Mengertilah ia kini bahwa sumber air panas itu merupakan semacam "air obat"
Yang dimanfaatkan oleh kera-kera itu agaknya setahun sekali, yaitu di waktu musim dingin tiba. Yang amat mengherankan hatinya dan tidak dimengerti adalah munculnya kera tua berpakaian pendeta itu! Setelah puas mandi air panas, Bun Beng mengenakan cawat kulit harimaunya lagi dan mulailah ia mendekati kera tua untuk menyelidiki keadaannya yang aneh. Ketika ia mendapat kenyataan bahwa kera itu ternyata sudah amat tua dan lumpuh, ia merasa kasihan dan terharu. Wajah kera itu begitu penuh pengertian dan sekiranya kera tua itu dapat bicara, tentu dia akan dapat mendengar dongeng yang menarik dari mulut kera itu. Dan kembali ia menyaksikan kesetiakawanan yang hebat.
Agaknya kera tua iku menjadi semacam "juru kunci"
Atau penunggu sumber air panas dan selamanya tinggal di situ. Adapun untuk keperluan setiap harinya, dia tidak perlu bingung karena kera-kera baboon setiap beberapa hari sekali ternyata mengirim buah-buah dan makanan untuk si Tua ini. Melihat betapa kera tua itu pandai berpakaian dan sikapnya jauh lebih "jinak"
Dibandingkan dengan kera-kera lain, Bun Beng percaya bahwa tentu kera tua ini tidak asing dengan manusia. Maka dia menjadi lebih berani dan ketika ia melihat sebuah ruangan dari batu karang di belakang kursi besar itu, tanpa ragu-ragu lagi dia memasuki ruangan itu. Hal pertama yang menarik hatinya ukir-ukiran huruf dinding batu. Goresannya dalam dan biarpun sudah banyak lumutnya, masih mudah dibaca karena ukiran itu selain dalam juga besar.
"Di musim dingin, perut gunung mengeluarkan air panas. Di musim panas, perut gunung mengeluarkan air dingin. Dingin menciptakan panas, Panas menimbulkan dingin. Keajaiban apa lagi yang dikehendaki manusia untuk membuktikan kekuasaan alam?"
Bun Beng belum dapat menangkap keindahan kata-kata itu namun ia dapat mengagumi coretan yang indah dan kuat. Tidak salah lagi, tentu di sini pernah tinggal seorang pertapa yang pandai dan mungkin sekali kera tua itu adalah binatang peliharaannya! Ia memeriksa lagi dan di dalam sebuah peti batu ia menemukan beberapa stel pakaian kasar. Di atas meja batu tampak sepasang pedang dan sebuah kitab yang tua sekali. Jantungnya berdebar penuh ketegangan. Teringat ia akan pertentangan di muara Sungai Huang-ho. Bukankah di antara pusaka yang dicari dan diperebutkan itu disebut-sebut pula "Sepasang Pedang Iblis"? Dan kitab itu, mungkin sebuah di antara kitab-kitab pusaka yang dicari oleh tokoh-tokoh kang-ouw? Ia mendekati meja dan memandang penuh perhatian dengan hati tegang.
Ia merasa seperti ada yang memandangnya dan ketika ia menengok, benar saja kera tua itu sedang menoleh dan memandangnya penuh perhatian, sungguhpun pada wajah yang tua itu tidak tampak kemarahan. Maka ia makin berani dan tak dapat menahan keinginan tahunya. Dirabanya gagang kedua pedang yang bersarung indah itu, kemudian diangkatnya perlahan-lahan pedang yang lebih panjang, lalu mencabut gagang pedang dari sarungnya. Baru tercabut sebagian saja, ia sudah cepat-cepat memasukkannya kembali dengan kaget karena pedang itu mengeluarkan sinar kilat yang membuat bulu tengkuknya meremang. Dengan hati-hati ia meletakkan pedang itu kembali, lalu mencoba untuk melihat pedang ke dua yang lebih pendek. Kembali ia terkejut karena pedang ini pun mengeluarkan sinar kilat yang menyilaukan mata.
"Aihhhh....!"
Ia menahan napas memandang dua batang pedang yang berada di atas meja, hatinya ngeri dan kagum. Tidak salah lagi, pedang itu tentulah pedang pusaka yang amat ampuh! Inikah yang disebut Sepasang Pedang Iblis? Ahh, kelihatannya indah sekali, sama sekali tidak pantas disebut pedang iblis karena yang memakai nama "Iblis"
Tentulah buruk menakutkan! Kini ia memperhatikan kitab tua itu, mengambilnya dan membuka sampulnya. Sam-po-cin-keng, demikianlah huruf-huruf indah yang tertulis di halaman pertama. Ia membuka-buka lembarannya dan ternyata itu adalah sebuah kitab pelajaran ilmu silat yang amat luar biasa, semua ada tiga macam.
Anak ini tidak tahu bahwa di tangannya itu adalah sebuah kitab rahasia yang amat hebat. Tiga ilmu silat pusaka yang tergabung dalam kitab itu bukanlah pelajaran ilmu silat biasa karena Sam-po-cin-keng adalah tiga macam ilmu dahsyat yang di jaman dahulu dicipta oleh ketua dan pendiri Beng-kauw yang bernama Liu Gan dan berjuluk Pat-jiu Sin-ong (Raja Sakti Tangan Delapan)! Ilmu ini kemudian menurun kepada puterinya yang bernama Liu Lu Sian berjuluk Tok-siauw-kui (Iblis Cantik Beracun) yang bukan lain adalah ibu kandung pendekar sakti Suling Emas! Ketika kawanan kera meninggalkan tempat sumber air panas itu, Bun Beng ikut pula keluar, akan tetapi tidak lupa ia membawa sepasang pedang, kitab dan satu stel pakaian! Ketika ia lewat di depan kursi besar, ia menjura ke arah kera tua sambil berkata,
"Kakek kera, terima kasih atas pemberian benda-benda pusaka ini."
Kera itu menyeringai dan mengangguk! Agaknya kera ini seperti mendapat firasat bahwa memang bocah itu berjodoh dengan benda-benda itu, ataukah memang dia telah menerima pesan dari orang yang meninggalkan benda-benda itu agar kalau ada orang datang dan mengambil benda-benda itu berarti telah berjodoh!
Tidak ada yang tahu karena kera itu hanya pandai meniru berpakaian, tidak pandai bicara! Bun Beng mulai tekun membaca kitab kuno dan mempelajari isinya. Namun amat sukar baginya untuk mengerti isinya karena memang ilmu silat yang diajarkan di dalam kitab itu adalah ilmu silat yang amat tinggi tingkatnya dan tak mungkin dapat dimengerti begitu saja oleh Bun Beng yang masih belum ada pengalaman. Namun, karena pada dasarnya dia memang rajin dan berhati keras, biarpun tidak mengerti, dia tetap membaca bahkan menghafalkan huruf-huruf yang tertulis dalam kitab itu sampai hafal di luar kepala! Memang demikianlah cara orang jaman dahulu mempelajari kitab. Anak-anak semenjak mengenal huruf diharuskan membaca kitab-kitab pelajaran Nabi Khong-hu-cu yang amat sukar dimengerti anak kecil.
Namun, anak-anak itu dengan rajin menghafal sehingga ada yang sampai hafal di luar kepala akan semua ujar-ujar dalam kitab suci tanpa mengerti makna yang sesungguhnya! Hal ini sama sekali bukan tidak ada faedahnya, karena di samping memperkaya perbendaharaan kata-kata dan huruf-huruf yang banyak jumlahnya, juga hafalan ayat-ayat itu kalau si anak sudah dewasa, perlahan-lahan akan dapat dimengertinya dan yang terpenting diujudkan dalam praktek hidupnya. Dua bulan kemudian, ketika Bun Beng sedang menyambung-nyambung kulit harimau dan ujungnya ia ikat dengan tali pohon yang kuat, ia mendengar kawanan kera berteriak-teriak di tepi tebing yang curam. Dia tidak tertarik dan melanjutkan pekerjaannya. Bun Beng kini sudah memakai pakaian, yaitu pakaian yang dibawanya dari ruangan dekat sumber air panas. Dia sedang mencoba untuk membuat sayap tiruan.
Sudah lama ia bercita-cita menuruni tebing yang amat curam itu, akan tetapi jangankan dia, bahkan kawanan kera itu saja tidak ada yang berani menuruni tebing yang demikian terjalnya. Jalan satu-satunya hanyalah "terbang"
Turun dan timbullah akalnya ketika ia menyaksikan burung-burung dengan enaknya naik turun melayang-layang di dekat tebing yang curam. Kalau saja dia dapat terbang melayang seperti burung-burung itu! Keinginan inilah yang membuatnya pada saat itu bekerja keras. Dia sudah mencoba dengan memegangi keempat ujung kulit harimau meloncat dari atas pohon dan kulit harimau yang terbuka itu menahan peluncuran tubuhnya sehingga ia dapat hinggap di atas tanah dengan lunak! Kini ia hendak membuat "sayap"
Yang besar dengan menyambung-nyambung kulit harimau dan mengikat keempat ujungnya dengan tali yang kuat.
Dengan "sayap"
Ini dia hendak memerikaa keadaan di bawah tebing karena sering ia melihat bayangan-bayangan bergerak di bawah jauh sekali, seperti bayangan manusia! Juga beberapa kali dia melihat burung besar sekali terbang ke bawah tebing itu. Mungkin sekali dia akan dapat kembali ke dunia ramai kalau bisa menuruni tebing itu. Adapun tebing-tebing yang lain semua buntu, merupakan jurang-jurang yang tiada habisnya. Setelah sayap tiruan itu jadi dan mendengar kawanan kera itu makin ribut, ia tertarik juga den cepat ia meng-hampiri. Kera-kera itu melihat ke bawah sambil menunjuk-nunjuk. Bun Beng juga memandang dan tampak olehnya jauh di bawah sana, banyak bayangan-bayangan atau titik-titik yang bergerak-gerak. Terjadi perang di bawah sana! Dia tidak dapat memandang tegas dan ia menduga-duga apakah mata kawanan kera itu dapat memandang lebih jelas?
Inilah saat untuk "terbang melayang"
Turun, pikirnya. Bergegas ia lalu mengambil kitab kuno yang ia masukkan di balik bajunya, menyimpan pula sepasang pedang di balik baju di punggung, kemudian ia mengikatkan tali tiga ujung ke pinggang dan memegangi tali ke empat dengan tangan kiri. Melihat Bun Beng mendekati tepi tebing membawa "sayap"
Aneh itu, kera-kera menjadi bingung. Mereka itu lalu memekik-mekik katika Bun Beng tiba-tiba meloncat dari pinggir tebing yang amat curamnya. Ada yang menutupi muka, ada yang menjerit-jerit akan tetapi ada pula yang menari-nari! Bun Beng yang sudah nekat itu merasa betapa tubuhnya meluncur ke bawah lalu tertahan, pinggangnya sakit karena tali-tali yang mengikat pinggang menegang, akan tetapi dia girang sekali karena mendapat kenyataan betapa "sayap"
Di atasnya mengembang!
"Selamat tinggal, kawan-kawanku yang baik!"
Ia melambai ke atas dan melihat betapa kera-kera baboon itu makin lama makin kecil sedangkan tubuhnya terus meluncur perlahan ke bawah. Tiba-tiba "sayapnya"
Terguncang oleh angin.
Celaka, pikirnya. Mudah-mudahan tidak ada angin kencang yang akan menghancurkan "sayapnya"
Dan menghempaskan ke batu karang yang menjadi dinding tebing curam itu. Untung baginya, angin tidak kencang dan tak lama kemudian ia sudah dapat melihat orang-orang yang berada di bawah. Dan dugaannya ketika berada di atas tebing tadi ternyata tidak meleset. Dia melihat orang-orang sedang bertempur di bawah itu. Dari atas ia melihat belasan orang laki-laki yang tampan dan gagah, semua berpedang sedang sibuk menahan amukan tiga orang yang rambutnya riap-riapan dan bersen-jata kebutan. Ilmu silat tiga orang ini hebat bukan main sehingga biarpun orang-orang gagah berpedang itu lebih besar jumlahnya, namun mereka terdesak hebat, bahkan banyak yang sudah terluka. Namun, dengan semangat gagah mereka itu terus mempertahankan diri.
Seorang di antara belasan orang gagah itu yang bertubuh tinggi, dan yang tampaknya paling lihai memutar pedang mena-han amukan seorang di antara tiga lawan bersenjata kebutan yang lihai itu. Kebutan di tangan Si Brewok yang rambutnya panjang itu kecil saja, namun kakek yang usianya kurang lebih lima puluh tahun ini menggerakkan kebutan secara istimewa sehingga senjata kecil ini berubah menjadi sinar putih bergulung-gulung yang mengancam tubuh orang gagah itu dari delapan penjuru! Tiba-tiba orang tinggi itu berseru kaget ketika pedangnya kena digulung kebutan dan terampas. Pedang terlepas dari tangannya dan agaknya dia tidak dapat menghindarkan diri lagi dari cengkeraman maut melalui kebutan. Pada saat itu, dia melihat tubuh Bun Beng yang melayang-layang turun, maka terdengarlah seruannya dengan wajah girang.
"Thai-song.... tolonglah kami....!"
Seruan ini disusul oleh pekik-pekik kegirangan dari orang-orang gagah yang sedang terdesak dan Bun Beng mendengar teriakan-teriakan mereka.
"Cee-thian Thai-seng datang menolong kita....!"
"Dewa kita Kauw Cee Thian datang!"