Mimi tinggal di kamarnya dan menangis. Ia merasa bingung sekali. Harus diakuinya bahwa ia mencinta Shu Ta, dan bahwa ia tidak bisa membenci para pejuang yang dianggapnya sebagai orang-orang gagah yang berhak memperjuangkan kemerdekaan mereka. Akan tetapi, bagaimanapun juga ia adalah seorang wanita Mongol. Bagaimana mungkin hatinya dapat tenang melihat bangsanya dimusuhi, juga ayahnya sebagai menteri menjadi musuh pria yang dicintanya? Ia merasa tidak berdaya. Di sini terdapat kakaknya, dan kalau ia melaporkan kepada kakaknyapun, ia masih ragu akan apa yang dilakukan kakanya. Ia tahu bahwa kakaknyapun tidak suka dengan kenyataan bahwa bangsa Mongol menjajah bangsa Han, dan betapa banyak di antara para prajurit, baik bangsa Mongol maupun bangsa Han, yang menjadi anggota pasukan pemerintah, suka bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat jelata. Ia tidak dapat melaporkan kekasihnya, akan tetapi juga tidak enak membiarkan saja kekasihnya menjadi seorang pengkhianat dan pemberontak! Karena risau, iapun menangis di kamarnya.
Pasukan besar dari Nan-king itu dipimpin sendiri oleh Yauw-Ciangkun dan Menteri Bayan. Menteri Bayan memang bukan seorang panglima, akan tetapi mendengar betapa puterinya ditawan oleh pemberontak, dia menjadi marah sekali dan ingin menyaksikan sendiri penumpasan sarang gerombolan pemberontak itu oleh pasukan pemerintah.
Ketika pasukan pemerintah menjebol pintu perkampungan para pejuan, mereka terheran karena tidak melihat adanya perlawanan sama sekali. Melihat ini, Menteri Bayan yang menunggang kuda di samping Yauw-Ciangkun berseru, “Awas, mungkin ini suatu perangkap, Ciangkun!”
“Harap paduka tenang, biar kami mengutus anak buah melakukan penyelidikan ke dalam sarang ini,” kata Yauw-Ciangkun. Belasan ekor kuda yang ditunggangi pasukan penyelidik memasuki perkampungan itu. Semua pondok di situ kosong dan sunyi.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh di bagian belakang perkampungan itu, suara ringkik kuda dan seruan orang.
“Ah, mereka melarikan diri melalui pintu belakang. Kejar!” Yauw-Ciangkun berseru marah dan pasukannya dikerahkan untuk menyerbu ke dalam perkampungan, merobohkan dan membakar pondok-pondok itu dan terus melakukan pengejaran ke belakang perkampungan yang menuju ke sebuah lereng bukit.
Kini sudah nampak pasukan gerombolan itu berlari-larian mendaki bukit yang penuh batu- batu dan nampak gundul karena tanah kapurnya tidak subur sama sekali. “Kejar terus! Basmi mereka!” teriak Yauw-Ciangkun dengan marah. Pasukannya melakukan pengejaran. Akan tetapi karena jalan pendakian itu tidak rata dan banyak batunya, pasukan berkuda itu mengalami kesulitan dan Yauw-Ciangkun memerintahkan agar pasukan berjalan kaki melakukan pengejaran. Gerombolan pemberontak yang berlarian itu, sudah menghilang di balik sebuah tebing tinggi dan kini pasukan pemerintah terus mengejar ke samping tebing, melalui jalan lorong yang diapit dua sisi tebing di kanan kiri. Dan tiba-tiba, setelah pasukan tiba di situ, dari atas tebing datang batu-batu yang digulingkan ke bawah, seperti hujan! Tentu saja pasukan pemerintah menjadi kocar-kacir. Teriakan-teriakan kepanikan membuat pasukan menjadi semakin panik dan banyak yang tertimpa batu.
Pada saat itu, dari arah belakang pasukan, terdengar sorak-sorai dan ratusan orang anggota pemberontak menyerang pasukan dari belakang!
“Cepat berbalik! Kita dijebak!” teriak Menteri Bayan. Pasukannya memutar haluan, dan terjadi pertempuran yang berat sebelah karena jumlah pasukan pemerintah jauh lebih banyak. Pasukan pejuang itu ternyata hanya menyerang serentak, setelah mendapat perlawanan yang jauh lebih kuat, merekapun lari cerai-berai ke segala jurusan, dikejar oleh pasukan pemerintah. Melihat ini, Yauw-Ciangkun segera memberi aba-aba agar pasukannya berkumpul dan jangan terpancing oleh pemberontak berpencaran karena hal itu akan melemahkan diri sendiri.
“Tai-jin, kalau menurut pendapat paduka, siasat apa yang dipergunakan gerombolan pemberontak itu? Mereka jelas sengaja memancing kita ke lorong tadi, kemudian menyerang dari belakang hanya untuk mengacaukan karena kekuatan mereka tidak besar, tidak seperti yang dilaporkan Shu-Ciangkun,” kata Yauw-Ciangkun berhati-hati minta pendapat atasannya karena Menteri Bayan hadir di situ.
“Hemm, agaknya mereka sedang menggunakan siasat memancing kita agar berpencaran. Sebaiknya kalau kita kembali saja ke kota dan mengirim penyelidik untuk mencari tahu ke mana pasukan gerombolan itu pindah, baru kita mengirim pasukan memukul dengan tiba-tiba sehingga mereka tidak sempat melarikan diri.”
Yauw-Ciangkun mengangguk-angguk. Memang diapun sudah merasa khawatir. Sambil menanti datangnya pagi, sebaiknya kalau pasukan dikumpulkan dan dihitung kerugian mereka yang tewas tertimpa batu, kemudian menggerakkan pasukan untuk kembali ke Nan-king atau membuat perkemahan di luar benteng kota Nan-king, siap untuk menyerbu lagi kalau sudah diketahui di mana gerombolan itu berada.
Kerugiannya cukup besar. Tidak kurang dari seratus orang tewas atau terluka tertimpa batu dan ketika diserang mendadak itu. Akan tetapi, baru saja pasukan terkumpul, terdengar sorak- sorai lagi dan kini datang gerombolan dari kanan kiri melakukan penyerangan mendadak dengan anak panah. Mereka itu bersembunyi di balik batang-batang pohon dan batu-batu besar sambil menghujankan anak panah.
Dengan marah sekali, Yauw-Ciangkun memerintahkan membalas serangan dengan barisan panahnya, kemudian memerintahkan pasukan penyerbu untuk menyerang gerombolan yang melakukan pertempuran secara gerilya itu. Pasukan yang dikerahkan ke kanan kiri hanya mendapat perlawanan kecil saja karena gerombolan itu melarikan diri lagi menyusup ke dalam hutan-hutan. Yauw-Ciangkun menjadi marah sekali. Dia mengepal tinju dan meneriakkan aba-aba kepada para perwira untuk memberi tanda agar pasukannya jangan terpancing melakukan pengejaran sendiri-sendiri.
“Gerombolan pemberontak pengecut!” teriaknya.
Seperti jawaban atas makiannya ini, kembali datang serangan dari gerombolan itu, kini dari arah belakang dan mereka menghujankan panah berapi kepada pasukan pemerintah.
Diganggu sedemikian rupa, banyak perwira yang kehilangan sabar dengan marah mengerahkan pasukannya untuk mengejar dan menumpas para penyerang-penyerang. Mereka berhasil merobohkan belasan orang pemanah gelap, akan tetapi korban yang jatuh di pihak pasukan pemerintah lebih besar dan begitu ada pasukan yang memaksa diri mengejar para pemanah, dari kanan kiri kembali datang serangan dari mereka yang tadi melarikan diri ke dalam hutan-hutan.
Pasukan pemerintah itu benar-benar dibikin kacau dan tiba-tiba Menteri Bayan berteriak kepada Yauw-Ciangkun. “Ini tidak wajar! Mereka menggunakan siasat memancing harimau keluar sarang! Kita harus cepat kembali ke Nan-king karena di sana penjagaan kurang kuat. Siapa tahu gerombolan itu memusatkan kekuatan untuk menyerang Nan-king!”
Mendengar ini, Yauw-Ciangkun membunyikan tanda mengumpulkan seluruh pasukan dan tanpa melayani gangguan para gerombolan yang bergerilya, pasukan segera memutar haluan, kembali ke arah kota Nan-king. Sementara itu, matahari telah menampakkan dirinya.
Debu mengepul tinggi ketika pasukan yang sudah lelah karena semalam suntuk diganggu gerombolan itu melakukan perjalanan cepat menuju ke Nan-king.
Kekhawatiran Menteri Bayan memang tepat. Hanya beberapa ratus orang saja regu pejuang yang melakukan perang gerilya atau gangguan terhadap pasukan pemerintah dengan maksud membikin kacau dan menahan pasukan itu agar tetap mengejar mereka dan tinggal di daerah itu. Hal ini mereka lakukan sebagai siasat memancing harimau keluar sarang, dan memberi kesempatan kepada pasukan besar yang dipimpin sendiri oleh Cu Goan Ciang bergerak di malam hari itu menuju Nan-king!
Setelah tiba di depan pintu gerbang kota Nan-king, Cu Goan Ciang membagi pasukannya menjadi dua. Sebagian dia beri tugas untuk menyambut pasukan yang dipimpin Yauw- Ciangkun, dan sebagian lagi dia pimpin untuk menyerbu Nan-king.
Sementara itu, di dalam kota Nan-king, Panglima Shu Ta juga bertindak setelah melihat dari menara betapa pasukan Beng-pai sudah tiba di depan pintu gerbang. Para prajuritnya yang sudah dia beri tugas dan berjaga di pintu gerbang, segera membuka pintu gerbang. Melihat ini, tentu saja para prajurit Mongol terkejut dan mencoba untuk mencegah. Terjadilah perkelahian perebutan pintu gerbang, pihak Mongol mempertahankan agar jangan dibuka.
Akan tetapi karena Shu Ta memang sudah mempersiapkan pasukannya, pintu gerbang berhasil dibuka dan Cu Goan Ciang bersama pasukan Beng-pai menyerbu bagaikan air bah yang pecah bendungannya. Para panglima Mongol menjadi marah dan terjadi pertempuran. Akan tetapi karena Panglima Shu Ta membantu para penyerbu, tentu saja pasukan Mongol tidak dapat bertahan lama dan kota itu diduduki Cu Goan Ciang. Bouw Ku Cin dan Bouw Mimi, dengan pedang di tangan hendak melakukan perlawanan, akan tetapi Shu Ta cepat menghadang mereka. “Dengan sangat kuharap agar kalian tidak mencampuri perang ini. Bukankah kalian menyadari betapa rakyat jelata berhak untuk merebut kembali kemerdekaan mereka? Apakah kalian ternyata juga orang-orang yang suka menjajah bangsa lain dan hendak mempertahankan penjajahan Mongol?”
Pada saat itu, Cu Goan Ciang dan Tang Hui Yen berlompatan masuk ke ruangan itu dengan pedang di tangan. “Adik Mimi...!” kata Yen Yen mendekati dengan sikap ramah.
“Jangan mendekat!” bentak Mimi. “Engkau datang sebagai musuh kami. Bukankah kalian datang untuk menawan atau membunuh kami kakak beradik?”
“Tidak, Mimi, sama sekali tidak. Kami semua mengetahui bahwa engkau dan kakakmu adalah orang-orang berjiwa pendekar...” kata Yen Yen.
“Hemm, kalian tahu bahwa kami adalah putera dan puteri Menteri Bayan, musuh besar kalian,” kata Bouw Ku Cin. “Sekarang kalian telah menduduki Nan-king, tentu kami berdua akan menjadi tawanan kalian. Akan tetapi, lebih baik kami mati dari pada menjadi tawanan!”
“Akupun tidak sudi menjadi tawanan!” kata pula Mimi. Kakak beradik itu sudah memegang pedang dan siap untuk membela diri, sikap mereka gagah. Melihat ini, semua orang memandang kagum dan Yen Yen tersenyum.
“Saudara Ku Cin dan engkau, adik Mimi, harap kalian tidak bersikap begini dan salah mengerti. Kami adalah pejuang-pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan rakyat. Yang kami musuhi bukan perorangan, melainkan penjajah. Biarpun kalian keturunan Mongol, kalau kalian tidak membantu penjajah, kalian bukan musuh kami. Bahkan selama ini kalian menjadi sahabat-sahabat kami. Oleh karena itu, kami sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk menawan kalian.”
“Akan tetapi, bukankah adikku Mimi baru-baru ini juga menjadi tawanan kalian?” bantah Ku Cin yang masih bersikap menentang.
Kini Cu Goan Ciang yang berkata, “Memang benar, akan tetapi kami menawan nona Mimi bukan karena memusuhinya, melainkan mempergunakan sebagai umpan siasat kami agar pasukan penjajah menyerang kami. Kami kira nona Mimi juga merasa bahwa ia bukan dijadikan tawanan melainkan menjadi tamu terhormat kami.”
Sikap Mimi sudah mulai lunak, tangan yang memegang pedang sudah turun dan pedang itu tergantung lemah. “Mereka memang tidak pernah memusuhiku, kak Ku Cin,” katanya kepada kakaknya.
“Hemm, lalu sekarang setelah kalian menduduki Nan-king, apa yang akan kalian lakukan kepada kami, Shu-Ciangkun?” katanya sambil menatap wajah Shu Ta.
Panglima ini menghela napas panjang dan memandang kakak beradik itu dengan alis berkerut, “Saudara Bouw Ku Cin, engkau boleh bebas memilih, hendak tinggal di sini atau keluar dari Nan-king, terserah. Kami akan tetap menganggapmu sebagai seorang sahabat. Adapun adik Mimi... kalau boleh aku pribadi mengharapkan... sukalah kiranya tetap tinggal di sini, engkau mengerti perasaanku dan apa yang kuharapkan, akan tetapi kalau engkau hendak memaksa diri pergi meninggalkanku, kamipun tidak akan menghalangi... kalian bebas memilih.” Biarpun Shu Ta tidak menjelaskan, semua orangpun tahu atau dapat menduga bahwa panglima yang cerdik ini telah jatuh cinta kepada puteri Menteri Bayan itu.
“Aku memang tidak memusuhi para pejuang, akan tetapi akupun tidak mau dianggap pengkhianat oleh bangsaku. Aku akan pergi dari Nan-king!” kata Bouw Ku Cin, lalu dia memandang kepada adiknya. “Mimi, kau...” Dia tidak melanjutkan karena tiba-tiba saja Mimi menangis. Bouw Ku Cin menghampiri adiknya dan merangkulnya membiarkan adiknya menangis di dadanya.
“Aku tahu isi hatimu, Mimi. Engkau dan Panglima Shu Ta saling mencinta. Kalau memang kauhendaki, engkau boleh saja tinggal di sini bersamanya...”
“Kak Ku Cin, kau... kau tidak akan menganggap aku pengkhianat?” tanya Mimi terisak.
Ku Cin menggeleng kepala dan tersenyum. “Tidak, adikku. Aku tahu isi hatimu. Engkau tidak membantu penjajah, akan tetapi engkaupun tidak membantu pejuang memusuhi bangsa kita. Engkau berhak meraih kebahagiaanmu. Akan kuceritakan kepada ayah kita tentang anak perempuannya yang gagah, yang berani menempuh apa saja demi cintanya, dan tetap tidak mengkhianati bangsanya.”
“Kak Ku Cin, maafkan aku...” Mimi tersedu.
Dengan lembut Bouw Ku Cin melepaskan pelukannya dan Yen Yen segera menghampiri dan merangkul Mimi. “Adik Mimi, kami berbahagia sekali dengan keputusanmu.”
“Sekarang aku harus pergi, selamat tinggal, kawan-kawan. Semoga perjuangan kalian berhasil karena kalian memang benar!” kata Bouw Ku Cin. Cu Goan Ciang memberi perintah kepada selosin pembantunya untuk mengawal putera Mongol itu agar dapat keluar dari pintu gerbang dengan amat, dan memberinya seekor kuda yang tangkas.
Bouw Ku Cin membalapkan kudanya keluar dari pintu gerbang. Dari jauh dia melihat pertempuran yang berlangsung antara pasukan yang menghadang barisan pemerintah yang dipimpin Yauw-Ciangkun, di mana ayahnya sendiri berada. Akan tetapi, dia tidak ingin mencampuri dan di membalapkan kudanya ke utara, ke kota raja.
Terjadi pertempuran sengit di luar kota Nan-king ketika pasukan pemerintah yang kaget sekali melihat Nan-king sudah diduduki pasukan Beng-pai, berusaha untuk merebut kembali. Akan tetapi, pasukan Beng-pai yang sudah siap di luar kota menyambut pasukan pemerintah yang sudah kelelahan karena semalam suntuk diganggu perang gerilya dan melakukan perjalanan jauh. Apa lagi dari atas benteng kota, pasukan Beng-pai menghujankan anak panah ke arah pasukan musuh, sehingga pasukan pemerintah kocar-kacir dan akhirnya, setelah pertempuran selama setengah hari yang sangat melelahkan, pasukan itu terpaksa melarikan diri ke utara.
Bendera yang bertuliskan huruf besar BENG berkibar di kota Nan-king. Rakyat menyambut kemenangan Cu Goan Ciang ini dengan gembira. Kota Nan-king berpesta pora. Sumbangan para hartawan mengalir bagaikan banjir karena mereka dengan suka rela menyerahkan hartanya kepada pasukan rakyat yang membebaskan tanah air dan bangsa dari penjajahan, juga terutama sekali karena rakyat pada umumnya berterima kasih kepada Cu Goan Ciang karena pasukan pembebasan itu sama sekali tidak pernah mengganggu rakyat. Berkat ketertiban yang keras dari Cu Goan Ciang dan Shu Ta, tidak ada prajurit yang berani mengganggu rakyat dan di sinilah letaknya keberhasilan Cu Goan Ciang. Di mana-mana, rakyat menyambutnya dan dia tidak pernah kekurangan tenaga karena dengan sukarela kaum muda rakyat masuk menjadi prajurit. Bahkan dunia kang-ouw mendukung Cu Goan Ciang yang sudah diakui sebagai Beng-cu.
Peristiwa jatuhnya Nan-king ke tangan Cu Goan Ciang dan pasukan Beng-pai (Partai Terang) itu terjadi dalam tahun 1356. Cu Goan Ciang, dibantu Shu Ta yang menjadi panglima besarnya, tidak tergesa-gesa menyerang ke utara, di mana pemerintah Mongol yang mulai lemah masih mempertahankan kedaulatan mereka. Cu Goan Ciang menyusun kekuatan di selatan, menghimpun kekuatan rakyat, memperbaiki kehidupan di selatan, dan dia mengajak semua perkumpulan di dunia kang-ouw untuk bersatu. Semua perkumpulan yang berjuang menentang penjajah, diajak bekerja sama di bawah bendera Beng-pai, yang tidak mau dan yang melakukan perbuatan jahat mengganggu keamanan rakyat, ditundukkan dan ditumpas.
Dalam tahun itu juga, dia menikah dengan Tang Hui Yen atau Yen Yen, berbareng dengan pernikahan Shu Ta dengan Mimi. Biarpun Cu Goan Ciang dan Shu Ta tidak ingin merayakan pernikahan mereka secara besar-besaran, namun rakyat di kota Nan-king merayakan dengan gembira karena mereka semua mengagumi dan menghormati dua orang tokoh yang berhasil mengalahkan penjajah dan mengusirnya dari Nan-king itu.
Seperti tercatat di dalam sejarah, setelah dalam beberapa tahun seluruh daerah selatan dan timur dapat ditundukkan dan kekuasaan pasukan Beng-pai mencakup daerah yang luas dari Shantung sampai ke Canton, dan merasa bahwa keadaanya cukup kuat, Cu Goan Ciang menerima usul para pembantunya untuk mendirikan sebuah kerajaan baru sebagai tandingan kerajaan Goan, yaitu kerajaan Beng-tiauw. Dia sendiri lalu diangkat oleh semua pembantunya menjadi kaisar pertama kerajaan Beng dan berjuluk Kaisar Thai Cu.
Setelah kekuatan pasukannya mencapai puncaknya, dalam tahun 1368, pasukan besar kerajaan Beng ini, dipimpin oleh Jenderal Shu Ta yang menjadi panglima besar, mulai bergerak ke utara. Satu demi satu kota yang dipertahankan pasukan Mongol jatuh, dan akhirnya Kaisar Togan Timur, kaisar terakhir kerajaan Goan, melarikan diri ke Mongolia, sedangkan kota raja Peking dapat direbut dan dikuasai oleh pasukan Beng-tiauw.
Akan tetapi, Cu Goan Ciang atau Kaisar Thai Cu tetap mempertahankan Nan-king sebagai kota raja yang baru. Kekuasaan kerajaan Beng ini semakin berkembang saja. Berkat kegagahan dan kegigihan Panglima Besar Shu Ta yang memimpin pasukan Beng-tiauw, pasukan itu melakukan pengejaran ke utara, pada tahun 1372 pasukan itu menyeberangi gurun Gobi dan menyerang ibu kota Karakorum yang dahulu menjadi ibu kota lama dari Jenghis Khan pendiri kerajaan Goan. Kota Karakorum dibakar bahkan pasukan Beng melakukan pengejaran terus sampai melewati pegunungan Yablonoi di daerah Siberia!
Orang-orang Mongol yang masih tersisa dan tinggal di Yunan juga diusir ketika Yunan diserbu. Kekuasaan Beng-tiauw terus berkembang menjadi kerajaan besar dan kerajaan ini disambut dengan hangat dan penuh hormat oleh rakyat yang merasa mendapatkan kembali kehormatan mereka setelah selama hampir seratus tahun dijajah oleh bangsa Mongol.
Demikianlah, si Rajawali Lembah Huai, Cu Goan Ciang yang ketika kecilnya hanya seorang anak dusun yang amat miskin, yang pernah menjadi kacung di kuil, pernah menjadi penggembala ternah pernah pula menjadi gelandangan, berhasil menjadi Kaisar. Bukan hanya Kaisar, melainkan menjadi pembebas tanah air dan bangsanya dari penjajahan bangsa Mongol. Sampai di sini selesailah kisah ini dan semoga ada manfaatnya bagi para pembaca.
TAMAT