"Kongcu dan Siocia silakan duduk!"
Kata Dalai Lama dengan ramah. Kemudian dua orang pendeta cilik itu menyuguhkan secangkir air teh harum. Setelah menyuguhkan air teh, mereka pun mengundurkan diri sehingga yang berada di ruangan itu tinggal mereka berdua bersama Sang Dalai Lama. Kalau dia hendak membalaskan kematian gurunya, alangkah mudahnya dan ini merupakan kesempatan yang baik. Akan tetapi dia teringat akan ucapan Kwi Hong dan juga Bi-kiam Nio"cu bahwa Dalai Lama adalah seorang pendeta yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Apalagi di luar. Andaikata dia mampu membunuh Dalai Lama, dia pun tidak akan dapat meloloskan diri dari tempat yang terjaga oleh ratusan orang pendeta Lama itu.
"Terima kasih, Lo-suhu."
Kata Bi-kiam Nio-cu dan Keng Han juga mencontoh wanita itu mengucapkan terima kasih, kemudian mereka duduk berhadapan dengan pendeta itu. Wibawa yang amat kuat menyinar dari pendeta itu, pandang matanya yang lembut, mulutnya yang penuh senyum, kesabaran yang terbayang di seluruh wajahnya, semuanya itu membuat Keng Han merasa semakin tidak enak hatinya. Dia seolah merasa berdosa mendendam kepada seorang pendeta se"perti ini.
"Nah, orang-orang muda yang baik, ceritakan apa maksud kalian menemui pinceng (saya),"
Kata Dalai Lama dengan suara ramah.
"Saya hanya mengantar sobat ini menghadap, Lo-suhu. Saya sendiri tidak mempunyai urusan apa pun."
Jawab Nio-cu yang agaknya juga merasa tidak enak berhadapan dengan pendeta itu. Dalai Lama memandang kepada Keng Han sejenak, lalu bertanya,
"Orang muda, keperluan apakah yang membawamu da"tang ke tempat ini dan bertemu dengan pinceng? Katakanlah sejujurnya, pinceng siap mendengarkan."
Keng Han menelan ludah sendiri sebelum menjawab dan suaranya terdengar agak gemetar,
"Losuhu, saya datang, ini untuk menghadap Losuhu dan bertanya mengapa Losuhu mengutus tiga orang pendeta Lama Jubah Merah untuk membunuh suhuku?"
"Omitohud....! Siapakah suhumu itu, Kongcu?"
"Suhu bernama Gosang Lama, seorang pendeta Lama Jubah Kuning. Suhu hidup tenteram di daerah utara, kenapa suhu dicari dan kemudian dibunuh dengan kejamnya? Saya menuntut keadilan, Lo"Suhu."
"Omitohud....! Gosang Lama itu suhumu? Ahhh, engkau tentu tidak tahu siapa Gosang Lama yang kau angkat menjadi guru itu, Kongcu. Dia tidak dibunuh, melainkan menerima hukuman dari semua kejahatannya."
"Dihukum? Jahat? Akan tetapi suhu tidak melakukan sesuatu yang jahat!"
"Mungkin tidak selama menjadi gurumu. Akan tetapi sebelum itu, apakah engkau tahu apa saja yang telah dilakukan Gosang Lama?"
Keng Han menggeleng kepalanya dan tidak dapat menjawab.
"Orang muda, berhati-hatilah dengan akal pikiran dan hatimu sendiri, terutama sekali waspadalah terhadap perasaan dendam. Dendam itu merupakan racun yang akan meracuni dan merusak hati sendiri, menimbulkan perbuatan yang kejam dan tanpa perhitungan lagi. Dendam bagaikan api yang membakar hati dan mendatangkan kebencian yang mendalam. Akan tetapi ketahuilah, segala sesuatu yang telah terjadi itu ada kaitannya dengan karma, ada kaitannya de"ngan perbuatannya sendiri. Perbuatannya sendiri itulah yang akan menimbulkan akibat yang menimpa diri sendiri. Engkau mendendam karena kematian gurumu, akan tetapi tidak tahu mengapa gurumu dihukum mati. Kalau engkau menuruti nafsu dendam itu, bukankah berarti engkau bertindak semau sendiri tanpa pertimbangan lagi? Dan mungkin karena dendam itu engkau melakukan pembunuhan-pembunuhan kepada orang-orang yang tidak bersalah. Jangan mencari sebab dan kesalahan keluar, orang muda, melainkan carilah di dalam diri sendiri, karena sebab dan kesalahan itu berada di dalam dirinya sendiri."
Keng Han tertegun. Dia merasa betapa tepat dan besarnya ucapan itu. Dia mendendam atas kematian gurunya. Akan tetapi dia tidak tahu mengapa gurunya dibunuh. Bagaimana kalau gurunya yang bersalah? Bukankah berarti dia membela orang yang bersalah?
"Losuhu, mohon Losuhu ceritakan apa saja yang telah diperbuat oleh suhu Gosang Lama sehingga dia dihukum mati."
"Gosang Lama telah melakukan pelanggaran-pelanggaran di waktu mudanya. Dia melakukan perbuatan yang keji, merampas dan memperkosa wanita, merampok harta milik, penduduk, bahkan dia mengobarkan pemberontakan di kalangan para pendeta Lama Jubah Kuning. Dosanya besar sekali dan karena dia membahayakan kehidupan semua orang, maka majelis lalu menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Dia melarikan diri dan menjadi buronan sampai akhirnya petugas"petugas menemukan dia dan melaksanakan hukuman mati itu. Nah, apakah engkau masih hendak membela kematian seorang yang telah melakukan demikian banyak dosa orang muda yang baik?"
Keng Han tertegun dan tidak mampu menjawab, akan tetapi kemudian dia mengeraskan hatinya dan menjawab,
"Lo"suhu, bagaimanapun juga suhu Gosang Lama tidak melakukan pembunuhan...."
"Omitohud! Apakah pinceng harus menceritakan semuanya? Dia telah membunuh banyak orang, bahkan utusan pertama yang kami tugaskan untuk menangkapnya, sebanyak tiga orang telah dibunuhnya. Dan sekali lagi, dia menipu kami dengan memasukkan seorang anak laki-laki yang dia katakan berbakat baik dan katanya merupakan anak yatim piatu. Kami percaya dan kami sendiri menurunkan ilmu-ilmu kepada anak itu. Akan tetapi setelah Gosang Lama melarikan diri, baru ketahuan bahwa anak itu adalah anaknya sendiri yang didapat dari wanita yang dipaksanya menjadi isterinya. Nah, masih kurangkah apa yang kau dengar ini?"
Keng Han merasa terpukul sekali.
"Apakah puteranya itu yang bernama Gulam Sang, Losuhu?"
"Benar sekali. Apakah engkau sudah bertemu dan berkenalan dengan dia?"
"Tidak, akan tetapi mendiang suhu yang meninggalkan pesan tentang puteranya itu."
"Hemmm, dan engkau tidak merasa heran bahwa seorang pendeta Lama dapat mempunyai anak?"
Keng Han merasa terpukul lagi dan dia menundukkan mukanya. Pikirannya menjadi ruwet. Jauh-jauh dia datang untuk membalaskan dendam kematian gurunya, dan kini dia hanya mendengar segala kejahatan gurunya dibeberkan! Apa yang harus dia lakukan?
"Akan tetapi saya adalah muridnya, Losuhu. Bukankah tugas seorang murid untuk berbakti kepada gurunya, seperti berbakti kepada ayah ibu sendiri? Melihat suhu binasa di tangan orang, bagaimana mungkin saya harus berdiam diri saja? Berarti saya akan menjadi seorang murid yang durhaka!"
"Omitohud! Orang bijaksana selalu meneliti perbuatan sendiri, selalu mencari kekurangan dan kesalahan pada diri sendiri. Perbuatan orang tua dan guru juga harus diteliti, untuk dicontoh mana yang baik dan dihindarkan mana yang buruk. Akan tetapi, agar engkau tidak menjadi penasaran, orang muda, engkau boleh melaksanakan balas dendam itu. Pinceng yang menyuruh hukum Gosang Lama, maka pinceng memberi kesempat"an kepadamu untuk menyerang pinceng. Engkau boleh menyerang, sesukamu dan pinceng tidak akan membalas."
Setelah berkata demikian, tiba-tiba tubuh Dalai Lama itu melayang dalam keadaan masih duduk bersila, melayang dan turun ke lantai, masih bersila dan kedua tangan di atas lutut sambil tersenyum ramah.
"Nah, engkau boleh menyerang pin"ceng sesukamu, orang muda."
Keng Han merasa betapa jantungnya berdebar tegang. Kalau dia dapat membunuh Dalai Lama, tentu roh suhunya akan tenang. Akan tetapi kemudian dia teringat akan penjagaan ketat di tempat itu. Kalau dia membunuh Dalai Lama, tentu dia akhirnya akan tewas di tangan ratusan pendeta Lama itu.
"Losuhu, kalau saya menyerang Lo"suhu dan berhasil menewaskan Losuhu, tetap saja saya akan dikeroyok oleh banyak pendeta dan tidak akan dapat lolos dari tempat ini."
"Ha-ha-ha, jangan khawatir, orang muda. Pinceng tidaklah securang itu. Kalau engkau mampu membunuh pinceng, itu sudah kehendak Yang Maha Kuasa, dan engkau akan dapat pergi dengan aman."
Keng Han masih meragu dan menoleh kepada Bi-kiam Nio-cu, bertanya,
"Bagai"mana, Niocu? Apa yang harus kulakukan?"
Bi-kiam Nio-cu tersenyum dan berkata,
"Losuhu Dalai Lama telah meng"ijinkan engkau untuk menyerangnya. Nah untuk menghilangkan rasa penasaran di hatimu, mengapa tidak kaulakukan itu?"
"Baik!"
Akhirnya Keng Han meng"ambil keputusan.
"Akan tetapi kalau aya menyerang Losuhu, hal ini hanya terjadi karena Losuhu yang menyuruhku!"
"Tentu saja dan pinceng sudah siap, orang muda. Seranglah dan engkau boleh mengeluarkan semua ilmu dan tenagamu."
Dalai Lama masih duduk bersila dengan senyumnya yang lembut. Keng Han lalu mengerahkan tenaga dari pusarnya. Dua tenaga panas dan dingin naik ke kedua lengannya, yang panas menyusup ke lengan kanan, yang dingin menyusup ke lengan kiri, kemudian dia berseru,
"Maafkan saya, Losuhu!"
Dan dia pun memukul dengan dorongan kedua tangan sambil mengerahkan seluruh te"naganya karena dia sudah mendengar bahwa Dalai Lama ini seorang manusia sakti. Dua macam hawa yang berlawanan menyambur ke arah Dalai Lama. Kakek ini dengan tenang mengangkat kedua tangan pula untuk menyambut dan ketika tangan-tangan itu bertemu, Keng Han merasa betapa kedua tangannya bertemu dengan benda yang lunak dan halus, yang seolah menyerap semua tenaga yang keluar dari lengannya. Kemudian, sebuah tenaga yang hebat sekali mendorongnya sehingga dia terhuyung ke belakang, na"pasnya terengah akan tetapi dia tidak terluka. Dalai Lama masih duduk seperti tadi dan sinar mata yang lembut itu memandang penuh keheranan.
"Orang muda, engkau bilang bahwa engkau murid Gosang Lama, akan tetapi bagaimana engkau menguasai Hui-yang Sin-kang dan Swat-im Sin-kang dari Pulau Es?"
Keng Han terkejut sekali. Tak disangkanya bahwa pendeta agung itu bahkan mengenal dua macam ilmu rahasia "yang dipelajarinya di Pulau Hantu!