"Kali ini adalah kau yang mengundang aku. Apakah boleh aku berbalik menantangmu?"
"Tanpa ragu-ragu Yu bing - khek-cu menjawab.
"Sudah tentu boleh!"
Berubah girang air muka Giok liong, serunya lantang sambil berseri tawa.
"Baik, sekarang aku menantangmu!" "Kapan dan ditempat mana? Lohu selalu mengiringi kemauanmu!"
"Watuunya adalah sekarang dan tempatnya juga di Imhong gay sini!"
Li Pek yang tidak mengira akan ucapan Giok liong ini, sesaat ia menjadi tercengang, katanya tergagap."Se...sekarang..."
Semangat Giok liong menyala-nyala, hatinya girang bukan main, laksana pohon cemara yang menghadapi gelombang hujan bayu berdiri tegak ia berseru keras.
"Bagaimana? Tidak relu. Atau tidak berani"
Yubing khek cu Li Pek-yang menjadi naik pitam, semprotnya gusar.
"Bocah keparat yang kurang ajar, Sebutkan cara pertandingan?"
Keadaan Giok liong terbalik dari tamu menjadi tuan rumah, dengan penuh semangat ia tertawa dingin.
"Mengadu Iwekang, caranya terserah pada kau orang tua untuk menentukan menang dan asor, tapi aku perlu mengemukakan suatu permintaan!"
"Apa itu?"
"Hapus janji antara guruku, dengan kau ini!"
"Kau memang sengaja hendak ikut campur dalam urusan Lohu"
"Dikalangan kangouw paling mengutamakan kebajikan dan keperwiraan baru memperbincangkan untung ruginya, Membunuh atau mencelakai jiwa orang memang tidak seharusnya!"
"Apa kau punya pegangan pasti bisa menang dari Lohu?"
"Sudah tentu aku yang rendah pasrah pada takdir!"
"Kiranya kau pintar juga!" "Kau sendiri juga harus pintar melihat gelagat!"
"Lihat serangan!"
Yu bing khek cu Li Pek-yang melancarkan serangan dahsyat saking gusarnya karena diolok-olok.
Perbawa kekuatan pukulannya ini laksana guntur menggelegar dan kilat menyambar, apalagi dilancarkan secara tiba-tiba sebelum lawan bersiaga, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat serangan ini.
Giok liong menjadi terkejut tersipu-sipu ia meloncat tinggi hinggap diatas sebuah basu besar, teriaknya.
"Hei, main sergap dan membokong."
Li Pek yang sudah dibakar oleh kemarahan, mana ia perdulikan segala cemoohan dan ejekan Giokliong, sambil membalikkan badan sebelah tangannya membalik menepuk kebelakang, inilah untuk kedua kalinya ia turun tangan, kekuatannya lebih dahsyat lagi dari serangan pertama tadi, yang diarah adalah perut Giok liong.
Terpaksa Giok liong harus main kelit lagi, badannya melejit tinggi lima tombak untuk menghindar "Blang"
Pecahan batu beterbangan melesat kemana-mana.
Dua kali pukulannya mengenai tempat kosong membuat Li Pek-yang tambah murka sambil mengerling dan berkaok kaok ia lan carkan serangannya lebih gencar.
Melihat keadaan lawan, Giok-liong semakin girang dalam hati pikirnya bagi tokoh kosen paling pantang mengumbar hawa amarah hatinya dalam pertempuran, masa dia tidak tahu akan hal ini, tapi peduli amat, paling benar kupancing supaya dia lebih berang dan marah seperti kebakaran jenggot, baru yang terakhir nanti menundukkannya.
Dengan bekal niatnya ini, wajahnya semakin mengunjuk rasa puas dan gagah-gagahan sambil berloncatan ia terkakak keras se-runya.
"Silakan Kau boyong keluar semua kemampuanmu, tiga ratus jurus atau dalam gebrak lima ratus jurus kalau bisa menyentuh bajuku, anggap saja pertempuran sekarang ini aku kalah, Kalau tidak hehe,hehe, hihi, hahaha !"
Benar juga tantangannya ini membuat Li Pek-yang semakin murka mencak mencak seperti kera makan trasi, mulutnya masih menggerung beringas sepasang matanya menyala gosar berapi api napasnya juga mulai memburu seperti dengus sapi.
Dimana setiap pukulannya menyambar pasti menderu angin kencang yang menggetarkan bumi.
Hakikatnya kepandaian Ginkang Giok-liong sudah sempurna, berkelit dari berbagai serangan tokoh silat utama masih berlebihan malah kadang-kadang bisa balas menyerang dan menggoda, sekarang selalu main kelit dan menghindar seenaknya tanpa takut takut dengan sikap tetap wajar maju mundur, kakinya bergerak bebas seenaknya.
Justru karena gerak geriknya yang wajar dan tidak takut serta menggoda inilah semakin membakar dada Li Pek-yang, Terdengar lah suara "blang" .
"blung"
Dimana angin pukuIan menyambar lewat, batu gunung atau pohon menjadi pecah dan tumbang, rumput dan dedaunan serta debu beterbangan menari-nari ditengah udara.
Beruntun terdengar suara kesiur angin dari lambaian baju orang, tahu-tahu diatas puncak lereng sudah bertambah puluhan bayangan orang.
Ang-i-mo-li Li Hong yang terlebih dulu mendaratkan kakinya di puncak lereng terjal ini, Di belakangnya delapan belas Tong-cu serta berpuluh rasul jubah abu-abu semua sudah meluruk tiba di im-hong-gay ini.
Melihat anak buahnya semua meluruk datang bertambah murka Li Pek-yang.
sebagai ketua dari suatu aliran yang disegani mana boleh dibawah tontonan anak buahnya mengunjukkan kelemahan dirinya.
Akan tetapi, apa boleh buat Giok-liong selalu main kelit dan berloncatan menghindar seperti burung gereja tangkasnya, laksana burung terbang gesitnya, mulutnya tak henti-hentinya berkakakan, bergerak bebas dan selulup timbul diantara samberan angin pukulan dan diantara pohon dan batu-batu gunung.
Betapapun dahsyat dan hebat angin pukulan yang dilancarkan oleh Li Pek-yang jangan harap bisa menyentuh ujung bajunya saja, Apalagi gerak gerik Giok liong begitu cepat dan sebat hebat sekali, jangan toh menyentak bisa mendesak dekat satu kaki saja payah sekali.
Sudah tentu bukan kepalang sengit dan gemas Ti Pekyang, Demikian juga delapan belas Tong-cu juga ikut dongkol dan gusar, Tiba tiba serentak mereka bergerak berpencar ke empat penjuru delapan belas, Tong cu berpencar mengepung rapat, segala jurusan Im-hong-gay ini.
Kedua mata Ang i-mo li Li Hong memancarkan rasa heran dan kejut, Keadaannya memang serba susah.
Teringat akan hubungan asmara dirinya dengan Giok-liong, apalagi pujaan yang selalu diserang f.tng mslim, sekarang mana mungkin dia diam saja melihatnya hancur lebur diatas Im-hong gay karena keroyokan sedemikian banyak tokoh silat kelas wahid.
Begitu melihat delapan belas Tong cu bergerak mengepung dirinya, tanpa merasa Giok-Iiong menjadi aseran, seiring dengan hardikan keras dari muIutnya, mendadak ia rogoh keluar Potlot mas dan seruling samber nyawa.
Dengan menarikan potlot mas ditangan kanan dan seruling samber nyawa ditangan kiri Giokliong menggembor keras.
"Ada berapa banyak kurcaci Yu-bing mo-khek yang tidak takut mati, silahkan maju bersama!"
"Ha! Seruling samber nyawa !" "Kim-pit-jan-hun?"
Delapan belas Tong-cu berbareng berteriak kejut.
"Sreng!"
Serempak mereka juga me!olos keluar delapan belas macam senjata masing-masing.
Tapi mereka maklum bahwa seruling samber nyawa merupakan senjata kuno yang sakti mandraguna, kekuatan dan kesaktiannya tidak boleh dibuat main-main.
Maka siapapun tiada yang berani berlaku ceroboh mendahului bergerak menyerang.
Semua hanya bergerak dan mengepung diIuar kalangan pertempuran sambil berteriak-teriak pula.
Terlihat Li Pek yang rada tertegun, maka dilain saat ia juga merogoh ke pinggangnya mengeluarkan sepasang gadanya.
"Prang gada iblis ditangan kirinya diketukkan bersama memercikkan kembang api, teriaknya beringas.
"Bocah keparat, kau memancing kemarahan Lohu, jangan harap hari ini kau bisa meninggalkan Im hong pay, kecuali kau tinggalkan Jan hun- ti, kalau tidak silakan jiwa saja yang serahkan kepada Kami.!"
Dengan membekal senjata pusaka ditangan Giok-liong lebih temberang, serunya lantang.
"Itu kan impian mu belaka!"
Selain saling cercah itu jarak mereka sudah semakin dekat Mendadak kedua belah pihak bergerak bersama.
"Lihat serangan !" ..
"Bagus sekali!"
Bentakan geras kedua bilah pihak ini laksana geledek menggelegar penuh hawa amarah.
Sinar putih berkelebat cahaya kuning laksana bianglala memancar luas dan tinggi.
Sebaliknya dua bayangan hitam yang besar juga bergerak gesit dan kencang sekali seperti awan mendung berkembang, tiga macam bayangan yang tidak sama tengah berkutet menimbulkan berbagai pandangan aneh yang menakjubkan, angin menderu keras mendesak mundur para pengepung diluar gelanggang, sungguh hebat dan dahsyat sekali pertempuran kali ini jarang ketemu pertempuran yang begini sengit selagi ratusan tahun di kalangan kangouw.
Tatkala itu udara mendadak menjadi mendung gelap angin menghembus semakin dingin, tak lama kemudian hujan rintikrintik.
Tapi pertempuran sengit ditengah gelanggang tidak menjadi kendor karena hujan rintik-rintik ini, sebaliknya mereka semakin semangat karena kepala basah dan menjadi segar.
Gebrak perkelahian tokoh kosen tingkat tinggi dilakukan dengan banyak mengambil resiko, begitu cepat lawan cepat dan ketangkasan, sekejap saja ratusan jurus sudah berlalu ! sinar kuning, cahaya putih perak serta bayangan gada, ditambah deru angin yang menghembus kencang dalam suasana hujan rintik-rintik lagi.
Delapan belas Tongcu semua berdiri menjublek kedinginan basah kuyup seperti ayam kecimplung keaij mereka berdiri tegang dan bersiaga tak bergerak gerak seperti pasung saja.
Terlebih lagi para rasul jubah abu-abu semua menahan napas.
Adalah Ang-i mo li Li Hong yang paling runyam keadaannya, hatinya dirundung khawatir, khawatir akan keselamatan ayahnya, juga khawatir pujaannya menemui mara bahaya.
Dan yang paling menyulitkan adalah watak ayahnya yang kasar dan ketus itu mana dirinya berani maju menyelak untuk bicara, Apalagi dalam keadaan pertempuran yang sengit dan tegang begini juga tidak mungkin ia minta Giok-liong menghentikan pertempuran.
Pada saat itulah, diantara alam pegunungan yang luas sana berkumanding auman keras bagai guntur menggelegar, suaranya seperti kayu pecah berkelotokan, membuat semua pendengar merasa merinding dan berdiri bulu romanya, Baju saja lengking suara ini menembus angkasa, Mendadak rada Li Pek-yang bergerak dengan tipu Mo in jan-jan (bayangan iblis berkelebat), sekuat tenaga ia sapukan kedua gadanya untuk memukul mundur Giok-liong lalu terloroh-loroh menyela, ujarnya.
"Hahahaha. Para Tong-cu lekas berbaris, sambut tahu terhormat!"