Pendekar Pemabuk Chapter 96

NIC

Dalam kekhawatirannya, Cui Giok mendapat akal. Dalam keadaan seperti itu, ia tidak perlu merasa malu-malu atau sungkan lagi. Apalagi pemuda itu adalah Gwat Kong, pemuda yang telah dikasihinya, yang telah menawan hati dan jiwanya. Cui Giok berlutut lagi dan mengangkat kepala Gwat Kong yang lalu dipangkunya. Ia masukkan daun merah itu ke dalam mulutnya sendiri dan lalu mengunyah daun itu sampai hancur dan lembut. Kemudian ia merangkul leher Gwat Kong dengan lengan kirinya, diangkatnya seperti seorang ibu menggendong anaknya. Sedangkan jari-jari tangan kanannya membuka mulut Gwat Kong lalu ia menundukkan mukanya dan masukkan kunyahan

daun merah itu dari mulutnya ke mulut Gwat Kong.

Ia melakukan hal ini dengan hati tulus dan bersih, tanpa dipengaruhi nafsu birahi sedikitpun, bagaikan seorang ibu menyusui anaknya, bagaikan seekor burung betina meloloh anaknya, dengan hanya satu tujuan di dalam pikirannya dan satu kehendak di dalam hati yakni ingin melihat Gwat Kong terhindar dari pada bahaya maut, maka berhasillah ia memasukkan daun obat itu ke dalam tubuh Gwat Kong.

Sampai lama Gwat Kong tak sadarkan diri dan selama itu Cui Giok tak pernah meninggalkannya. Bahkan kepala pemuda itu tak pernah dilepaskan dari pelukannya.

“Gwat Kong !” bisiknya berkali-kali memanggil-manggil nama pemuda itu perlahan-

lahan di dekat telinganya. Lenyaplah segala keputus harapan, segala kedukaan. Kehadiran pemuda itu didekatnya membuat tempat yang tadinya seperti neraka berobah menjadi sorga.

Kini ketabahannya timbul kembali. Kegembiraannya hidup lagi. Ia tidak takut mati di situ. Rela diasingkan selama hidupnya, asal berdua dengan Gwat Kong, pemuda yang dicintainya. Dengan Gwat Kong disampingnya, jangankan baru penderitaan seperti ini, biarpun harus memasuki api neraka yang berkobar-kobar mengerikan, ia takkan ragu-ragu, mundur.

“Gwat Kong !” kembali ia memanggil mesra sambil mengusap rambut dan jidat pemuda

itu penuh kasih sayang.

Akhirnya Gwat Kong siuman kembali. Ia bergerak dalam pelukan Cui Giok dan hal ini membuat dara itu tiba-tiba merasa malu. Dengan perlahan dan hati-hati menurunkan kepala pemuda itu, diletakkan di atas pasir dengan amat perlahan, seakan-akan takut kalau-kalau gerakannya ini akan menyakitkan Gwat Kong.

Gwat Kong membuka matanya perlahan-lahan. Untuk sesaat lamanya tidak bergerak. Ia masih bingung dan tidak tahu di mana ia berada. Tubuhnya terasa sakit, akan tetapi sebagai seorang ahli silat, otomatis ia menahan napas dan mengalirkan jalan darahnya untuk merasakan apakah ia menderita luka dalam, dan menjadi lega bahwa ia tidak terluka.

Kemudian, dengan mata masih setengah tertutup, ia memusatkan pikirannya dan mengingat.

Tiba-tiba teringatlah ia akan kecelakaan yang telah terjadi itu, dan teringat bahwa ia telah jatuh ke dalam sumur. Hal ini amat mengejutkan hatinya, dan ketika ia membuka matanya, cepat ia melompat berdiri. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat seorang gadis bangun berdiri pula di depannya. Karena matanya masih belum biasa dengan penerangan yang hanya suram-suram itu, ia tidak melihat wajah gadis itu dengan jelas. Akan tetapi, setelah mengenal gadis itu, ia menjadi makin terheran-heran.

“Cui Giok .......! Kaukah ini ???” Ia maju selangkah dan memegang lengan gadis itu.

“Bukankah kau sudah ... sudah mati ??” Tiba-tiba ia teringat pula akan sesuatu dan

wajahnya berobah menjadi pucat. “Ah, Cui Giok .....aku tahu ....... akupun sudah mati ! Apakah ini yang disebut neraka ?” Ia memandang ke sekelilingnya dengan mata

mengandung kengerian.

Cui Giok merapatkan tubuhnya dan memeluk pundak pemuda itu. “Benar, Gwat Kong! Dalam pandangan manusia-manusia di luar tempat ini, kau dan aku memang sudah mati!”

“Akan tetapi kita masih hidup. Sungguh aneh kita masih hidup!” Gwat Kong berseru

gembira dan seperti orang yang masih belum mau percaya, ia meraba-raba kepala dan lengan Cui Giok. “Benar. Kau masih hidup dan aku juga.”

Ia memandang ke sekelilingnya lagi, lalu memandang ke atas, dari mana ia terjatuh. “Benar- benar menakjubkan. Kita berdua jatuh dari tempat yang tak terukur tingginya. Akan tetapi kita masih hidup. Bahkan aku tidak mendapat luka.”

“Kita terjatuh ditempat itu, Gwat Kong. Tempat itu lunak dan berlumpur. Karena itulah kita tidak terbanting hancur.” Cui Giok menunjuk ke arah tempat berlumpur di bawah lubang sumur itu. Gwat Kong lalu mendekat dan memeriksa tempat itu dengan penuh keheranan.

Kemudian ia teringat bahwa Cui Giok sudah seminggu berada di tempat ini, maka dengan muka berubah pucat, ia menengok dan memandang ke arah gadis itu.

“Cui Giok alangkah anehnya! Mengapa kau berada di tempat ini sampai begitu lama!

Bagaimana kau bisa hidup? Dan mengapa pula kau tidak berusaha untuk keluar dari sini?”

“Aku sudah berusaha, akan tetapi sia-sia Gwat Kong. Tidak ada jalan keluar dari tempat ini. Kita telah terkubur hidup-hidup. Kita telah terasing dari dunia ramai untuk selama-lamanya!”

Wajah Gwat Kong makin memucat. “Tak mungkin!” serunya. “Pasti ada jalan keluar! Harus ada jalan keluar!”

Bagaikan orang gila, ia lalu berlari-lari mengitari tempat itu, memeriksa batu dinding, bahkan lalu keluar dari lubang yang digali oleh Cui Giok. Sambil menghela napas, Cui Giok tidak berkata sesuatu, hanya mengikuti di belakang pemuda itu sambil membawa penerangan.

“Kita harus keluar dari sini! Harus, kataku!” Gwat Kong membentak-bentak sambil memeriksa seluruh tempat itu.

“Carilah, Gwat Kong. Dan periksalah! Agar kau merasa puas. Akan tetapi sesungguhnya aku sendiri telah mencari jalan keluar tiada hentinya, tanpa hasil sedikitpun.”

Gwat Kong masih penasaran. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia memeriksa dinding batu, mencoba untuk menggunakan kepandaiannya memanjat ke atas, mengetuk-ngetuk batu mencari terowongan. Sampai sehari penuh ia berusaha dan juga pada keesokan harinya berusaha lagi sampai lupa makan lupa tidur, akan tetapi hasilnya nihil.

Cui Giok selalu menghiburnya. “Mengasolah, Gwat Kong. Kau terlampau lelah. Aku tahu, tubuhmu masih sakit-sakit karena jatuh itu. Pikiranmu tidak tenang. Kau tidurlah dan makanlah daging burung ini. Di sini hanya ada daging burung dan buah di luar lereng itu. Akan tetapi cukup baik untuk mengenyangkan perut. “Aku, tidak! Aku tidak mau tidur, tidak mau mengaso, tidak ingin makan! Aku harus mencari jalan keluar. Kau dan aku harus keluar dari neraka ini!” Gwat Kong membandel dan terus mencari-cari kemungkinan keluar dari tempat itu.

“Kalau begitu, kau telanlah pel ini. Kau dapat bertahan sampai sepekan, kalau kau menelan pel ini!” Ia memberi sebutir pel pemberian dari Lo Han Sianjin dulu itu. Gwat Kong menerimanya dan menelannya. Kemudian tanpa mengaso sedikitpun ia mencari lagi. Kini menggunakan pedangnya untuk berusaha membuat tangga pada batu karang yang tegak lurus ke atas itu. Batu karang itu amat keras, akan tetapi pedang Sin-eng-kiam memang tajam sekali.

“Lihat, Cui Giok! Bantulah aku! Dengan pedang, kita dapat membuat lobang pada batu karang ini sehingga kita dapat membuat tangga ke atas. Asalkan ada tempat untuk berpegang dan menaruhkan kaki, mengapa kita tidak dapat mendaki ke atas?”

Cui Giok menggelengkan kepalanya. “Takkan ada gunanya, Gwat Kong. Aku pernah memikirkan hal itu. Apakah ketika jatuh kau tidak terbentur pada pinggiran sumur?”

Gwat Kong menggelengkan kepalanya.

“Aku terbentur pada pinggir sumur berkali-kali,” kata Cui Giok. “Dan pinggir sumur bagian atas terdiri dari tanah lembek. Memang kita dapat membuat tangga ke atas pada batu-batu karang yang keras ini, akan tetapi bagaimana kalau sudah sampai di bagian tanah lembek?”

Namun Gwat Kong tidak putus asa dan tetap hendak mencoba! Terpaksa Cui Giok membantu untuk jangan mengecewakan hati pemuda yang tak mudah tunduk kepada nasib itu. Sampai sepuluh hari mereka bekerja membuat tangga, terus ke atas. Dan pada hari kesebelas, tepat sebagaimana dikatakan oleh Cui Giok, batu padat yang keras itu berubah menjadi tanah lihat yang amat lembek. Tentu saja tak mungkin memanjat naik melalui tanah selembek itu dan berair pula. Tanah itu akan melesak kalau diinjak dan licinnya bukan main!

Gwat Kong turun lagi ke bawah dan duduk menutup kedua tangannya pada muka dengan hati sedih sekali. Air matanya tak dapat tertahan pula mengalir keluar melalui celah-celah jari tangannya.

“Kita tak dapat keluar .... ah, Cui Giok, begini kejamnya nasib mempermainkan kita ...? Benar-benarkah kita harus mati di tempat ini ?”

Cui Giok berlutut di sebelahnya dan tanpa malu-malu lagi memeluk lehernya. Hatinya penuh keharuan. Akan tetapi ia tidak teringat akan kesedihannya sendiri. Ia kasihan melihat Gwat Kong yang berduka dan berusaha menghiburnya.

“Gwat Kong, mengapa bersedih?”

Gwat Kong menurunkan kedua tangannya dari depan muka. “Cui Giok, alangkah anehnya pertanyaanmu ini! Kita terkurung di tempat celaka ini untuk selamanya! Tidak ingatkah kau? Kita takkan bisa keluar, harus tinggal di sini selama hidup kita sampai mati! Apakah hal ini tidak menyedihkan hatimu?” Benar-benar Gwat Kong merasa heran ketika melihat dara itu menggelengkan kepala dan bibirnya bahkan tersenyum. Mula-mula memang aku bersedih, yakni sebelum kau datang! Akan tetapi sekarang ..... apakah yang kusedihkan? Ada kau di sini! Dan aku aku tidak bisa

merasa berduka selama kau di sampingku, Gwat Kong, biar dimana pun kita berada. Ditengah-tengah api nerakapun asal bersama kau, takkan merasa berduka, bahkan berbahagia!”

Posting Komentar