Seruling Samber Nyawa Chapter 102

NIC

Terdengar suaranya begitu gelisah dan gugup, maka daya luncuran tubuhnya juga semakin kencang menukik turun.

Tepat pada saat semua orang mengelak dan tak mampu memberi pertolongan lagi, bayangan kuning itu laksana bintang jatuh melesat lewat di-depan pintu gua begitu cepat sampai pandangan semua orang terasa kabur.

Kalau dikata lambat, kejadian adalah begitu cepat, Terlihat bayangan kuning itu menjejakkan kedua kakinya dan saling silang, tangannya terus diulur meraih kebawah seraya membentak .

"Naik !"

Tepat sekali tangannya kena menyengkeram baju Li Liong serta menahan daya luncuran tubuhnya yang meluncur jatuh.

Akan tetapi karena dia sendiri juga meluncur turun dari atas laksana mengejar setan maka untuk sesaat sukar untuk menahan daya luncuran jatuhnya, maka badan mereka berdua tetap melayanig ke bawah.

"Ayah !"

Pekik Ang-i mo-li-Li Hong kegirangan dan waswas.

Bayangan kuning yang menangkap tubuh Li Liong dan ikut memang jatuh itu, mendadak bersuit keras dan panjang, begitu nyaring lengking suitan ini sampai bergema dan kumandang di seluruh alam pegunungan yang luas dan terbuka ini.

Disaat ia memperdengarkan suitan panjangnya inilah terlihat ia menekuk pinggang di tengah udara menggunakan daya Teng-kiau ki hong"

Sehingga daya luncuran kebawahnya kena dihambat dan menjadi lamban, begitu ia membalik badan kedua tangannya terus angkat Li Liong tinggi diatas kepalanya, dengan begitu bukan saja badan mereka yang melayang kena terhambat, disusul dengan ilmu memanjat tangga langit di kembangkan lalu dirubah pula dengan jurus Ping-te ceng-hun (awan berkembang ditanah datar) laksana sebuah meteor seperti permainan kembang api yang meluncur ditengah udara terus melesat naik keatas.

Delapan belas Tong-cu serta para rasul dan anak buah lainnya seketika bersorak sorai suaranya gegap gempita.

Giokliong sendiri juga kagum dan memuji dalam hati akan kehebatan lwekang siorang tua berpakaian kuning yang mempunyai ilmu tunggal tiada taranya.

"Ayah ! "dengan riang Li Hong memburu maju kepinggir jurang dan berteriak ke arah laki-laki berbaju kuning itu. Baru sekarang jelas bagi Giok-liong bahwa laki-laki baja kuning ini bukan lain adalah Yu-Bing-khek cu Li Pek-yang. Saat itu adalah kesempatan paling baik untuk tinggal pergi saja, sebab perhatian semua orang tengah tertuju pada diri Li Pek-yang, Tapi dia tak mungkin pergi sebab dia harus segera tahu apakah benar gurunya sudah datang mewakili dirinya menepati janji itu? Dan yang lebih penting lagi bagaimana akhir dari adu kepandaian diatas ngarai angin itu? Yu-bing-khek-cu Li Pek-yang ternyata adalah seorang lakilaki bertubuh kekar dan tinggi besar, wajahnya dihiasi jambang bauk lebat, mukanya warna merah seperti kepiting direbus, dengan gerakan Biau-si-sin hoat ringan sekali ia kempit tubuh Li Liong masuk kedalam gua. Begitu menginjak tanah pandangan matanya lantas tertuju kearah Giok-liong berpaling ia tanya pada putrinya.

"A-nak Hong ! Siapa dia?"

Delapan belas Tong cu serentak mendahului menjura serta menjawab berbareng.

"Dia inilah Kim pit-jan hun Giok-liong !."

"Oh"

Tak tertahan Li Pek-yang berseru kejut, Melihat muka ayahnya mengunjuk rasa kaget dan heran, khawatir ayahnya segera turun tangan, cepat-cepat Li Hong memburu maju dihadapannya serta serunya pelan.."

Yah..!"

Pandangan Yu bing-khek-cu Li Pek-yang terpancar tajam dingin, sambil masih menenteng tubuh Li Liong ia bertanya dengan nada berat.

"Yang memukul terbang anak Liong jadi kau ini ?"

"Tidak salah, memang aku yang rendah adanya !"

"Aku yang rendah ? Begitu takabur kau sehingga membahasakan diri Wanpwe saja tidak sudi sombong benar !"

"Aku datang untuk menepati janji, kawan atau lawan toh belum jelas."

"Kawan atau lawan belum jelas ?"

Ulang Yu-bing khek-cu Li Pek-yang menarik muka tiba-tiba suaranya menjadi bengis.

"Sudah terang belum tahu kawan atau lawan, kenapa lantas turun tangan melukai orang ?"

Sambil berkata ia serahkan tubuh Li Liong kepada salah seorang Tongcu dibelakangnya, kakinya terus melangkah tindak demi tindak kearah Giok liong. Berubah pucat wajah Li Hong, teriaknya .

"Ayah... ."

"Jangan turut campur !"

Yu bing khep cu Li Pek-yang memicingkan mata menatap Giok-liong, jarak mereka tidak lebih tujuh kaki, sekali ulur tangan saja cukup meranggeh.

"Delapan belas Tongcu berdiri tegang dan bersiaga, bernapaspun mereka tahan pelan-pelan. Sedikitpun Giok-liong tidak merasa gentar, diam diam ia kerahkan Ji-lo, katanya lantang .

"Haha, kejadian ini jangan kau salahkan aku yang rendah !"

"LaLu salahkan siapa ?"

"Anak masmu itu yang turun tangan dulu !"

"Kau berani menyelundup ke sarang kita lalu harus salahkan siapa ?" "Aku datang untuk menepati janji !"

"Kenapa tidak langsung ke Im-hong-gay ? sebaliknya kau menerjang dan membikin onar di sini ? "

"ini ...."

Pandangan Giok liong beralih ke arah Ang-i mo-li Li Hong Li Hong, tahu Giok- liong tidak enak buka mulut secara terang- terangan, maka lekas-lekas ia tampil ke depan serta katanya .

"Yah ! ini ... aku lah yang membawanya kemari, jangan kau salahkan dia !"

Giok-liong bergelak tawa, dengan menyeringai ejek dia pandang Yu-bing-khek-cu. Tak diduga, Yu-bing khek cu Li pek-yang menyentak dengan suara rendah berat.

"Anak Hong jangan banyak mulut!"

Li Hong menyambung lagi .

"Memang benar akulah yang membawa dia kemari, Ayah !"

"Huh,"

Yu-bing-khek cu mendengus lalu katanya.

"Kau kira dia sengaja datang untuk menepati janji ? Hakikatnya dia mengundang seorang tokoh kosen lain menanti Lohu di puncak Im-hong gay, ini terang sengaja hendak membokong ayahmu, tapi mana dapat mengelabui aku !"

Giok-liong menjadi kaget, tanyanya .

"Tokoh kosen ? Siapa ?"

"To ji Pang Giok."

"O, beliau adalah guruku!"

"Ya, guru dan murid berintrik mengatur tipu muslihat ini lebih kenyataan belangnya."

Tanpa menjawab atau hiraukan tuduhan orang sepasang mata Giok liong jelilatan mengawasi tubuh Li Pek-yang dari kepala ke-kaki, lalu dari kaki ke kepala lagi, semua diperiksa dengan seksama dan cermat. "Lihat apa ?"

Sentak Yu bing-khek-cu Li Pek-yang dengan kasar.

Tapi sepasang mata Giok-liong masih tetap tidak berkibar dari pandangan tubuhnya.

Dari tubuh Yu bing khekku Li Pek-yang ini ia hendak melihat dan mengetahui keadaan perjanjian yang sudah terjadi diatas Im-hom-gay tadi, Apakah sudah bergebrak? Bagaimana keadaan pertempuran tadi ? Siapa yang menang ? Siapa yang kalah ? Sekian lama ia mengawasi, hatinya menjadi heran dan curiga sebagai dari tubuh Li Pek yang sedikitpun it tidak menemukan tanda-tanda yang diharapkan.

Pakaiannya tetap rapi, rambutnya juga tidak awut-awutan terang bahwa sebelum ini dia tidak atau belum mengadakan pertempuran.

Apa mungkin tidak terjadi adu tanding kepandaian diatas Im hong-gay sana? Hati berpikir, tanpa merasa mulutnya berkata .

"Kau sudah bergebrak dengan guru belum?"

Tanpa ragu-ragu Li Pek-yang bersuara keras.

"Sudah lama kudengar nama To-ji Pang Giok sebagai salah seorang ih-lwesu cun yang diagungkan, ternyata kepandaiannya juga hanya begitu saja ! Hahahahaha!"

Gelak tawanya ini membuat hati Giok-liong mencelos, hatinya terasa menjadi ciut, Sebab gelak tawanya itu menunjukkan rasa puas dan bangganya akan kemenangannya. Giok liong bertanya lebih keras.

"Sudah saling gebrak!"

"Lohu sudah mengukur kepandaian gurumu!"

Tidak perlu ditanyakan lagi terang bahwa Yu-bing-khek cu Li Pek-yang teish menang. Giok-liong tak kuat menahan perasaan hatinya, maju setapak ia bertanya tak sabaran.

"Guruku ? ..."

Dia tidak berani mengatakan "kalah".

"Gurumu jjga hanya sebegitu saja buyung, coba ketuk hatimu dan tanyakan apakah kau bisa lebih kuat dari gurumu sendiri !"

"Aku . ."

"Kau bagaimana ?"

"Aku tidak percaya !"

"Tidak percaya ?"

"Ya."

"Aku punya sebuah bukti."

Belum habis ucapannya Yu-bingkekcu Li Pek yang tahu-tahu berkelebat tiba diambang pintu gua, setelah menggape kepada Giok liong ia menunjuk puncak lereng serta katanya.

"Ikut aku ke puncak Im-hong-gay lihatlah sendiri kemampuan gurumu !"

Perasaan dingin menjalari seluruh tubuh Giok-liong, sungguh kejamnya bukan main, pikirnya.

"Apakah mungkin guru ... ia tak berani membayangkan keadaan sebenarnya diatas puncak lereng sana, Apakah mayat yang sudah tercerai berai ..."

Giok liong melompat gesit sekali. dimana bayangan putih berkelebat, terdengar ia berserunya nyaring.

"Silakan !"

Datang belakang tapi Giok-liong sudah mendahuIui menginjak kaki diambang gua terus membentang kedua lengan tangan.

Keruan sepak terjang Giok-liong ini membuat Li Pek yang tertegun sejenak sampai mengeluarkan suara tertahan.

Sungguh diluar dugaannya bohwa pemuda ini bisa bergerak begitu lincah dan sempurna betul, kecepatan gerak tubuhnya melebihi orang persilatan umumnya, tanpa merasa dari kekagumannya ini berapa kali ia pandang Giok-liong dengan seksama.

Giok liong berkata wajar .

"Khek-cu maaf ada masalah apa ?"

Posting Komentar