Pusaka Pulau Es Chapter 25

NIC

"Aku tidak pernah mendengar nama itu. Akan tetapi, sungguh keinginanmu untuk menuntut Dalai Lama ini sangat aneh. Orang dengan kepandaian seperti engkau ini akan menuntut Dalai Lama? Engkau mencari mati!"

"Aku tidak takut. Budi seorang guru amat besar, pantas dibela dengan taruhan nyawa."

"Hemmm, engkau seorang pemuda yang aneh sekali. Mungkin karena inilah aku tidak membunuhmu. Nah, sekarang carilah binatang buruan untukku. Perutku terasa lapar sekali, Keng Han."

"Engkau tidak takut kalau aku melarikan diri, Niocu?"

"Mengapa takut? Engkau tidak akan melarikan diri, kalau engkau tidak ingin mati keracunan sebulan kemudian. Obat penawarnya berada padaku. Nyawamu berada di tanganku."

"Hemmm, baiklah, Niocu. Aku pun ingin melakukan perjalanan bersamamu. Siapa tahu dalam sebulan ini aku dapat membujukmu agar jangan bertindak kejam lagi."

Setelah berkata demikian, Keng Han lalu memasuki hutan itu dan mencari binatang buruan. Setelah berada seorang diri, dia mengerahkan tenaga dari dalam tan-tian menuju ke dadanya dan dalam waktu sebentar saja dia sudah mengusir racun itu dari tubuhnya. Ketika dia membuka bajunya, ternyata tanda telapak jari merah itu telah lenyap. Dia tersenyum dan merasa heran kepada diri sendiri.

Kenapa dia tidak lari saja meninggalkan gadis itu? Atau melawannya? Kalau dia berhati-hati, belum tentu dia kalah. Wanita itu hanya memiliki kelebihan dalam ilmu totok yang memang hebat. Bahkan tenaga sinkangnya tidak mampu menahan totokan wanita itu! Juga dia merasa heran mengapa wanita itu mau saja mengikutinya pergi ke Tibet! Tiba-tiba dia melihat seekor kijang muda muncul dari semak belukar. Cepat dia menunduk dan bersembunyi di balik semak-semak, untung baginya bahwa angin datang dari arah kijang itu. Kalau sebaliknya, tentu kijang itu tahu bahwa ada manusia di dekatnya dan kalau ia sudah melarikan diri, bagaimana mungkin dapat mengejarnya? Sambil bertiarap itu, tangannya mengambil sebuah batu sebesar kepalan tangannya dan setelah mengintai dan membidik dengan tepat, tiba-tiba dia bangkit dan melontarkan batu itu ke arah kepala kijang.

"Wuuuttttt.... dakkk!"

Tepat sekali batu itu menghantam kepala bagian belakang kijang itu. Binatang itu berkuik satu kali lalu roboh dan mati dengan kepala retak. Dengan girang Keng Han lalu mengambil bangkai binatang itu dan dipanggulnya, dibawa kembali ke tempat dimana tadi Bi-kiam Nio-cu menunggu. Sementara itu, Bi-kiam Nio-cu menanti kembalinya Keng Han. Sambil duduk di bawah sebatang pohon, di atas sebuah batu datar. Hawa udara amat panas, akan tetapi di bawah pohon itu teduh dan angin yang semilir membuatnya mengantuk.

Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara berdetak di belakangnya. Ketika ia menengok, beberapa helai jala menyambar ke arah tubuhnya dari atas. Ia mencoba untuk mengelak, akan tetapi terlalu banyak jala yang menyerangnya sehingga tanpa dapat dielakkannya lagi, tubuhnya telah terbungkus dua helai jala hitam. Ia meronta dan mencoba untuk mencabut pedangnya, akan tetapi hal ini sukar dilakukan karena tali jala-jala itu ditarik dan kedua tangannya terbalut dan seperti teringkus jala. Dan jala itu agaknya ter"buat dari tali yang amat kuat. Ia sudah diringkus dan ketika ia memandang, dari celah-celah jala, ia melihat belasan orang laki-laki berada di situ. Beberapa orang memegang jala yang meringkusnya dan ketika mereka itu maju mengikatnya bersama jala, ia pun tidak berdaya.

"Jahanam pengecut.Lepaskan aku dan mari kita bertanding kalau memang kalian gagah!"

Ia mendamprat akan tetapi sia-sia belaka karena orang-orang itu hanya tertawa. Seorang yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam dan yang memegang tongkat besar, agaknya menjadi pemimpin mereka, memberi aba-aba dan mereka semua berloncatan pergi sambil menggotong Bi-kiam Nio-cu seperti mengotong seekor binatang buruan yang terjerat. Wanita itu memaki-maki, menantang-nantang akan tetapi tidak ada yang mempedulikan dan ternyata mereka itu rata-rata dapat berlari cepat, didahului oleh si rakasasa pemegang tongkat besar itu.

Orang-orang itu berpakaian sederhana sekali, dari kulit binatang dan melihat wajah mereka yang brewokan mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang kasar yang biasa hidup di dalam hutan. Mereka membawa Bi-kiam Nio-cu ke sebuah bukit yang penuh dengan gua-gua batu yang besar. Setelah tiba di depan gua-gua itu, sang pemimpin lalu membawa tawanan itu dengan sebelah tangan, ditentengnya memasuki sebuah di antara gua-gua terbesar. Bi-kiam Nio-cu kini diam saja. Ia tidak takut, melainkan mengumpulkan tenaga, siap untuk memberontak dan menyerang kalau dirinya dibebaskan dari ikatan tali dan jala itu. Akan tetapi, raksasa yang membawanya itu melemparkannya di atas sebuah dipan kayu yang kasar, kemudian dia mengambil guci dan cawan dan tak lama kemudian dia sudah minum arak seorang diri. sambil terkekeh-kekeh senang. Ketika tiba di tempat tadi, Keng Han tidak melihat Bi-kiam Nio-cu.

"Niocu....! Dia memanggil beberapa kali akan tetapi. tidak ada jawabah. Dia lalu memeriksa tempat itu dan melihat bekas tapak kaki banyak orang di situ. Agaknya Nio-cu didatangi banyak orang dan terjadi pergulatan, pikirnya, melihat banyak semak dan pohon kecil yang rusak. Celaka, jangan-jangan Nio-cu ditangkap gerombolan penjahat, pikirnya. Biarpun pikiran ini agak aneh mengingat bahwa Nio-cu seorang wanita yang tidak mudah ditangkap begitu saja, namun Keng Han merasa khawatir. Dia lalu mencari dan mengikuti jejak belasan pasang kaki itu yang menuju ke bukit di luar hutan. Dia terus menelusuri jejak-jejak kaki itu dan mendaki bukit.

"Heh-heh-heh, engkau sungguh cantik. Pantas menjadi isteriku dan menemani aku di sini."

Akhirnya raksasa muka hitam itu . berkata sambil menghentikan minumnya dan menghampiri Bi-kiam Nio"cu yang masih meringkus terikat di atas dipan. Wanita ini dapat berusaha untuk membalik dan telentang sehingga ia dapat melihat keadaan di kamar itu. Sebuah kamar gua yang lebar. Terdapat tiga buah bangku sebuah meja dan sebuah dipan kayu itu. Sederhana sekali. Ketika laki-laki tinggi besar itu menghampi mau tidak mau ia merinding juga. Akan tetapi ia tetap tenang. Kalau saja ia membuka ikatan dan jala ini, pikirnya. Akan tetapi raksasa itu mengangkatnya, masih dalam buntalan jala dan memangkunya. Meraba-raba lehernya yang putih mulus, meraba-raba pipinya.

"Cuh....!!"

Bi-kiam Nio-cu yang tidak dapat menahan kemarahannya meludahi muka pria itu. Raksasa muka hitam itu tidak marah bahkan tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, engkau kuda betina yang liar! Bagus! Aku senang dengan yang liar!"

Kini tangannya merogoh di antara celah-celah jala dan mengambil pedang dari pinggang Bi-klam Nio-cu! Dia me"mandang pedang itu, mengangguk-angguk.

"Pedang yang baik, tidak pantas seorang wanita secantik engkau bermain-main dengan senjata tajam seperti ini!"

Dia melontarkan pedang itu dan "ceppp!!"

Pedang menancap di atas meja. Gagangnya bergoyang-goyang ketika pedang itu menancap sampai setengahnya. Diam-diam Bi-kiam Nio-cu memperhatikan dan mengertilah ia bahwa laki-laki kasar ini memiliki kepandaian, setidaknya memiliki tenaga yang kuat. Maka ia menjadi semakin waspada. Biarlah pedangnya diambil, ia tidak takut. Masih ada tangannya, kakinya, bahkan rambutnya untuk membela diri.

"Engkau cantik, engkau liar, engkau menarik!"

Raksasa itu mulai menimangnya dan aneh cara menimangnya. Dia melempar-lemparkan tubuh Bi-kiam Nio"cu yang masih terikat itu ke atas, diterimanya dan dilontarkannya kembali. Dia mempermainkan tubuh wanita itu seperti sebuah bola saja. Demikian ringan dia melempar-lemparkan tubuh itu. Bi-kiam Nio-cu bergidik ngeri. Laki-laki ini berbahaya, pikirnya, dan celakalah aku kalau sampai tidak dapat lolos dari tangannya. Pada saat itu terdengar teriakan-teriakan di luar gua. Ada orang-orang berkelahi di luar gua itu. Kepala gerombolan itu lalu melempar tubuh Nio-cu ke atas pembaringan pula dan dia bergegas keluar, membawa tongkatnya yang besar. Setelah ditinggal seorang diri, Nio"cu kembali berusaha untuk membebaskan dirinya dan sekali ini ia berhasil.

Ternyata ketika raksasa tadi melambung-lambungkannya ke atas, tali pengikat tubuhnya mengendur sehingga ia mampu membebaskan kedua lengannya. Ia mencoba untuk membikin putus tali jala itu, akan tetapi usahanya gagal. Maka ia lalu berlompatan sambil masih diselubungi jala, mendekati jala di mana pedangnya diletakkan oleh raksasa tadi. Dan dengan pedang di tangannya, ia mampu membebaskan diri dan membikin putus tali-tali jala. Sebentar saja ia sudah bebas! Dengan kemarahan meluap-luap, ia lalu menerjang keluar dan melihat betapa di luar, Keng Han sedang bertanding melawan kepala gerombolan itu dan dikeroyok banyak anak buahnya. Melihat ini, hatinya merasa girang bukan main. Keng Han berusaha menolongnya dan mempertaruhkan keselamatan dirinya sendiri melawan raksasa yang tangguh itu!

"Keng Han, serahkan anjing besar itu kepadaku!"

Bentaknya dengan suara melengking dan ia sudah menerjang ke depan memutar pedangnya menyerang raksasa yang memegang tongkat itu. Keng Han girang melihat Bi-kiam Nio-cu sela"mat dan dia meloncat mundur sambil berseru,

"Nio-cu, mari kita lari saja!"

"Tidak, aku harus membunuh anjing ini dan semua pengikutnya!"

Bi-kiam Nio"cu membantah dan menyerang terus. Serangannya amatlah hebatnya sehingga si tinggi besar itu terdesak mundur. Kepala gerombolan itu terkejut bukan main melihat gadis tawanannya bebas, maka dia berteriak,

"Pergunakan jala! Tangkap merekal!"

"Awas jala mereka amat lihai, Keng Han!"

Seru Bi-kiam Nio-cu sambil memutar pedangnya lebih cepat lagi, mendesak si kepala gerombolan dengan amat hebatnya sehingga raksasa itu terpaksa harus memutar tongkatnya melindungi diri. Sementara itu, beberapa orang anak buahnya sudah mencoba membantu ketua mereka dengan menggunakan jala. Akan tetapi sekali ini, Bi-kiam Nio-cu sudah siap dengan pedangnya. Begitu jala menyambar, ia melompat dan menggerakkan pedangnya ke belakang dan terdengar jerit mengerikan dan si pemegang jala roboh mandi darah. Dalam waktu sebentar saja, tiga orang pemegang jala sudah tewas di tangan Bi-kiam Nio-cu! Sementara itu, Keng Han juga dikeroyok banyak orang. Dia bergerak dengan cepat, merobohkan para pengeroyoknya hanya, dengan dorongan kedua tangannya, dan ketika dirinya tertutup jala, dengan mengerahkan tenaga jala itu pecah dan talinya putus-putus!

Gegerlah anak buah gerombolan itu dan mereka seperti puluhan ekor semut mengeroyok dua ekor jangkerik. Gerakan Bi-kiam Nio-cu amatlah berbahaya. Sebetulnya tingkat kepandaiannya masih jauh lebih tinggi daripada kepandaian si raksasa muka hitam. Tadi ia tertangkap karena tidak menyangka dan tidak bersiap sehingga dapat tertangkap jala musuh. Sekarang, dengan pedang di tangan mana mungkin ia tertangkap jala? Bahkan para pemegang jala itu semua tewas di tangannya dan kini wanita itu mendesak lawannya dengan hebat. Si tinggi besar muka hitam menjadi jerih. Melihat anak buahnya banyak yang tewas dan menghadapi permainan pedang yaog demikian tangguh, apalagi melihat betapa pemuda itu pun tidak dapat ditangkap anak buahnya, nyalinya sudah terbang melayang dan dia menyerang hebat untuk mencari kesempatan melarikan diri.

Posting Komentar