Suaranya! Belum pernah dia mendengar ada wanita bersuara semerdu dan selembut itu! Hanya ibunya yang dapat bersuara seperti itu, pikirnya. Jadi nona itu adalah sumoi dari gurunya. Mengapa pakaiannya serba putih dan mengapa pula wajahnya bagian bawah ditutupi sutera putih? Wajah itu pasti cantik jelita luar biasa. Melihat hidung ke atas saja dia sudah dapat membayangkan bahwa wanita itu pasti cantik seperti bidadari! Bulu matanya lentik dan yang takkan pernah dapat dilupakan adalah sinar matanya ketika mengerling kepadanya. Dia belum pernah melihat burung Hong, hanya melihat gambarnya saja. Akan tetapi seperti itulah mata burung Hong. Cemerlang indah penuh pesona dengan sinar yang tajam lembut. Tak lama kemudian subonya sudah menyusulnya. Dia melihat wajah subonya diliputi ketegangan.
"Subo, mengapa Subo menyuruh saya berjalan lebih dulu? Ada urusan apakah?"
"Aku baru saja bertemu dengan sumoiku!"
"Kenapa saya disuruh pergi dulu, tidak diperkenalkan kepadanya? Bukankah ia bibi guruku?"
"Tidak! Celakalah kalau ia mengetahui bahwa engkau adalah muridku. Kalau subo sampai mengetahuinya, tentu aku disuruh membunuhmu sekarang juga!"
"Eh, mengapa begitu, Nio-cu?"
"Murid-murid subo harus bersumpah dulu bahwa selama hidupnya tidak akan mencinta dan dicinta seorang pria. Kalau hal itu terjadi, ia harus membunuh pria yang mencintanya dan dicintanya itu."
"Ahhh....!"
Keng Han berseru kaget sekali, bukan hanya kaget mendengar sumpah yang aneh itu, melainkan kaget sekali terutama karena tanpa langsung gurunya itu telah menyatakan cinta kepadanya!
"Kalau kita jalan bersama dan diketahui sumoi, ia tentu akan bertanya padaku siapa engkau dan apa hubungan di antara kita, dan itu berarti bahaya maut bagiku dan bagimu. Kalau subo mengetahui, bersembunyi di manapun kita akan dapat ditemukan dan dibunuh."
"Akan tetapi bibi guru tadi, mengapa ia menutupi mukanya dengan saputangan putih?"
"Itulah usahanya agar tidak dapat nampak wajahnya oleh pria dan agar tidak ada pria yang jatuh cinta kepada"nya. Sudahlah, kita jangan lama-lama di sini. Ini masih merupakan wilayah kekuasaan subo."
Keduanya melanjutkan perjalanan secepatnya menuju ke barat. Akan tetapi sejak saat itu, bayangan wanita pakaian putih yang tertutup sebelah, bawah mukanya itu seringkali muncul dalam pikiran Keng Han. Dia tidak dapat melupakan kerling itu!
Berkat kepandaian mereka yang tinggi, Keng Han dan Bi-kiam Nio-cu tiba di wilayah Tibet tanpa ada halangan apa pun. Dalam perjalanan itu, seringkali mereka melihat serombongan kafilah yang juga menuju ke Tibet. Rombongan yang membawa kuda dan onta itu membawa pula pasukan pengawal yang kuat sehingga mengherankan hati Keng Han dan Bi-kiam Nio-cu. Ketika mereka ber"tanya, mereka mendengar keterangan bahwa perjalanan ke barat sekarang tidak aman karena adanya perang saudara antara para pendeta Lama Jubah Kuning yang memberontak terhadap golongan Lama Jubah Merah. Seringkali terjadi pertempuran dan mereka juga mendapat gangguan dari para pendeta Jubah Ku"ning yang tidak segan merampok mereka untuk merampas senjata dan harta benda karena mereka membutuhkan biaya untuk pemberontakan mereka. Mendengar ini, Bi-kiam Nio-cu menerangkan.
"Lama Jubah Merah adalah para pengikut Dalai Lama. Dan mendengar ceritamu dulu bahwa mendiang gurumu adalah seorang pendeta Lama Jubah Kuning, sangat boleh jadi dia masih sekawan dengan para pemberontak itu. Sekarang tidak aneh kalau sampai gurumu dibunuh oleh Pendeta Lama Jubah Merah."
"Aku tidak peduli akan perang di antara mereka. Aku hanya ingin bertanya kepada Dalai Lama mengapa dia menyuruh bunuh guruku!"
Jawab Keng Han bersikeras. Bi-kiam Nio-cu menarik napas panjang.
"Wah, kita mencari penyakit."
"Kenapa kita, Subo? Akulah yang akan menemui Dalai Lama."
"Dan aku akan mengantarmu sampai dapat berjumpa dengan Dalai Lama, bukan? Jadi, kita berdua yang mencari penyakit."
"Aku tidak takut!"
"Aku pun tidak takut. Mari kita melanjutkan perjalanan secepatnya."
Beberapa hari kemudian, pada suatu pagi mereka melihat dua orang pendeta Lama Baju Merah sedang bertanding melawan delapan orang pendeta Lama Jubah Kuning. Melihat pertandingan yang tidak seimbang ini, Keng Han segera mengajak gurunya untuk membantu dua orang Lama Jubah Merah itu.
"Eh, kenapa membantu mereka? Bu"kankah gurumu juga Lama Jubah Kuning dan mungkin mereka itu teman-teman gurumu?"
"Subo, aku tidak peduli. Mereka ber"laku curang mengandalkan banyak orang mengeroyok yang sedikit. Pertama, aku selalu menentang yang curang dan kedua, dengan membantu Lama Jubah Merah itu siapa tahu aku lebih mudah bertemu dengan Dalai Lama!"
"Ah, engkau ternyata cerdik juga. Keng Han. Marilah kita bantu dua orang Lama Jubah Merah itu!"
Delapan orang pengeroyok itu semua mempergunakan tongkat pendeta yang panjang sedangkan dua Lama Jubah Merah menggunakan senjata kebutan. Melihat gerakan mereka, andaikata mereka itu dua lawan dua saja, tentu Lama Jubah Kuning akan kalah. Akan tetapi menghadapi pengeroyokan delapan orang, dua orang Lama Jubah Merah itu menjadi kewalahan juga dan beberapa kali mereka telah menerima gebukan dan kini hanya main mundur.
Ketika Keng Han dan Bi-kiam Nio-cu muncul dan membantu mereka, keadaannya menjadi berubah. Biarpun hanya menggunakan kaki tangan saja, namun guru dan murid ini dapat membuat delapan orang pengeroyok itu menjadi kalang kabut. Keng Han merobohkan dua orang dengan tamparan tangannya yang mengandung hawa panas sekali, sedangkan dengan tendangannya, Bi-kiam Nio-cu juga sudah merobohkan dua orang pengeroyok. Melihat datangnya bala bantuan di pihak musuh yang demikian kuat"nya, delapan orang Lama Jubah Kuning itu segera melarikan diri cerai berai. Dua orang Lama Jubah Merah yang sudah kelelahan itu tidak mengejar dan mereka mengangkat tangan memberi hormat kepada Keng Han dan Nio-cu.
"Ji-wi (Kalian berdua) menjadi bintang penyelamat kami. Kalau tidak ada Ji"wi, tentu kami berdua sudah mati di tangan para pemberontak itu."
Kata seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus.
"Ah, tidak mengapa, Losuhu."
Kata Bi-kiam Nio-cu.
"Sudah menjadi kewajiban kami untuk membantu yang tertindas, apalagi kami sudah mendengar bahwa mereka itu adalah kaum pemberontak. Dan sekarang, kami berbalik mengharapkan bantuan Ji-wi Lo-suhu untuk membantu kami."
"Tentu saja, kami berdua akan suka sekali membantu Ji-wi, akan tetapi bantuan apakah yang dapat kami berikan untuk Ji-wi, yang lihai?"
"Kami ingin sekali menghadap dan bertemu dengan Dalai Lama di Lha-sa."
Dua orang pendeta Lama Jubah Merah itu terkejut bukan main mendengar permintaan ini.
"Ahhh, Nona dan Sicu, bagaimana mungkin itu dilaksanakan?. Sang Dalai Lama tidak dapat sembarangan saja dikunjungi orang, kecuali kalau ada tujuan yang teramat penting. Bahkan wakil dari Kaisar Ceng sekalipun, kalau menghadap cukup diterima oleh wakil atau pembantu beliau. Kami tidak dapat membantu, harap Nona berdua memaafkan kami."
Bi-kiam Nio-cu mengerutkan alisnya.
"Hemmm, begini sajakah watak dua orang pendeta Lama Jubah Merah? Pantas kalau begitu ada yang memberontak. Kami bermaksud baik, akan tetapi kalian menolak mentah-mentah. Kalau kalian haturkan kepada Dalai Lama bahwa yang minta menghadap adalah Bi-kiam Nio-cu, murid Ang Hwa Nio-nio, apakah Dalai Lama berani memandang rendah? Dan kunjungan ini amat penting, untuk membicarakan tentang seorang pendeta Lama Jubah Kuning yang bernama Gosang Lama."
Kembali dua orang Lama Jubah Merah itu menjadi terkejut. Agaknya nama Bi-kiam Nio-cu terutama nama Ang Hwa Nio-nio sudah mereka kenal dan tentu saja nama Gosang Lama juga amat terkenal, bahkan dialah yang menjadi biang keladi pemberontakan Lama Jubah Ku"ning!
"Ah, kiranya Nona adalah murid Ang Hwa Nio-nio? Kalau begitu baiklah, mari ikut kami ke Lha-sa, akan kami usahakan untuk dapat diterima oleh Sang Dalai Lama. Akan tetapi kalau gagal harap Ji-wi jangan menyesal dan mempersalahkan kami, karena untuk dapat menghadap dan berwawancara dengan Sang Dalai Lama bukan perkara yang mudah."
Bukan main girangnya hati Keng Han.
Untung ada Nio-cu, kalau tidak ada wanita itu, agaknya tidak mungkin kedua orang pendeta Lama itu mau membawa mereka ke Lha-sa. Ibu kota Lha-sa amat besar dan terutama sekali bangunan kuno yang megah di bukit itu nampak amat megah dan hebat. Keng Han yang sejak kecil berada di daerah Khitan yang amat sederhana, kemudian berada di Pulau Es sampai lima tahun lamanya, belum pernah selama hidupnya menyaksikan kemegahan dan keindahan seperti itu. Dia merasa takjub dan merasa dirinya kecil. Apalagi melihat penjagaan di depan tempat ting"gal Dalai Lama. Dia bergidik. Tidak mungkin dia memasuki tempat itu dengan kekerasan. Beratus-ratus pendeta Lama yang nampaknya berkepandaian menjaga di situ, dengan tongkat atau pun kebutan di tangan.
Untuk dapat memasuki istana Dalai Lama dia harus mengalahkan ratusan orang pendeta Lama! Dua orang pendeta Lama itu menemui pendeta penghubung dan menceritakan betapa mereka berdua nyaris tewas di tangan para Lama Jubah Kuning yang memberontak namun diselamatkan oleh dua orang muda itu. Kemudian mereka minta kepada pendeta penghubung untuk mengajukan permohonan kepada Dalai Lama agar kedua orang itu, seorang di antaranya adalah Bi-kiam Nio-cu murid Ang Hwa Nio-nio, diperkenankan menghadap karena ada urusan penting yang hendak dibicarakan. Keng Han dan Bi"kiam Nio-cu memperkenalkan nama masing-masing kepada para pendeta penghubung. Pendeta-pendeta penghubung lalu melaporkan ke dalam. Tak lama kemudian mereka keluar lagi dan berkata dengan suara lantang dan jelas.
"Tuan muda Si Keng Han dan Nona Siang Bi Kiok diper"silakan masuk menghadap Yang Mulia Dalai Lama!"
Mereka diantar atau dikawal oleh dua orang pendeta Lama, dan ketika me"masuki bangunan itu, Keng Han meng"amati semua bagian dalam ruangan-ruangan yang luas dan terukir indah itu dengan penuh kagum sehingga Bi-kiam Nio-cu merasa geli melihat tingkah laku Keng Han seperti seorang dusun memasuki sebuah istana. Akan tetapi yang menyolok sekali, kalau di bagian luar dijaga ketat sekali, di sebelah dalam bahkan sunyi tidak nampak penjaga atau pengawal. Bahkan ketika mereka memasuki ruangan di mana Dalai Lama duduk, di situ tidak nampak penjaga sama sekali, hanya ada dua orang pendeta cilik yang agaknya menjadi pelayan Sang Dalai Lama!
"Si Keng Han kongcu dan Siang Bi Kiok siocia telah datang menghadap!"
Pendeta pengantar itu melaporkan. Sang Dalai Lama lalu memberi isyarat agar mereka berdua mundur, bahkan lalu memberi isyarat pula kepada dua orang pendeta cilik untuk mengambilkan minuman. Si Keng Han merasa dirinya kecil ketika berhadapan dengan pendeta yang sederhana itu. Pendeta Lama itu duduk di atas pembaringan yang bentuknya seperti teratai dari perak, dengan jubah kuning kemerahan yang sederhana sekali. Kepalanya gundul kelimis dan sepasang matanya yang penuh wibawa itu memandang dengan sinar lembut, mulutnya tersenyum ramah. Bersama Bi-kiam Nio"cu, Keng Han lalu memberi hormat, mengangkat kedua tangan depan dada dan membungkuk.