"Blekkkk!"
Sebuah tamparan dengan lengan kanan berbulu yang amat keras dapat ditangkis oleh Bun Beng, akan tetapi karena dia kalah tenaga, tamparan itu masih menembus tangkisannya dan mengenai pundak kirinya. Bun Beng mengaduh, tulang pundaknya seperti remuk rasanya, kiut-miut nyeri bukan main dan dia roboh terjengkang tanpa dapat ditahan pula.
"Gerrrr....!"
Kera besar menggereng dan menubruk tubuh lawan yang sudah telentang tidak berdaya itu. Dalam keadaan penuh bahaya ini, keadaan Bun Beng sebagai manusia membuktikan ke-unggulannya. Dia memiliki akal dan dalam detik-detik berbahaya itu ia menggunakan akalnya. Ketika melihat kera besar menubruk, dia menggulingkan tubuhnya sampai tiga kali dan tidak lupa tangannya mencengkeram tanah dan berhasil menggenggam tanah. Pada saat kera menubruk lagi, tangannya bergerak dan tanah yang digenggamnya itu meluncur, menyambut muka si Kera yang tentu saja tidak memiliki akal untuk menduga serangan ini. Matanya tetap melotot penuh geram kemenangan sehingga kedua matanya merupakan sasaran tepat, kemasukan butiran-butiran pasir tanah.
"Auurrghh....!"
Kera itu memekik-mekik dan menggunakan kedua tangan menggosok matanya. Tentu saja karena cara menggosoknya kaku, pasir tanah itu makin dalam masuk ke mata dan makin nyeri rasanya. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Bun Beng. Dia sudah meloncat bangun dan menghujan-kan pukulan tendangan ke tubuh si Kera. Namun dia tidak memukul sembarangan, melainkan memilih tempat yang lemah, memukul ke arah hidung, mata, dan telinga sedangkan tendangannya mengarah sambungan lutut dan pusar. Tentu saja kera besar yang masih setengah mati menggosoki matanya, menjadi sasaran serangan dan tubuhnya terguling-guling. Ia mengeluarkan suara seperti menangis dan akhirnya ia berlutut di atas tanah, menutupi kepalanya dengan kedua matanya bercucuran air mata!
Dari gerak-gerik ini Bun Beng dapat menduga bahwa lawannya sudah menyerah kalah, maka ia memandang dengan muka berseri, berdiri tegak dan bertolak pinggang, merasa gagah menjadi jagoan sampai dia lupa bahwa tubuhnya sama sekali tidak tertutup pakaian, telanjang bulat karena semua pakaiannya sudah habis terkoyak tangan-tangan jahil rombongan kera tadi! Kera-kera yang tadinya menonton pertandingan, kini berlarian datang dan Bun Beng sudah siap untuk "mengamuk"
Kalau dia dikeroyok. Akan tetapi, kera-kera itu kini tidak menyerangnya, hanya memegang-megang lengannya, kakinya, rambutnya dan bahkan ada yang mencium-ciumnya dari kaki sampai kepala tanpa melewatkan sedikitpun bagian tubuhnya sehingga dia merasa girang akan tetapi geli dan jijik!
Agaknya air mata yang banyak keluar dari sepasang mata kera besar telah mencuci bersih mata itu, kini kera besar dapat membuka matanya yang berubah merah dan dia pun merangkul dan menciumi Bun Beng! Mengertilah anak ini bahwa semenjak saat ia berhasil "mengalahkan"
Jagoan kera baboon, dia telah diaku sebagai "seekor"
Di antara mereka! Dia telah diterima menjadi anggauta kera baboon. Semenjak saat itu, mulailah penghidupan baru yang sama sekali asing bagi Bun Beng! Dia hidup di antara sekumpulan kera baboon, bertelanjang, bulat, mencari makan, bermain-main dan berayun-ayun di dahan-dahan pohon dan di batu-batu gunung persis seekor kera. Hanya bedanya, dan kadang-kadang timbul penyesalan di hatinya akan perbedaan ini bahwa dia tidak berbulu seperti "kawan-kawannya"
Sehingga sering kali dia menderita kedinginan.
Namun, lambat laun ia dapat membiasakan diri dan tubuhnya menjadi kebal akan hawa dingin. Sebagai seorang mahluk yang berakal, dalam mencari makanan dan lain-lain tentu saja dia paling menang, sehingga tidak lama kemudian dia dicontoh oleh kera kera itu dan seolah-olah menjadi pemimpin mereka. Apalagi semenjak dia mengalahkan jagoan kera, dia dianggap paling kuat dan teman-temannya tidak ada yang berani mencoba-coba dengan dia!Selama beberapa bulan hidup di antara sekumpulan kera, Bun Beng mendapatkan sebuah kenyataan yang amat berkesan di hatinya. Semenjak dia dijadikan rebutan para tokoh kang-ouw sehingga terdapat pertentangan dan terjadi pembunuhan, kemudian disusul pengalaman-pengalaman di mana dia menyaksikan permusuhan antar manusia yang mengakibatkan pembunuhan-pembunuhan mengerikan,
Ia mendapat kenyataan betapa manusia merupakan sekumpulan makhluk yang amat kejam dan sama sekali tidak mempuyai rasa setia kawan terhadap se-sama manusia. Kini, hidup di antara sekumpulan kera yang dianggap sebagai binatang bodoh dan tidak berakal, dia menemukan perbedaan yang amat menyolok. Sekumpulan kera ini hidup amat rukun dan penuh setia kawan. Memang benar bahwa di antara mereka kadang-kadang terjadi perkelahian, namun perkelahian ini hanya terbatas dalam mengadu kekuatan sampai seekor di antara mereka mengaku kalah. Yang menang tidak akan menindas, yang kalah tidak akan menaruh dendam dan tidak ada rasa mengganjal di antara mereka! Akan tetapi seekor saja terganggu, sekelompok akan maju bertanding dan membela!
Seekor saja celaka, yang lain akan turun tangan tanpa pamrih. Tidak ada di antara mereka yang memonopoli sesuatu. Buah-buah yang bergantungan, air yang mengalir, tidak ada yang menuntut sebagai hak pribadinya. Memang, mereka ini tidak pandai berbasa-basi, tidak pandai bermanis muka, tidak pandai bersopan-santun dan tidak pandai melakukan segala kepalsuan-kepalsuan lain yang sudah menjadi "pakaian"
Manusia. Betapa liar mereka itu, betapa bebas dan bahagia karena mereka tidak mengejar kesenangan, tidak mengejar kebahagiaan seperti manusia sehingga kesenangan dan kebahagiaan dengan sendirinya datang kepada mereka! Mereka tidak mengenal kecewa karena tidak mengharap, tidak bertemu duka, karena tidak mencari suka. Betapa wajar dan betapa dekat dengan alam, betapa dekat dengan kekuasaan alam!
Di samping menemukan hal-hal yang mendatangkan kesan di hatinya yang timbul dari pengetahuannya ketika dahulu membaca kitab-kitab filsafat, juga Bun Beng menemukan dan mempelajari kepandaian-kepandaian aneh yang mereka miliki sebagai anugerah langsung dari alam tanpa mereka pelajari, yaitu kecekatan, ketrampilan yang belum tentu dapat dimiliki manusia yang sengaja mempelajarinya bertahun-tahun! Dengan menyatukan diri di tengah-tengah mereka, dalam beberapa bulan saja Bun Beng dapat berloncatan di atas karang di tebing-tebing yang curam, memanjat pohon-pohon besar dan loncat berayun dari dahan ke dahan. Juga ia dapat mengenal pengetahuan anugerah alam tentang daun-daun dan akar-akar obat yang dipergunakan kera-kera itu untuk mengobati luka-luka, keracunan dan lain-lain.
Selama enam bulan Bun Beng hidup di tengah-tengah kera itu, mengalami hal-hal yang amat luar biasa. Setelah setengah tahun hidup bertelanjang bulat seperti itu, dia menjadi terbiasa dan kadang-kadang kalau ia teringat akan peradaban manusia, ia menjadi geli sendiri. Betapa dia akan dianggap kurang susila, kurang ajar, tidak tahu malu dan seba-gainya oleh manusia-manusia beradab! Dari manakah timbulnya rasa malu kalau telanjang dan terlihat orang lain? Mengapa pula harus malu? Perasaan malu ini adalah buatan manusia sendiri! Buktinya, tidak ada seorang pun anak-anak yang merasa malu dilihat bertelanjang. Setelah kepada anak itu ditanamkan pengertian bahwa bertelanjang dilihat orang adalah memalukan, barulah timbul perasaan malu ini! Andaikata tidak ada penanaman pengertian ini, kiranya tidak akan timbul pula perasaan malu.
Musim dingin tiba, akan tetapi Bun Beng yang bertelanjang bulat itu tidak menderita kedinginan. Kulit tubuhnya sudah terlatih sedikit demi sedikit sehingga kebal. Akan tetapi, perasaan dan kesadarannya sebagai manusia tidak pernah hilang dan hanya karena terpaksa tidak ada pakaian saja maka dia berte-lanjang bulat di antara sekumpulan kera baboon. Ketika pada suatu hari dia bersama sekawanan kera itu menyerang dan membunuh beberapa ekor harimau, Bun Beng menguliti harimau yang dibunuhnya dan kulit harimau itu ia pakai untuk menutupi tubuhnya bagian bawah. Bukan terdorong oleh rasa malu atau penahan dingin, melainkan dengan penutup bawah itu dia terhindar dari gangguan semut dan nyamuk yang tidak dapat mengganggu kera-kera itu karena kulit mereka tertutup bulu.
Dan setelah ia memakai cawat kulit harimau, kawanan kera itu kelihatan lebih segan dan takut kepadanya! Kulit-kulit harimau yang lain ia simpan untuk cadangan cawat atau persediaan kalau sewaktu-waktu ia me-merlukannya. Pada suatu hari, para kera itu mengeluarkan bunyi cecowetan seperti biasa kalau mengajak pergi ke suatu tempat. Sudah banyak macam suara kera itu yang merupakan isyarat-isyarat dan dapat dimengerti oleh Bun Beng, maka sekali ini, menyaksikan sikap mereka seolah-olah mereka hendak melakukan sesuatu yang besar dan aneh, Bun Beng segera mengikuti mereka. Kera-kera itu memasuki guha di antara batu karang dan memasuki terowongan di dalam gunung yang cukup lebar. Mula-mula terowongan itu gelap, akan tetapi makin jauh makin terang dan anehnya, mulailah Bun Beng merasa betapa ada hawa panas keluar dari dalam.
Hatinya mulai tegang dan ia mengikuti terus. Tak lama kemudian mereka tiba di ujung terowongan yang merupakan ruangan yang luas di dalam gunung. Sinar matahari masuk melalui celah-celah batu gunung yang merupakan dinding tinggi sekali. Di tengah-tengah ruangan itu terdapat sumber air panas! Air keluar dari sumber di dalam gunung ini, mengucur keluar dari celah-celah dua batu besar, mengeluarkan uap saking panasnya. Akan tetapi, Bun Beng tidak memperhatikan itu semua karena ia terbelalak memandang ke sebelah kanan, tak jauh dari sumber air panas itu dan merasa seolah-olah ia sedang dalam mimpi. Apakah yang ia lihat? Pemandangan yang amat luar biasa! Di situ, menempel pada dinding batu, terdapat sebuah kursi batu yang jelas bukan buatan alam, melainkan berbekas tangan manusia.
Kursi itu besar sekali, terbuat daripada batu persegi yang ditumpuk-tumpuk, dan di atas kursi itu duduk seekor kera tua besar sekali yang memakai pakaian. Kalau melihat pemandangan ini di kota, tentu Bun Beng akan tertawa geli dan menganggap kera itu sebagai peliharaan pemain komidi binatang. Seekor kera tua duduk di kursi memakai jubah yang sepatutnya dipakai seorang pendeta, jubah berwarna kuning yang sudah koyak-koyak, terutama di ujung kedua lengannya. Dan kera tua berbaju itu memandangnya dengan muka berseri, tanda senang hati, sikap yang sudah dikenal Bun Beng. Kera tua itu agaknya senang melihatnya, dan moncongnya yang lebar itu berkemak-kemik, telunjuknya menuding-nuding! Kawanan kera melewati kursi itu sambil membungkuk-bungkuk, mata melirik-lirik penuh sikap takut terhadap kera tua yang berpakaian.
Akan tetapi mereka tidak mempedulikan "kakek"
Kera itu dan sambil cecowetan riuh rendah dan penuh kegembiraan mereka masuk ke dalam air panas yang mengalir seperti sebatang sungai kecil. Bun Beng masih tertarik dan terpesona oleh karena kera tua yang aneh itu, akan tetapi ketika berapa ekor kera mulai menarik-nariknya diajak mandi, timbul pula kegembiraannya. Cepat ditanggalkannya cawat kulit harimau dan ia pun masuk ke dalam anak sungai yang airnya panas. Betapa nikmatnya mandi dan merendam tubuh di air yang panas itu! Merupakan penawar yang nyaman setelah diserang musim dingin di luar. Dan air panas itu benar-benar mendatangkan rasa nyaman sekali di tubuhnya, seolah-olah mengandung sesuatu yang memiliki daya mujijat menguatkan tubuh.