Dilain pihak Giok-liong sendiri juga tenggelam dalam renungannya, lupa akan keadaan dirinya saat itu.
Sebab ia tengah memikirkan pengalaman semalam dirumah penginapan itu semalam suntuk dirinya terserang penyakit panas yang aneh.
Lantas teringat pula akan pertempuran dirinya dengan Lehwe- heng-cia tempo hari.
semua hnl itu pasti Ibun Hoat takkan menduga dengan tepat, Tapi kenapa sekali lihat lantas dia dapat menunjuk secara tepat.
Terang bukan bohong atau membual belaka.
Tak tahu Ang i-mo-Ii bagaimana perasaan hatinya selanya cepat.
"Paman Ibun, apa kau tidak kwatir dia mempunyai cara pengobatan yang cocok!"
"Hahaha ! Mana gampang ! Mana gampang!"
Tak duga Li Pek-yang juga ikut bicara .
"Engkoh tua ! Bocah ini cukup cerdik, hubungan I-hwe su-cun juga sangat luas, Apa kau tidak kwatir salah perhitungan ?"
Terbalik biji mata Ibun Hoat, dengan semangat riang ia tertawa kering, lalu katanya.
"Hehe! Apa kau kira Le-hwe-boceng merupakan ilmu pasaran yang gampang di buat main, Kalau tidak masa dianggap satu dari tujuh ilmu tunggal mematikan paling hebat di daerah luar perbatasan !"
Cepat-cepat Li Hong membuka mulut lagi .
"Apakah tiada cara pengobatannya ?"
"Ada !"
Jawab Ibun Hoat tegas. Tergerak hati Giok-liong, dengan cermat ia pasang kuping mendengarkan.
"Pengobatan cara bagaimana ?"
Tercetus juga pertanyaan dari mulut Li Pek-yang. Ibun Hoat menggoyangkan kepala serta mengetuk dahinya, ujarnya .
"Lebih sulit memanjat langit ! Tiada halangannya kuberi tahu ! jangan katakan bahwa aku tua bangka terlalu tahu diri!"
Lalu ia berputar menghadap Giok liong serta melangkah maju lebih dekat, mulutnya berkata pelan.
"Hwising- chio dari Ling lam dan Ciat-bam-im dari Pak-hay beruntun kau harus minum tujuh resep baru jiwamu tertolong, namun ilmu silatmu musnah. Dalam tempo tujuh hari kau harus bisa lari keselatan di Ling-lam lalu mengejar waktu menuju kelaut utara untuk memohon kedua ramuan obat pusaka tadi, mungkin jiwamu bakal tertunda selama tiga lima tahun, Kalau tidak terpaksa kau harus niecca-ri Le-hwe heng cia untuk memperhitungkan hutang darah ini ! Hahaha ! Hahaha!"
Panjang lebar ia menjelaskan sambil tuding sana tunjuk sini serta mencak-mencak dengan bangga. Yu-bing-khek-cu Li Pek yang mendengar dan bergelak tawa keras, serunya lantang.
"Kalau begitu caranya, benar benar lebih sukar memanjat langit Pek-cho-ang di Ling-lam masa gampang mau diganggu usik ? Lebih sulit lagi dapat menemui Pak-hay Hwi-thian khek itu tokoh misterius yang aneh !"
Giok-liong semakin gelisah dan kwatir mendengar tembang sebul tanya jawab mereka berdua, jelas bahwa mereka berintrik hendak merebut seruling saktinya, maka tidak bisa ia harus percaya akan kata kata mereka itu.
Pikirnya, apapun yang bakal terjadi aku harus mencari Suhu dulu.
Karena pikirannya ini, Potlot mas diacungkan kedepan serta katanya dengan nada rendah .
"Bagaimana, aku tidak dapat menunggu terlalu lama disini !"
Tidak menanti Giok-liong bicara habis Ibun Hoat sudah menjura kepadanya serta ujarnya .
"Silakan ! Lebih baik kau cepat-cepat keluar dari lingkungan daerah Bu-lay-san supaya tidak membawa kau busuk bagi kita semua."
Giok-liong berludahi semprotnya.
"Coh! Basgkotan tua yang tidak tahu diri !"
Lalu ia menghadapi Li Pek-yang katanya .
"Kuperingatkan kepadamu, hapuskan perjanjianmu dengan guruku! Mulai saat ini jika kalian malang melintang dan membuat geger serta mala petaka di dunia persilatan kebentur ditanganku pasti tidak kuberi ampun !"
Li Pek yang terloroh-loroh, aerunya .
"Lekaslah lagi selamatkan diri ! Tuan besarmu ini takkan mata debat dengan bocah seperti kau yang menjelang ajal masuk liang kubur."
Lahirnya Giok liong tetap berlaku wajar dan tenang, namun sebenarnya hatinya gelisah dan was-was, Maka tiada minat ia terlalu lama tinggal di tempat ini main bacot, setelah mendengus dingin ia cepat-cepat tinggalkan tempat itu.
Ibun Hoat tertawa sinis, ujarnya .
"Kita akan mengutus seseorang untuk mengikuti kau!"
Acuh tak acuh dan jengkel Giok-liong menjengek .
"Kukira kalian takkan berani !"
"Lihat saja nanti !"
"Ya, yang sudah bosan hidup, silakan mengintil aku !"
"Wah main marah apa segala, kan kita bermaksud baik !"
"Maksud baik ?"
"Setelah memperoleh seruling samber nyawamu pasti kita akan mengurus jenazahmu dengan upacara pekuburan besarbesaran!"
"Kentutmu busuk !"
Hardik Giok-liong dengan murka, dimana badannya berkelebat jalur sinar kuning dari ujung Potlot masnya berkelebat tahu-tahu Jan hun su-sek sudah di lancarkan Laksana guntur menggelegar dan kilat menyambar langsung ujung senjatanya menutuk kearah tengah kedua mata Ibun Hoat Cukong istana beracun "Kematian sudah didepan mata masih berani gagah gagahan."
Sambil miringkan tubuh berkelit sebat sekali Ibun Hoat menghindarkan diri dari rangsakan ini, enak-enak saja ia menggendong tangan dengan sikap wajar dan tenang seperti tak terjadi sesuatu apa.
Giok-Iiong tahu gelagat dilihatnya tempat ini tidak perlu diberati lagi, apalagi naga-naganya mereka sudah tiada niat bergebrak lagi dengan dirinya, maka sambil mengembangkan kedua lengannya seperti burung terbang badannya mencelat jauh tinggi, di tengah udara ia membentak keras.
"Sekarang aku pergi. Siapa yang bosan hidup silakan mengintil di belakangku!"
Hilang suaranya bayangan tubuhnya juga sudah meluncur turun dari Im-hong gay dan sekejap mata saja sudah menghilang dikejauhan sana. Jauh dibelakangnya sana terlenrar Ibua Hoat berseru lantang .
"Betapapun tinggi Lwekangnya, sayang tidak berumur panjang!"
Terdengar pula Li Pek-yang berkata .
"Engkoh tua, apa betul-betul hendak mengutus orang untuk membuntutinya ?"
Di ujung jalan keluar pegunungan Bu-lay-san yang sempit penuh ditumbuhi pohon siong yang tua dan rimbun itu, angin menghembus kencang, diatas batu-batu runcing yang tersebar luas itu tampak meluncur sebuah bayangan putih laksana meteor terbang tengah berlari kencang seperti memburu waktu.
Begitu cepat luncuran bayangan putih ini sampai sukar dilihat dengan pandangan mata biasa, terus melesat keluar dari pegunungan yang liar dan lebat itu.
Tak lama sesudah bayangan putih ini menghilang dibalik aling-aling pohon yang lebat didepan sana, tiba-tiba terlihat pula setitik bayangan merah juga berlari kencang secepat kilat memburu dengan ketat, gerakan bayangan merah ini kelihatan lebih lincah dan gemulai.
Bayangan putih didepan itu bukan lain adalah Kim-pit janhun Ma Giok liong yang baru saja turun dari Im-hong-gay, setelah mendengar obrolan Cukong istana beracun Ibun Hoat mau tak mau hatinya menjadi goncang dan penuh was-was.
Karena menurut katanya dirinya telah terkenal bisa ilmu pukulan Le hwe-bu-ceng yang jahat itu.
Tapi waktu ia kerahkan hawa murni terbukti bahwa jalan darahnya normal tanpa gangguan atau petunjuk gejala gejala luka dalam.
Tapi kalau dikata dirinya tidak terluka dan terserang racun jahat,pengalaman malam dipenginapan itu sungguh aneh dan minta perhatian juga.
Apalagi tujuan utama ibun Hoat melulu pada seruling samber nyawa, terang benda sakti berada didepan mata tinggal menggunakan kekerasan merebutnya dari tangannya, namun dia tidak berbuat sebodoh itu, terang bahwa dia betul betul mempunyai pegangang akan berhasil dengan analisa tentang penyakit dirinya itu.
lblis tua laknat ini penuh akal muslihat dan licik, berhati loba dan tamak lagi, sesuatu benda yang sudah di incarnya kalau tiada punya pegangan pasti berhasil, tak mungkin begitu gampang ia mau melepas begitu saja, paling tidak harus memeras keringat untuk merobohkan dirinya dulu.
Bukankah Lam cu tok-yam merupakan ilmu sesat yang ganas dan paling diandalkan oleh pihak istana beracun.
Begitulah sambil berlari kencang diatas pegunungan yang lebat itu hatinya terus menimbang dan berpikir gundah tak tentram.
"Berdiri!"
Mendadak sebuah hardikan keras terdengar dari bawah bukit sebelah depan sana.
DisusuI luncuran turun sebuah bayangan abu abu laksana malaikat dewata terus menghadang didepannya, Begitu melihat orang orang menghadang di depannya ini segera Giok liong menghentikan larinya, cepat cepat ia menjura serta menyapa .
"Kiranya adalan Lo cianpwe!"
Ci-hu-sin-kun menunjukkan sikap serius dan tegang, tanpa mengacuhkan kata kata Giok-liong sebaliknya ia membentak lagi.
"Dimana dia?"
Bahwasanya hati Giok liong sudah dongkol perjalanan ini dihalangi kini dibentak-bentak lagi tanpa juntrungan kalau menurut adat biasanya pasti ia unjuk gigi.
Tapi sekarang dirinya dihadapi persoalan penting tak mau ia banyak menimbulkan perkara ditengah jalan, maka tawartawar saja ia menyahut ."Siapa?"
"Siapa ? Kau tidak tahu?"
"Darimana Wanpwe bisa tahu, toh aku bukan tukang ramal!"
"Bangsat! Tutup mulutmu!"
"Tidak mau aku banyak bicara, labih enak! selamat bertemu!"
Dimana badannya melejit terus meluncur kedepan sejauh lima tombak terus melesat lebih laju.
Giok liong sudah bergerak begitu cepat, namun bayangan abu-abu juga tidak kalah cepatnya, tahu-tahu sekali berkelebat telah menghadang lagi didepannya, bentaknya.
"Bocah keparat! Waktu di Bu-tong-san ada Bik-lian-hoa yang melindungi kau maka Lohu memberi ampun melepasmu untuk hidup, Tak duga ternyata pambek ambisimu begitu besar!"
Giok-liong tercengang heran, katanya.
"Ucapan cianpwe ini sungguh aku tidak paham!"
"Tidak paham!"
"Waktu mengadu pukulan di Bu-tong-san adalah kau sendiri yang melukai putrimu, apa pula hubungannya dengan aku yang rendah!"
"Mulut bawel! Serahkan anak Ling kepadako!"