Suma Han tetap tidak menjawab dan termenung. Terdengarlah suara ketawa Im yang Seng cu,
"Ha ha ha! Penghormatan yang menyembunyikan paksaan adalah penghormatan palsu. Menuduh orang menyimpan pusaka tanpa bukti lebih mendekati fitnah!"
Thian Tok Lama menoleh ke arah Im-yang Seng cu dengan sikap marah, akan tetapi pendeta Tibet yang cerdik ini tidak mau melayani karena dia tahu bahwa menghadapi Suma Han saja sudah merupakan lawan berat, apalagi kalau dibantu kakek aneh yang dia tahu bukan orang sembarangan pula itu. Maka dia berkata lagi, tetap ditujukan kepada Suma Han.
"Koksu berpendapat bahwa karena Taihiap lah orangnya yang dahulu menguburkan jenazah Siang mo Kiam eng (Sepasang Pendekar Pedang Iblis) bersama sepasang pedang itu, maka kini tetap Taihiap pula yang membongkar kuburan dan mengambil sepasang pedang itu. Hendaknya diketahui bahwa yang berhak atas Sepasang Pedang Iblis adalah Koksu Im kan Seng jin Bhong Ji Kun, karena pembuat pedang itu adalah nenek moyangnya dari India. Maka pinceng percaya akan kebijaksanaan Suma Taihiap untuk mengembalikan pedang pedang itu kepada yang berhak."
Akan tetapi Suma Han mengangguk-angguk dan bicara seorang diri.
"Benar, tak salah lagi, tentu dia...."
"Orang ini terlalu sombong!"
Tiba-tiba Bhe Ti Kong membentak dan meloncat maju.
"Berani engkau menghina utusan Koksu negara, orang muda buntung yang sombong?"
Setelah membentak demikian, Bhe ciangkun sudah menerjang maju, mencengkeram ke arah pundak Suma Han dengan maksud menangkapnya dan memaksanya tunduk.
"Plakk! Auggghhh....!"
Tubuh tinggi besar Bhe ciangkun terlempar ke belakang dan terbanting ke atas tanah. Ia meloncat bangun dengan muka pucat dan tangan kirinya memijit mijit tangan kanan yang tadi ia pakai mencengkeram pundak Suma Han. Pendekar Super Sakti itu masih berdiri tak bergerak, termenung seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu. Ketika Bhe Ti Kong mencengkeram tadi, Pendekar Siluman itu sama sekali tidak mengelak atau menangkis, akan tetapi begitu tangan panglima kerajaan mencengkeram pundak,
Bhe ciangkun merasa tangannya seperti ia masukkan ke dalam tungku perapian yang luar biasa panasnya dan ada daya tolak yang amat kuat sehingga ia terjengkang dan terpelanting. Melihat kawannya roboh, Thian Lok Lama dan Thai Li Lama terkejut dan marah, mengira bahwa pendekar berkaki buntung itu sengaja menyerang Bhe Ti Kong, maka dengan gerakan otomatis keduanya lalu menggerakkan tangan memukul dari jarak jauh. Angin yang dahsyat menyambar dari tangan mereka, menyerang Suma Han yang masih berdiri termenung, seolah-olah tidak tahu bahwa dia sedang diserang dengan pukulan maut jarak jauh yang amat kuat. Baju di tubuh Suma Han berkibar terlanda angin pukulan itu akan tetapi, tenaga pukulan dengan sin-kang itu seperti "menembus"
Tubuh Suma Han lewat begitu saja dan
"kraaakkk!"
Sebatang pohon yang berada di belakang Suma Han tumbang dilanda angin pukulan itu, akan tetapi tubuh Pendekar Siluman itu sendiri sedikit pun tidak bergoyang! Hal ini membuat Thian Tok Lama dan Thai Li Lama terheran--heran dan penasaran. Kalau lawan itu menggunakan tenaga sin-kang melawan serangan mereka, bahkan andaikata mengalahkan sin-kang mereka sendiri, hal itu tidaklah mengherankan. Akan tetapi Pendekar Siluman Majikan Pulau Es itu sama sekali tidak melawan dan angin pukulan mereka hanya lewat saja seolah-olah tubuh itu terbuat daripada uap hampa! Rasa penasaran membuat keduanya menerjang maju den menggunakan dorongan telapak tangan mereka menghantam dada Suma Han dari kanan-kiri!
"Buk! Bukk!"
Dua buah pukulan itu mengenai dada Suma Han, akan tetapi akibatnya kedua orang pendeta Lama itu terjengkang dan terbanting seperti halnya Bhe Ti Kong tadi!
"Ha ha ha ha! Kiranya utusan utusan koksu kerajaan adalah pelawak pelawak yang pandai membadut, pandai menari jungkir balik!"
Im yang Seng cu bersorak dan bertepuk tangan seperti orang kagum dan gembira menyaksikan aksi para pelawak di panggung. Dua orang pendeta Lama itu meloncat bangun dan memandang Im yang Seng cu dengan mata mendelik.
Keduanya tadi roboh karena biarpun Suma Han kelihatannya diam tidak bergerak, namun dengan kecepatan yang tak dapat diikuti mata, dua buah jari tangan kanan-kiri pemuda berkaki buntung itu telah menyambut pukulan telapak tangan kedua lawan dengan totokan sehingga begitu telapak tangan berhasil memukul dada, tenaganya sudah buyar sehingga merekalah yang "terpukul"
Oleh hawa sin-kang yang melindungi tubuh Suma Han. Tentu saja keduanya terkejut setengah mati. Mereka sudah mengenal Suma Han, sudah tahu akan kelihaian Pendekar Super Sakti itu. Akan tetapi, yang mereka hadapi sekarang ini adalah pemuda buntung yang kepandaiannya beberapa kali lipat daripada dahulu, lima tahun yang lalu. Hal ini mengejutkan hati mereka, juga mendatangkan rasa jerih. Kemudian mereka menimpakan kemarahan, yang timbul karena malu kepada Im yang Seng cu yang mengejek mereka.
"Im yang Seng cu, engkau sungguh seorang yang tak tahu diri! Di muara Huang ho Koksu telah mengampuni nyawamu, sekarang engkau berani menghina kami. Coba kau terima pukulan pinceng!"
Thian Tok Lama menerjang Im-yang Seng cu yang cepat meloncat ke samping karena datangnya serangan itu amat hebat.
Pukulan yang dilancarkan Thian Tok Lama adalah pukulan Hek in-hui hong ciang, ketika memukul tubuhnya agak merendah, perutnya yang gendut makin menggembung dan dari dalam perutnya terdengar suara seperti seekor ayam biang bertelur, berkokokan dan tangan kanannya berubah biru. Pukulannya bukan hanya mendatangkan angin dahsyat, akan tetapi juga membawa uap hitam! Melihat betapa serangan Thian Tok Lama dapat dielakkan oleh Im yang Seng cu, Thai Li Lama yang juga marah sekali terhadap kakek bertelanjang kaki itu sudah menyambut dari kiri dengan pukulan Sin kun-hoat lek yang tidak kalah ampuh dan dahsyatnya dibanding dengan Hek in hui hong ciang.
"Ayaaa....!"
Biarpun diancam bahaya maut, Im yang Seng cu masih dapat mengejek sambil melompat tinggi ke atas kemudian ia berjungkir balik.
"Kedua pelawak ini selain lucu juga gagah sekali!"