Rajawali Lembah Huai Chapter 86

NIC

“Aku menyetujui usul Shu-Ciangkun,” kata Bouw Ku Cin. “Agaknya kakek raksasa itu menawan adikku hanya untuk dijadikan sandera agar dia tidak dapat diganggu oleh pasukan. Kalau dikerahkan pasukan besar-besaran, amat berbahaya bagi keselamatan adikku. Biarlah Shu-Ciangkun yang mencari secara diam-diam lebih dulu, dan aku akan ikut mencari.”

Yauw-Ciangkun terpaksa menyetujui usul Shu Ta itu. Akan tetapi Shu Ta menolak keinginan Bouw Ku Cin untuk ikut mencari. “Sebaiknya kalau Bouw Kongcu tidak ikut. Kongcu telah dikenal olehnya, maka begitu bertemu kongcu, tentu dia akan menjadi curiga dan melarikan diri bersama Bouw Siocia. Biarlah saya dan beberapa orang pembantu saya yang akan mencari, dan kami akan menyamar. Saya kira tidak akan terlalu sukar mencari seorang yang bentuknya seperti raksasa itu.” Akhirnya, pada hari itu juga, berangkatlah Shu Ta bersama empat orang perwira yang dipercayanya. Empat orang perwira ini adalah orang-orang sehaluan dengan dia, yaitu mereka yang berjiwa pahlawan dan bermaksud untuk membantu perjuangan menggulingkan pemerintah penjajah Mongol. Mereka berlima menyamar sebagai penduduk biasa, lalu keluar dari kota Nan-king, menuju ke Lembah Sungai Huai di utara.

Shu Ta maklum bahwa kalau dia ingin berhasil menemukan Tay-lek Kwi-ong dalam waktu seminggu, dia harus mendapat bantuan dari Cu Goan Ciang! Itulah satu-satunya jalan karena daerah itu berada di dalam kekuasaan Cu Goan Ciang. Bahkan siapa tahu kalau-kalau Tay-lek Kwi-ong malah sudah menjadi sekutu Cu Goan Ciang! Sebelum meninggalkan Nan-king, dia lebih dahulu mengirim seorang penghubung agar memberitahu kepada Cu Goan Ciang akan niatnya berkunjung ke markas laskar yang sedang dihimpun suhengnya itu. Dalam keadaan biasa, tentu saja tindakan ini amat berbahaya bagi kedudukannya, karena tentu akan menimbulkan kecurigaan Yauw-Ciangkun. Akan tetapi, dengan jalan mencari jejak orang yang menculik Bouw Mimi, tentu saja dia dapat pergi ke manapun tanpa dicurigai.

Biarpun demikian, Shu Ta dan empat orang kawannya amat berhati-hati melakukan perjalanan menyusuri sungai Huai. Ketika mereka bertemu dengan orang yang dijadikan penghubung, dan orang itu sedang kelihatan duduk di atas sebuah perahu dan memancing ikan, Shu Ta menyuruh empat orang kawannya untuk berpencar ke empat penjuru, memanjat pohon besar dan memeriksa keadaan sekeliling kalau-kalau ada orang lain yang mengawasi mereka. Setelah yakin bahwa tidak ada yang mengamati atau membayangi mereka, barulah lima orang itu naik ke perahu dan perahu diluncurkan perlahan ke tengah sungai.

“Beng-cu telah siap menyambut Ciangkun dengan gembira sekali,” kata penghubung itu. “Ketika Beng-cu bertanya kepentingan apa yang membuat Ciangkun hendak menemuinya, saya tidak dapat menjawab karena saya tidak mengetahui kepentingan Ciangkun.”

Shu Ta mengangguk senang, “Aku hanya rindu kepadanya dan ingin bercakap-cakap, cepat bawa kami ke sana.”

Perahu meluncur cepat dan menjelang senja, perahu mendarat di kaki sebuah bukit yang penuh hutan belukar. Daerah itu memang berbukit-bukit dan memang merupakan daerah yang baik sekali untuk menjadi markas laskar yang sedang dihimpun. Kalau sewaktu-waktu datang serangan pasukan pemerintah, laskar rakyat itu akan dapat menyelamatkan diri di bukit-bukit berhutan dan daerah itu tentu saja amat berbahaya bagi pasukan yang belum mengenal medan.

Setelah mereka mendaki bukit dan tiba di tepi hutan ketiga, serombongan orang menghadang di depan. Cu Goan Ciang memimpin rombongan itu dan dengan langkah lebar dia menyambut kedatangan Shu Ta. Keduanya saling pandang, lalu dengan gembira saling berpelukan.

“Suheng... engkau... hebat, suheng!” kata Shu Ta gembira.

“Engkau lebih hebat lagi, sute. Tanpa bantuanmu, tentu akan gagal semua usahaku. Mari kuperkenalkan dengan kawan-kawan kita.” Cu Goan Ciang memperkenalkan belasan orang pembantu utamanya yang merupakan pendekar-pendekar dan ahli siasat yang namanya sudah terkenal di dunia kang-ouw. Ketika diperkenalkan kepada seorang raksasa brewok, sebelum Cu Goan Ciang menyebut namanya, dengan hati berdebar Shu Ta mendahuluinya. “Bukankah saudara ini yang berjuluk Tay-lek Kwi-ong?”

Tay-lek Kwi-ong terbahak. “Ha-ha-ha, memang nama besar Panglima Shu bukan kosong belaka. Belum pernah kami saling bertemu, akan tetapi dia sudah dapat mengenalku!”

Shu Ta menahan kesabarannya, walaupun ingin dia mencekik orang yang telah menculik gadis yang membuatnya tergila-gila, yang diam-diam amat dicintanya itu. Dia memperkenalkan empat orang perwira pembantunya yang juga merupakan orang-orang sehaluan, yang membantu perjuangan dengan mempersiapkan diri sebagai perwira sehingga dapat membantu dari dalam.

“Sute, aku gembira sekali dapat bertemu denganmu. Banyak sekali yang perlu kita bicarakan. Akan tetapi, tentu engkau mempunyai kepentingan khusus maka engkau sampai mencari aku. Dan bagaimana engkau dapat pergi begitu saja berkunjung ke sini tanpa dicurigai?”

Kini Shu Ta tidak dapat menahan kemarahannya lagi terhadap Tay-lek Kwi-ong. Dia menudingkan telunjuknya kepada raksasa brewok itu dan berkata, “Suheng, semua ini gara- gara perbuatan Tay-lek Kwi-ong! Aku datang untuk mencari dia yang telah berani menculik Bouw Siocia, puteri Menteri Bayan. Kalau sampai terjadi hal yang tidak baik terhadap diri puteri itu, aku minta suheng menyerahkan dia padaku!” Wajahnya merah, matanya berkilat.

Melihat sikap sutenya ini, Cu Goan Ciang menjadi heran, akan tetapi dia memang cerdik dan sekilas pandang saja dia dapat menarik kesimpulan. Sutenya adalah seorang pejuang sejati yang membenci penjajah, bahkan rela memasuki bahaya dengan menjadi perwira untuk membantu perjuangan menjatuhkan pemerintah Mongol. Kini, melihat puteri seorang menteri Mongol tertawan, dia bukan merasa gembira, bahkan kelihatan marah sekali!

“Aihh, Shu-sutem engkau kenapakah? Kenapa marah-marah mendengar puteri Menteri Bayan ditawan orang? Hemm, tentu ada apa-apanya ini...” Dia menggoda, akan tetapi yang digoda tetap marah.

“Suheng, sebelum kita bicara tentang hal-hal lain, katakan dulu, di mana Mimi dan apa yang telah diperbuat Tay-lek Kwi-ong kepadanya!”

Kini yakinlah hati Cu Goan Ciang. Perkiraannya tidak salah. Sutenya telah jatuh cinta kepada puteri Menteri Bayan itu. Dan ini tidak mengherankan. Setelah menjadi tawanan di situ dan diberi pakaian wanita yang baik, gadis itu baru kelihatan amat cantik jelita dan gagah! Dan juga wataknya amat baik dan segera sudah menjadi akrab sekali dengan kekasihnya, yaitu Tang Hui Yen. Kedua orang gadis itu sudah seperti sahabat lama saja, berlatih silat bersama, bergurau bersama. Dari Yen Yen dia mengetahui bahwa Mimi sama sekali tidak menghiraukan tentang politik, dan berjiwa pendekar.

“Ha-ha-ha, tenangkan hatimu, sute. Nona Bouw Mimi memang berada di sini, menjadi tamu kehormatan kami.” Shu Ta membelalakan matanya, “Suheng! Jadi engkau yang menyuruh dia menculik Mimi?”

“Bukan begitu, akan tetapi kebetulan sekali Bouw Siocia dapat kami ambil alih dari tangan Tay-lek Kwi-ong yang hanya menawannya untuk disandera karena dia dikejar-kejar Bouw Kongcu dan para perwira. Tay-lek Kwi-ong juga merupakan seorang di antara kawan-kawan kita, pembantuku yang baik. Marilah, sute, mari kira bicara di tempat kami. Banyak yang dapat kita bicarakan dan tenangkan hatimu. Nona Mimi dalam keadaan sehat dan gembira, engkau dapat melihatnya sendiri nanti.”

Shu Ta merasa lega. Pandangan marah kepada Tay-lek Kwi-ong lenyap dan dia percaya sepenuhnya kepada suhengnya. Merekapun segera mendaki bukit itu dan ternyata di dekat puncak terdapat sebuah perkampungan. Dan Shu Ta diam-diam merasa kagum bukan main. Perkampungan itu seperti benteng saja! Terjaga ketat, dan biarpun dengan pakaian sederhana, namun anak buah suhengnya merupakan pasukan yang berpakaian seragam hitam, dan bendera dengan huruf BENG berkibar-kibar. Merekapun berbaris rapi menyambut kedatangan Beng-cu, dan ketika mereka melalui sebuah tempat tinggi, Cu Goan Ciang mengajak sutenya untuk naik dan memandang ke sekeliling.

“Lihat baik-baik, sute. Kami sudah siap. Tidak kurang dari seratus ribu prajurit dalam pasukan kami!”

Shu Ta berseru kagum. “Bukan main! Engkau hebat, suheng!” Dia melihat betapa di perbukitan sekeliling bukit itu, terdapat tenda-tenda hitam yang teratur rapi dan nampak jalan- jalan darurat yang menghubungkan satu bukit dengan yang lain. Kedudukan pasukan suhengnya ternyata sudah amat kuat, hal yang sama sekali tidak pernah disangkanya!

“Wah, pasukan ini sudah cukup kuat untuk merebut Nan-king, suheng!”

“Itulah yang perlu kita bicarakan. Mari kita ke tenda induk, akan tetapi sebaiknya engkau jangan bertemu dulu dengan nona Bouw. Setelah kita bicara nanti, baru engkau bertemu dan bicara dengannya. Agaknya ia... eh... kalian... saling mencinta, bukan?”

Wajah Shu Ta berubah merah sekali dan dia memegang tangan suhengnya. “Terus terang saja, suheng. Aku jatuh cinta padanya. Ia gadis yang baik sekali, dan aku cinta padanya, aku tidak ingin melihat ia terganggu atau celaka. Akan tetapi ia sendiri... ah, aku belum tahu apakah ia mencintaku walaupun pergaulan kami cukup akrab.”

“Kita bicarakan soal itu nanti, sekarang kita harus mengadakan perundingan penting dengan para pembantuku yang terpercaya.”

Mereka mengadakan rapat di dalam tenda besar yang di jaga ketat sehingga tidak ada orang lain yang dapat mengintai atau ikut mendengarkan apa yang sedang dibicarakan. Yang hadir dalam rapat itu adalah para pembantu Cu Goan Ciang sebanyak lima belas orang termasuk Tay-lek Kwi-ong, dan juga empat orang pembantu Shu Ta. Di kepala meja duduk Cu Goan Ciang, sedangkan Shu Ta duduk di sebelah kanannya, tempat yang paling terhormat di samping Beng-cu.

“Saudara sekalian harap dengarkan baik-baik apa yang akan dibicarakan antara aku dan sute Shu Ta karena ini merupakan rencana siasat kita selanjutnya. Nah, sute, kebetulan muncul peristiwa tertawannya Bouw Siocia, karena tadinya akupun sudah ingin mengadakan pertemuan denganmu untuk membicarakan rencana besar kita, yaitu menguasai kota Nan- king. Bagaimana kalau menurut pandangan dan siasatmu, sute?”

“Suheng, kekuatan pasukan suheng yang sebesar seratus ribu orang itu memang cukup kuat, akan tetapi kalau suheng hanya mengerahkan pasukan menyerbu Nan-king begitu saja, aku meragukan hasilnya, dan andai kata berhasilpun, tentu akan mengorbankan banyak sekali anak buah laskar suheng. Akan lebih menguntungkan kalau kita menggunakan siasat “Memancing Lembah Meninggalkan Sarang”.”

Cu Goan Ciang yang selalu kagum akan kecerdikan sutenya yang pandai mengatur siasat, apalagi setelah lama menjadi seorang panglima, segera minta penjelasan.

“Kita harus berusaha agar Yauw-Ciangkun membawa sebagian besar pasukannya keluar dari Nan-king, dan aku sendiri bersama pasukan yang sehaluan, yaitu pasukan bangsa Han yang setiap saat akan menanti perintahku sebanyak kurang lebih tiga ribu orang, akan tetap tingal di Nan-king. Harus diusahakan agar sisa prajurit yang pro pemerintah dan yang tinggal di benteng tidak begitu banyak jumlahnya. Setelah mereka keluar, pintu gerbang akan kami tutup dan kalau mereka kembali, kami akan melarangnya. Mereka tentu akan menyerbu dan kami melawan dari dalam. Saat itu, suheng bersama pasukannya datang menyerang sehingga kedudukan pasukan pemerintah terjepit.”

Cu Goan Ciang mengangguk-angguk dan para pembantunya merasa kagum dan menyetujui rencana itu yang sekali pukul akan dapat menghancurkan pasukan pemerintah.

Posting Komentar