"Benar! Dia tentu penjelmaan Sun Go Kong....!"
Bun Beng terbelalak keheranan. Benarkah mereka itu menganggap dia Kauw Cee Thian atau Sun Go Kong, juga disebut Cee-thian Thai-seng tokoh dongeng raja kera yang maha sakti dalam dongeng See-yu-ki? Hampir ia tertawa bergelak, akan tetapi melihat wajah mereka yang berseri penuh harapan dan melihat mereka dalam keadaan terancam itu tidak mungkin main-main, timbul kenakalannya. Bun Beng yang mengerti bahwa tentu dia disangka seorang "manusia bersayap"
Lalu mengeluarkan pekik melengking yang agaknya terdengar amat nyaring oleh orang-orang di bawah itu. Tiga orang berambut panjang yang riap-riapan itu memandang dan wajah mereka berubah pucat.
"Ihhh....! Siluman di siang hari....!"
Mereka berseru kemudian mereka berkelebat pergi melarikan diri terbirit-birit karena ngeri dan takut melihat siluman terbang itu! Setelah melihat tiga orang itu melarikan diri, baru sekarang Bun Beng melihat dengan hati penuh kengerian betapa tubuhnya meluncur turun dan tanah di bawah seolah-olah mulut raksasa besar yang akan mencaploknya.
Saking ngerinya, dia meneruskan jeritannya melengking, akan tetapi sekali ini bukan jerit pura-pura untuk menakuti orang, melainkan jerit sungguh-sungguh. Untung ia masih ingat untuk mengembangkan tangannya yang memegang tali sehingga "sayap"
Itu terbuka lebih lebar, menampung hawa menahan peluncuran tubuhnya. Biarpun demikian, masih saja dia terbanting dan tentu dia akan terluka kalau saja dia tidak cepat menggulingkan tubuhnya sampai terguling-guling dan baru dapat meloncat berdiri dengan kepala pening dan mata berkunang. Akan tetapi, ia tertegun menyaksikan belasan orang gagah itu telah menjatuhkan diri berlutut menghadap kepadanya, tidak berani mengangkat muka memandang! Bun Beng mengerutkan alisnya. Gilakah orang-orang ini? Ataukah dia yang sudah gila?
"Hamba sekalian menghaturkan banyak terima kasih, bukan saja karena pertolongan Thai-seng, terutama sekali karena Paduka sudah sudi memperlihatkan diri kepada hamba sekalian."
Hampir saja Bun Beng tertawa kalau tidak melihat sikap mereka yang penuh kesungguhan. Ia sukar untuk mempercaya apa yang dilihatnya dan didengarnya. Mereka berjumlah sembilan belas orang, tua muda, laki-laki semua dan rata-rata bersikap gagah. Mengapa orang-orang gagah ini bersikap begini aneh dan menganggap dia sebagai penjelmaan Sun Go Kong Si Raja Kera dalam dongeng See-yu?
"Cuwi sekalian telah salah sangka. Aku sungguh mati bukan Sun Go Kong, metainkan aecrcang anak bfasa she Gak bernama Bun Beng. Harap Cu-wi suka berdiri dan jangan berlutut membuat aku merasa canggung dan malu saja."
Orang bertubuh tinggi yang bicara tadi, yang ternyata adalah pemimpin rombongan orang itu mengangkat muka, demikian pula kawan-kawannya, memandang kepada Bun Beng dengan sinar mata penuh keraguan dan agaknya tidak percaya akan kata-kata Bun Beng sehingga mereka masih tetap berlutut. Bun Beng menunduk dan memandang tubuhnya sendiri, lalu tertawa. Memang pakaiannya amat aneh, dart kaln kuning yang tidak berlengan berkaki, hanya membungkus dari leher ke paha, apalagi dia bersayap"! Sambil tertawa ia menanggalkan sayap tiruan itu dan berkata.
"Lihatlah baik-baik, Cu-wi. Aku adalah seorang anak biasa yang meloncat dari atas sana menggunakan sayap tiruan dari kulit harimau. Aku bernama Gak Bun Beng dan siapakah Cu-wi? Berdirilah agar kita dapat bicara dengan- enak.
"Kini sembilan belas orang itu bangkit berdiri dan memandang Bun Beng dengan penuh keheranan, kekaguman dan tidak percaya. Bagaimana mungkin mereka dapat percaya bahwa anak itu adalah seorang anak biasa saja padahal mereka tadi menyaksikan sendiri betapa anak itu muncul seperti seorang dewa dan telah berhasil membuat tiga orang lawan mereka lari tunggang langgang tanpa melakukan gerakan apa-apa? Akan tetapi setelah mereka memandang penuh perhatian, mereka mau juga percaya akan keterangan Bun Beng dan mereka kini memandang. kagum sekali. Biarpun, bukan Sun' Go Kong, anak ini adalah seorang anak luer biasa"
Dan telah "menyelamatkan"
Nyawa mereka yang tadl terancam maut. Orang ttnggi besar ltu menjura dan berkata,
"Harap Siauw-enghiong (Pendekar Cllik) suka memaafkan kami yang salah menduga. Betapapun juga karena engkau datang dari atas sana, kami yakin bahwa engkau tentu bukanlah seorang anak sembarangan, apalagi engkau telah menyelamatkan kami sembilan belas orang saudara. Terimalah rasa syukur dan terima kasih kami. Gak-enghiong, dan mudah-mudahan kami akan berkesempatan membalasnya."
Bun Beng menjadi malu melihat sikap orang-orang itu yang amat sopan dan sungkan. Ia balas menjura dan berkata.
"Harap Cu-wi jangan bersikap sungkan. Aku sama sekali tidak merasa telah menolong kalian. Menghadapi tiga orang liar yang lihai itu, aku seorang bocah bisa berbuat apakah? Hanya kebetulan saja kehadiranku mengejutkan dan menakutkan mereka. Siapakah mereka itu dan menga-pa menyerang Cu-wi? Siapa pula Cu-wi yang tinggal di tempat sunyi ini?"
"Panjang ceritanya, Gak-inkong (Tuan Penolong Gak). Karena engkau adalah seorarng penolong, bagimu tidak ada yang dirahasiakan lagi. Akan tetapi marilah kita bersama kami ke tempat tinggal kami agar kita dapet bicara dengan leluasa."
Bun Beng lalu neengikuti mereka menuju ke tempat tinggal mereka yang ternyata terdiri dari guha-guha besar yang banyak terdapat di kaki gunung itu. Guha-guha itu mereka jadikan tempat tinggal, juga sekaligus merupakan tempat perlindungan yang kuat karena jalan masuk gua itu tertutup oleh pintu besi yang kokoh kuat. Bun Beng mendapat penghormatan yang sungguh-sungguh dari sembilan belas orang itu agaknya menganggap hutang budi sebagai hal yang amat penting.
Anak ini sampai merasa canggung dan tidak enak hati, akan tetapi dia terpaksa menerima keramahan mereka, menerima dan memakai pakaian yang mereka beri kemudian bersama mereka makan minum sambil mendengarkan penuturan Si Jangkung yang bernama Ciu Toan dan menjadi pemimpin mereka itu. Ciu Toan yang menganggap Bun Beng sebagai tuan penolong dan penyelamat nyawa mereka, menceritakan semua keadaan mereka, didengarkan oleh Bun Beng dengan hati tertarik akan tetapi juga terheran-heran karena di dalam penuturan Ciu Toan banyak terdapat hal yang aneh-aneh. Sembilan belas orang gagah itu, bukanlah orang-orang sembarangan, melainkan orang-orang yang pernah menggemparkan dalam perang terakhir melawan pemerintah Ceng yang dikuasai oleh bangsa Mancu.
Nama mereka amat terkenal sebagai pejuang-pejuang yang gigih dan gagah perkasa, dan pada waktu itu, mereka masih bergabung dalam sebuah pasukan kecil yang terkenal dengan nama Pasukan Tiga Puluh Batang Pedang. Mereka dahulu berjumlah tiga puluh orang yang di antaranya adalah saudara-saudara kandung, saudara-saudara misan yang semua mengangkat saudara dan bersumpah untuk bersama-sama sekuat tenaga menentang penjajah Mancu. Akan tetapi, ketika pertahanan terakhir terhadap bala tentara Mancu di Se-cuan hancur dan daerah ini jatuh pula ke tangan Pemerintah Ceng, pasukan kecil yang terkenal gagah perkasa ini pun mengalami kehancuran. Dari jumlah tiga puluh orang hanya tinggal sembilan belas orang saja. Karena tak dapat bertahan lagi menghadapi bala tentara Mancu yang amat besar dan kuat, mereka terpaksa melarikan diri.
Sepak terjang mereka selama perlawanan menghadapi bala tentara Ceng sedemikian hebat dan terkenalnya sehingga setelah daerah itu ditundukkan, Pemerintah Ceng lalu mencari sisa-sisa Pasukan Tiga Puluh Batang Pedang ini. Tentu saja untuk menangkap dan menghukum mereka yang telah mendatangkan kerugian banyak terhadap pasukan-pasukan Mancu. Sembilan belas orang ini menjadi orang-orang buruan yang terpaksa menyembunyikan diri. Karena pengejaran dan pencaharian dilakukan oleh orang-orang pandai yang diutus oleh Kerajaan Mancu, maka sembilan belas orang yang dipimpin Ciu Toan itu akhirnya bersembunyi di kaki gunung itu dan sudah hampir dua tahun mereka tinggal di tempat itu.
"Cu-wi adalah orang-orang gagah perkasa, mengapa tadi bersikap begitu aneh dan menganggap aku sebagai Sun Go Kong?"
Tanya Bun Beng yang merasa kagum sekali terhadap orang-orang itu yang biarpun kalah perang tetap tidak mau tunduk kepada pemerintah penjajah. Ciu Toan menjadi merah mukanya, akan tetapi ia menjawab juga,
"Kami.... kami menjadi pemuja-pemuja Dewa Sun Go Kong setelah berada di sini, dan.... tadinya kami mengira bahwa kembali beliaulah yang telah menyelamatkan kami seperti yang terjadi dua tahun yang lalu."
Bun Beng membelalakkan matanya.
"Apa? Benarkah Cu-wi pernah diselamatkan oleh.... oleh.... Raja Kera Sun Go Kong?"
Dengan alis berkerut dan wajah sungguh-sungguh Ciu Toan berkata,
"Memang sukar dipercaya bagi yang tidak mengalaminya sendiri. Dewa Sun Go Kong dianggap sebagai tokoh dongeng, akan tetapi kami percaya bahwa beliau memang ada dan di puncak tebing penuh rahasia itulah tempat pertapaannya. Kami sudah mengalaminya sendiri,"
Kemudian Ciu Toan menceritakan pengalaman mereka dua tahun yang lalu, didengarkan oleh Bun Beng dengan hati tertarik sekali.
Ketika sembilan belas orang buruan itu baru beberapa hari tinggal di situ dan sedang sibuk membuat tempat tinggal di guha-guha, pada suatu pagi mereka diserbu dan dikepung oleh segerombolan perampok yang memang sebelum mereka datang menguasai daerah kaki pegunungan itu. Jumlah para perampok ada lima puluh orang lebih dan terjadilah pertempuran hebat yang mengancam keselamatan sembilan belas orang ini. Mereka melakukan perlawanan gigih, karena keahlian mereka adalah berperang, sedangkan dalam pertandingan perorangan ilmu kepandaian mereka tidak terlalu luar biasa, maka mereka terdesak hebat oleh para perampok yang bertekad membunuh semua orang yang mereka anggap hendak merebut wilayah kekuasaan para perampok itu.
Dalam keadaan terdesak dan banyak di antara mereka telah terluka, tiba-tiba dari atas tebing menyambar batu-batu kecil yang merobohkan para perampok itu. Anehnya, batu-batu kecil ini tidak mengenai para bekas pejuang, dan yang mengenai tubuh para perampok tidak sampai membunuh mereka, hanya tepat mengenai jalan darah yang membuat para perampok terguling dan lumpuh untuk sementara. Para perampok menjadi panik karena mereka diserang secara aneh oleh lawan yang tidak dapat mereka lihat. Apalagi kalau mereka ingat bahwa dari tempat setinggi itu sampai penyerangnya tidak tampak, orang dapat merobohkan mereka yang sedang bergerak dan bertempur dengan kerikil-kerikil kecil yang mengenai jalan darah, dapat dibayangkan betapa saktinya si penyambit batu-batu kecil!
Karena jerih, para perampok melarikan diri dan semenjak itu tidak berani lagi datang mengganggu para bekas pejuang. Ciu Toan dan teman-temannya mengobati luka yang mereka derita dan mereka pun merasa heran sekali. Mereka mencoba untuk mendaki tebing karena merasa yakin bahwa di puncak tebing tentu tinggal seorang sakti yang telah menolong mereka. Akan tetapi terpaksa mereka mengurungkan niat ini karena tebing itu tidak mungkin didaki, terlalu terjal, tinggi dan licin sekali. Mereka hanya berhasil mendaki sampai seperempat saja dan terpaksa menghentikan usaha mereka. Akan tetapi, selagi mereka beristirahat dengan peluh bercucuran, mereka melihat bayangan seperti bayangan manusia berloncatan mendaki tebing itu dengan kecepatan luar biasa sekali.
"In-kong (Tuan Penolong).... harap sudi menemui kami....!"
Mereka berteriak-teriak, namun bayangan itu sebentar saja lenyap di puncak tebing. Kemudian terdengar suara dari atas, lirih saja namun amat jelas terdengar oleh mereka.
"Turunlah kalian, tidak boleh naik ke sini!"
Karena memang mereka merasa tidak mungkin dapat mendaki tebing tanpa dilarang sekalipun akan turun juga. Akan tetapi mereka makin penasaran karena terheran-heran menyaksikan bayangan tadi. Seorang manusia, betapa pun pandainya, mana mungkin mendaki tebing seperti itu secara cepat seperti terbang saja? Dan suara dari atas itu, seolah-olah orangnya berbisik di dekat telinga mereka. Bukan manusia! Dewa agaknya, dewa penjaga gunung yang telah menolong mereka.
Dan selagi mereka menduga-duga sambil bersiap-siap untuk menuruni lereng tebing yang sukar dan berbahaya itu, tiba-tiba seorang di antara mereka berseru kaget sambil menuding ke puncak tebing. Mereka semua memandang dan melihat seekor kera besar memakai pakaian pendeta duduk di pinggir puncak tebing, di atas batu dan kera itu menggerak-gerakkan kedua tangan seolah-olah menyuruh mereka cepat turun! Ciu Toan dan saudara-saudaranya menjatuhkan diri berlutut karena mereka tidak meragukan lagi bahwa kera besar itulah yang menolongnya. Dan siapa lagi kalau bukan Sun Go Kong yang memiliki kesaktian sehebat itu? Di dunia ini mana ada kera yang berpakaian pendeta yang sakti luar biasa dan yang dapat mengeluarkan kata-kata seperti manusia? Kecuali Sun Go Kong!
Demikianlah, sejak saat itu, mereka memuja Sun Go Kong yang bertapa di puncak tebing tinggi itu. Kepercayaan mereka makin menebal ketika tiga kali berturut-turut kawanan perampok lain dan sekali pasukan pemerintah menyerbu, mereka semua itu lari ketakutan karena mereka roboh sebelum sempat menyerang, roboh oleh batu-batu kecil dan bahkan pasukan Pemerintah Mancu roboh oleh suara melengking yang melumpuhkan mereka! Kemudian, dari atas puncak tebing melayang sebuah benda yang ternyata adalah kitab-kitab kecil berisi Ilmu Silat Sin-kauw-kun-hoat (Ilmu Silat Kera Sakti) dan yang kini telah mereka pelajari dan menjadi andalan mereka untuk menjaga diri!
"Demikianlah Gak-inkong, maka ketika engkau melayang turun secara aneh itu kami tidak ragu-ragu lagi bahwa engkau tentu penjelmaan Dewa Sun Go Kong yang kembali menolong kami. Sungguhpun kini ternyata bahwa engkau bukan dewa itu, namun kami tetap percaya bahwa Sun Go Kong berada di puncak tebing itu."
Ciu Toan mengakhiri ceritanya yang amat luar biasa itu.
"Bolehkah aku melihat kitab kecil itu?"
Bun Beng bertanya.
"Tentu saja."