Pendekar Pemabuk Chapter 97

NIC

Bukan main terharunya hati Gwat Kong mendengar pengakuan ini. Ia telah tahu bahwa gadis ini mencintainya, menyinta dengan penuh kasih sayang. Akan tetapi tak pernah mengira bahwa cinta kasih gadis ini terhadapnya demikian besarnya, demikian suci murninya! Tak terasa pula ia mengulurkan kedua tangan memeluk gadis itu yang segera menangis di atas dadanya, sedangkan Gwat Kong sendiri tak dapat menahan sedu sedan yang naik dari dadanya.

“Cui Giok, kita serahkan nasib kita kepada Thian Yang Maha Agung,” bisiknya perlahan.

****

Berkat hiburan-hiburan dan sikap jenaka dan gembira dari Cui Giok, terhibur jugalah hati Gwat Kong. Bahkan timbul pula kegembiraannya. Ia menyerahkan nasib sebulatnya kepada Yang Maha Kuasa dan karena sudah tidak ada jalan keluar lagi, ia hanya mengharapkan pertolongan yang datang dari luar sumur. Ini bukan hanya pengharapan kosong belaka, oleh karena ia telah kenal banyak orang gagah di dunia kang-ouw.

Apabila mereka mendengar tentang nasibnya, mustahil kalau mereka tidak datang menolongnya atau berusaha menolongnya? Ia tak tahu bahwa tak lama semenjak ia terjerumus ke dalam jurang itu, namanya dan juga nama Cui Giok telah terhapus dari daftar orang-orang hidup! Semua orang yang mendengar tentang nasibnya itu telah menganggap dia tewas di bukit itu.

MEREKA berdua tidak kekurangan makan dan kini Gwat Kong dapat menikmati rasa buah yang berwarna kuning di lereng itu. Buah yang berbau harum dan lezat dan belum pernah ia makan selama hidupnya. Juga daging burung itu merupakan makanan yang lezat. Mereka tidak kekurangan air karena di lereng itu terdapat pancuran air yang jernih dan sering kali mereka menikmati pemandangan yang amat indahnya di luar lobang yang menembus ke lereng bukit.

Pemandangan yang amat indah dan juga amat mengerikan. Apabila mereka berdiri di depan lobang itu, memandang ke bawah, mereka merasa seakan-akan mereka berdiri di tengah angkasa raya, di atas sebuah bintang yang tidak ada tangganya untuk turun kepermukaan bumi.

Telah setengah bulan Gwat Kong tinggal di tempat itu. Sikap Cui Giok yang amat menyintainya menggerakkan hatinya. Kalau tadinya ia masih selalu terkenang kepada Tin Eng, gadis yang lebih dahulu menawan hatinya itu, sekarang ia berusaha melempar kenangan ini jauh-jauh! Ia tahu bahwa mengenangkan Tin Eng adalah satu perbuatan yang amat bodoh dan hanya akan mendatangkan kesedihan dan gangguan batin belaka. Ia telah terasing, untuk selama hidupnya tidak ada kemungkinan sedikitpun untuk bertemu kembali dengan Tin Eng atau dengan siapa yang di dunia ramai. Maka mengenangkan Tin Eng bukanlah pikiran yang sehat.

Bagi Tin Eng, ia sudah mati dan mungkin gadis itupun telah melupakannya, menganggapnya mati, dan barang kali kawin dengan lain pemuda. Siapa tahu, mungkin Tin Eng akhirnya mau juga kawin dengan Gan Bu Gi! Ia sama sekali tidak mau memikirkan hal ini.

Dunianya hanyalah dasar sumur dan lereng itu, dunianya terpisah dari dunia ramai, dan kawan hidup satu-satunya hanya Cui Giok seorang! Seorang kawan hidup yang amat baik budi, gadis perkasa dan cantik jelita! Kalau dibuat perbandingan, tentu saja hatinya masih condong kepada Tin Eng dari pada Cui Giok. Karena sebelum ia bertemu dan berkenalan dengan Cui Giok, terlebih dahulu hatinya telah tertambat kepada Tin Eng.

Cinta pertama tak mudah dilupakan. Akan tetapi diam-diam ia harus mengakui bahwa selain gagah perkasa, Cui Giok tidak kalah cantiknya dari Tin Eng, dan dalam hal cinta kasih, Cui Giok nampaknya bahkan lebih besar cintanya dari pada cinta Tin Eng yang belum pernah dinyatakan itu.

Pada hari ketujuh belas, ketika Gwat Kong dan Cui Giok keluar dari guha itu dan duduk di lereng bukit menikmati hawa gunung yang sejuk, melihat sepasang burung yang besar terbang di dekat lereng. Kemudian burung itu hinggap pada cabang pohon di lereng itu, saling membelai dengan leher dan saling membersihkan bulu kawannya dengan patuk mereka.

Burung itu adalah burung rajawali yang besar dan bagus bulunya.

“Lihat Gwat Kong!” kata Cui Giok sambil menunjuk kepada burung-burung itu. “Alangkah senangnya hidup mereka, begitu rukun dan saling menyinta!”

Gwat Kong memandang ke arah burung itu kemudian ia menoleh dan menatap wajah Cui Giok. Pada waktu itu, senja telah mendatang dan angin yang bertiup perlahan membuat rambut Cui Giok awut-awutan dan sebagian rambutnya yang halus dan panjang itu melambai- lambai di depan jidatnya.

“Alangkah cantikmu, Cui Giok ” Gwat Kong tak terasa berbisik perlahan.

Cui Giok menengok dan pura-pura tidak mendengar bisikan itu. “Apa katamu, Gwat Kong?” Merahlah wajah pemuda itu. “Alangkah .... indah rambutmu ”

Kata Cui Giok tersenyum, “Jangan kau mengatakan sesuatu yang berlawanan dengan hatimu. Rambutku awut-awutan, tak pernah disisir, tak pernah diminyaki sampai berhari-hari.

Bagaimana kau katakan bagus?”

“Akan kubuatkan sisir untukmu, Cui Giok. Sisir dari kayu pohon itu. Kukira aku akan dapat membuatnya.”

Tiba-tiba Cui Giok bangkit berdiri, tercium bau daging terbakar hangus. “Celaka! Aku sampai lupa kepada daging panggang itu!” Ia berlari masuk sambil tertawa-tawa, diikuti oleh pandang mata Gwat Kong yang ikut gembira. Alangkah cantik menarik dara ini, pikirnya. Heran sekali, dahulu belum pernah ada perasaan demikian. Akan tetapi semenjak ia masuk ke tempat ini, entah mengapa, darahnya seakan-akan mendidih tiap kali ia mengagumi kecantikan Cui Giok! Belum pernah ia tergoda oleh kecantikan Cui Giok! Belum pernah ia tergoda oleh kecantikan wanita. Bahkan Tin Eng sendiri belum pernah datangkan gelora yang demikian menggelombang hebat di sanubarinya.

“Gwat Kong !” terdengar panggilan Cui Giok dari dalam dengan nada mesra. “Daging

sudah matang ! Mari kita makan!”

Gwat Kong tersenyum. Ia merasa seakan-akan ia berada di rumah sendiri, seakan-akan ia telah membangun sebuah rumah tangga seperti yang sering ia impikan. Ia dahulu sering bermimpi mempunyai rumah tangga dengan Tin Eng sebagai isterinya. Dan kini, sungguh aneh ia merasa seakan-akan ia telah berumah tangga dan hidupnya bahagia.

Sambil tersenyum-senyum ia berbangkit berdiri dan masuk ke dalam lubang yang kini diperlebar merupakan pintu itu. Bahkan Cui Giok telah membuat tirai pada pintu ini dari selimutnya. Sebelum masuk pintu istimewa ini, Gwat Kong masih sempat melihat sepasang burung rajawali itu terbang melayang ke atas, mengembangkan sayap mereka yang lebar dan besar.

Gwat Kong dan Cui Giok menghadapi makan malam yang terdiri dari daging panggang dan buah dimasak. Baik Gwat Kong maupun Cui Giok tidak tahu bahwa makanan-makanan ini mengandung zat yang amat baik dan yang menguatkan tubuh mereka. Memang Tuhan Yang Maha Adil. Buah-buahan yang berada di lereng itu dan daging burung ayam gunung yang mereka dapatkan, mengandung zat-zat yang amat dibutuhkan oleh tubuh mereka sehingga biarpun mereka tak pernah dapat makan nasi dan gandum, mereka tetap sehat, bahkan merasa kuat.

Akan tetapi, mereka juga tidak tahu bahwa makanan itu mengandung zat yang memanaskan darah, yang membuat darah di tubuh mereka mengalir cepat dan yang mendatangkan pengaruh merangsang pada hati mereka. Kalau tadi Gwat Kong mengherankan perasaannya terhadap Cui Giok, maka jawabannya sebetulnya terletak pada makanan yang sedang dihadapinya dan dimakan bersama Cui Giok itulah! Daging burung itu mempunyai khasiat yang aneh dan membuat sepasang mata Gwat Kong memancarkan cahaya berseri dan yang membuat sepasang pipi Cui Giok menjadi makin kemerah-merahan.

Seperti keluarga di dalam sebuah rumah tangga biasa. Sehabis makan Cui Giok mencuci tempat-tempat makanan yang terbuat dari pada batu itu pada pancuran di luar guha.

Kemudian keduanya duduk pula di lereng, dan pada malam hari itu bulan memancarkan cahayanya sepenuh dan sebulatnya, mendatangkan pemandangan yang luar biasa indahnya dan berbareng mendatangkan suasana yang romantis.

Seperti biasa, pada saat seperti itu, kakek tua yang baik hati, yang bersemayam di atas bulan yang biasa disebut orang tua yang menjadi penghubung perjodohan menurunkan kesaktiannya melalui cahaya bulan yang keemasan, menyebarkan sihirnya kepada hati-hati orang muda.

Kedua orang muda itu duduk di atas rumput bersandarkan batu karang. Mereka menikmati keindahan alam itu dengan hati ikhmat, lupa bahwa mereka berada di tempat yang terasing, lupa akan kesengsaraan mereka. Bahkan hati mereka penuh dengan kegembiraan yang luar biasa dan yang mereka sendiri tidak tahu apa yang menjadi sebabnya.

“Aduh ! Alangkah cantiknya bulan!” kata Cui Giok sambil memandang ke atas.

Akan tetapi tidak terdengar jawaban dari Gwat Kong, bahwa pemuda itu tidak bergerak sedikitpun juga. Biasanya setiap ucapan yang keluar dari mulut Cui Giok selalu mendapat sambungan dari pemuda itu. Hal ini terasa aneh bagi Cui Giok yang segera menengok kepadanya.

“Cui Giok ” terdengar Gwat Kong berbisik dengan suara gemetar. “Jangan gerakan

mukamu ..... jangan menengok !”

“Eh eh, kau mengapa, Gwat Kong?” tanya Cui Giok terheran-heran. Akan tetapi ia mentaati permintaan ini, tetap memandang bulan, sungguhpun matanya mengerling ke arah Gwat Kong.

“Alangkah cantiknya kau ! Dengan mendapat sinar bulan sepenuhnya, mukamu bagaikan

menyinarkan cahaya emas! Alangkah indah dan cantikmu, Cui Giok! Bulan sendiri akan malu terhadapmu ” Sambil berkata demikian, Gwat Kong mengulur tangannya hendak memeluk

gadis itu.

Cui Giok tiba-tiba tertawa dan mengelak. Sepasang pipinya menjadi makin merah, sampai ke telinga-telinganya.

“Ah ... kau gila !” katanya dan ia lalu melompat dan berlari ke dalam guha.

Gwat Kong juga berdiri dan mengejarnya. Cui Giok hendak berlari terus, akan tetapi kemana? Kalau saja mereka berada di dunia luar tentu ia akan berlari terus mempermainkan Gwat Kong. Akan tetapi tempat terkurung oleh dinding batu karang, maka sebentar saja Gwat Kong telah dapat menangkap tangannya.

Posting Komentar