Pusaka Pulau Es Chapter 29

NIC

"Lo-pangcu telah menyerang sebanyak sepuluh jurus dan telah mengalah, memberi pelajaran kepada murid saya. Saya sebagai gurunya menghaturkan terima kasih atas kebaikan ini!"

Wajah Toat-beng Kiam-sian berubah merah.

Akan tetapi dia juga meragu dan agak jerih. Kalau muridnya sudah demikian hebatnya, apalagi gurunya! Agaknya murid Ang Hwa Nio-nio ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat sekali. Juga dia teringat akan janjinya bahwa dia akan mengampuni pemuda itu kalau mampu menahan sepuluh jurus serangannya, maka sambil mendengus marah dia mem"balikkan tubuhnya dan sekali melompat dia sudah hilang di balik semak belukar. Gerakannya demikian cepat sehingga mengagumkan hati Keng Han. Setelah bertemu dengan Nio-cu, baru dia tahu bahwa di dunia ini terdapat banyak sekali orang yang amat lihai, akan tetapi juga amat kejam. Nio-cu menghampiri Keng Han dan meraba-raba pundaknya.

"Engkau tidak apa-apa?"

"Tidak, Subo. Kenapa Subo melerai? Biarlah dia mengeluarkan seluruh kepandaiannya, teecu tidak takut!"

Kata Keng Han penasaran.

"Sudahlah, Keng Han. Engkau dapat keluar dengan selamat saja sudah merupakan keajaiban. Keng Han, sebetulnya engkau memiliki ilmu apakah? Bagaimana engkau dapat menahan ilmu Pukulan Halilintar tadi?"

Keng Han tersenyum.

"Aku adalah murid Subo, mengapa Subo bertanya? Semua ilmuku tentu kudapatkan dari guruku, bukan?"

Dia mengejek. Nio-cu terbelalak dan wajahnya berubah merah. Memang selama ini ia belum mengajarkan apa-apa, juga ilmu totok itu belum ia ajarkan.

"Marilah aku mengajarkannya kepadamu. Akan tetapi engkau harus sungguh-sungguh melawanku, seperti kau melawan kakek tadi!"

"Baik, Subo."

Kata Keng Han dengan girang. Dia memang ingin mempelajari ilmu totokan yang disebut Tok-ciang itu, walaupun bukan itu benar yang membuat dia betah melakukan perjalanan bersama gurunya ini. Entah bagaimana, dia pun suka sekali kepada Nio-cu dan tidak ingin berpisah darinya, ingin agar di temani ke Tibet. Bukan hanya pribadi Nio-cu yang menyenangkan hatinya, akan tetapi juga pengalamannya akan amat berguna baginya dalam perjalanan menemui Dalai Lama itu. Keng Han sudah melepaskan bungkusan pakaian dari pundaknya, dan siap menghadapi serangan gurunya. Nio-cu juga melepaskan buntalan pakaiannya dan pedangnya, kemudian ia memasang kuda"kuda.

"Lihat seranganku!"

Katanya tiba-tiba, dan ia pun menyerang dengan cepat. Serangannya cepat dan kuat dan ia telah mempergunakan Tok-ciang, yaitu ilmu pukulan yang mengandung hawa beracun. Keng Han tidak berpura-pura lagi. Dia pun menyambutnya dengan Toat-beng Bian-kun. Dan seka!i ini benar-benar Nio-cu dibuat terheran-heran. Ilmu silat muridnya itu demikian aneh dan asing gerakannya, akan tetapi semua pukulannya meleset dan tidak pernah mengenai sasaran. Kemudian ia mengerahkan seluruh tenaga sinkangnya dan menyerang dengan hebatnya, menggunakan kedua telapak tangannya. Keng Han menyambut dengan kedua tangannya pula.

"Wuuuttttt....desss....!"

Dan tubuh Nio-cu terjengkang seperti ditolak oleh tenaga yang amat dahsyat dan ia merasa betapa tangan kanannya bertemu hawa dingin sekali sedangkan tangan kirinya bertemu hawa panas luar biasa.

"Ahhh.... Subo, engkau tidak ter"luka....?"

Keng Han cepat menghapiri gurunya dan membungkuk, untuk membantunya berdiri. Akan tetapi secepat kilat tangan Nio-cu sudah menotok pundaknya dan seketika Keng Han tidak mampu menggerakkan kedua tanganya.

"Subo, kenapa....?"

Tanyanya heran. Nio-cu bangkit berdiri wajahnya agak pucat, akan tetapi pandang matanya penuh keheranan. Dalam pertandingan ilmu silat tadi, jelas bahwa ia kalah kuat dan bahwa muridnya ini memiliki ilmu silat yang hebat bukan main dan memiliki tenaga sinkang yang berlawanan, tangan kirinya dingin dan tangan kanannya panas. Akan tetapi menghadapi ilmu totokannya, muridnya ini agaknya tidak berdaya.

"Keng Han, apakah gurumu Gosang Lama itu seorang anggauta keluarga Pulau Es?"

Tanyanya.

"Bukan, Subo. Akan tetapi tolong bebaskan dulu totokan ini."

Nio-cu membebaskan totokannya dan Keng Han dapat bergerak kembali.

"Diakah yang mengajarkanmu menggunakan tenaga tadi? Dan ilmu silatmu itu, apakah dia pula yang mengajarkannya?"

Terpaksa Keng Han berterus terang.

"Sesungguhnya bukan dia yang mengajarkannya, Subo, melainkan aku belajar sendiri dari dalam sebuah gua di Pulau Hantu."

"Pulau Hantu....?"

Keng Han lalu meceritakan tentang munculnya sebuah pulau baru di permukaan laut itu yang oleh para nelayan disebut Pulau Hantu dan diceritakannya pula penemuannya di gua, yaitu tulisan di dinding batu berikut gambar-gambarnya tentang ilmu silat yang dipelajarinya. Mendengar ini Nio-cu kagum bukan main.

"Tidak salah lagi! Pulau itu tentulah Pulau Es yang dikabarkan sudah tenggelam di lautan itu dan engkau telah mewarisi peninggalan Keluarga Pulau Es!"

"Akan tetapi pulau itu tidak ada es"nya, sama sekali bukan Pulau Es, melainkan Pulau Hantu, Nio-cu."

Keng Han kadang-kadang menyebut subo (ibu guru) kepada Bi-kiam Nio-cu, akan tetapi kadang-kadang dia terlupa dan menyebut Nio-cu begitu saja. Akan tetapi agaknya wanita itu tidak keberatan disebut Nio"cu.

"Sudahlah, mungkin karena engkau tidak langsung dilatih orang dan hanya belajar sendiri, maka gerakanmu masih kaku sehingga engkau mudah terserang ilmu totokku. Sebetulnya engkau telah memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi daripada ilmu silatku, Keng Han. Karena itu, tidak perlu lagi engkau mempelajari ilmu menotok itu, hanya akan kuajarkan bagaimana cara untuk menghindarkan diri dari totokanku."

Demikianlah, mulai saat itu, setiap kali berhenti mengaso, Nio-cu mengajarkan cara menghindari ilmu totokannya sehingga Keng Han kini selalu dapat mengelak dan menangkis, tidak sampai tertotok. Ilmu totok itu memang memiliki gerakan yang amat aneh maka kalau tidak mempelajarinya, tentu dia akan mudah tertotok dan dibuat tidak berdaya. Setelah mempelajari rahasianya, Keng Han bahkan dapat menggunakan sinkangnya untuk menolak totokan-totokan itu, sehingga tubuhnya kini menjadi kebal dari totokan itu seperti dari totokan lain.

Pada suatu hari perjalanan kedua orang ini sudah sampai di daerah Propinsi Secuan sebelah utara, yaitu di Pegunungan Beng-san. Selama berbulan-bulan melakukan perjalanan dengan Keng Han, Bi-kiam Nio-cu nampak semakin akrab. Juga Keng Han merasa betapa gurunya itu ternyata baik sekali kepadanya dan kini tidak lagi membentak atau bersikap keras kepadanya. Bahkan kalau dia berburu binatang dan memasaknya, wanita itu membantu dan bahkan membuatkan masakan-masakan yang lezat untuknya. Maka pemuda ini juga merasa senang sekali dan hubungannya dengan gurunya menjadi semakin akrab. Juga dia sudah mempelajari rahasia ilmu totok gurunya yang aneh sekali itu sehingga kini dia dapat menghindarkan diri dari serangan totokan seperti itu. Ketika mereka sedang menuruni lereng sebuah bukit dari Pegunungan Beng-san, mereka melihat dari jauh seorang wanita berjalan cepat sekali mendaki lereng itu. Mendadak Bi-kiam Nio-cu mendorong punggung Keng Han dan berkata,

"Engkau jalan duluan, cepat!"

Keng Han tidak tahu persoalannya akan tetapi dia tidak membantah dan berjalan cepat meninggalkan gurunya. Tak lama kemudian dia berpapasan dengan seorang wanita yang aneh. Wanita itu memakai sehelai saputangan sutera putih menutupi mukanya dari hidung ke bawah. Akan tetapi bagian atas dari muka itu, dari hidung ke atas yang nam"pak saja sudah membuat Keng Han ter"pesona! Hidung mancung lurus, sepasang mata yang bersinar-sinar seperti mata burung Hong dan memiliki sinar lembut, dihiasi sepasang alis mata yang kecil melengkung hitam, anak rambut yang melingkar di dahi dan pelipis, rambut yang hitam panjang dan disanggul dan diberi pita putih, semua itu sudah cukup membuat Keng Han mengakui dalam hati bahwa dia belum pernah melihat yang seindah itu!

Tubuhnya tertutup pakaian yang serba putih dari sutera halus, dan hanya sepatunya saja yang hitam. Dari muka dan tangan yang nampak dapat diketahui bahwa gadis itu memiliki kulit yang putih mulus kemerahan. Ketika berpapasan, Keng Han memandang dan wanita itu pun mengerling kepadanya. Kerlingan yang hanya sebentar itu tidak akan pernah dilupakan Keng Han selamanya, karena kerlingan itu demikian manisnya. Akan tetapi bukan wataknya untuk menoleh dan memandangi orang secara kurang ajar, maka dia melangkah terus, hanya kini langkahnya lambat sekali karena dia ingin tahu apa yang terjadi kalau wanita itu berpapasan dengan Bi-kiam Nio-cu yang berjalan di bela"kangnya. Apa yang diharapkan Keng Han tercapai. Dia mendengar percakapan mereka.

"Suci....!"

"Sumoi....! Engkau dari manakah?"

"Aku baru pulang mencari rumput merah atas perintah subo. Dan engkau sendiri hendak ke mana, Suci?"

"Aku, mempunyai urusan di barat. Sampaikan saja hormatku kepada. subo dan setelah selesai urusanku di barat, tentu aku akan pulang."

"Baiklah, akan tetapi berhati-hatilah, Suci. Aku mendengar di daerah Tibet terjadi pergolakan. Ada bentrokan antara para pendeta Lama."

"Aku akan berhati-hati, Sumoi."

Keng Han yang mendengarkan merasa hatinya semakin tertarik. Jelas bahwa yang disebut sumoi oleh gurunya itu adalah nona berpakaian serba putih yang mukanya ditutupi saputangan putih itu.

Posting Komentar