Pusaka Pulau Es Chapter 33

NIC

Dan dengan cepat ia sudah menyerang dengan pedangnya, ditusukkan ke arah dada Keng Han yang sudah tidak berdaya karena kedua lengannya sudah terbelenggu dengan tubuhnya. Keng Han hanya dapat membelalakkan matanya, ingin menghadapi kematian dengan mata terbuka.

"Singgg.... tranggggg....!!"

Bunga-bunga api menyilaukan mata Keng Han ketika ada pedang lain menangkis pedang yang ditusukkan Bi-kiam Nio-cu kepadanya itu. Dan ketika Keng Han menoleh, ternyata yang menangkis itu adalah nona berpakaian putih dan berkedok putih itu. Dan nona itu pula yang memegang ujung sabuk sutera putih yang melibat tubuhnya!

"Sumoi, mengapa kau menangkis?"

"Suci, engkau tidak berhak membunuhnya!"

Kata gadis itu dan suaranya sungguh merdu dalam pedengaran Keng Han..

"Singgg... tranggggg...!!"

Bunga-bunga api menyilaukan mata Keng Han ketika ada pedang lain menangkis pedang yang ditusukkan Bi-kiam Nio-cu kepadanya itu.

"Subo sudah menyuruh aku membunuhnya, Sumoi!"

Bantah Bi-kiam Nio-cu.

"Subo mengira bahwa dia mencintamu, Suci. Subo menyuruh bunuh kalau ada laki-laki yang mencinta kita. Akan tetapi engkau hendak membunuhnya karena engkau marah mendengar bahwa dia tidak mencintamu. Aku sudah mendengar semua percakapan kalian. Apakah engkau ingin aku melapor kepada subo betapa engkau membujuknya untuk minggat dan menikah denganmu?"

"Sumoi....!! Tadi engkau membantuku menangkapnya dan sekarang...."

"Tadi aku membantumu karena melihat engkau tidak dapat mengalahkannya. Dan aku melarang engkau membunuh karena memang engkau tidak berhak membunuhnya. Sudahlah, Suci. Kita bebaskan pemuda yang tidak berdosa ini. Nanti aku yang memberi penjelasan kepada subo bahwa pemuda itu tidak mencintamu dan bahwa engkau pun hanya bersahabat saja dengan dia tidak mempunyai hubungan apa pun. Subo pasti akan dapat mengampunimu."

Dengan uring-uringan Bi-kiam Nio"cu diam saja dan gadis berpakaian putih itu lalu menarik kembali sabuknya yang lepas dari tubuh Keng Han. Pemuda itu telah bebas dan dia tidak tahu harus berkata apa. Akan tetapi mengingat bantuan Bi-kiam Nio-cu kepadanya dia lalu memberi hormat kepada wanita itu dan berkata.

"Nio-cu, banyak terima kasih kuucapkan atas bantuanmu selama ini. Dan Nona, terima kasih bahwa engkau telah menyelamatkan nyawaku!"

Katanya pula kepada gadis berpakaian putih itu sambil memberi hormat. Karena kedua orang gadis itu tidak menjawab, Keng Han lalu melangkah pergi dan tidak menengok kembali.

Bukit Menjangan berada di Pegunungan Cin-ling-san. Disebut demikian karena di bukit itu banyak terdapat binatang kijang dan menjangan. Tadinya banyak pemburu yang mencari binatang itu di Bukit Menjangan sehingga jumlah binatang itu makin lama semakin berkurang. Akan tetapi pada suatu hari datanglah seorang datuk yang memilih tempat itu sebagai tempat tinggalnya dan semenjak dia tinggal di situ, tidak ada lagi pemburu berani naik ke Bukit Menjangan. Tadinya memang ada yang naik, akan tetapi setiap kali ada pemburu berani naik ke bukit itu, dia turun lagi dengan digotong karena terluka parah. Karena penyerangnya tidak nampak, hanya bayangannya saja dan pemburu yang terluka itu menggigil kedinginan, maka tersiarlah berita bahwa penyerangnya tentu siluman dan sejak itu tidak ada lagi yang berani berburu binatang di Bukit Menjangan.

Pegunungan Cin-ling-san amat luasnya dan terdapat puluhan bukit sehingga mereka mengalihkan ladang perburuan mereka ke bukit lain. Sebetulnya siapakah datuk yang kini bertempat tinggal di Bukit Menjangan itu? Kalau saja ada yang berani dan mampu naik menyelidiki, dia akan melihat sebuah pondok bambu berada di puncak bukit dan yang tinggal di situ adalah seorang laki-laki raksasa yang rambutnya sudah putih semua dan usianya sudah tujuh puluh lima tahun lebih. Dia itu bukan lain, adalah Swat-hai Lo"kwi yang pernah menyerang Keng Han ketika pemuda itu pertama kali datang ke Pulau Hantu. Sebagai seorang datuk besar, Swat-hai Lo-kwi juga tertarik dengan munculnya Pulau Hantu dan dia telah melakukan penyelidikan ke sana dan telah berkelahi melawan tiga puluh orang pimpinan Harimau Hitam yang kemudian dibunuhnya satu demi satu.

Bahkan dia pun telah melukai Keng Han dengan pukulannya yang mengandung racun berhawa dingin. Akan tetapi kemudian dia merasa jerih menyaksikan betapa pulau itu dihuni ular-ular merah yang amat berbahaya. Dan melihat pulau itu kosong tidak ada apa-apanya yang berharga, dia lalu pergi meninggalkan Pulau Hantu dan akhirnya dia tertarik oleh pemandangan di Bukit Menjangan itu dan memilihnya sebagai tempat tinggalnya. Dan sejak dia tinggal di situ, dia tidak memperkenankan siapapun juga naik ke bukit. Yang berani naik tentu dipukulnya dengan pukulannya yang membuat orang menggigil kedinginan sehingga akhirnya tempat itu tidak ada yang be"rani mengunjungi dan dia tidak lagi merasa terganggu.

Swat-hai Lo-kwi mencari tempat pengasingan yang tidak terganggu orang lain bukan karena ingin bertapa, melainkan karena dia sedang melatih diri dengan semacam ilmu silat yang amat hebat dan dia tidak ingin orang lain melihatnya. Swat-hai Lo-kwi memang memiliki sin"kang yang berhawa dingin sekali, dan kini dia melatih diri untuk menyempurnakan sin-kangnya itu sehingga kalau dia menyerang orang, dia dapat membuat lawannya itu menjadi beku darahnya dan tewas seketika! Kurang lebih setahun lamanya dia melatih ilmu itu dan kini dia telah berhasil, yang menjadi kelinci percobaan ilmunya itu adalah binatang-binatang kijang dan menjangan yang berada di bukit itu. Sekarang, dari jarak yang kurang lebih sepuluh meter, dia dapat memukul binatang itu dengan pukulan jarak jauhnya dan binatang itu ro"boh dan tewas dalam keadaan darahnya beku!

Bukan main hebatnya ilmu ini dan Swat-hai Lo-kwi merasa dirinya yang paling jagoan di antara para ahli silat manapun. Pada suatu pagi yang amat dingin, Swat-hai Lo-kwi menghangatkan diri dengan membuat api unggun dan memanggang daging kijang untuk sarapan pagi. Mendadak dia menjadi waspada dan matanya mengerling ke kiri karena dari arah itu dia mendengar suara langkah orang. Langkah itu demikian ringan sehingga dia merasa heran sekali. Orang yang datang ini pasti seorang yang berilmu tinggi, pikirnya. Akan tetapi dia pura-pura tidak tahu dan masih saja memanggang paha kijang itu dengan te"kun sambil menghangatkan tubuh dari serangan hawa dingin pagi itu.

"Ha-ha-ha, sudah kuduga bahwa tentu engkau Iblis Lautan Es yang berada di tempat ini karena orang-orang yang terpukul itu mati kedinginan!"

Tiba-tiba terdengar suara dan ketika Swat-hai Lo"kwi menoleh, dia melihat seorang kakek tinggi kurus yang memegang sebatang dayung baja berdiri di situ sambil bertolak pinggang dengan tangan kirinya dan bersandar pada dayungnya. Melihat kakek itu, Swat-hai Lo-kwi juga tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, kiranya Setan Lautan Timur yang datang. Setan tua, mau apa engkau mengganggu ketenteraman hidupku di tempat ini?"

Kata-katanya terakhir itu mengandung tantangan.

"Wah, sejak kapan Swat-hai Lo-kwi menerima kedatangan seorang sahabat seperti ini? Aku, Tung-hai Lo-mo (Setan Tua Lautan Timur) tidak pernah datang ke suatu tempat tanpa urusan penting. Aku sengaja mengunjungimu untuk urusan penting sekali, penting bagi kita berdua."

"Nanti dulu, aku kini tidak mau sembarangan bicara dengan orang yang belum kuketahui sampai mana tingkat kepandaiannya. Mari kita main-main sebentar, hendak kulihat apakah selama ini engkau maju atau bahkan mundur dalam ilmumu, Lomo!"

Tantang Swat-hai Lo"kwi sambil bangkit berdiri.

"Bagus, bagus! Engkau masih saja belum berubah, Lo-kwi. Selalu tinggi hati dan menganggap diri sendiri terpandai. Baiklah, majulah dan coba rasakan hebat"nya dayung bajaku!"

"Awas seranganku!"

Lo-kwi berseru dan dia sudah menyerang dengan tangan kirinya. Serangkum hawa yang amat dingin menyambar. Akan tetapi Lo-mo adalah datuk dari timur yang ilmu kepandaiannya juga amat tinggi. Dia meng"hindar dan dayungnya meluncur menyapu ke arah pinggang Lo-kwi. Lo-kwi menggunakan tangannya menangkis lalu menyerang lagi lebih hebat dari tadi. Akan tetapi, Lo-mo juga dapat menangkis serangannya dan tidak terpengaruh hawa dingin yang menyambar itu. Keduanya sudah bertanding dengan seru sekali dan sebentar saja lima puluh jurus telah lewat. Merasa betapa lawannya benar"benar tangguh, Lo-kwi lalu menyerang dengan pukulan jarak jauhnya, yang se"lama setahun ini dilatihnya di bukit itu.

"Hyaaaaattt.... ahhhhh!"

Dia berseru dengan suara melengking dan dari kedua telapak tangannya nampak sinar putih kebiruan menyambar ke arah lawan. Tung-hai Lo-mo agaknya maklum akan hebatnya serangan jarak jauh ini. Dia menancapkan tongkatnya di atas tanah lalu dia pun mengerahkan tenaga sinkangnya dan dalam keadaan setengah berjongkok dia menyambut pukulan jarak jauh itu.

"Wuuuttttt.... desss....!!"

Keduanya terdorong ke belakang dan Tung-hai Lo"mo agak menggigil kedinginan, akan tetapi dia segera dapat mengusir hawa itu dengan pengerahan sinkangnya.

"Hebat! Pukulanmu itu hebat sekali. Orang lain mana akan mampu menahannya? Aku kagum sekali kepadamu, Lo"kwi!"

Kata Lo-mo yang merasa kalah kuat dalam adu tenaga ini. Lo-kwi juga tertawa.

"Ha-ha-ha, engkau juga telah memperoleh kemajuan pesat, Lo-mo. Nah, engkau memang pantas berunding denganku, lekas katakan apa yang menjadi keperluanmu datang berkunjung ini."

"Ha-ha-ha, bicara sih mudah, akan tetapi perut lapar ini perlu diisi. Kulihat panggang daging kijang itu sudah matang."

Mereka lalu makan daging panggang di dekat api unggun dan tidak bicara apa"apa. Lo-mo mengeluarkan sebuah guri arak dan menenggaknya, lalu menyerahkan kepada Lo-kwi.

"Ini arak pilihan dari Hang-ciu. Engkau pantas minum bersamaku, Lo-kwi!"

Posting Komentar