Benar juga disebelah depan dari dua samping jalan melayang layang seperti tidak menyentuh tanah berkelebat keluar delapan belas laki-laki kekat berambut panjang seragam hitam, gerak langkah mereka sangat aneh dan lucu sekali, terang kepandaian rombongan kedua ini jauh lebih lihay dan tinggi dibanding dengan rombongan seragam abuabu tadi.
Segera Giok-liong siap terus mengerahkan Ji lo untuk melindungi badan, Siapa tahu kiranya kedelapan belas laki-laki seragam hitam ini lantas berbaris rapi dikedua pinggiran jalan di belakang papan larangan kedua itu, semua berdiri tegap dengan mata tertuju ke depan tanpa bergerak dan bersuara.
"Mari !"
Ang-i-tno li Li Hong mengajak Giok-liong maju terus, dengan pecut ditangan ia mencongklang tunggangannya terus menerobos ke depan melewati tengah tengah deretan barisan, ke delapan belas seragam hitam itu.
Jantung Giok-liong berdebar keras, hatinya menjadi waswas dan risau, tak tahu apa yang bakal terjadi dan apa pula sebabnya.
"Kalau sudah berani datang, apapun akibatnya harus berani dihadapi, Tak peduIi sarang naga atau gua harimau, keadaanku seumpama anak panah yang terpasang di-busur, tinggal dilepaskan, seperti menunggang harimau yang sulit turun, betapapun aku tak boleh unjuk kelemahan supaya tdak dipandang ringan olen mereka !"
Karena pikirannya ini, Giokliong tak banyak mulut lagi, mengintil di belakang Li Hong iapun sedepan pelan-pelan.
Kira-kira dua puluhan tombak lagi, di-depan sana terlihat lagi papan larangan ketiga kali ini hanya tertulis dua huruf besar warna hitam .
"Tenang !"
Sampai didepan papan larangan Li Hong menghentikan kudanya terus turun dari tunggangannya, serunya merdu menggiurkan.
"Sudah sampai turun."
Belum lagi Giok-liong bergerak turun, bayangan orang berkelebat, dari belakang papan larangan itu melayang keluar empat orang aneh berambut panjang yang mengenakan seragam kuning.
Cara dandanan keempat orang aneh ini serupa dan sama, rambutnya riap-riapan dengan roman muka yang kasar dan beringas sangat menakutkan, apalagi panca inderanya tidak lengkap, kulit mukanya penuh tergores bekas luka luka dari senjata tajam yang matang melintang, jadi hakikatnya roman mukanya ini sudah tidak menyerupai wajah manusia umumnya.
Sekali pandang saja orang akan ketakutan dan merinding.
Begitu menginjak tanah tersipu-sipu mereka memburu maju menyambut ke depan Ang i mo li Li Hong terus menyapa berbareng.
"Siocia telah pulang !"
Sesaat Giok-liong tertegun diatas kudanya, pikirnya.
"Apa Li Hong warga Yu-bing-mo-khek?", tapi tiada banyak tempo untuk dia berpikir. Dengan sikap angkuh dan besar- besar Li liong manggut lalu katanya menunjuk Giok-liong.
"Su-ciang ( empat panglima ) menghadap pada Ma Tay hiap !"
Mendapat perintah ini keempat orang aneh itu saling pandang sebentar terus maju melangkah sambil menjura kepada Giok-liong, serunya bersama .
"selamat datang Ma Tay-hiap !"
Dengan suara merdunya lantas Li Hong memperkenalkan.
"inilah Ang-keh su-ciang, tokoh kosen langsung dibawah Sancu (ketua) Bu lay-san, Kaum bulim baik golongan hitam bila mendengar namanya pasti lari ketakutan, untuk aliran putih paling tidak akan mengerutkan kening, puluhaa tahun yang lalu mereka sudah malang melintang di Kangouw dengan nama Ang-st su-ni ing (empat pan!a-tvaa dari keluarga Ang)"
Ang keh-su ciang mundur berbareng sembari mengiakan .
"Siocia terlalu memuji hamba sekalian !"
Namun sedikitpun Li Hong tidak hiraukan mereka lagi, tanpa banyak omong lagi tangannya menjulur menyilahkan serta berkata kepada Giok-liong .
"Silakan !"
Bagi Giok liong semua yang dihadapi ini menjadi serba diluar dugaan, semua dirasakan aneh dan mengherankan, terpaksa ia bersikap acuh mengikuti situasi dengan manggut manggut tersenyum, menurut yang ditunjuk Li Hong ia mendahului berjalan di depan.
Setelah belak belok beberapa kali pemandangan di depan mata mendadak berubah sama sekali, sebuah lereng bukit yang terjal tak kelihatan ujung pangkalnya setinggi ribuan meter terbentang di depan mata, betapa curam dan berbahaya sungguh menggiriskan sekali, Puncak tertinggi tak kelihatan diselimuti awan tebal, angin menghembus keras menyampuk muka.
Di dasar lereng curam sana pohon pohon siong dan pek tumbuh subur, air sungai mengalir deras sekali laksana derap ribuan kuda yang mecnbedal kencang menggetarkan bumi memekakkan telinga, mengiring dasar jurang didasir lereng gunung curam itu adalah sebuah jalanan gunung yang penuh ditaburi lumut yang sangat licin sekali, sekali kurang hati-hati begitu terpeleset pasti badan akan jatuh masuk jurang tak terkira dalamnya.
Sampai di ujung jalan kecil pegunungan ini dihadapannya dihadapi banyak gua-gua yang hitam gelap, gua-gua ini berjajar sedemikian banyak tak kurang sembilan belas lobang.
Gua besar yang terletak dipaling tengah teratas atapnya terukir huruf huruf kuno yang besar berbunyi .
"Yu Bing !"
Melihat kedua huruf besar ini tanpa merasa Giok-liong menghentikan langkahnya, katanya kepada Ang-i-mo-li Li Hong.
"Nona Li, kau adalah ..."
Li Hong tersenyum simpul, ujarnya.
"Masuk dulu, nanti kita bicara lagi!"
Belum lenyap suara Li Hong, mendadak "Kok ! kok ! sebuah jeritan keras yang pendek menembus angkasa terdengar dari puncak lereng yang tinggi sana.
Tak kuasa berubah air muka Li Hong sesaat ia tertegun melenggong.
Giok-liong sendiri juga menjadi kaget dan kesima mendengar suara itu.
"Siuuuuur ....."
Terdengar angin berkesiur di susul subuah bayangan merah melesat keluar dari Yu-bing-khek menyusuri jalan kecil diatas lereng itu beruntun beberapa kali loncaran saja ringan sekali sudah meluncur turun dan hinggap disamping Li Hong.
Pendatang ini kiranya adalah seorang laki-iaki, tiga puluhan tahun, pakaian merah yang dipakainya itu sangat menyolok mata, kedua biji matanya berkilat tajam, pertama tama ia tetap Giok liong lalu beralih pandang ke arah Li Hong, katanya lantang.
"Dik, kau sudah kembali ?"
Tidak menjawab sebaliknya Li Hong baru bertanya.
"Toako dipuncak lereng - - ."
"Ayah naik ke puncak sana untuk menepati janji kupikir..."
Li Hong bertambah heran, tanyanya mengerut kening.
"Menepati janji?"
Lalu ia berputar menghadapi Giok liong katanya lagi.
"Kau punya teman?"
Giok liong menggeleng kepala dengan keheranan, katanya.
"Teman? Aku? Tidak?"
"Lalu siapakah dia?"
Ang-i-mo-li Li Hoog menggumam dan berkata seorang diri sambil merenung lalu katanya kepada laki-laki berbaju merah itu.
"Toako layanilah Ma Siau-hiap ini masuk ke dalam lembah biar aku naik keatas melihat-lihat."
Cepat-cepat Ang-mo atau laki-laki berpakaian merah itu menggoyang tangan serta berkata gugup.
"Dik, jangan bagaimana watak ayah masa kau tidak tahu?"
"Apa yang dikatakan ayah?"
"Sebelum naik ayah pernah berpesan, kecuali dari atas puncak ayah melepaskan kembang api tanda sos, siapapun dilarang naik kesana, Malah dipesan pula wanti-wanti supaya aku dan kau tidak turut campur dalam persoalan ini !"
"Begitu ?"
"Menurut ayah katanya musuh yang datang kali ini adalah seorang tokoh tenar yang kenamaan, diminta kita harus hatihati supaya tidak dipandang ringan oleh musuh !"
Kakak beradik saling bercakap sendiri sehingga Giok liong menjadi melongo dipinggir menyepi seorang diri.
Maklunn hakikatnya terhadap riwayat dan asal usul Ang-imo- li Li Hong sedikitpun Giok-liong tidak tahu apa-apa, Walau sekarang dari pembicaraan mereka dia berani memastikan bahwa Li Hong adalah salah satu warga dari Yu-bing-mo-khek, namun dia sendiri belum berani ambil kepastian apa tujuan dan maksud orang terhadap dirinya.
Maka begitu ia mendengar kata-kata "menepati janji"
Di atas puncak lereng itu, lantas ia menjadi maklum bahwa janjinya untuk hadir meluruk ke Yu-bing mokhek pada tiga bulan yang lalu kiranya sudah tiba saatnya.
Dirinya terang sudah setindak terlambat, lalu orang yang menepati janji diatas itu apakah gurunya ? Kalau itu benar betapa juga aku harus segera menyusul kesana.
Lalu pura-pura ia batuk batuk, katanya .
"Eh, nona Li ! Aku ...
"
"Haya, coba lihat aku sampai kelupakan memperkenalkan kalian !"
Seru Li Hong memutus kata kata Giok-liong.
"Ini adalah engkohku, yang diberi nama julukan Ang-i mo-su (iblis merah) Li Hong, Dan dia adalah Kim pit-jan hun Ma Siau hiap yang menggetarkan dunia persilatan di Tiong-goan !"
Berjelilatan pandangan Ang-imo-su Li Hong katanya raguragu.
"Dik !"
Li Hong cemberut, katanya melerok sambil mengurut kening.
"Toako, tamu sudah sampai diambang pintu, masa tidak kau silahkan orang masuk ke dalam gua !"
Giok-liong menjadi keripuhan, katanya tergagap.
"Nona Li, kedatanganku ini adalah ...."
Tanpa menanti Giok liong bicara habis Li Hong sudah menyelak.
"Untuk menepati janji di Im-hong gay bukan, kenapa tergesa-gesa ? Kutanggung takkan sia-sia dalam perjalananmu !"
Saat mana berulang kali terdengar suara bentakan dan damparan angin keras di atas puncak sana, meskipun suaranya hanya samar-samar dan lembut sekali, tapi kedengaran sangat jelas. Giok liong menjadi tidak sabaran lagi, kitanya.
"Suara itu"
"Watak ayahku sangat aneh, kalau sudah dikatakan melarang orang ketiga turut campur tangan, siapapun jangan harap diijinkan naik kasana."
"Tapi..."
"Mari silahkan masuk untuk istirahat!"
Sambil berkata dengan kerlingan mata yang penuh arti Li Hong mengulur tangan menggandeng tangan Giok liong terus ditarik melompat begitu mendaratkan kakinya dijalan kecil menanjak keatas sana mulutnya berseru.
"Hati hati!"
Sambil berkata tangan masih menarik kencang kakinya terus menjejak tanah lagi terus melambung tinggi ke depan.
Tanpa merasa merah jengah selembar muka Giok liong, pergaulan laki perempuan harus ada batasnya, betapa juga tidak baik rasanya dirinya digandeng seorang gadis diajak jalan-jalan berlo-rcnrsr, maka dengan suara lirih ia berkata.
"Nona Li! Lepaskan tanganmu, biar aku jalan sendiri!"
Benar juga Angi mo li Li Hong melepas cekalannya, sambil cekikikan beruntun berapa kali lompatan ringan sekali ia sudah menerobos masuk kedalam gua besar ditengah itu.
berdiri diambang pintu gua besar ia menggape tangan kepada Giok liong.
Saat mana Ang i mo-su Li Liong juga sudah mengintil dibelakang Giok-liong, seru-nya.
"Ma Siau hiap, mari silahkan!"
Giok liong menjadi serba salah, terpaksa ia jejakkan kaki badannya lantai melejit tinggi, mulutnya berseru.
"Silakan!"
Dengan gaya Ceng-ting tiam cui sedikit kakinya menutul di tanah jalan pegunungan kecil itu langsung ia terus menerobos masuk kedalam Yu-bing-khek.
Dilihat dari luar keadaan dalam gua merupakan ruang yang gelap gulita, namun setelah berada didalam pandangan mata seketika berubah, bukan saja keadaan didalam terang benderang malah perabot dan pajangannya serba mewah dan megah sekali, tak kalah dengan hiasan istana raja.
Ang i mo li Li Hong berkata tertawa.
"Ditempat pegunungan, keadaan serba sederhana, harap tidak ditertawakan!"
Bagi Giok liong sudah tidak bakal memperdulikan segala hal tetek bengek ini, mulutnya lantas berkata.
"Nona, sebelum ini aku yang rendah betul betul tidak tahu kalau kau adalah putri dari ketua Mo khek ini!"
Li Hong menggigit bibir sambil tersenyum tawar, ujarnya.
"Sekarang setelah tahu lalu bagaimana?"