Sepasang Pedang Iblis Chapter 37

NIC

Tentu saja Thian Tok Lama dan Thai Li Lama menjadi makin marah. Api kemarahan di dalam hati mereka seperti dikipas, makin berkobar dan dengan nafsu mereka kembali menyerang. Im yang Seng cu tentu saja repot bukan main. Ia memutar tongkatnya melindungi tubuh. Melawan seorang di antara kedua orang Lama ini saja tidak akan menang apalagi dikeroyok dua.

"Plak.... krekkkk!"

Ujung tongkat di tangan Im yang Seng cu patah dan ia terhuyung ke belakang. Thai Li Lama mengejarnya dengan pukulan maut. Tiba-tiba tampak bayangan putih berkelebat, meluncur turun dari atas dan Thai Li Lama yang sedang menyerang Im yang Seng cu terkejut sekali ketika ada angin dahsyat menyambar dari atas ke arah kepalanya. Cepat ia mengelak dan mengibaskan tangan.

"Bresss!"

Dua helai bulu burung garuda putih membodol ketika cengkeraman burung itu dapat ditangkis Thai Li Lama. Pendeta Tibet ini menjadi marah dan terjadilah pertandingan hebat antara burung garuda dengan pendeta ini, sedangkan Thian Tok Lama kembali sudah menerjang dan mendesak Im yang Seng-cu dengan Pukulan Hek in hui hong-ciang yang merupakan cengkeraman maut.

Im yang Seng cu adalah seorang bekas tokoh Hoa san pai yang sudah mempelajari banyak macam ilmu silat tinggi sehingga jarang ada orang yang mampu menandinginya. Hampir segala macam ilmu-ilmu silat tinggi dikenalnya dan inilah yang membuat kakek itu lihai sekali, bahkan pada waktu itu, tingkat ilmu kepandaiannya malah telah melampaui tingkat Ketua Hoa san pai sendiri! Akan tetapi sekali ini menghadapi Thian Tok Lama, dia benar benar bertemu tanding yang amat kuat. Pendeta Lama itu adalah seorang tokoh Tibet yang memiliki kepandaian tinggi ditambah tenaga mujijat dari ilmu hoat sut (sihir) yang banyak dipelajari oleh tokoh-tokoh Tibet. Biarpun hoat sut yang dikuasai Thian Tok Lama tidaklah sekuat ilmu Hoat sut Thai Li Lama, namun ilmu ini memperkuat sin-kangnya dan menambah kewibawaannya menghadapi lawan.

Dalam hal tenaga sin-kang, Im yang Seng cu kalah setingkat oleh lawannya. Memang tubuh gendut Thian Tok Lama mengurangi kegesitannya dan Im yang Seng cu lebih gesit dan ringan, namun sekali ini Im-yang Seng cu bertemu dengan lawan yang menggunakan ilmu silat aneh dan asing, sama sekali tidak dikenalnya! Setelah saling serang puluhan jurus lamanya, akhirnya Im yang Seng cu terdesak dan hanya mundur sambil mempertahankan diri sa-ja, tidak mampu balas menyerang. Hanya ada sebuah keuntungan yang membuat dia tidak dapat cepat dirobohkan, yaitu bahwa dia bersikap tenang dan gembira, selalu mengejek, berbeda dengan sikap Thian Tok Lama yang dipengaruhi kemarahan dan penasaran.

Seperti juga Im yang Seng cu, garuda putih yang menyambar dan menyerang Thai Li Lama mau tidak mau harus mengakui kelihaian pendeta Tibet kurus itu. Memang Thai Li Lama tidak akan mampu menyerang burung itu kalau Si Garuda terbang tinggi, akan tetapi biarpun kelihatannya Si Burung yang selalu meluncur turun dan menyerang kepala Thai Li Lama, selalu burung itu yang terpental oleh tangkisan dan pukulan Thai Li Lama! Banyak sudah bulu putih burung itu bodol dan kini serangannya makin mengendur, bahkan mulailah garuda putih itu mencampuri pekik kemarahannya dengan bunyi tanda gentar. Sementara itu, Suma Han masih berdiri bersandar tongkatnya. Sinar matanya memandang kosong dan bibirnya bergerak-gerak,

"Tentu dia.... wahai.... Lulu.... untuk apakah engkau mengambil pusaka-pusaka itu....? Lulu.... satu-satunya sinar bahagia yang menembus semua awan hitam di hatiku hanya melihat engkau hidup bahagia di samping suami dan anakmu.... akan tetapi.... engkau menghancurkan kebabagiaanmu sendiri.... sekaligus memadamkan sinar bahagia di hatiku. Mengapa....? Mengapa....?"

Biarpun wajah yang tampan itu masih tidak membayangkan perasaan apa-apa, namun bulu matanya basah dan jari jari tangan yang memegang kepala tongkatnya gemetar, jantungnya seperti diremas remas, perasaan hatinya menangis dan mengeluh. Bhe Ti Kong, panglima Mancu tinggi besar yang tadi terpelanting roboh sendiri ketika menyerang Suma Han, sejak tadi memandang pendekar kaki buntung super sakti itu.

Dengan hati khawatir panglima ini menyaksikan kedua orang temannya yang bertanding melawan Im-yang Seng cu dan burung garuda putih. Biarpun kedua orang temannya selalu mendesak, akan tetapi Bhe Ti Kong mengerti bahwa kalau Si Kaki Buntung itu maju, tentu kedua orang pendeta Tibet itu akan kalah. Dia adalah seorang panglima, sudah biasa mengatur siasat-siasat perang, siasat untuk mencari kemenangan dalam pertempuran. Melihat keadaan pihaknya ini, tentu saja Bhe Ti Kong tidak menghendaki pihaknya kalah dan terancam bahaya ikutnya Pendekar Siluman itu dalam pertempuran. Melihat Suma Han termenung seperti orang mimpi, ia menghampiri perlahan lahan dan mencabut senjatanya yang mengerikan, yaitu sebatang tombak gagang pendek yang bercabang tiga, runcing dan kuat.

Bhe Ti Kong bukanlah seorang yang berwatak curang atau pengecut, dan apa yang hendak dilakukan ini semata-mata dianggap sebagai siasat untuk kemenangan pihaknya. Biasanya dalam pertempuran perang, tidak ada istilah curang atau pengecut, yang ada hanyalah mengadu siasat demi mencapai kemenangan. Sekarang pun, ketika ia berindap indap menghampiri Suma Han dari belakang dengan senjata di tangan, satu-satunya yang memenuhi hatinya hanyalah ingin melihat pihaknya menang. Setelah tiba di belakang Suma Han, Bhe Ti Kong mengangkat senjatanya dan menyerang. Panglima tinggi besar ini memiliki tenaga yang amat kuat, senjatanya juga berat dan kuat sekali, maka serangan yang dilakukannya itu menusukkan tombak runcing ke punggung Suma Han, merupakan serangan maut yang mengerikan dan agaknya tidak mungkin dapat dihindarkan lagi!

"Wirrrr....!"

Senjata tombak cabang tiga yang runcing itu meluncur ke arah punggung Suma Han. Akan tetapi, pada waktu itu, ilmu kesaktian yang dimiliki Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, To cu dari Pulau Es ini, sudah "mendarah daging"

Sehingga boleh dibilang setiap bagian kulit tubuhnya memiliki kepekaan yang tidak lumrah.

Perasaan di bawah sadarnya seolah-olah telah bangkit bekerja setiap detik sehingga jangankan baru sedang melamun, bahkan biarpun dia sedang tidur nyenyak sekalipun, perasaan ini bekerja melindungi seluruh tubuhnya dari bahaya yang mengancam dari luar. Pada saat itu, pikirannya sedang melayang layang, seluruh panca inderanya sedang ikut melayang-layang pula bersama pikirannya sehingga dia seperti tidak tahu sama sekali akan segala yang terjadi di sekelilingnya, tidak tahu betapa garuda tunggangannya dan Im yang Seng cu didesak hebat oleh Thian Tok Lama den Thai Li Lama. Akan tetapi, ketika ada senjata menyambar punggung mengancam keselamatannya, perasaan di bawah sadar itu mengguncang kesadarannya dengan kecepatan melebihi cahaya!

"Suuuuutttt!"

Bhe Ti Kong berseru kaget dan bulu tengkuknya berdiri karena tiba-tiba orang yang diserangnya itu lenyap. Ketika ia menoleh, yang tampak olehnya hanyalah bayangan berkelebat cepat menyambar ke arah Thian Tok Lama yang mendesak Im yang Seng cu,

Kemudian bayangan itu mencelat ke arah Thai Li Lama yang bertanding dan tahu-tahu tubuh kedua orang pendeta Lama itu terhuyung huyung ke belakang dan mereka berdiri dengan wajah pucat memandang Suma Han yang sudah berdiri bersandar tongkat dan memandang mereka berdua dengan sinar mata tajam ber-pengaruh. Keduanya telah kena didorong oleh hawa yang dinginnya sampai menusuk tulang dan biarpun kedua orang pendeta ini sudah mengerahkan sin-kang, tetap saja mereka itu menggigil dan wajah mereka yang pucat menjadi agak biru, gigi mereka saling beradu mengeluarkan bunyi! Setelah mengerahkan sin-kang beberapa lamanya, barulah mereka itu dapat mengusir rasa dingin dan tahulah mereka bahwa kalau Si Pendekar Super Sakti menghendaki, serangan tadi tentu akan membuat nyawa mereka melayang!

"Katakan kepada koksu kerajaan Im kan Seng jin Bhong Ji Kun bahwa To cu Pulau Es tidak tahu menahu tentang Sepasang Pedang Iblis! Nah, pergilah dan jangan mengganggu orang-orang yang tidak bersalah!"

Thian Tok Lama menghela napas panjang. Pemuda buntung itu hebat luar biasa dan ucapan seorang yang sakti seperti itu tentu saja tidak membohong. Ia menjura dan berkata,

"Baiklah dan harap To cu sudi memaafkan kelancangan kami,"

Ia memberi isyarat kepada Thai Li Lama dan Bhe Ti Kong, kemudian mereka bertiga meninggalkan tempat itu. Keadaan menjadi sunyi. Garuda putih kini hinggap di atas cabang pohon, menyisiri bulu bulunya dengan paruh sambil kadang-kadang memandang ke arah majikannya. Im yang Seng cu yang masih mengatur pernapasannya yang agak terengah karena tadi ia terlampau banyak mempergunakan tenaga untuk melindungi dirinya dari desakan hebat Thian Tok Lama, kini melangkah maju mendekati Suma Han memandang penuh perhatian ke arah wajah yang sudah menunduk kembali itu lalu berkata.

"Suma Han, mari kita lanjutkan urusan di antara kita. Sudah kuceritakan semua tentang sebabnya mengapa hari ini aku harus membunuhmu atau terbunuh olehmu. Karena engkau, kedua orang muridku tewas dan orang-orang yang kucinta di dunia ini habis. Jangan berkepalang tanggung, hayo kau tewaskan aku pula atau engkaulah yang akan mati di tanganku!"

Tanpa mengangkat mukanya yang tunduk, Suma Han membuka pelupuk matanya yang menunduk. Sinar matanya bagaikan kilat menyambar wajah kakek itu, membuat hati Im yang Seng cu tergetar. Diam diam kakek ini kagum bukan main. Manusia berkaki satu yang berdiri di depannya adalah seorang manusia yang amat luar biasa!

"Benarkah Locianpwe begitu bodoh ataukah hanya pura pura bodoh? Ada kemenangan dalam diri manusia yang melebihi segala makhluk, yaitu perbuatan dengan pamrih demi kebahagiaan orang lain. Bahkan rela berkoban demi kebahagiaan orang lain. Sudah tentu saja akibatnya bermacam macam sesuai dengan kehendak Tuhan, namun menilai perbuatan bukanlah dilihat akibatnya, melainkan ditinjau pamrihnya."

Im yang Seng cu tersenyum dan menyembunyikan kegembiraannya di balik kata kata mengejek.

"Suma Han, semua perbuatan memang berakibat dan hanya seorang gagah sajalah yang berani mempertanggung jawabkan setiap perbuatannya! Kepandaianmu amat tinggi dan aku sudah kehilangan tongkatku, namun jangan mengira bahwa aku akan gentar melawanmu. Jangan bersembunyi di balik kata kata yang muluk muluk. Mari kita selesaikan!"

Suma Han menghela napas panjang.

"Kalau sekeras itu kehendak Locianpwe, demi penyesalan hatiku telah mengakibatkan kesengsaraan orang-orang yang kucinta, silakan Locianpwe!"

"Bagus! Nah, sambutlah ini!"

Dengan wajah yang tiba-tiba berubah girang bukan main, Im yang Seng cu meloncat maju, tangan kanannya dengan pengerahan sin-kang sekuatnya menghantam dada Suma Han.

"Dessss!"

Tubuh Suma Han terlempar sampai lima meter, tongkat yang dipegangnya terlepas dan ia roboh terguling, mulutnya muntahkan darah segar. Seketika wajah Im yang Seng cu menjadi pucat sekali. Kegirangan lenyap dari wajahnya dan ia meloncat mendekati.

"Celaka! Keparat engkau, Suma Han! Engkau telah menipuku....! Ahhhh.... engkau akan membuat aku mati menjadi setan penasaran.... selamanya aku.... belum pernah memukul orang yang tidak melawan. Kenapa engkau tidak melawan? Celaka.... aiiiihhh.... celaka....!"

Tiba-tiba terdengar pekik keras dan bayangan putih menyambar dari atas. Garuda putih telah menyambar dan cakarnya mencengkeram pundak Im yang Seng-cu, tubuh kakek itu dibawa ke atas lalu dibanting lagi ke bawah.

"Brukkk!"

Im yang Seng cu tertawa, pundaknya luka berdarah.

"Bagus....! Bagus sekali, garuda sakti! Hayo lekas serang lagi. Hayo bunuh aku.... ha ha ha! Majikanmu yang gila tidak mau membunuhku, mati di tanganmu cukup terhor-mat. Marilah!"

Ia menantang-nantang sambil tertawa dan bangkit berdiri terhuyung huyung. Garuda putih menyambar lagi ke bawah dengan penuh kemarahan.

"Pek eng, berhenti!"

Tiba-tiba Suma Han membentak, suaranya mengandung getaran dahsyat dan burung itu tidak jadi menyerang Im yang Seng cu, melainkan hinggap di atas tanah dekat Suma Han dan mendekam, mengeluarkan suara mencicit sedih dan takut. Im yang Seng cu membanting-banting kakinya ke atas tanah.

"Suma Han, engkau benar benar kejam! Engkau berkali-kali mengecewakan hatiku! Engkau menerima pukulanku tanpa melawan, membuat aku menjadi seorang manusia yang rendah dan hina! Dan sekarang engkau melarang burungmu menyerangku. He, Pendekar Super Sakti! Apakah setelah engkau berjuluk Pendekar Siluman hatimu pun menjadi kejam seperti hati siluman? Apakah engkau akan puas menyaksikan aku hidup merana menanti datangnya maut menjemput nyawaku yang sudah tidak betah tinggal di tubuh sialan ini?"

"Locianpwe,"

Suma Han berkata lirih sambil mengusap darah dari bibirnya dengan ujung lengan baju.

"Locianpwe datang dengan niat membunuhku. Pukulanmu tadi cukup keras akan tetapi belum cukup untuk melukai aku, apalagi membunuh. Kalau masih belum puas, mari, pukul lagi, Locianpwe."

"Engkau tidak melawan?"

Suma Han menggeleng kepala.

"Bagaimana harus melawan? Locianpwe hendak membunuhku karena kesalahanku terhadap Lulu dan Sin Kiat, dan biarpun tidak kusengaja, memang aku telah bersalah terhadap mereka. Kalau Locianpwe mau membunuhku, lakukanlah!"

Posting Komentar