Berobahlah wajah Gwat Kong mendengar nama orang yang sudah lama diharapkannya untuk bertemu ini. Ia segera bangkit berdiri mengangkat kedua tangannya memberi hormat kepada Kui Hwa.
”Ah, sudah lama aku mendengar nama lihiap yang menggemparkan dunia kang-ouw. Sungguh kebetulan bahwa saat ini aku dapat bertemu muka.”
Kui Hwa juga sudah berdiri dan dengan senyum dingin ia berkata,
“Tentu saja taihiap mengharapkan pertemuan untuk dapat melampiaskan dendam dan sakit hati taihiap, bukan?”
“Enci Kui Hwa! Jangan berkata begitu!” kata Tin Eng yang bangkit berdiri. Gwat Kong tersenyum lalu duduk kembali.
“Tan-lihiap, kalau urusan lama di bongkar dan permusuhan lama dibangkit-bangkit, maka kiranya dari pihakmulah datangnya, bukan dari pihakku. Aku sudah menganggap habis persoalan lama itu dan sudah kupendam.”
Kui Hwa memandang kepada wajah yang tampan itu dengan sinar mata kurang percaya dan terharu, lalu menjadi kagum dan bertitiklah dua butir air mata dari kedua matanya. Ia menundukkan matanya dan berkata perlahan,
“Bun-taihiap, ternyata kau bijaksana sekali, seperti mendiang ayahmu, tidak seperti aku yang jahat seperti mendiang ayahku. Aku hanya bisa mohon ampun atas dosa-dosa ayahku terhadap ayahmu ” “Ah, Tan-lihiap, mengapa berkata begitu? Urusan orang tua kita bukanlah urusan kita. Kalau ayahmu masih hidup, itu lain lagi barangkali. Akan tetapi antara kau dan aku tidak ada sesuatu, bahkan ada pertalian persahabatan seperti buktinya sekarang kita bertemu di antara kawan-kawan di tempat ini. Duduklah dan jangan sungkan-sungkan, kita di antara kawan sendiri.”
“Sumoi, kata-kata Bun-taihiap benar. Alangkah baiknya kalau permusuhan lama dirobah menjadi persahabatan!”
Kui Hwa duduk kembali, menyusut air matanya lalu tersenyum dan berkata, “Maaf, aku telah berlaku seperti anak kecil.”
Pada saat itu, kembali perahu itu miring dan bergoyang dan masuklah Tong Kak Hwesio sambil tersenyum-senyum. Ia mengerling ke arah lima orang muda yang duduk bercakap- cakap. Kemudian tanpa banyak cakap, ia lalu mengambil tempat duduk di meja dekat mereka, di sebelah belakang kursi yang diduduki oleh Gwat Kong. Di situ ia duduk memesan makanan lalu bersedakap sambil tersenyum menyeringai dan kedua matanya memandang kepada Kui Hwa dan Tin Eng berganti-ganti, seakan-akan anak kecil memandang dua barang permainan yang indah menarik.
Gwat Kong mengerutkan alis matanya dan memandang kawan-kawannya. Akan tetapi kawan- kawannya tidak memberikan reaksi apa-apa atas kehadiran hwesio itu. Maka Gwat Kong lalu menggunakan ibu jari tangannya digerakkan ke arah di mana hwesio itu duduk sambil bertanya kepada kawan-kawannya,
“Apakah kalian kenal dia?”
Kui Hwa yang duduk di depannya menjawab,
“Tidak, dan sudah lama dia selalu mendekati kami. Akan tetapi karena dia tidak berkata atau melakukan sesuatu, maka kami mendiamkannya saja.”
“Kalau begitu, biarlah jangan perhatikan dia dan anggap saja dia seperti patung penjaga keselamatan kita!” kata Gwat Kong dengan suara mengejek.
Hwesio itu masih duduk diam, akan tetapi tidak menyeringai lagi dan mukanya menjadi merah, sedangkan matanya memancarkan cahaya merah. Tiba-tiba Gwat Kong merasa betapa tempat duduknya terdorong dari belakang. Ia tahu bahwa ini adalah perbuatan hwesio itu.
Tempat duduknya menempel pada kaki meja yang berada di depan hwesio itu. Dan agaknya hwesio itu menggunakan kekuatan lweekangnya yang disalurkan pada kaki untuk mendorong meja di depannya sehingga kaki meja itu mendorong bangku yang diduduki Gwat Kong.
Tenaga dorongan itu besar sekali dan kalau didiamkan saja tentu Gwat Kong akan terdorong ke depan dan meja di depannya akan terguling menimpa kawan-kawannya. Akan tetapi dengan tenang dan masih tersenyum, Gwat Kong mengerahkan lweekangnya sehingga bangku yang didudukinya itu sampai berbunyi bagaikan ditindih oleh benda yang amat berat.
Tong Kak Hwesio terkejut sekali ketika tiba-tiba meja yang didorong dengan kakinya itu berhenti bergerak, bahkan tenaganya mental kembali. Ia merasa penasaran dan memperkuat tenaganya. Akan tetapi makin keras ia mendorong, makin besar pula tenaganya mental kembali. Dan tiba-tiba “krek!” meja di depannya patah membuat meja itu terdorong hendak menimpanya.
“Meja bobrok!” katanya sambil menekan meja itu sehingga pecah. Kemudian tanpa berkata sesuatu, ia meninggalkan ruangan itu.
Kui Hwa, Tin Eng dan kedua saudara Pui menjadi heran sekali melihat kejadian ini, akan tetapi Gwat Kong hanya tersenyum saja.
“Nah, sekarang ceritakanlah semua pengalamanmu!” kata Gwat Kong kepada Tin Eng. Ia merasa heran dan khawatir ketika tiba-tiba melihat wajah Tin Eng menjadi muram.
“Telah terjadi malapetaka hebat sekali,” kata gadis itu. “Gwat Kong, benarkah kau menyuruh seorang gadis cantik untuk mewakilimu datang membantu kami?”
“Benar!” kata Gwat Kong tanpa ragu-ragu lagi. “Dia adalah nona Sie Cui Giok ahli pedang Im-yang Siang-kiam-hoat. Di mana dia sekarang?”
“Dia ... dia ...” dan tiba-tiba Tin Eng menangis. Bukan main kagetnya hati Gwat Kong melihat hal ini. “Tin Eng! Apa yang telah terjadi dengan Cui Giok?”
Kalau Tin Eng tidak sedang terharu memikirkan nasib Cui Giok, tentu ia akan cemburu juga mendengar betapa pemuda itu menyebut nama Cui Giok begitu saja dan melihat betapa pemuda itu menjadi pucat karena mengkhawatirkan keselamatan gadis itu. Akan tetapi ia sendiri sedang amat terharu dan dengan suara terputus, kadang-kadang dibantu oleh Kui Hwa, Tin Eng lalu menceritakan semua pengalamannya.
Mendengar betapa Cui Giok terjerumus ke dalam jurang pada seminggu yang lalu oleh seorang raksasa liar bernama Badasingh, Gwat Kong menjadi terkejut sekali.
“Celaka!” serunya dengan pucat. “Dia datang ke sini karena aku minta padanya. Kalau ia tewas, berarti aku yang mendatangkan kematiannya. Tin Eng, aku harus pergi ke sana sekarang juga untuk mencekik leher siluman raksasa itu.”
Sambil berkata demikian, Gwat Kong bangkit berdiri dari bangkunya, akan tetapi Pui Kiat dan Pui Hok lalu menyambarnya.
“Tenang dulu, Bun-taihiap. Memang kita harus berusaha membunuh raksasa jahat itu. Tidak saja untuk membalaskan dendam Sie-lihiap, akan tetapi juga untuk menghindarkan rakyat dari bencana. Badasingh ini benar-benar jahat.”
Kemudian mereka menceritakan betapa raksasa hitam itu telah menculik wanita dan kalau saja tidak datang mereka dan Huang-ho Sam-kui, entah bagaimana jadinya dengan nasib wanita itu. “Bahkan sumoi dan Liok-lihiap inipun hampir saja celaka ditangannya, kalau saja tidak datang Sie-lihiap yang bernasib malang itu.” Maka kembali mereka menceritakan pengalaman mereka ketika Cui Giok datang membantu.
“Guha Kilin adalah guha yang amat berbahaya, Bun-taihiap. Di dalamnya terdapat sumur yang tak terukur dalamnya. Dan di situlah Sie-lihiap terjerumus karena tertipu oleh Badasingh. Kalau tidak bisa memancing keluar raksasa itu, sukar untuk mengalahkannya. Apabila ia telah berada di dalam guha Kilin, tak mungkin menyerangnya.”
Mereka lalu menceritakan betapa sia-sia mereka yang dibantu oleh Huang-ho Sam-kui mengeroyok setelah raksasa itu bersembunyi di guha Kilin.
Sementara itu, makanan yang dipesan dihidangkan oleh pelayan, akan tetapi sukar sekali bagi Gwat Kong untuk menelan nasi melalui kerongkongannya. Hatinya penuh kesedihan karena mengingat akan nasib Cui Giok. Terbayanglah semua pengalamannya ketika ia masih bersama-sama dengan gadis pendekar itu.
Teringatlah ia akan kata-kata nelayan tua yang menceritakan betapa Cui Giok merawat dan menjaganya sampai tiga malam tidak tidur dan hampir tidak makan ketika ia jatuh sakit.
Teringat akan hal ini semua, sambil menghela napas Gwat Kong menunda sumpitnya dan duduk termenung dengan wajah muram.