Pusaka Pulau Es Chapter 26

NIC

"Mampuslah!"

Bentaknya dan tongkatnya meluncur dengan cepat ke arah dada Bi-kiam Nio-cu. Ketika gadis ini mengelak ke kiri, tongkat itu menghantam dari kanan ke kiri dengan kecepatan kilat. Karena serangan itu berbahaya sekali untuk ditangkis mengingat tenaga rakasa itu besar sekali, Bi-kiam Nio"cu melompat ke belakang dengan sigapnya. Kesempatan inilah yang dinantikan kepala gerombolan itu. Begitu lawannya melompat ke belakang, dia lalu membalikkan tubuhnya dan melarikan diri tunggang-langgang!

"Jahanam hendak lari ke mana kau?"

Bi-kiam Nio-cu mengejar dan melontarkan pedangnya. inilah satu di antara kepandaiannya yang hebat. Ia dapat melontarkan pedang itu dengan cepat dan pedangnya meluncur bagaikan anak panah saja menuju sasarannya, yaitu punggung lebar kepala gerombolan itu.

"Singgggg.... cappp!"

Pedang itu tepat mengenai punggung dan menembus ke dada. Kepala gerombolan itu terbelalak, mengeluh panjang lalu roboh menelungkup, tewas seketika. Bi-kiam Nio-cu sudah berada di dekatnya dan mencabut pedang itu, lalu membersihkannya pada pakaian si raksasa muka hitam. Kemudian ia pun mulai mengamuk! Anak buah gerombolan yang sedang mengeroyok Keng Han itu diamuknya dan pedangnya merobohkan beberapa orang lagi. Sisa anak buah gerombolan cepat melarikan diri melihat ketua mereka telah tewas. Bi-kiam Nio"cu hendak mengejar akan tetapi ditahan oleh Keng Han.

"Musuh yang sudah lari tidak perlu dikejar lagi, Nio-cu!"

Katanya. Bi-kiam Nio-cu menyimpan pedangnya dan dengan puas ia memandang kepada belasan orang yang sudah menggeletak tanpa nyawa itu.

"Hemmm, sayang masih ada yang mampu meloloskan diri. Seharusnya mereka itu dibasmi habis!"

"Sudahlah, Nio-cu. Kalau mereka semua tewas, tentu kita juga yang repot, harus mengubur mereka. Biarlah yang masih hidup nanti mengubur mayat kawan-kawannya. Sesungguhnya, apa yang telah terjadl Nio-cu?"

"Mereka bertindak curang dan berhasil menangkap aku dengan jala, lalu mereka membawaku ke sini. Ketika tadi engkau menyerang mereka di luar gua, kepala perampok itu meninggalkan aku dan aku sempat meloloskan diri lalu mengamuk. Dan engkau bagaimana engkau bisa menyusul aku ke sini?"

"Aku sudah mendapatkan binatang buruan, seekor kijang yang muda, dan ketika aku kembali ke tempat kita tadi, engkau sudah tidak ada. Aku melihat tapak-tapak kaki yang banyak sekali, lalu aku mengikuti tapak kaki itu ke sini. Ketika mereka melihatku, mereka lalu mengepung dan mengeroyokku sehingga terjadi perkelahian. Mari Nio-cu, kita kembali ke sana. Bukankah perutmu su"dah lapar? Akan tetapi, sebaiknya kalau aku kubur dulu mayat-mayat mereka"

"Bodoh! Untuk apa mengubur mereka? Biar teman-teman mereka yang mengurus mayat mereka. Mari kita pergi!"

Bi-kiam Nio-cu mendengus marah dan Keng Han mengikutinya. Dia pun percaya bahwa sisa anak buah gerombolan tentu akan kembali ke situ untuk mengubur teman"teman mereka yang tewas. Mereka lalu cepat pergi meninggalkan bukit itu dan memasuki hutan tadi. Keng Han meng"ambil bangkai kijang dan dia simpan di atas sebatang pohon besar dan mulai mengambil dagingnya untuk dipanggang.

Bi-kiam Nio-cu memandang dengan sinar mata termenung kepada Keng Han yang sedang membakar daging kijang. Ia sudah menaruh bumbu pada daging itu. Kalau melakukan perjalanan, wanita ini selalu membawa bekal bumbu, seperti garam, merica dan lain-lain untuk penyedap makanan. Ia merasa heran sekali. Mengapa hatinya begini tertarik kepada Keng Han dan ia tidak menghendaki pemuda itu jauh darinya? Selama ini, sampai usianya dua puluh dua tahun, ia selalu merasa tidak suka kepada laki-laki. Sejak ia belajar ilmu silat dari gurunya, seorang pendeta wanita yang hidup mengasingkan diri, gurunya selalu menekankan betapa jahatnya kaum pria.

Karena ini, sejak kecil sudah tumbuh semacam perasaan tidak suka kepada pria. Apalagi setelah ia mulai remaja ia melihat betapa mata laki-laki seperti mata elang saja menatapnya, seperti mata elang melihat anak ayam, ingin menerkam. Semakin tidak suka hatinya terhadap pria, makin dewasa ia makin muak. Entah berapa banyaknya pria yang sudah dibunuhnya, hanya karena berani memandangnya terlalu lama, menegurnya secara kurang ajar atau hendak menggodanya. Akan tetapi kini ia merasa heran sekali. Mengapa ia begini tertarik kepada Keng Han yang bahkan lebih muda darinya? Apalagi kalau ia membayangkan ketika pemuda itu mendekapnya untuk menghalanginya melakukan pembunuhan. Seolah masih terasa dekapan yang kuat dan hangat itu! Dan jantungnya berdebar aneh.

Daging kijang panggang itu sudah matang dan mereka lalu makan daging yang, lunak dan sedap itu. Bi-kiam Nio"cu mengeluarkan seguci arak dan mereka makan minum dengan lahapnya karena memang perut mereka terasa lapar. Akan tetapi diam-diam harus diakui oleh Nio"cu bahwa belum pernah ia makan daging panggang selezat ini! Setelah selesai makan, Bi-kiam Nio"cu berkata

"Selama perjalanan kita ke Tibet, engkau harus selalu mentaati omonganku, Keng Han. Aku jauh lebih berpengalaman darimu, kalau engkau tidak mendengar omonganku, bisa-bisa engkau akan celaka."

"Tidak, Nio-cu. Aku tidak akan nelakukan perjalanan bersamamu. Aku sekarang juga akan memisahkan diri dari"mu dan aku akan melakukan perjalanan ke Tibet seorang diri saja "`

"Ehhh, kenapa begitu?"

"Karena engkau kejam sekali. Kembali engkau membunuhi banyak orang dan aku merasa tidak senang sekali melihat engkau begitu kejam."

"Engkau tidak boleh meninggalkan aku. Kalau engkau meninggalkan aku, dalam beberapa hari engkau akan mati keracunan. Ingat, tubuhmu sudah kupukul dengan Tok-ciang, dan hanya aku yang dapat memberi obat pemunahnya."

"Biarlah! Lebih baik mati keracunan daripada menjadi saksi kekejamanmu."

"Demiklan besarkah perasaan bencimu kepadaku, Keng Han?"

Dalam ucapannya itu terkandung kesedihan yang mengherankan hati Nio-cu sendiri.

"Aku tidak membencimu, Nio-cu. Kalau tadinya aku suka melakukan perjalanan denganmu, tadinya aku meng"harap akan dapat menasihatimu agar tidak terlalu kejam. Akan tetapi engkau tetap kejam sekali, maka aku tidak tahan lagi untuk melakukan perjalanan denganmu. Nah sekarang aku harus meninggalkanmu, Niocu. Selamat tinggal!"

Keng Han mengemasi buntalan pakaiannya sendiri, memanggulnya lalu melangkah pergi dari situ. Melihat kenekatan pemuda itu, Nio-cu cepat bangkit berdiri dan berseru.

"Nanti dulu, Keng Han! Engkau akan mati dalam beberapa hari lagi. Biarlah kusembuhkan dulu lukamu karena pukulan"ku yang beracun itu!"

Nio-cu menghampiri Keng Han dan menyuruhnya membuka bajunya. Ketika melihat ke arah dada kiri pemuda itu, ia terbelalak dan ternganga keheranan. Kulit dada itu putih bersih, sama sekali tidak ada tanda telapak tangan merah seperti yang seharusnya ada.

"Aih....aneh sekali....!"

Keng Han pura-pura' bertanya.

"Tanda tapak tangan merah itu telah lenyap! ini tidak mungkin!"

"Kenapa tidak mungkin? Kenyataannya telah lenyap dan berarti aku telah sembuh. Tidak perlu lagi engkau mengobatiku."

Kata Keng Han sambil menutupkan kembali bajunya.

"Hemmm, kau mempermainkan aku! Sambutlah serangan ini!"

Wanita, itu lalu menyerang dengan hebatnya!

"Ehhh, apa yang kau lakukan ini?"

Keng Han melompat ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan itu. Akan tetapi wanita itu mengejarnya dan terus menyerang kalang-kabut dengan gencar sekali. Keng Han terpaksa mainkan ilmu silat Hong-In Bun-hoat untuk menghindarkan diri. Ternyata ilmu silatnya ini hebat sekali. Dia seolah tidak bersilat, hanya menuliskan huruf-huruf di udara dan semua serangan Bi-kiam Nio-cu dapat dielakkan atau ditangkis!

Tentu saja wanita itu menjadi penasaran sekali. Ia mengeluarkan ilmu totokannya yang ampuh, yaitu Tok-ciang. Ilmu ini bukan hanya menotok, akan tetapi juga menampar dan kedua tangan itu berubah merah! Dan biarpun Keng Han mampu mengelak sampai puluhan jurus, suatu ketika dia tidak dapat menghindar"kan diri dan sebuah totokan mengenai pundaknya membuat tubuhnya lemas dan tidak berdaya! Bi-kiam Nio-cu menambahkan beberapa totokan pada kedua pundak dan dadanya sehingga tubuh Keng Han benar-benar tidak mampu bergerak lagi. Akan tetapi pemuda itu maklum bahwa kalau dia mengerahkan tenaga dari pusar"nya, totokan itu pasti akan dapat di"punahkannya dalam waktu tidak terlalu lama. Dia hanya memandang dengan mata melotot kepada wanita itu.

"Wanita kejam! Apakah engkau juga hendak membunuhku? Lakukanlah, aku tidak takut mati!".

"Keng Han, mengapa engkau begini keras kepala? Apakah tidak ada manusia di dunia ini yang kau taati?"

"Tentu saja ada. Yang kutaati hanyalah ayah bundaku dan juga guruku. Kalau orang lain, hanya yang benar yang akan kutaati, yang tidak benar tidak!"

Wanita itu tersenyum.

"Keng Han, aku melihat ilmu silatmu hebat sekali. Akan tetapi buktinya engkau masih kalah olehku. Maukah engkau menjadi muridku?"

"Hemmm, untuk apa menjadi muridmu? Untuk belajar membunuh? Ilmu silatku sudah cukup untuk menjaga diri."

"Akan tetapi engkau tidak berdaya menghadapi ilmu totokanku. Bagaimana kalau engkau mempelajari Ilmu menotok dariku? Ilmuku menotok itu disebut Tok-ciang Tiam-hiat-hoat. Kalau engkau memiliki ilmu ini tentu tidak mudah engkau dikalahkan orang."

Keng Han tertarik sekali. Harus diakui bahwa ilmu totokan dari wanita itu lihai bukan main. Dua kali sudah dia roboh karena totokan itu. Dan kalau totokan lain dapat ditolak dengan sin"kangnya, ternyata totokan ini tidak. Baru setelah lama mengerahkan tenaga sin"kang, dia mampu membebaskan diri. Padahal totokan lain dapat ditolak oleh kekebalan tubuhnya karena sinkang dalam tubuhnya.

"Kalau engkau suka mengajarkan ilmu totokan itu kepadaku, tentu saja aku suka mempelajarinya."

Akhirnya setelah berpikir-pikir sejenak, dia menjawab.

Posting Komentar