Bagaimanapun juga, mereka itu menganggap engkau musuh karena engkau puteri menteri kerajaan Mongol.”
“Lalu, engkau hendak membawaku pergi ke mana?” tanya Mimi, masih ketus. “Aku hendak membawamu kembali ke Nan-king, nona.”
Gadis itu terbelalak. “Gilakah engkau? Setelah tiba di sana, aku menceritakan semua kepada Yauw-Ciangkun dan engkau akan ditangkap sebagai seorang pengkhianat dan pemberontak!”
Shu Ta tersenyum dan menggerakkan pundaknya seperti orang yang acuh.
“Kalau memang sudah begitu jadinya, itu sudah nasibku. Marilah, nona jangan sampai kita terlambat.”
Karena mendengar akan diajak kembali ke Nan-king, tentu saja Mimi tidak merasa keberatan. Ia merasa heran bagaimana pemuda ini demikian mudahnya mengajak ia pergi, dan iapun heran mengapa Yen Yen dan yang lain-lain tidak nampak. Bahkan Shu Ta tidak mendapatkan halangan apapun ketika mengajak ia keluar dari perkampungan pemberontak yang kelihatan sunyi itu. Pintu gerbangpun tidak nampak ada penjaga seolah tempat itu telah ditinggalkan tanpa ia mengetahuinya.
Karena malam itu gelap atau penglihatan hanya remang-remang saja karena penerangan yang ada hanya dari bintang-bintang di langit, maka Shu Ta dan Mimi dengan hati-hati sekali menuruni bukit itu. Karena itu, jauh lewat tengah malam, menjelang pagi, mereka baru sampai di kaki bukit dengan selamat. Shu Ta mengajak gadis itu menuju ke tepi sungai Huai dan di situ telah tersedia sebuah perahu kecil.
“Kita melanjutkan perjalanan dengan perahu ini, nona. Akan tetapi sebelumnya, saya harus melaksanakan tugas lebih dulu.” Mimi yang kelelahan hanya memandang dan ia semakin terheran-heran melihat pemuda itu mengeluarkan gendewa kecil dan tiga batang anak panah api. Tiga kali berturut-turut Shu Ta melepaskan anak panah api ke udara. Nampak anak panah api meluncur tinggi ke atas sampai tiga kali dan akan nampak jelas dari tempat jauh seperti bintang beralih tempat.
“Apa artinya itu? Atau, sebagai tawanan, aku tidak boleh bertanya?”
“Tentu saja engkau boleh mengetahuinya, nona. Tiga batang anak panah api itu merupakan isarat bagi pasukan yang dipimpin Yauw-Ciangkun untuk menyerbu sarang gerombolan pemberontak seperti yang telah kami rencanakan.”
Sepasang mata itu terbelalak. “Ehhh? Apa pula artinya ini, Ciangkun? Sebetulnya engkau berpihak manakah? Tadinya kusangka engkau mengkhianati pemerintah dan berpihak kepada pemberontak, sekarang engkau seperti mengkhianati teman-temanmu seperjuangan dan berpihak kepada pemerintah. Mana yang benar?”
“Nona, bukankah pernah engkau mengatakan bahwa engkau tidak menyukai urusan permusuhan dan perang? Sudahlah, tidak perlu nona memusingkan urusanku. Beginilah kenyataan perjuangan itu. Mari kita lanjutkan perjalanan kita ke Nan-king dan di sana engkau akan mengetahui segalanya. Kalau engkau hendak melaporkan aku dan aku ditangkap, dihukum, akupun tidak akan menyalahkanmu.”
Mimi menatap wajah panglima muda itu dalam keremangan subuh. Dalam ucapan itu terkandung penyerahan yang menunjukkan perasaan pemuda itu kepadanya. “Ciangkun, andai kata engkau berpihak kepada pemerintah, tentu aku tidak dapat melaporkan apapun. Sebaliknya, andai kata engkau berpihak kepada para pejuang... agaknya sukar bagiku untuk melaporkanmu. Setelah aku berada di antara mereka selama beberapa hari ini, harus kuakui bahwa para pejuan itu tidak bersalah. Kalian memang berhak memperjuangkan kemerdekaan. Aku tidak tahu harus berbuat apa...”
Bukan main gembiranya rasa hati Shu Ta mendengar ini. “Nona Mimi, engkau memang seorang gadis yang bijaksana dan baik budi...”
Pada saat itu, Shu Ta dan Mimi terkejut melihat berkelebatnya lima bayangan orang dan di depan mereka telah muncul lima orang laki-laki yang usianya antara tiga puluh sampai empat puluh tahun. Tubuh mereka itu rata-rata tinggi besar dan nampak kuat, dan di pinggang mereka terdapat pedang, sikap mereka gagah, angkuh dan mengancam. Shu Ta menduga bahwa mereka tentulah orang-orang kang-ouw yang sudah menggabungkan diri dengan laskar rakyat pimpinan suhengnya, akan tetapi karena dia tidak mengenal mereka, dia tidak tahu siapa lima orang ini.
“Siapakah kalian, sobat? Dan ada keperluan apakah menghadang perjalanan kami?” tanya Shu Ta. Dia menyangka bahwa mereka tentu membawa pesan baru dari suhengnya untuk disampaikan kepadanya.
Seorang di antara mereka, yang tertua dan yang kepalanya botak, tersenyum mengejek. “Panglima Shu Ta, serahkan nona itu kepada kami!”
Shu Ta mengerutkan alisnya. “Hemm, apa artinya ini? Bukankah kalian anak buah Beng-cu Cu Goan Ciang?”
“Ha-ha-ha, sudahlah jangan banyak cakap. Kami tahu engkau mengkhianati pemerintah. Serahkan nona itu kepada kami atau engkau akan kami tangkap dan kami serahkan kepada Yauw-Ciangkun!” kata pula si botak. Mendengar ini, tahulah Shu Ta bahwa ada anak buah suhengnya yang berkhianat, maka tanpa banyak cakap lagi, dia sudah mencabut pedangnya dan menyerang lima orang itu. Mimi juga menggunakan pedangnya membantu Shu Ta melawan lima orang yang mengepung mereka. Ternyata lima orang itu cukup lihai dan dengan pengeroyokan mereka, Shu Ta dan Mimi mendapatkan lawan yang cukup tangguh.
Akan tetapi, terdengar bentakan nyaring dan muncul seorang bertubuh raksasa yang mukanya penuh brewok. Terkejutlah Mimi ketika mengenal orang itu yang bukan lain adalah Tay-lek Kwi-ong yang lihai!
“Ha-ha-ha-ha, sekali ini kami akan mendapat keuntungan besar, kawan-kawan. Tangkap mereka hidup-hidup, kita hadapkan pengkhianat ini kepada Yauw-Ciangkun dan memulangkan gadis ini kepada Menteri Bayan, tentu kita akan menerima hadiah besar, ha-ha- ha!”
Tay-lek Kwi-ong memutar golok besarnya dan melihat raksasa ini, dan melihat wajah Mimi yang ketakutan, Shu Ta memutar pedangnya dan menyerang raksasa itu. Akan tetapi, sambil tertawa Tay-lek Kwi-ong menangkis dengan golok besarnya sambil mengerahkan seluruh tenaga raksasanya.
“Tranggg...!!” Pedang di tangan Shu Ta terlepas dan pendekar ini terkejut bukan main. Karena tidak menyangka bahwa lawan memiliki tenaga sehebat itu, maka dia terkejut dan pedangnya terpukul lepas. Sambil tertawa, Tay-lek Kwi-ong menyimpan goloknya dan menubruk Shu Ta dengan sepasang lengannya yang panjang dikembangkan dan kedua tangannya seperti cakar beruang menerkam. Dengan gesit Shu Ta menghindarkan diri dengan bergulingan, kemudian ketika dia bangkit, dia melompat dan sebuah tendangannya mencuat cepat mengenai perut raksasa itu.
“Dukk!” Perut itu sedemikian keras dan kuatnya sehingga kaki Shu Ta yang menendang terpental dan diapun terhuyung. Tay-lek Kwi-ong tertawa bergelak.
Sementara itu, pengeroyokan lima orang itupun sudah berhasil membuat Mimi kehilangan pedangnya dan dengan nekat ia kini dikepung oleh lima orang yang berebut untuk menangkapnya hidup-hidup. Hanya karena enam orang itu berusaha menangkap mereka hidup-hidup, maka hal ini merupakan keuntungan bagi Shu Ta dan Mimi. Apa lagi bagi Mimi, jelas bahwa orang-orang yang ingin mendapatkan hadiah memulangkannya kepada ayahnya itu tidak berani melukainya atau kurang ajar kepadanya. Bagaikan seekor harimau betina iapun mengamuk dan berhasil menampar kepala seorang pengeroyok sehingga orang itu terpelanting. Akan tetapi, tetap saja ia terdesak, seperti juga Shu Ta yang sudah beberapa kali terkena hantaman tangan Tay-lek Kwi-ong yang membuatnya roboh. Akan tetapi Shu Ta nekat melawan terus.
Dalam keadaan yang amat gawat bagi Mimi dan Shu Ta, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan muncullah Bouw Ku Cin bersama tiga puluh orang prajuritnya. Melihat adiknya dan Shu Ta dikeroyok, Bouw Ku Cin marah sekali dan dia segera memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk mengeroyok Tay-lek Kwi-ong dan lima orang pembantunya. Shu Ta cepat meloncat dan menarik tangan Mimi dan di lain saat mereka telah menyelamatkan diri dari medan pertempuran. Bouw Ku Cin yang marah melihat adiknya tadi terancam bahaya, dan melihat bahwa yang menyerang itu adalah Tay-lek Kwi-ong yang amat dibencinya, segera memberi aba-aba kepada para prajuritnya untuk menyerang dengan anak panah.
“Tunggu... tahan...!” teriak Tay-lek Kwi-ong. “Dia hendak berkhianat...!” Dia menunjuk ke arah Shu Ta. Akan tetapi, Bouw Ku Cin yang sudah mengenal Tay-lek Kwi-ong yang jahat, yang telah menculik Mimi, segera memberi aba-aba.
“Tembak dia dengan panah! Bunuh dia...!”
Tay-lek Kwi-ong mencoba untuk membela diri dengan memutar goloknya demikian pula lima orang pembantunya. Akan tetapi karena panah itu dilepas dari jarak dekat dan amat banyak jumlahnya, akhirnya enam orang itupun roboh dengan tubuh penuh anak panah. Mereka tewas seketika.
“Mari kita cepat kembali ke kota!” kata Shu Ta dan mereka bertiga menunggang kuda, dikawal tiga puluh orang prajurit yang kesemuanya adalah prajurit anak buah Shu Ta, kembali ke Nan-king.
“Mereka telah menyerbu sarang gerombolan pemberontak!” kata Bouw Ku Cin ketika mendengar sorak-sorai dan canang dipukul, tanda bahwa pasukan pemerintah telah mulai menyerbu sarang gerombolan pemberontak setelah tadi melihat tanda panah api yang dilepas oleh Shu Ta. “Kita cepat pulang. Kota Nan-king kosong tidak ada yang memimpin,” kata Shu Ta dan merekapun membalapkan kuda menuju ke kota dan begitu memasuki pintu gerbang, Shu Ta memegang pimpinan dan menyuruh tutup semua pintu gerbang dan mempersiapkan semua pasukan ke atas benteng untuk menjaga kota dari serbuan musuh. Pada waktu itu, yang tinggal di Nan-king hanya kurang lebih tiga ribu orang pasukan, dan setengah dari jumlah ini merupakan pasukan yang berada di bawah pimpinan panglima Shu Ta, yaitu pasukan yang merupakan pasukan kepercayaan dan yang memihak para pejuang. Pasukan ini melakukan penjagaan bersama pasukan Mongol yang jumlahnya juga sekitar seribu lima ratus orang, dikepalai oleh para perwira Mongol. Hanya Mimi seorang yang tahu bahwa Shu Ta adalah seorang pejuang, walaupun perbuatan Shu Ta memberi tanda panah api kepada pasukan pemerintah tadi masih membingungkan hatinya.