“Taijin, mereka ini adalah murid-murid Hoa-san-pai. Kita Harus bunuh mereka!” kata Gan Bu Gi tiba-tiba ketika melihat tiga orang itu hendak pergi.
Mendengar ucapan ini, tiba-tiba Kui Hwa berhenti dan memutar tubuh, memandang kepada pemuda itu dengan mata tajam,
“Orang she Gan, manusia berhati binatang. Kalau kau menghendaki kematianku, cabutlah pedangmu. Mari kita sama lihat, siapa yang akan mampus di ujung pedang!”
Akan tetapi Liok Ong Gun melangkah ditengah-tengah dan berkata kepada Gan Bu Gi. “Gan- ciangkun, betapapun juga, kalau tidak ada nona ini, entah bagaimana nasib anakku.”
Ia menoleh kepada Kui Hwa dan berkata dengan muka menunjukkan betapa kesal dan rusuh hati serta betapa bosannya menghadapi permusuhan antara kedua cabang persilatan itu.
“Nona, harap kau suka pergi bersama kedua kawanmu. Hatiku sudah cukup menderita.”
Kui Hwa dan kedua suhengnya lalu pergi dari situ. Akan tetapi tiba-tiba Seng Le Hosiang berkata kepada mereka,
“Hei, anak-anak murid Hoasan. Beritahukan kepada guru-gurumu terutama si sombong Sin Seng Cu agar mereka jangan lupa untuk pergi ke puncak Thaysan pada permulaan musim Chun!”
Kui Hwa dan kedua suhengnya belum sempat mendengar cerita Gwat Kong bahwa pemuda itu telah menemui Pek Tho Sianjin di Hoasan, maka Kui Hwa lalu menjawab, “Baik, jangan khawatir! Akan kami sampaikan pesan itu!” Mereka bertiga lalu turun gunung dengan hati mendongkol.
Setelah Tin Eng siuman dari pingsannya dan melihat ayahnya dan para perwira, ia menangis terisak-isak dengan amat sedihnya.
“Sudahlah, Tin Eng. Jangan menangis. Katakan saja di mana Gwat Kong terjerumus karena mungkin di situlah tempat harta itu,” kata ayahnya.
Mendengar betapa ayahnya hanya meributkan soal harta terpendam saja dan sama sekali tidak memperdulikan nasib Gwat Kong, makin hebatlah tangis Tin Eng.
Seng Le Hosiang dapat mengerti perasaan gadis ini, maka ia lalu berkata, “Tidak saja harta itu, akan tetapi mungkin kita dapat menolong atau setidaknya menemukan jenazahnya.”
Mendengar ucapan ini, terbangunlah semangat Tin Eng. Ia lalu mendekati guha Kilin dan menuding ke arah sumur, “Disitulah disitulah Cui Giok dan Gwat Kong terjerumus!” Jari
tangannya menggigil dan suaranya gemetar.
“Biar aku memeriksa ke bawah!” kata Ang Sun Tek. Mereka segera mengeluarkan tambang yang kuat dan amat panjang. Memang rombongan ini sudah mempersiapkan segalanya.
Tambang itu lalu dilepas ke bawah dan diganduli batu. Panjangnya tambang itu tidak kurang dari seratus kaki. Akan tetapi setelah habis diulur ke bawah, ternyata batu yang mengandulinya masih dapat digerakkan ke kanan kiri yang berarti bahwa tambang itu masih belum mencapai dasar sumur.
“Bukan main dalamnya!” kata Ang Sun Tek membelalakkan matanya dengan penuh kengerian. Sedangkan Tin Eng mendekap mukanya sambil menangis lagi. Tak dapat diragukan lagi nasib Gwat Kong. Orang yang terjatuh ke dalam tempat sedemikian dalamnya tentu akan putus nyawanya.
Dibantu oleh kawan-kawannya yang memegang tambang itu di luar sumur, Ang Sun Tek lalu turun ke bawah melalui tambang. Bagi seorang yang tidak memiliki kepandaian tinggi, pekerjaan ini amat berbahaya karena tambang itu panjang sekali dan sekali saja pegangan tangan terlepas sudah jelaslah nasibnya.
Akan tetapi, Ang Sun Tek adalah seorang yang memiliki tenaga daam yang cukup besar. Maka dengan cepat bagaikan seekor kera, ia meluncur melalui tambang itu ke bawah. Ketika ia memandang ke bawah, yang nampak hanyalah halimun gelap keputih-putihan dan makin dalam hawa udara makin dingin sehingga Ang Sun Tek menggigil kedinginan. Akhirnya ia tiba di ujung tambang karena kakinya menginjak batu kekar pada akhir tambang itu. Benar saja, batu itu masih tergantung di udara.
Karena keadaan gelap sama sekali dan bukan main dinginnya, Ang Sun Tek tidak mau berdiam lebih lama lagi di tempat itu, lalu memanjat kembali ke atas dengan cepat. Ia merasa tak enak dan ngeri sekali. Ketika tiba di atas dan dihujani pertanyaan oleh kawan-kawannya, ia menarik napas panjang,
“Bukan main dalamnya, dalam, dingin, gelap. Tambang ini masih kurang panjang, kukira belum setengahnya. Tak mungkin di tempat seperti itu terdapat harta pusaka. Siapa orangnya yang menyimpan harta di tempat itu? Seperti lubang neraka. Aku merasa pasti bahwa di dasarnya tentu air karena halimun bergulung dari bawah dan hawanya amat dingin.”
Tin Eng menahan isaknya dan ia masih saja menangis ketika rombongan ayahnya itu kembali turun dari gunung. Ia naik kuda dengan lemah tak bergaya sama sekali, lemas lahir batin dan merasa seakan-akan semangatnya tertinggal bersama Gwat Kong di dalam sumur itu.
****
Pada saat Gwat Kong dan kawan-kawan berada di atas guha Kilin, juga pada saat mereka masih bercakap-cakap di depan guha, maka suara mereka itu terbawa oleh angin yang memasuki sumur dan dapat terdengar oleh Cui Giok yang berada di dalam jurang. Memang sungguh aneh suara dari luar dapat terbawa masuk dan dapat terdengar sampai ke dasar sumur itu, sungguhpun tidak sangat jelas, bagaikan suara orang dari jauh saja. Sebaliknya suara dari dalam, sama sekali tak dapat keluar, terbawa kembali oleh angin yang masuk dari atas.
Ketika Gwat Kong berseru di atas guha karena mendapatkan lubang dan gelang besi yang ditariknya, maka Cui Giok yang mendengar di bawah, di dekat tanah berlumpur di mana ia terjatuh dahulu, dapat mengenal suaranya. Suara lain orang tak dapat dikenalnya, akan tetapi suara Gwat Kong biarpun hanya terdengar sayup sampai saja, dapat dia kenal baik.
“Gwat Kong !” teriaknya keras ke atas dengan girang sekali.
“Gwat Kong !” suaranya kembali merupakan gema yang besar dan menyeramkan.
Percuma saja Cui Giok memekik-mekik dan memanggil-manggil nama Gwat Kong berkali- kali, karena suaranya tak dapat menembus halimun itu bahkan terbawa kembali oleh angin yang meniup ke bawah.
Ia masih mendengar suara-suara di atas, kemudian terdengar suara keras dan ia mendengar pula teriakan wanita yang menjerit-jerit memanggil nama Gwat Kong. Ia makin girang karena tak salah lagi bahwa Gwat Kong telah tiba dan berada di atas. Suara wanita yang memanggil- manggil Gwat Kong itu adalah Tin Eng yang menjerit-jerit melihat pemuda itu jatuh ke dalam lubang.
Karena jurang itu benar-benar amat dalam, maka tubuh yang terjerumus ke dalam membutuhkan waktu lama sebelum mencapai dasarnya.
Seperti juga dulu ketika Cui Giok terjerumus ke bawah, Gwat Kong juga mengerahkan ginkang dan tenaga dalam untuk melindungi dari benturan hebat pada dinding sumur atau bantingan pada dasar sumur itu. Akan tetapi, lehernya bagaikan tercekik oleh hawa dingin dan kelajuan tubuhnya yang meluncur ke bawah membuat ia tak dapat bernapas, maka ia tak sadarkan diri lagi sebelum tubuhnya mencapai dasar jurang.
Karena suara-suara di atas kini telah lenyap, dan keadaan menjadi sunyi lagi, maka Cui Giok duduk termenung dan hati yang lebih sunyi. Akan tetapi tiba-tiba ia melompat bangun dengan mata terbelalak memandang ke atas. Ia melihat sebuah benda panjang turun dari tengah- tengah halimun yang menyusap pandang dari bawah itu. Benda itu terus jatuh ke bawah dan tepat sekali menimpa tanah berlumpur seperti dulu ketika ia jatuh. Alangkah kagetnya ketika melihat bahwa benda itu adalah tubuh seorang manusia. Ia memburu ke depan dan memandang wajah orang yang penuh dengan lumpur karena jatuhnya dalam kedudukan miring itu.
“Gwat Kong !” Untuk beberapa lama Cui Giok berdiri bagaikan patung. Ia takut kalau-
kalau ini hanya sebuah mimpi dan mimpi ini akan lenyap kalau ia menggerakkan tubuhnya.
“Gwat Kong !” ia berbisik dan tak terasa lagi air mata menitik turun berbaris sepanjang
pipinya. “Be..... benarkah ???”
Karena air matanya keluar, maka matanya terasa perih sehingga terpaksa ia berkedip. Alangkah girangnya ketika ia melihat bahwa ini bukan mimpi. Tubuh pemuda itu masih berada di situ, sungguhpun telah berkali-kali ia berkejap mata. Ia gosok-gosok kedua matanya dan ketika dibukanya kembali tubuh itu masih berada di tempat itu.
“Gwat Kong !” jeritnya penuh perasaan girang, terharu, sedih, lega, campur aduk menjadi
satu. Ia menubruk ke tempat berlumpur itu, mengangkat tubuh Gwat Kong, dibawa keluar dari lumpur, lalu diletakkan di atas pasir dekat alat penerangan yang dibuatnya secara sederhana sekali, yakni sumbu terbuat dari robekan pakaian dengan minyak dari lemak burung dan tempat minyaknya dari batu karang yang dilubangi merupakan mangkok yang kasar.
“Gwat Kong ....... kau datang menyusulku!” Ia membersihkan muka pemuda itu,
memeluknya, mendekap kepala itu pada dadanya, mencium pipinya dan semua ini dilakukan sambil menangis, tertawa, menangis lagi.
“Gwat Kong ..... Ya Tuhan, terima kasih ..... Gwat Kong, kekasihku !” Tiada hentinya bibir
dara itu berbisik-bisik.
Dapat dibayangkan betapa perasaan gadis itu ketika tiba-tiba melihat pemuda yang dicintainya berada di situ seakan-akan dilemparkan ke bawah oleh tangan ajaib. Sengaja dilempar ke bawah agar pemuda itu dapat menemaninya. Tadinya ia merasa bahwa untuk selama hidupnya ia takkan dapat bertemu dengan manusia lagi, apalagi dengan Gwat Kong. Oleh karena itu, melihat Gwat Kong, ia merasa seakan-akan seorang yang telah mati dan jiwanya merana dan terasing di neraka, tiba-tiba bertemu dengan seorang yang selalu dijadikan kenangan.
Seperti Cui Giok dahulu, pemuda itupun pingsan sampai berapa lama. Cui Giok telah memetik setangkai daun merah dan karena Gwat Kong masih pingsan, maka ia menjadi amat bingung dan gelisah. Ia takut kalau-kalau pemuda itu menderita luka berat di bagian dalam tubuhnya dan lebih-lebih lagi takutnya kalau pemuda itu akan mati.
Pikiran ini membuat ia bergidik. Bagaimana ia harus masukkan daun obat ini kedalam perut Gwat Kong? Untuk mencampuri dengan air, sukar sekali karena tahu bahwa daun ini kalau diperas seperti berminyak dan tak dapat campur air.