"Begini, Im yang Seng cu!"
Tan siucai menjawab dan tiba-tiba tangan kirinya dibuka dan didorongkan ke arah muka kakek itu sambil mulutnya membentak,
"Diam!"
Hebat bukan main bentakan dan gerakan tangan itu karena secara aneh sekali, tiba-tiba Im yang Seng cu tak dapat menggerakkan kaki tangannya seolah-olah tubuhnya telah berubah menjadi batu. Dan pada saat itu, tangan kanan Tan-siucai telah bergerak ke belakang, tampak sinar hitam berkelebat dan pedang hitam di tangannya telah meluncur dan ambles ke dalam perut Im yang Seng cu, tepat di bawah ulu hati. Ketika pemuda itu mencabut pedangnya, darah menyembur keluar dari perut dan karena ketika mencabut pedangnya digerakkan ke bawah, perut itu robek den isi perutnya keluar. Barulah Im yang Seng cu dapat bergerak, kedua tangannya otomatis bergerak ke depan, yang kiri mendekap luka, yang kanan memukul ke depan. Angin pukulan kuat membuat pemuda itu terhuyung ke belakang. Baju depannya merah terkena percikan darah yang menyembur dari perut kakek itu. Im-yang Seng cu terhuyung huyung, matanya terbelalak, mulutnya berkata,
"Celaka.... ingin mati di tangan pendekar.... kini mampus di tangan setan.... benar benar tubuh sial....!"
Ia berusaha menubruk maju dengan loncatan cepat ke arah Tan shicai, untuk memberi serangan terakhir. Akan tetapi Tan siucai mengelak den tubuh kakek itu terjerembab ke atas tanah tanpa nyawa lagi.
"Heh heh heh!"
Dari balik sebatang pohon muncul dengan cara seperti setan seorang yang berkulit hitam. Orang ini bertubuh tinggi sekali, tinggi dan kurus. Kulitnya hitam mengkilap, kedua kakinya telanjang. Usianya sukar ditaksir, akan tetapi tentu tidak kurang dari enam puluh tahun. Dahinya lebar, hidungnya panjang melengkung, sepasang matanya lebar dan bersinar sinar aneh, mulutnya hampir tak tampak tertutup jenggot dan kumis yang putih. Kedua telinganya memakai anting anting perak berbentuk cincin. Rambutnya yang sudah lebih banyak putihnya itu tertutup sorban berwarna kuning. Tubuhnya hanya dibalut kain kuning pula yang menutup tubuh seperti cawat dan setengah dada.
"Cukup baik gerak tangan kirimu dan bentakanmu cukup berhasil. Sayang gerakan pedangmu tidak tepat. Lihat, pakaianmu terkena darah. Sungguh memalukan aku yang menjadi gurumu, heh-heh!"
Kata orang itu yang dapat diduga tentu datang dari barat karena bentuk muka, warna kulit, dan gaya bicaranya.
"Mohon petunjuk Guru,"
Kata Tan-siucai, alisnya berkerut tanda tidak senang hati dicela gurunya.
"Membunuh lawan terkena percikan darahnya, amatlah tidak baik dan engkau tadi membuka kesempatan lawan untuk menyerang sehingga kau terhuyung. Untung kepandaian orang ini tidak amat hebat. Kalau lebih hebat, apakah kau tidak akan celaka karena pukulan terakhir orang yang sudah menghadapi maut? Serahkan pedangmu, dan lihat baik baik!"
Tan-siucai menyerahkan pedangnya. Pedang hitam itu oleh kakek ini lalu diselipkan di bawah kain yang membelit pundaknya. Kemudian ia mengampiri mayat Im yang Seng cu, dipandangnya sejenak kemudian tiba-tiba tangan kirinya dengan telapak menghadap ke arah mayat digerakkan, mulutnya mengeluarkan pekik aneh dan.... mayat itu tiba-tiba berdiri di depannya. Darah masih mengucur dari perut mayat Im yang Seng cu yang terbuka dan ususnya terurai keluar.
"Diam....!"
Kakek itu membentak seperti yang dilakukan oleh muridnya tadi, tampak sinar hitam berkelebat menjadi gulungan sinar yang mengitari tubuh mayat itu. Kakek itu sudah meloncat ke belakang mayat dan.... tubuh Im yang Seng cu yang sudah tak bernyawa lagi itu kini roboh menjadi enam potong! Kedua lengan dan kedua kakinya terpisah, dan lehernya juga telah terbabat putus!
"Nah, dengan begini, engkau tidak memberi kesempatan lawan untuk mengirim serangan. Mula mula kedua lengan lalu kaki dan leher yang harus kau babat putus, bukan menusuk perut seperti tadi. Dan jangan lupa untuk bergerak meloncat ke belakang, berlawanan dengan menyemburnya darah dari tubuhnya! Ah, sampai lupa. Hayo cepat, kita tampung racun kuning!"
Mendengar ini, Tan siucai lalu menggunakan kakinya, mengungkit bagian-bagian tubuh mayat itu sehingga terlempar ke atas cabang pohon, ditumpuk di situ.
Kemudian kakek berkulit hitam itu menuangkan cairan obat dari sebuah botol ke atas tumpukan potongan tubuh mayat yang segera mencair. Mula mula seperti terbakar mendidih, kemudian dari tumpukan daging dan tulang itu menetes netes cairan kuning yang segera ditampung oleh Tan siucai ke dalam sebuah botol melengkung berwarna merah. Hebat sekali obat itu. Dalam waktu bebeberapa menit saja semua daging, tulang dan pakaian bekas tubuh Im yang Seng cu mencair dan hanya menjadi seperempat botol cairan kuning yang kental! Setelah tubuh itu habis sama sekali dan menutup botol dengan sumbat dan menyimpannya, guru dan murid yang aneh itu pergi dari situ. Tan siucai atau Tan Ki ini adalah bekas tunangan Hoa san Kiam li (Pendekar Pedang Wanita dari Hoa san) Lu Soan Li murid Im yang Seng cu.
Dia tinggal di Nan-king. Setelah dia mendengar akan kematian tunangannya yang dicinta dan dibanggakan, pemuda yang sudah tidak berayah ibu ini lalu pergi merantau. Dendam dan sakit hati membuat dia seperti gila dan akhirnya secara kebetulan dia berjumpa dengan kakek dari Nepal yang bernama Maharya itu yang kemudian mengambilnya sebagai murid. Kakek Maharya, seorang sakti dari Nepal, tidak hanya tertarik kepada Tan siucai karena melihat bakat pada diri pemuda itu, juga tertarik mendengar kisah pemuda itu yang menaruh dendam kepada Pendekar Siluman. Di samping ini, sebagai seorang asing yang baru datang ke Tiong goan, dia membutuhkan seorang pembantu dan pengajar bahasa. Sebagai seorang sastrawan, tentu saja pemuda itu merupakan seorang guru bahasa yang baik.
Demikianlah selama bertahun tahun Tan Ki atau Tan siucai merantau bersama gurunya, menerima gemblengan ilmu-ilmu silat yang aneh, juga menerima pelajaran ilmu sihir yang merupakan keistimewaan gurunya. Tujuan mereka hanya dua. Pertama memenuhi kebutuhan Maharya, yaitu mencari Sepasang Pedang Iblis, dan kedua memenuhi kebutuhan Tan siucai, mencari Im yang Seng cu dan Pendekar Siluman untuk membalas dendam kematian tunangannya! Secara tak tersangka-sangka mereka tiba di hutan itu dan hampir saja sekaligus Tan siucai dapat bertemu dengan dua orang yang dimusuhinya, akan tetapi dia terlambat karena Pendekar Siluman telah meninggalkan tempat itu. Betapapun juga, dia berhasil membunuh seorang musuhnya, yaitu Im yang Seng cu yang dahulunya adalah sahabat ayahnya, bahkan orang yang telah mengikatkan jodoh antara dia dan Lu Soan Li.
Akan tetapi, karena jalan pikirannya yang telah gila, Im yang Seng cu dianggap biang keladi kematian tunangannya sehingga berhasil dia bunuh secara mengerikan. Siapa yang mengatakan bahwa keselamatan diri seseorang, mati hidupnya tergantung sepenuhnya kepada dirinya sendiri, menandakan bahwa dia belum sadar akan kekuasaan tertinggi yang tak dapat ditambah maupun dikurangi, kekuasaan tertinggi yang menggerakkan matahari, bulan dan bintang bintang sampai debu-debu terkecil dalam cahaya matahari, kekuasaan yang menumbuhkan pohon pohon raksasa sampai setiap jenggot di dagu pada kekuasaan tertinggi yang menguasai atas mati dan hidup. Kalau yang Maha Kuasa menghendaki seseorang mati, kekuasaan apa pun di dunia tidak akan dapat menawar nawar.
Sebaliknya kalau dikehendaki-Nya seseorang hidup, tidak ada pula kekuasaan di dunia yang akan dapat menghentikan hidup orang itu. Hal-hal yang kelihatan tidak mungkin bagi akal manusia, sama sekali bukan merupakan hal tidak mungkin bagi kekuasaan itu. Kekuasaan tertinggi dan ajaib ini memperlihatkan kekuasaannya pula ketika Bun Beng terlempar ke dalam pusaran air. Sebelum dia, tokoh Pulau Neraka yang ahli dalam air dan bertenaga besar juga terjatuh ke dalam pusaran air itu. Dengan segala kemahiran dan kekuatannya, anggauta Pulau Neraka itu berusaha melawan pusaran air yang menghayutkan dan menyeretnya ke dalam pusaran yang amat kuat, namun usahanya menyelamatkan diri itu sia sia belaka dan tubuhnya hancur dihempaskan pada batu batu karang.
Akan tetapi sebaliknya dengan Bun Beng. Ketika anak ini jatuh ke tengah pusaran air dan merasa ada kekuatan dahsyat dari pusaran itu menyedot tubuhnya ke bawah, sedikit pun dia tidak melawan akan tetapi bahkan inilah yang membuat dia selamat! Air pusing yang mempunyai daya sedot amat dahsyat itu seketika "menelan"
Tubuh Bun Beng, disedot ke bawah lalu dihayutkan dengan kecepatan yang luar biasa di bawah permukaan air. Biarpun Bun Beng yang cerdik sebelum terbanting ke air telah menyedot napas sebanyaknya, namun tak lama kemudian ia pingsan selagi tubuhnya masih dihanyutkan dengan cepat sekali melalui terowongan di dalam gunung batu karang. Ketika anak itu siuman kembali, ia telah menggeletak di antara batu batu besar yang halus permukaannya,
Sebagian tubuhnya yang bawah terbenam air di antara batu dan untung bahwa dia terhempas ke tempat itu dengan muka di atas air. Ia membuka mata, tubuhnya terasa nyeri semua dan dinginnya luar biasa sehingga ia menggigil. Sudah matikah aku, pikirnya ngeri. Ia bangkit duduk, memandang ke sekeliling. Tidak, dia belum mati dan berada di lambung sebuah gunung yang tertutup kabut tebal. Dia duduk dan memandang terheran heran. Bagaimana ia dapat sampai di lambung gunung? Kekuasaan alam memang penuh mujijat. Kiranya ada terowongan yang meng-hubungkan tempat itu dengan pusaran air di mana ia terjatuh, sebuah terowongan di dalam tubuh gunung. Pusaran air itu tercipta oleh permainan angin yang memasuki terowongan, menimbulkan daya berpusing yang amat kuat sehingga menyedot air dan menciptakan air berpusing yang amat menakutkan.
"Nguk nguk nguk! Huk! Huk! Hukkk!"
Bun Beng terkejut dan menoleh ke kanan-kiri. Di tempat seperti ini, bagaimana bisa terdengar suara anjing? Biasanya anjing hanya berkeliaran di tempat datar, bukan di pegunungan di batu batu karang seperti ini, dekat air sungai. Akan tetapi hatinya juga girang karena biasanya anjing anjing itu dipelihara orang yang dapat ia mintai tolong.