Seruling Samber Nyawa Chapter 103

NIC

"Kita bicara lagi setelah sampai diatas."

Habis ucapannya tubuh Li Pek-yang lantas melesat tinggi, dimana ia menggentakkan kedua lengannya, jubah bajunya yang kuning gondrong itu melambai lambai seperti dua sayap burung besar terus melembung tinggi menjulang ke tengah angkasa melesat kearah lereng curam dan terjal didepan sana.

Lereng bukit dari batu gunung adalah sedemikian licin seperti kaca, rumput tidak tumbuh, tiada tempat berpinjak untuk meletakkan tenaga, jangan untuk berpijak bagi manusia sampai burung juga tidak kuasa menotok diatas lereng terjal itu.

Tapi begitu Li Pek-yang mementang kedua lengannya di tengah udara menekuk pinggang, tangan dan kaki diulur berkembang lempeng, dengan jurusan gaya Ham-ya to lim langsung tubuhnya menempel diatas batu terjal diatas lereng itu, sedikit tangan-menekan dan menarik keatas berbareng kedua kakinya sedikit menutul.

Mulutnya juga lantas menggembor keras, kontan badan besarnya melenting lebih cepat lagi ketengah udara seperti bintang mengejar rembuIan.

Disaat tubuhnya melenting seperti anak panah meluncur ini tubuhnya lantas terjajar lempeng, daya luncurannya menjadi semakin keras menegang kearas, lima tombak dicapainya dengan mudah, Begitulah beruntun dua kali ia menggunakan cara yang sama kaki dan tangan bekerja sama badannya terus mumbul keatas.

Kalau dituturkan memang gampang, tapi bagi yang melakukan adalah memeras keringat dan untuk yang menonton merasa giris dan merinding, sebab sangat sulit dapat melakukan pertunjukkan macam begitu, Karena bukan saja sangat berbahaya, kalau tidak membekali lwekang dan kepandaian yang sudah sempurna tak mungkin dapat mengembangkan kepandaian selincah itu.

Akan tetapi bagi Giok liong hanya sekali pandang cara gerakan permulaan Li Pek yang lantas ia tahu cara apa yang telah digunakan orang, dimaklumi oleh Giok-liong cara meminjam tenaga melentingkan tubuh dengan gaya meminjam tenaga ini lebih cepat dan cekatan kalau dibanding ilmu Pik hou kang (cecak merayap).

Oleh karena itu Giok liong juga hendak meniru cara orang, sekali loncat ia jungkir ke belakang, punggung menempel dinding lalu dengan Leng-hun-toh ia mulai bergerak.

Tapi karena punggung yang menempel dinding maka ia tidak menggunakan kaki tangan, waktu tubuhnya melayang hampir menyentuh dinding, mendadak bokongnya dijorokkan kebelakang dengan gaya seperti orang duduk umumnya, tapi meminjam gaya berduduk ini begitu pantatnya menyentuh dinding badannya lantas jumpalitan keatas, sekali melesat lima tujuh tombak tingginya untuk kedua kalinya mundur menempel dinding lagi terus dengan pantatnya meminjam tenaga melentingkan tubuhnya semakin tinggi.

Cara dan gaya yang aneh dilakukan Giok-liong ini bukan saja bagi orang dibawah merasa aneh dan takjub, bagi Giokliong sendiri juga merupakan penemuan baru sesuai mengikuti situasi dihadapinya ini, inilah cara baru yang diilhami oleh kecerdikannya ! Tapi bila benar benar diukur hakikatnya gerak luncuran tubuhnya ini jauh lebih pesat dibanding gerak tubuh Li pekyang tadi.

Dari atas Li Pek-yang melihat pertunjukan aneh ini, diamdiam hatinya gelisah dan risau, pikirnya terhitung ilmu apakah yang dikembangkan bocah ini! Hati berpikir tapi gerakannya masih tetap dilancarkan beruntun berapa kali jumpalitan dengan enteng mendaratkan kakinya diatas ngarai.

Baru saja kakinya mendarat dan memutar tubuh, terdengar angin berkesiur melesat lewat disamping pundaknya, terdengar suara orang bertanya.

"Khek cu, dimanakah guruku?"

Sebetulnya Yu-bing-khek-cu Li Pek-yang sangat terkejut karena Giok-liong bisa bersamaan waktu tiba diatas bukit, tapi dasar tua-tua keladi, lahirnya tetap tenang tanpa menunjuk rasa kagum, tawar saja ia menyahut .

"Mari ikut aku !"

Angin pegunungan menghembus keras menderu di pinggir kuping, dahan dahan pohon bergoyang melambai turun naik angin ini terasa dingin membekukan badan manusia sedemikian tinggi puncak ini menjulang naik ke awan, waktu pandang kebawah, gunung gemunung tiada batas ujung pangkalnya beriring dan berjajar sambung menyambung, memang kenyataan hanya puncak dirinya berpijak inilah yang paling tinggi di banding sekitarnya.

Sekali lompat Ll Pek-yang melesat ditengah-tengah Imhong gay, katanya sambil menunjuk sebuah batu gunung besar.

"Nah, inilah tanda peninggalan Lwekang gurumu !"

Lekas-lekas Giok-liong memburu maju terus memeriksa batu besar itu.

Batu gunung ini begitu besar laksana sebuah rumah, samar samar terlibat ada bekas telapak tangan manusia, bekas telapak tangan ini melesak masuk sedalam tiga senti.

Giok liong kurang paham, tanyanya.

"Lwekang Guruku ...

" "Coba kau lihat muka sebelah sana."

Kata Li Pek-yang tawar, Hilang suaranya tubuhnya sudah melambung tinggi melampaui batu gunung besar itu meluncur ke balik sana.

Gesit sekali Giok-liong juga sudah tiba di sebelah sana, menurut arahnya ia memandang.

Ternyata muka sebelah sini diatas batu gunung itu ada pula bekas telapak tangan, sepasang telapak tangan ini juga melesak sedalam tiga senti.

"Ini ?"

Giok liong membelalakan mata, ia bertanya dengan tidak mengerti."

"inilah bekas telapak tangan gurumu dan Khek cu waktu mengadu Lwekang, bagaimana ? Kau masih belum paham?"

Mengadu keras telapak tangan ?"

Giok-liong menggeleng kepala, otaknya menjadi tumpul tak tahu apa yang telah terjadi.

"Buyung ! Baiklah kuterangkan ! Gurumu berdiri di sebelah sana, aku berdiri disini, kedua belah pihak bersama mengerahkan tenaga mendorong batu ini untuk mengadu Lwekang ! Sudah paham belum ?"

"O, baru sekarang Giok-liong mengerti, menunjuk bekas telapak tangan diatas batu itu ia berkata .

"Suhu tiga uang, sama kuat tiada yaag lebih unggul sau asor !"

Siapa tahu Li Pek yang membentak aseran.

"Siapa bilang tidak terbedakan kalah menang !"

"Dilihat dari bekas telapak tangan ini, terang gurumu masih kalah seurat dibanding aku."

"Omong kosong belaka !"

"Ada bukti dapat kau lihat, Lihat ini !"

Kata Li Pek-yaog sambil menunjuk kebawah kakinya, sambut nya lagi .

"Nah, disini masih ada buktinya !"

Waktu Giok-liong memandang kebawah benar juga diatas batu gunung kasar yang penuh lumut itu kelihatan ada sepasang bekas kaki, melesak dalam lima senti, tapak itu sangat rapi dan persis sekali seperti diukir dan di tanah.

Belum sempat Giok-liong membuka sura Li Pek-yang sudah berkata lagi lebih keras.

"Inilah bekas tapak kaki Lohu!"

Lalu ke dua kakinya dimasukkan kedalam tapak kaki diatas batu itu, benar juga persis benar tanpa kelihatan lobang-lobang sisanya. Maka dengan penuh kemenangan ia berkata lagi.

"Mari kita lihat punya gurumu !"

Giok-liong melompat lebih dulu kebalik batu sebelah sana, begitu ia melihat bekas tekas diatas tanah seketika ia berdiri melongo.

Ternyata diatas batu gunung yang sana bekas telapak kaki disini jauh berbeda, Bukan saja melesak sedalam tujuh senti malah bekas tapak kaki ini meleset mundur empat inci, terang kalau berdirinya tidak kuat dan ksunit mundur serta bertahan mati matian.

Giok-liong menggeleng kepala, otaknya menjadi tumpul tak tahu apa yang telah terjadi.

Dari samping dengan pandangan hina, Li Pek-yang mengejek dingin.

"Sekarang sudah paham belum?"

Kenyataan membuktikan mulut Giok-liong terkancing tak kuasa buka suara lagi, akhirnya ia bertanya ragu-ragu.

"Guruku? Dia..."

Li Pek yang tertawa hambar dengan puas, katanya.

"Dia sudah mengadakan suatu perjanjian denganku !"

"Janji? janji api ?"

"Dia tidak turut campur urusanku dengan pihak golongan dan aliran Iain. Sebaliknya aku tidak menguarnya berita kekalahannya hari ini kepada dunia persilaian, supaya tidak merusak nama baik Ih lwe su-cun selama dua ratusan tahun !" "Benar begitu?"

"Sebagai seorang ketua mungkinkah aku berbohong !"

Giok liong menjadi bungkam seribu basa matanya memandang ketempat yang jauh disana, otaknya tengah berpikir dan menerawang tindakan apa yang harus dilaksanakan sekarang.

"Hahahaha! "Hehehehehe!"

Saking puas dan bangga Li Pekyang memperdengarkan gelak tawanya yang melengking tinggi.

Giok-liong merasa kalau membiarkan saja Yu-bing-mo khek terus berkembang dan menjadi besar, pigak yang menderita dan jadi sasaran utama pasti delapan aliran besar, sedang golongan Pang atau Pay dalam kalangan Kangou juga takkan luput dari agresi pihak Yu-bing-mo-khek.

Hm, kalau ini dibiarkan berkembang biak, pasti terjadilah pembantaian manusia besar-besaran, dunia persilatan pasti geger dan dan tiada satu haripun yang aman sentosa.

Karena pikirannya ini akhirnya Giok-liong mengempos semangat, dengan sabar ia berkata.

"Khek-cu! Apakah perjanjianmu ini tidak mungkin dirubah lagi?"

"Tentu, kecuali gurumu sudak tidak hiraukan lagi nama baiknya selama dua ratus tahun itu, ditambah dosa sebagai manusia kerdil rendah yang mengingkari janji, kalau tidak, Lohu pasti melaksanakan apa saja yang pernah kukatakan."

"Hahahaha ... .Giok-liong menengadah bergelak terloroh- Ioroh dengan kecut, Tak tahu dia bagaimana perasaan tawanya itu, yang terang cukup membuat pendengarnya merinding. Yu-bing khek-cu sendiri juga terlongong di tempatnya tak tahu apa maksud tawa orang, sekian lama ia menjublek tak bersuara. Giok-liong menarik tawanya lala berkata lantang.

"Khek cu, sayang sekali perhitunganmu yang cukup menguntungkan kau itu bakal gagal total Hahahahana!"

"Gagal total..."

"Ya, sebab perjanjian itu tidak berlaku."

"Tidak berlaku?"

"Ya tidak berguna sama sekali!"

"Kau berani melanggar perjanjian yang diadakan perguruanmu?"

"Penjanjian diatas Im hong gay sini adalah aku yang menjanjikan, kalau orang lain yang mewakili seharusnya kau boleh tidak usah melayani dia. Part apa yang dikatakan wakil itu tanpa mandat lagi, sudah tentu tak boleh masuk hitungan."

"Pembual besar!"

"Dimana aku membual, bukankah Khek-cu sendiri yang mengundang aku!"

"Ini...."

"Dan lagi, pertandingan guruku dan kau, itu hakekatnya kurang pada tempatnya."

"Bagaimana maksud katamu ini!"

"Ketahuilah betupa sempurna kepandaian guruku, boleh dikata sudah hampir mencapai menjadi dewa, mana dia tega menduga tenaga kasar dengan kau, terang dia mengalah untuk memberi muka kepada kau. Dan bagimu kau anggap mendapat angin dan dapat mengalahkan beliau. Sampai sekarang kau masihdikelabui oleh pikiran sempitmu. Malah mentang-mentang mengadakan ikatan janji demi keuntungan sendiri. Huh, benar benar tidak tahu betapa tingginya langit dan tebalnya bumi, Hahaha."

Sementara kata-kata Giok-ling ini diucapkan dengan takabur seolah-olah disampingnya tiada orang lain terang ia tidak memandang sebelah mata Yu bing-khek- cu Li Pek-yang, terutama tawa dinginnya yang bernada mengejek ini lebih tajam dari senjata mengetuk sanubarinya, keruan Li Pek-yang menjadi berang bentaknya.

"Buyung. tutup mulutmu!"

Tibatiba ia melompat keatas batu besar itu serta hardiknya lagi.

"Aapakah kau berani tanggung resiko membatalkan perjanjian perguruanmu."

Acuh tak acuh Giok liong menjawab perjanjian perguruan aku tidak menolak dan tidak berani membangkang!"

"Itulah baik!"

"Tapi nanti dulu!"

"Apa lagi yang perlu diperbincangkan?"

"Janjiku sendiri aku harus manepatinya !"

"Janjimu ?"

"Bukankah kau perintahkan Tong-cumu menjanjikan aku datang kemari ?"

"Brengsek ?"

"Apa yang kau maksudkan brengsek ?"

"Gurumu sudab mewakili kau menapati janji itu, bukan!"

"Janji dikalangan Kangouw kecuali orang yang itu sendiri sudah meninggal seharusnya dia sendiri yang harus hadir tepat pada waktunya, Aku yang rendah masih segar bugar, bukan saja belum mati malah tepat aku datang pada waktunya, buat apa perlu orang lain mewakili aku !" "Buyung, masa kau berani tidak mengelabui Pang Giok ?"

Pertanyaan ini membuat Giok- liong mengerut kening, Karena kaum persilatan di Kangouw paling mengutamakan dan menjunjung tinggi nama suci perguruan betapapun yang terjadi harus selalu setia dan bakti pada sang guru sekarang Li Pek-yang mengemukakan pertanyaan besar ini kepada Giokliong, sudah tentu Giok-liong menjadi serba salah, tak mungkin ia berani mengeluarkan kata-kata yang tidak mengakui perguruannya apalagi sejak semula ia sangat hormat dan setia pada gurunya yang berbudi.

Sebab itu, sesaat ia terhenyak bungkam tak bisa bersuara.

Li Pek yang semakin mendapat hati, jengeknya dingin .

"Buyung, urusan pihak kita lebih baik selanjutnya jangan kau turut campur!"

Giok-liong terlongong-longong menengadah memandang langit.

"Sudah tidak bisa berdebat lagi ? Kuperintahkan segera kau keluar dari lingkungan Yu bing-mo-khek!"

"Baik ! ... kau .."

Dengan lesu dan rasa saya Giok liong sudah siap hendak tinggal pergi, mendadak hatinya tergerak, otaknya memperoleh sebuah ilham segera kakinya lantas merandek, dengan berani ia pandang Yu-bing-khek-cu serta katanya .

Posting Komentar