas.
"Buyung siksaan selama tujuh puluh tahun sudah cukup kuderita, sungguh Tunan maha pengasih, sehari baru saja aku bebas lantas kau mengantarkan nyawa masuk pintu! Hahahaha !"
Hakikatnya Giok-liong tidak tahu menahu duduk perkaranya, keruan ia menjadi gusar, semprotnya.
"Bicara dulu supaya jelas, Urusan setinggi langit juga aku Ma Giok liong atau menandingi ! jangan main seruduk seperti banteng ketaton yang menggila, apa maksudmu?"
Ci-hu-iin-kun tertawa terpingkel-pingkel ujarnya.
"Betul! Kian-si-kui, bicaralah biar jelas, supaya bocah ini tidak mati penasaran"
"Baik."
Lik mo kiang si menggoyangkan kepala, rambut panjang di kepalanya diambilkan ke belakang.
"keparat ! bagaimana juga kau takkan dapat terbang ke langit!"
Lalu dengan telunjuknya ia menunjuk tulang pundaknya kelihatan tulang pundaknya berlobang sebesar ibu jari, lalu katanya sambil mengertak gigi.
"Ini sepasang lobang ini, sampai hari ini tepat tujuh puluh tahun sudah, Tujuh puluh tahun bukan jangka yang pendek, dua laksa lebih hari-hari yang penuh penderitaan sudah ku kenyam"
Hm"
Giok liong masih belum paham akan juntrungannya, tanyanya.
"Tujuh puluh tahun Aku tidak paham !"
"Sudah tentu akan ku buat kau paham !"
Kata Lik-mo kiang-si sepasang matanya seperti bara api berkilat, lengannya bergerak berkembang dengusnya marah-marah.