"Diam semua!"
Anak itu membentak dan mereka semua terdiam.
"Siapa yang bertanggung jawab? Ataukah semua bertanggung jawab dan siap menerima hukuman dari kami?"
Tiba-tiba Ciu Toan meloncat berdiri dan dengan sikap yang gagah ia menengadah memandang anak laki-laki di punggung burung rajawali sambil berkata nyaring,
"Aku, Ciu Toan, yang bertanggung jawab atas kekurangan ini, saudara-saudaraku tidak ada yang bersalah, akulah yang siap menerima hukuman!"
Anak itu mengeluarkan suara ketawa mengejek.
"Nah, kalau begitu, menunggu apalagi? Apakah harus kami yang turun tangan menyuruh burung rajawali merobek-robek perutmu?"
"Tidak! Aku Ciu Toan bukan orang yang takut mati. Demi keselamatan saudara-saudaraku, biarlah saat ini aku menerima hukuman!"
Tiba-tiba Ciu Toan mencabut pedangnya dan langsung menggorok leher sendiri!
"Ciu-twako....!"
Bun Beng meloncat maju dan lari menghampiri dengan niat mencegah, sedangkan para bekas pejuang hanya berlutut sambil menangis. Namun terlambat. Tubuh Ciu Toan terhuyung dan roboh dengan leher hampir putus, tewas seketika!
"Keparat! Setan....!"
Bun Beng mengepal tinju dan memandang ke atas, akan tetapi bocah di atas punggung rajawali itu tertawa, burungnya terbang tinggi dan dari jauh masih terdengar gema suara ketawanya. Barulah orang-orang itu bergerak, menubruk dan menangisi jenazah Ciu Toan.
"Kalian ini orang-orang gagah macam apa? Mengapa tidak bangkit melawan bocah setan yang menunggang bu-rung itu? Mengapa membiarkan Ciu-twako membunuh diri? Apa artinya ini semua?"
Bun Beng membanting-banting kakinya dengatn marah.
"Sssttt.... In-kong, harap jangan bicara di sini. Marilah kita pulang membawa jenazah Ciu-twako dan nanti kami akan ceritakan semua."
Jawab seorang di antara mereka dengan sikap takut-takut. Biarpun Bun Beng marah dan hampir tak dapat menahan kesabarannya, namun terpaksa dia menurut karena mereka itu tidak ada yang mau menjawab perta-nyaannya. Jenazah Ciu Toan diangkut dan setelah dikebumikan dengan upacara sekedarnya, Bun Beng mendengar penuturan delapan belas orang itu.
"Agaknya Dewa Sun Go Kong hanya menolong kami dari ancaman lain, akan tetapi tekanan dari Majikan Pulau Neraka ini membuat kami tidak berdaya dan tidak ada yang mampu menolong....."
Kata mereka sambil menarik napas dengan muka berduka sekali.
"Pulau Neraka? Bocah itu dari Pulau Neraka?"
Orang tertua dari para pejuang itu mengangguk.
"Sudah amat lama terjadinya. Ketika kami mencari daun-daun obat di hutan, kami bertemu dengan seorang anggauta Pulau Neraka yang membutuhkan akar jin-som dan daun pencuci darah yang banyak terdapat di hutan itu. Kami dan dia berebutan dan bertanding. Karena dia hanya seorang dan kami keroyok, pada waktu itu jumlah kami masih dua puluh lima orang, dia terluka dan melarikan diri. Akan tetapi, beberapa hari kemudian datang seorang tokoh Pulau Neraka yang bermuka kuning, kami dikalahkan dan dipaksa menukar nyawa dengan penyerahan sepuluh keranjang akar dan daun obat setiap tiga bulan. Burung-burung rajawali itu yang datang mengambil dan sudah dua kali ini yang mewakili Pulau Neraka adalah anak laki-laki itu. Amat sukar mengumpulkan akar dan daun obat sekian banyaknya. Tiga orang saudara kami tewas tergigit ular beracun di waktu mencari obat siang malam, dan yang dua orang terpaksa membunuh diri seperti yang dilakukan Ciu-twako karena penyetoran obat kurang. Sekarang Ciu-twako yang mengorbankan diri."
Bun Beng mengepal tinjunya, penasaran sekali.
"Mengapa kalian tidak melawan?"
Orang itu menggeleng kepala.
"Melawan tiada gunanya. Kepandaian mereka hebat bukan main. Melawan satu orang yang bermuka kuning itu saja kami tidak berdaya sama sekali. Pula, kami sudah berjanji ketika kami dikalahkan. Ciu-twako membunuh diri untuk menolong saudara-saudaranya. Siapa pun di antara kita yang menjadi pemimpin, tentu akan berbuat seperti dia. Kami tidak berdaya....."
Bun Beng menggeleng-geleng kepalanya.
"Sungguh menjemukan kalau begitu, kenapa Cu-wi tidak pergi saja meninggalkan tempat ini?"
"Pergi ke mana? Kami adalah orang-orang buruan. Di tempat ramai sudah siap orang-orang pemerintah penjajah untuk menangkap kami,"
Jawab orang itu penuh duka. Bun Beng bangkit berdiri dan memandang orang-orang itu dengan hati penasaran. Dia masih kecil, akan tetapi dia sudah tahu apa artinya kegagahan, maka melihat sikap orang-orang yang dianggapnya gagah perkasa ini, hilang kesabarannya.
"Cu-wi sekalian tadinya kuanggap sebagai orang-orang yang gagah perkasa dan patut dikagumi, akan tetapi sekarang mengapa begini..... pengecut? Seorang gagah lebih mengutamakan kehormatan daripada nyawa! Lebih baik melawan penindas sampai mati daripada membiarkan diri dihina dan ditindas seperti yang dilakukan orang-orang Pulau Neraka kepada Cu-wi! Bukankah orang dahulu mengatakan bahwa lebih baik mati sebagai seekor harimau daripada hi-dup sebagai seekor babi?"
Delapan belas orang itu memandang kepada Bun Beng dengan wajah muram, pemimpin baru mereka, yang tertua, berkata.
"Kami telah menyerahkan jiwa raga untuk negara dan bangsa, kami akan melawan sampai mati terhadap penjajah. Kami tahu kapan dan terhadap siapa dapat melawan. Menghadapi Pulau Neraka, kami tidak berdaya, melawan berarti mati semua. Kalau kami menakluk, berarti hanya beberapa orang terancam bahaya mati, masih ada sisanya untuk menanti kesempatan melakukan perlawanan terhadap penjajah Mancu. Kami tidak akan menyia-nyiakan nyawa kami hanya untuk urusan pribadi."