Pendekar Pemabuk Chapter 94

NIC

Badasingh mendesak Gwat Kong sedemikian rupa dengan maksud agar supaya pemuda itu merobah kedudukannya sehingga ia dapat berputar dan melompat ke dalam guha. Oleh karena kalau ia sudah bisa masuk ke dalam guha Kilin, ia dapat memancing pemuda itu mengikutinya dan menjebaknya ke dalam sumur atau jurang yang dalam itu. Atau setidaknya, kalau usahanya menjebak tidak berhasil, ia dapat bersembunyi di situ tanpa dapat diganggu atau diserang oleh lawannya yang amat lihai ini.

Akan tetapi Gwat Kong telah dapat maklum akan maksud ini karena ia telah diberi tahu tentang rahasia guha itu oleh Tin Eng. Maka sambil mainkan Sin-eng Kiam-hoat dan Sin- hong Tung-hoat di kedua tangannya, ia memutar pedang dan sulingnya sedemikian rupa sehingga Badasingh tak berdaya sama sekali. Tubuh pemuda ini bagaikan segulung asap bergulung-gulung dan menyelinap di antara sambaran rantai bajanya, mengirim serangan- serangan maut ke arah bagian tubuh yang berbahaya.

Pertempuran sudah berjalan ratusan jurus dan Badasingh yang luar biasa kuatnya itu biarpun sejak tadi didesak hebat, namun masih belum menyerah dan melakukan perlawanan mati- matian. Sudah beberapa kali suling Gwat Kong menotok jalan darahnya dan ujung pedang Sin-eng-kiam melukainya, akan tetapi tubuhnya benar-benar kebal dan kuat sekali sehingga luka-lukanya itu merupakan luka di luar saja yang tidak berbahaya. Pakaiannya telah penuh dengan darahnya sendiri dan kini ia bertempur sambil menggereng-gereng bagaikan seekor binatang buas.

Setelah kehabisan daya dan maklum bahwa kalau dilanjutkan ia akan kalah. Badasingh lalu mengambil keputusan nekad untuk mengajak pemuda ini mati bersama. Ia menyerang dengan sambaran rantainya sedemikian rupa dan ketika Gwat Kong mengelak, ia lalu menubruk sambil pentangkan kedua tangannya.

Gwat Kong terkejut sekali dan cepat menjatuhkan diri ke kiri sambil menggunakan pedangnya masuk ke dalam lambung lawannya. Akan tetapi Badasingh masih dapat miringkan tubuh dan dengan nekad tangannya mencengkeram. Pundak kanan Gwat Kong kena dicengkeram oleh jari-jari tangannya yang berkuku panjang dan raksasa yang telah mendapatkan luka parah itu hendak menyeretnya untuk bersama-sama masuk ke dalam sumur. Gwat Kong berlaku tenang dan cepat mengirim tusukan dengan sulingnya ke arah sambungan tulang pundak lawan.

“Pletak!” remuklah tulang itu dan cengkeraman tangan Badasingh terlepas. Tubuh raksasa itu terhuyung-huyung ke kiri dan roboh di atas tanah tanpa dapat berkutik pula.

Huang-ho Sam-kui dan lain-lain orang menonton pertempuran dahsyat itu sambil menahan napas. Louw Lui telah mencari isterinya dan mendapatkan isterinya yang malang itu rebah pingsan di dalam guha, maka Louw Lui lalu memondongnya dan turun gunung terlebih dulu.

Kini Louw Tek dan Louw Siang serta Tin Eng dan kawan-kawannya berlari menghampiri Gwat Kong. Ternyata Badasingh telah tewas tak bernyawa pula.

TANPA sungkan-sungkan lagi, Tin Eng memegang tangan Gwat Kong.

“Gwat Kong, kau terluka?” tanyanya sambil memeriksa pundak pemuda itu. Baju Gwat Kong di bagian pundak itu robek dan kulit pundaknya matang biru akan tetapi tidak terluka parah.

“Jahanam ini benar-benar kuat,” kata Gwat Kong menghela napas. “Akan tetapi aku puas, sakit hati Cui Giok telah terbalas!”

Louw Tek dan Louw Siang menyatakan kekagumannya terhadap Gwat Kong yang dipuji- pujinya. Kemudian untuk menyatakan kegemasan mereka terhadap Badasingh, dengan dayung mereka sehingga hancur dan mayatnya mereka lemparkan ke dalam jurang di dekat guha, di mana tadi Badasingh melemparkan tubuh Tong Kak Hwesio. Setelah itu, kedua kepala bajak itu lalu pamitan dan meninggalkan tempat itu untuk menyusul adik mereka.

“Kita harus bekerja cepat,” kata Gwat Kong kepada Tin Eng. “Rombongan perwira dari kerajaan tentu akan menyusul kemari dan kalau sampai mereka melihat kita, tentu kita akan menghadapi pertempuran lagi. Pihak mereka itu bukan lawan ringan, karena di antara mereka terdapat Liok-te Pat-mo yang lihai.”

Sambil berkata demikian, Gwat Kong terkenang kepada Cui Giok karena tadinya gadis itu bermaksud mencari Liok-te Pat-mo untuk mengadu kepandaian. Kini gadis itu takkan tercapai pengharapannya, pikirnya sambil menghela napas sedih.

Mereka lalu mengadakan perundingan dan Tin Eng yang hafal akan isi peta yang dibakarnya, lalu memberi keterangan.

“Menurut peta itu,” katanya sambil membuat coretan-coretan di atas tanah. “Memang ditunjukkan bahwa harta terletak di dalam guha Kilin. Akan tetapi ada petunjuk yang menyatakan bahwa jalan masuk untuk mengambil harta itu adalah dari atas, melalui batu karang kembar di sebelah kanan guha Kilin. Melihat keadaan guha ini yang isinya hanya sumur amat dalam, maka tentu jalannya bukan dari situ. Sekarang kita harus mencari batu karang kembar itu.” Ketika mereka mengambil jalan memutar ke sebelah kanan guha itu, benar saja di situ terdapat sepasang batu karang yang sama bentuk dan ukurannya, maka mereka lalu memanjat batu karang itu terus ke atas. Gwat Kong dan Tin Eng berjalan di depan, yang lain di belakang.

Oleh karena petunjuk peta itu menyatakan bahwa tempat harta terletak tepat di guha Kilin, maka dari atas itu mereka lalu merayap naik ke atas guha Kilin. Aneh sekali, tepat di atas guha itu terdapat alang-alang yang hijau dan tinggi, seakan-akan merupakan jambul atau rambut Kilin dan guha itu merupakan mulutnya. Gwat Kong menyingkap rumput alang itu dan di situlah terdapat sebuah batu licin yang bentuknya bulat.

Ia mencoba mengangkat batu itu, akan tetapi amat beratnya sehingga setelah kawan- kawannya membantu, barulah batu itu dapat digeser. Dan ternyata bahwa di bawah batu terdapat sebuah lubang yang lebarnya kira-kira dua kaki persegi. Karena lubang itu tidak seberapa dalam, Gwat Kong lalu turun ke bawah dan kakinya menginjak batu karang pula sedangkan dalamnya lubang itu sampai sebatas lehernya. Ia memandang ke bawah dan disekelilingnya. Akan tetapi di situ hanya batu karang semua dan tidak terlihat tanda-tanda lain yang menarik perhatian.

“Tidak ada apa-apa di sini!” kata Gwat Kong.

“Kalau begitu, mari kita pergi saja dari sini,” kata Tin Eng.

“Hatiku tidak enak sekali untuk berada di tempat aneh ini lebih lama lagi. Tempat ini seakan- akan terkutuk dan sudah banyak orang tewas di sini. Apalagi kalau rombongan perwira kerajaan datang, tentu akan terjadi hal-hal yang mengerikan.”

“Jangan khawatir, Tin Eng!” kata Gwat Kong tersenyum menghibur. “Kita sudah sampai di sini, masa harus pulang dengan tangan kosong? Bagaimana nanti kau akan menjawab kepada kedua saudara Phang yang menyerahkan kepercayaan kepadamu? Soal para perwira, jangan takut, ada aku di sini dan saudara-saudara yang gagah inipun tentu akan membantu.”

Gwat Kong merasa penasaran lalu menggenjot-genjot tubuhnya dan ia berseru heran, “Ah, lantai yang kuinjak ini dapat bergoyang!” Ia meraba-raba ke kanan kiri. “Tentu ada rahasianya di sini!”

Pemuda itu menggunakan jari-jari tangannya meraba-raba di sekitar dinding batu karang, sedangkan kawan-kawannya yang di atas yang tak dapat melihat apa-apa kecuali kepalanya, memandang sambil menahan napas.

Tiba-tiba jari tangan Gwat Kong meraba sesuatu yang keras dan ternyata benda itu adalah sebuah gelang besi yang dipasang di dinding itu.

“Ada gelang besi di sini!” katanya gembira. Karena gelang besi itu letaknya agak di bawah lutut, terpaksa ia merendahkan tubuh dan menekuk lututnya agar tangannya dapat mencapai gelang itu. Ia memegang erat-erat dan menarik keras. Benda itu tidak bergerak. Ia mengumpulkan tenaga dan menarik lagi dan benda itu dapat bergerak sedikit. “Aku hampir dapat membuka gelang ini!” katanya dari bawah sambil menahan napas lalu menarik lagi sekuat tenaga.

Terdengar suara keras dan tiba-tiba batu karang yang diinjaknya itu nyeplos ke kanan sehingga tubuhnya yang kini tidak menginjak sesuatu lagi, lalu nyeplos ke bawah. Gelang besar itu terlepas dan Gwat Kong melayang ke bawah. Ia melihat bahwa tubuhnya melayang terus melalui mulut guha Kilin dan dalam kengeriannya ia berteriak,

“Tin Eng !” Akan tetapi tubuhnya terus melayang turun dengan kecepatan hebat yang tak

dapat ditahannya lagi.

“Gwat Kong ....! Gwat Kong !” Tin Eng berteriak-teriak, menjerit-jerit memanggil nama

pemuda itu bagaikan seorang gila dan dengan nekad ia lalu melompat ke dalam lubang itu. Akan tetapi tiba-tiba sepasang tangan menangkapnya dan ia meronta-ronta dalam pelukan Kui Hwa.

“Biarkan aku menyusulnya. Lepaskan aku, lepaskan!” Ia meronta-ronta bahkan memukul

Kui Hwa, akan tetapi kedua saudara Pui membantu Kui Hwa dan memegang kedua tangan Tin Eng yang menjadi kalap bagaikan orang gila itu.

“Gwat Kong ...! Gwat Kong kau dimana??” Suara Tin Eng makin lemah, tangisnya

tersedu-sedu menyayat hati Kui Hwa dan kedua saudara Pui. Kemudian Tin Eng roboh pingsan tak sadarkan diri lagi.

“Celaka !” kata Pui Kiat yang menjenguk ke dalam lubang. Lubang itu sekarang tak

berdasar lagi dan ternyata menembus ke dalam sumur di guha Kilin itu.

Kui Hwa hanya menangis tersedu-sedu sambil memeluki tubuh Tin Eng. Juga Pui Hok tak dapat menahan air matanya lagi yang mengalir turun. Mereka lalu mengangkat tubuh Tin Eng, dibawa turun ke depan mulut guha Kilin yang kini merupakan mulut iblis maut yang haus akan nyawa manusia.

Pada saat itu, serombongan orang berlari naik ke tempat itu. Ketika Kui Hwa dan kedua suhengnya menengok, ternyata bahwa mereka itu adalah rombongan perwira yang dikepalai oleh Liok-taijin sendiri. Selain Liok Ong Gun, nampak juga Gan Bu Gi, Liok-te Pat-mo, Seng Le Hosiang, Bong Bi Sianjin dan perwira-perwira lain yang jumlahnya semua dua puluh orang.

Mereka memburu ke arah guha itu dan ketika melihat Tin Eng rebah dipangkuan seorang gadis dalam keadaan tak bergerak seperti mayat. Liok Ong Gun cepat memburu sambil bertanya gugup,

“Dia kenapakah ......? Anakku Tin Eng ..... kenapakah dia ?”

Juga lain orang datang mengepung dan memandang dengan heran. Gan Bu Gi dan Bong Bi Sianjin yang mengenal kepada murid-murid Hoa-san-pai itu, memandang dengan amat terheran-heran. “Taijin, jangan khawatir. Anakmu hanya pingsan saja,” kata Kui Hwa dengan tenang sambil mengerling ke arah Gan Bu Gi dengan pandang mata yang membuat pemuda itu cepat membuang muka dengan wajah tiba-tiba menjadi merah.

“Nona siapa dan mengapa anakku berada di sini dalam keadaan pingsan?”

“Dia mencari tempat harta pusaka. Kami membantunya juga Kang-lam Ciu-hiap Bun Gwat Kong.”

“Bangsat itu berada di sini? Mana dia?” tanya Liok Ong Gun.

“Orang yang taijin maki sebagai bangsat itu kini telah tewas dalam membela anakmu. Baru saja Bun-taihiap memasuki lubang di atas itu, dan ia menyeplos ke bawah, di dalam sumur maut itu. Tidak ada harta pusaka di sini, yang ada iblis maut telah makan banyak nyawa.”

Setelah berkata demikian, dengan singkat Kui Hwa menuturkan tentang tewasnya Cui Giok, juga diceritakannya serba singkat tentang Badasingh. Semua orang mendengarkan dengan penuh keheranan dan kengerian.

“Inilah anakmu, kami tidak ada keperluan lagi di sini!” kata Kui Hwa yang lalu berdiri dan memberi isyarat kepada kedua suhengnya untuk meninggalkan tempat itu.

Posting Komentar