Demikianlah, sore hari itu, sepasang suami isteri ini telah bersembunyi di balik gerombolan pohon, menanti datangnya sepasang rajawali itu. Menjelang senja terdengar suara mereka di angkasa dan tak lama kemudian mereka terbang dan hinggap di cabang pohon besar di mana kedua suami isteri itu bersembunyi. Gwat Kong dan Cui Giok telah membawa tambang yang amat kuat, yang mereka buat dari semua pakaian mereka, dipintal dan diperkuat dengan kulit dan akar pohon di lereng itu.
Sore tadi mereka telah mempelajari dan merundingkan cara menangkap dua ekor burung besar itu, yakni dengan menyergap, membelitkan tambang pada leher dan kaki binatang itu. Setelah kedua burung akhirnya tertidur, menyembunyikan kepala mereka di dalam pelukan sayap, Gwat Kong lalu memberi isyarat dengan tangannya.
Dengan gerakan yang amat cepat, kedua suami isteri itu naik ke pohon. Pekerjaan ini mereka lakukan dengan mudah, karena pada malam hari itupun bulan bersinar penuh dan terang.
Betapapun mereka berlaku hati-hati, namun kedua burung itu mendengar suara mereka dan dengan kaget burung-burung itu mengeluarkan kepala dari sayap.
Akan tetapi pada saat itu, bagaikan dua ekor ular, tambang di tangan Gwat Kong dan Cui Giok meluncur dan membelit kaki kedua burung itu. Ketika kedua burung itu dengan kaget memukulkan sayap dan mengulur leher, tambang-tambang itu cepat pula membelit leher mereka dan kedua suami isteri itu lalu melompat ke bawah sambil menarik tambang dengan kuatnya.
Kedua burung itu meronta-ronta dan alangkah besar tenaga mereka. Kalau saja Gwat Kong dan Cui Giok tidak memiliki tenaga lweekang yang tinggi, tentu mereka takkan dapat menahan pemberontakan kedua burung itu. Mereka menggelepar-gelepar dan memukul- mukul dengan sayap. Akan tetapi Gwat Kong dan Cui Giok menggerak-gerakan tambang, sehingga tambang yang panjang itu akhirnya membelit-belit tubuh burung dan tanpa berdaya lagi kedua burung rajawali itu di seret ke dalam guha. “Bagaimana dengan harta pusaka itu?” tanya Cui Giok kepada Gwat Kong setelah mereka berkemas untuk berangkat pada keesokan harinya.
“Kita bawa saja secukupnya saja. Benda itu sudah banyak menimbulkan mala petaka.”
Demikianlah, mereka hanya membawa masing-masing belasan butir batu permata yang terbesar. Karena kalau terlalu banyak takut kalau-kalau burung-burung itu takkan kuat terbang. Sedangkan tidak membawa apa-apapun mereka masih ragu-ragu apakah burung itu akan kuat membawah tubuh mereka.
Mereka lalu membawa burung itu keluar dari guha. Matahari telah mulai tampak di ufuk timur, kemerah-merahan dan sinarnya masih belum kuat benar. Mereka mengikatkan kedua ujung tambang pada kedua kaki burung.
Kedua suami isteri itu saling pandang mesra. “Cui Giok ”
“Ya, ”
“Kalau ... kalau usaha kita ini gagal ”
“Ya, ”
“Kalau burung-burung ini tidak kuat dan jatuh bersama kita, hancur lebur menumbuk karang
.....”
“Teruskan suamiku ” Cui Giok berkata sambil berusaha agar supaya suaranya terdengar
tenang, Akan tetapi tetap saja suaranya menggetar tanda bahwa perasaannya tegang sekali.
“Kalau kita tewas dalam usaha keluar dari neraka ini, kau .... kau tunggulah padaku .... kita ...
kita pergi bersama, ya ?”
Cui Giok menggigit bibirnya dan menahan keluarnya air mata. Namun tetap saja bulu matanya menjadi basah dan dua titik air mata masih melompat keluar. Sukar baginya untuk mengeluarkan kata-kata karena hatinya amat terharu. Mereka harus memegang tambang menjaga kalau burung itu meronta dan terlepas, maka mereka hanya dapat saling pandang. Cui Giok menganggukkan kepalanya dan menyusut air matanya dengan menundukkan muka pada lengan bajunya, karena kedua tangannya digunakan untuk memegang tambang itu.
“Mari kita berangkat, Cui Giok!”
Mereka lalu berbareng melepaskan tambang yang membelit sayap dan leher burung.
Kedua burung itu menggerak-gerakan sepasang sayapnya. Agaknya terasa kaku sayap-sayap mereka karena terbelenggu semalam suntuk. Mereka mengeluarkan teriakan keras seakan- akan merasa girang terlepas dari belenggu itu. Kemudian mengembangkan sayap dan ......
melompatlah mereka dari pinggir jurang yang luar biasa tingginya itu. “Cui Giok, selamat berpisah, isteriku .... kekasihku ...!” Gwat Kong masih sempat berteriak ketika merasa tubuhnya dibawa terbang.
“Selamat sampai bertemu pula, suamiku ... aku cinta padamu!” Cui Giok juga berseru keras, karena burung yang membawanya melompat itu berpisah dengan burung yang membawa Gwat Kong.
Kedua burung itu agaknya merasa bingung ketika merasa betapa kaki mereka digantungi tubuh manusia yang amat berat itu. Mereka hendak terbawa oleh berat beban itu turun akan tetapi mereka mengerahkan tenaga pada sayap mereka sehingga masih dapat juga mereka bertahan. Akan tetapi mereka bingung dan ketakutan, memekik-mekik dan terbang tidak karuan jurusannya! Sayap mereka berbunyi ketika dengan kuatnya sayap itu memukul udara, menjaga tubuh mereka terbawa turun oleh beratnya tubuh yang bergantung kepada kakinya.
Gwat Kong melihat betapa burung yang membawa isterinya itu terbang ke lain jurusan, yakni ke arah utara. Sedangkan burung yang menerbangkannya menuju ke timur. Makin lama burung itu terbang makin rendah karena sesungguhnya beban itu terlampau berat baginya.
Hal inilah yang diharapkan oleh Gwat Kong dan yang memang telah diperhitungkannya. Ia tidak memperhatikan sekelilingnya, karena perhatiannya ditujukan kepada burung yang membawa isterinya. Oleh karena tubuh isterinya lebih ringan, maka burung yang menerbangkan isterinya itu lebih cepat gerakannya dan sebentar saja burung itu lenyap di utara.
Tak karuanlah rasa hati Gwat Kong melihat hal itu. Ia terpisah dari Cui Giok, akan tetapi ia masih memperhatikan ke jurusan itu, karena kalau ia dapat selamat mendarat di atas bumi, ia akan menyusul dan mencari isterinya itu.
Ketika memandang ke bawah maka bukan main besar hatinya. Pohon-pohon yang tadinya dari atas lereng itu nampak seperti rumput, kini telah nampak nyata. Makin lama makin besar dan gerakan sayap rajawali itu makin lemah. Tubuhnya makin rendah meluncur ke bawah.
Burung ini agaknya maklum bahwa ia tidak kuat melanjutkan penerbangannya dan kini menukik ke bawah dengan mengulur lehernya rendah-rendah, yang tujuannya ialah kelompok pohon-pohon di bawah itu, agaknya sebuah hutan.
Dengan hati berdebar karena tegang, Gwat Kong bersiap sedia. Ia hanya dapat berdoa, mudah-mudahan burung itu cukup mempunyai kekuatan untuk mendarat aman. Ternyata doanya terkabul, burung itu kini berada di atas pohon-pohon yang tadinya nampak kecil.
Ternyata mereka berada di atas sebuah hutan yang amat liar, penuh dengan pohon-pohon besar. Setelah burung itu terbang dekat di atas puncak pohon sehingga daun-daun pohon bergerak-gerak terkena tiupan sayapnya. Gwat Kong lalu melepaskan tambang yang dipegangnya dan melompat ke arah pohon itu. Bagaikan batu dilontarkan, tubuhnya masuk ke dalam daun-daun pohon dan dengan sigap ia dapat menangkap sebatang cabang dan bergantung di situ. Kemudian ia turun dengan perlahan.
Setelah ia menginjak bumi, tak tahan lagi Gwat Kong lalu berlutut dan menciumi tanah dan rumput. Alangkah bahagianya dapat berada dipermukaan bumi lagi, dapat berdiri di atas tanah yang tercinta, seakan-akan kembali kepangkuan ibu yang amat mengasihinya, yang mendatangkan rasa aman sentosa. Ia merasa seakan-akan baru bangkit kembali dari lobang kubur.
Setelah dapat menenangkan hatinya, ia memandang ke arah burung yang kini bertengger di cabang pohon dengan kedua kaki gemetar karena lelah.
“Terima kasih burung yang mulia!” kata Gwat Kong kepada burung itu.
Kemudian ia teringat kepada Cui Giok. Tanpa membuang waktu lagi ia segera berlari cepat menuju ke utara. Sambil berlari cepat, ia berdoa memohon kepada Thian agar supaya isterinya itu dilindungi dan juga mendarat dengan selamat seperti dia. Ia teringat akan ucapan mereka yang terakhir ketika akan berpisah tadi.
“Cui Giok, kalau kau tewas, akupun akan menyusulmu!” demikian ia berbisik sambil berlari terus. Ia keluar dari hutan itu dan ternyata bahwa ia telah mendarat di atas sebuah bukit. Ia terus berlari-lari ke arah utara. Akan tetapi betapapun ia mencari-cari ke atas dan ke bawah, ia tidak melihat burung rajawali yang membawa isterinya. Hatinya mulai gelisah, dan larinya dipercepat
Ia sudah turun dari bukit itu dan kini mendaki bukit lain yang berada di sebelah utara bukit tadi. Kemanakah ia harus mencari? Di manakah burung yang membawa isterinya itu mendarat? Hatinya berdebar cemas.
Tanpa memikirkan apa-apa lagi, Gwat Kong mencari terus. Terus mencari sambil berlari-lari, ke sana ke mari. Bahkan kadang-kadang ia menjerit-jerit dan memanggil nama isterinya.