Pendekar Pemabuk Chapter 90

NIC

Sementara itu, Tin Eng sudah berhasil menolong wanita itu keluar guha. Akan tetapi oleh karena ia amat lemah sehingga tidak dapat turun gunung seorang diri, pula amat ketakutan setelah mengalami peristiwa hebat yang menimpa dirinya, terpaksalah Tin Eng mengantarnya turun dari puncak dan melepaskan di lereng, menyuruh perempuan itu pulang seorang diri.

Kemudian Tin Eng berlari naik lagi ke puncak untuk membantu kawan-kawannya.

Dengan datangnya Tin Eng maka kini Badasingh dikeroyok tujuh. Akan tetapi raksasa hitam ini makin marah melihat betapa korbannya ditolong Tin Eng. Maka sambil putar-putarkan rantai bajanya, ia berseru kepada Tin Eng,

“Kau melepaskannya? Baik, sekarang kaulah penggantinya!”

Setelah berkata demikian, dengan amat cepat dan nekad ia menyerbu ke depan tiba-tiba menyambar ke bawah dan tangan kirinya telah mencengkram beberapa potong batu karang campur debu yang segera dilontarkan ke arah pengeroyoknya. Kui Hwa dan kawan-kawannya terkejut sekali dan cepat mengelak sambil memutar senjata untuk menangkis sambitan itu.

Akan tetapi dengan gerakan yang luar biasa cepatnya dan tidak tersangka-sangka, Badasingh menggulingkan dirinya di atas tanah ke arah Tin Eng dan sebelum gadis itu dapat mengelak, ia telah dapat memegang kaki kiri Tin Eng dan menariknya ke bawah sehingga gadis itu terguling di atas tanah.

“Ha ha ha! Kau menjadi penggantinya!” seru Badasingh dengan liar sambil mengulurkan tangan hendak memeluk tubuh dara itu.

Bukan main terkejutnya Tin Eng mengalami bahaya ini dan Louw Tek yang berdiri terdekat dengan raksasa itu lalu mengayunkan dayungnya menghantam punggung Badasingh.

“Bukkk!!”

Alangkah terkejutnya hati Louw Tek ketika pukulannya itu seakan-akan mengenai karet saja dan dayungnya terpental kembali. Ternyata raksasa hitam itu amat lihai dan dapat mengerahkan tenaga dalam untuk menerima pukulan ini. Sungguhpun pukulan itu tidak mencelakakannya, akan tetapi tenaga Louw Tek cukup keras untuk membikin punggungnya terasa sakit, maka pegangannya pada kaki Tin Eng mengendur dan ia menggereng marah. Kesempatan ini dipergunakan oleh Tin Eng untuk membetot kakinya sehingga terlepas dan ia lalu melompat cepat ke belakang. Keringat dingin menitik turun dari jidat Tin Eng karena ia merasa terkejut, takut dan ngeri menghadapi lawan yang luar biasa tangguh dan kejamnya ini.

Kembali tujuh orang itu mengepung Badasingh. Raksasa hitam ini merasa kewalahan juga menghadapi tujuh orang pengeroyoknya yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi, maka ia lalu melompat ke belakang dan berlari. Pengeroyoknya mengejar dengan marah, akan tetapi raksasa itu lalu melompat masuk ke dalam guha Kilin yang gelap.

“Sam-wi Tay-ong, jangan memasuki guha itu!” Kui Hwa memperingatkan Huang-ho Sam- kui, karena ia takut kalau-kalau ketiga orang ini akan mengalami nasib seperti Cui Giok.

Tin Eng yang masih merasa gemas dan marah karena tadi hampir saja menderita malu dan celaka, segera mengeluarkan piauwnya dan ketika tangannya bergerak tiga batang piauw menyambar ke dalam guha yang gelap. Akan tetapi, hanya terdengar suara ketawa mengejek dari dalam guha dan tiba-tiba dari dalam guha itu melayang keluar batu-batu karang kecil, yang disambitkan dengan menggunakan tenaga luar biasa besarnya. Batu-batu itu menyambar ketujuh orang itu dengan kecepatan luar biasa sehingga mereka menjadi terkejut dan buru- buru melompat jauh.

“Tidak ada gunanya!” kata Kui Hwa. “Kedudukannya di dalam guha yang gelap itu amat menguntungkannya. Kita hanya dapat menyerang dengan ngawur karena tidak melihat di mana ia berada. Akan tetapi ia dapat melihat kita dengan mudah dan dapat menyerang lebih baik!”

Baru saja ia habis bicara, kembali melayang keluar banyak batu-batu karang bagaikan hujan lebat sehingga terpaksa ketujuh orang itu melarikan diri dari situ dan bersembunyi di balik batu-batu karang yang besar dan banyak terdapat di tempat itu.

“Bagaimana sekarang?” tanya Tin Eng dengan hati bingung dan cemas. Ia teringat akan nasib dara pendekar yang kini terjerumus ke dalam jurang. Bagaimanakah nasib pendekar wanita yang dulu menolong mereka itu? Sudah empat hari gadis itu terjerumus ke dalam jurang dan tidak diketahui bagaimana nasibnya, entah hidup entah mati. Tak terasa pula kembali airmata Tin Eng keluar ketika ia teringat akan nasib gadis yang menolongnya itu.

“Perempuan yang terculik sudah tertolong,” kata Louw Tek. “Untuk apa lagi kita berada lebih lama di tempat berbahaya ini? Badasingh benar-benar tangguh dan setelah kini ia bersembunyi di dalam guha, lebih baik kita pulang saja. Tanpa ada sebab yang penting kurasa tiada gunanya kita bermusuhan dengan seorang liar dan lihai seperti dia!”

Setelah berkata demikian, Louw Tek mengajak kedua adiknya pergi dari tempat itu. Kui Hwa dan kawan-kawannya hanya dapat menghaturkan terima kasih atas bantuan mereka. Tentu saja Kui Hwa tak dapat menceritakan tentang alasan mereka memusuhi Badasingh, karena dengan demikian berarti bahwa ia harus membuka rahasia tentang harta pusaka itu.

Berbahayalah menceritakan berita tentang adanya harta pusaka kepada orang-orang seperti Huang-ho Sam-kui yang menjadi kepala bajak dan hal ini hanya akan menambah jumlahnya musuh atau saingan saja. Dengan hati amat berat, keempat orang muda itupun turun dari Hong-san. Harapan mereka satu-satunya tinggal Gwat Kong dan mereka hanya bisa menanti kedatangan pendekar muda itu.

Ketika mereka turun dari Hong-san, tiba-tiba mereka melihat bayangan orang berkelebat, dan bukan main cemas hati mereka melihat bahwa bayangan itu bukan lain adalah hwesio muda yang selalu mengikuti mereka.

“Benar-benar bangsat gundul tak tahu malu!” Tin Eng memaki gemas. “Tentu semenjak tadi dia mengintai kita,” kata Kui Hwa.

“Melihat kita mengeroyok Badasingh tanpa keluar membantu, Hmmm, benar-benar hwesio itu bukan seorang baik-baik dan kita harus berhati-hati menghadapi dia. Siapa tahu dia mempunyai maksud buruk terhadap kita,” kata Pui Kiat.

“Akan tetapi, tanpa sebab tak perlu kita bentrok dengan dia. Kepandaiannya tinggi. Di perahu dulu, ia telah mendemonstrasikan ilmunya Jeng-kin-cui, sekarang ia mendemonstrasikan ginkangnya,” kata Pui Hok.

Memang hebat benar ilmu lari cepat hwesio itu. Empat orang muda itu hanya melihat bayangannya berkelebat dan sebentar saja lenyaplah hwesio itu. Kalau bukan empat orang itu yang melihatnya, orang lain bahkan takkan tahu siap adanya bayangan yang berkelebat bagaikan setan itu.

Terpaksa keempat orang muda itu menanti lagi, menanti datangnya Gwat Kong karena mereka tidak berdaya dan tidak tahu harus berbuat apa. Hwesio itu kadang-kadang kelihatan mendekati mereka tanpa mengeluarkan sepatah kata, hanya memandang ke arah Kui Hwa dan Tin Eng dengan pandang kurang ajar dan mulut menyeringai. Akan tetapi oleh karena dia tidak melakukan atau mengucapkan sesuatu, kedua orang dara itu pura-pura tidak melihatnya dan tidak mau meladeninya.

Diam-diam Tin Eng merasa heran, mengapa rombongan perwira kerajaan yang hendak mencari harta pusaka itupun belum nampak muncul di tempat itu. Hatinya makin gelisah. Mengapa Gwat Kong belum juga datang? Ia tidak tahu bahwa Gwat Kong harus pergi dahulu ke Hoasan dan kemudian sebagaimana dituturkan di bagian depan pemuda itu pulangnya mampir lagi ke Kiang-sui sehingga ia bertempur dengan Seng Le Hosiang.

****

Marilah kita menengok dulu keadaan Cui Giok, gadis yang malang itu. Apakah dia telah mati? Apakah ia tewas karena terjerumus ke dalam jurang yang amat dalam dan tidak kelihatan dasarnya itu?

Syukur sekali tidak demikian. Ketika dara perkasa itu melompat ke dalam guha Kilin untuk mengejar Badasingh, ia merasa kedua kakinya menginjak tempat kosong dan tak dapat dicegahnya lagi. Tubuhnya melayang turun ke tempat kosong yang amat gelap. Cui Giok mengerahkan ginkangnya dan juga segera menggunakan ilmu Pik-hu-hiat, menutup hawa dan melindungi jalan darahnya serta mengerahkan lweekangnya agar tubuhnya tidak terluka kalau tertumbuk batu karang.

Akan tetapi aneh sekali, ketika tubuhnya terbentur pada dinding sumur itu, ia merasa betapa dinding itu lembek dan empuk lagi basah, sedangkan tubuhnya terus melayang turun lama sekali. Makin lama makin cepat dan beberapa kali tubuhnya terbentur dinding, melayang- layang ke kanan kiri di tempat kosong. Kepalanya menjadi pening, pengerahan tenaganya makin mengurang dan akhirnya lenyap ketika tak dapat ditahannya lagi. Ia menjadi pingsan di waktu tubuhnya masih melayang-layang turun ke bawah. Kedua pedangnya juga terlepas dari genggaman dan melayang turun pula di tempat yang gelap itu.

Kalau ada orang yang melihat tubuh Cui Giok melayang jatuh sampai sekian lamanya di tempat yang demikian dalamnya, tentu ia takkan ragu-ragu lagi menyatakan bahwa gadis itu pasti akan tewas. Akan tetapi kenyataan tidak demikian, karena ketika tubuh Cui Giok dengan kerasnya terbanting ke dasar jurang atau sumur itu, tubuhnya tidak remuk dan gepeng, melainkan melesak ke bawah karena tanah di mana ia jatuh itu merupakan tanah lembek berlumpur.

Hanya sebuah kenyataan yang membuktikan bahwa Tuhan belum menghendaki tewasnya gadis itu, yakni bahwa kebetulan sekali jatuhnya dalam keadaan setengah berdiri sehingga yang masuk ke bawah lumpur hanya kaki dan tubuh bagian bawah. Kalau kepalanya yang masuk lebih dulu ke dalam lumpur, biarpun bantingan itu tidak menewaskannya, tentu gadis itu akan mati juga karena tak dapat bernapas.

Ada setengah hari gadis itu diam tak bergerak, tak sadarkan diri bagaikan sudah mati. Akan tetapi ia membuka matanya. Ia melihat bahwa ruang itu cukup terang, sungguhpun hanya suram-suram saja. Ia melihat bahwa dirinya terbenam separuh di dalam lumpur, maka dengan susah payah karena seluruh tubuhnya terasa sakit, ia merangkak keluar dari lumpur itu.

Ternyata bahwa ruang itu amat luas dan di kanan kiri terdapat tanah keras yang berdinding batu karang yang mengeluarkan cahaya terang.

Cui Giok merangkak dan duduk di atas tanah keras. Tubuhnya yang terasa sakit-sakit itu menandakan bahwa ia mendapat luka-luka di dalam tubuh karena bantingan dari tempat tinggi itu. Maka dengan tangan gemetar, ia lalu mencari bungkusan dan sepasang pedangnya di tempat tak jauh dari situ, untungnya tidak jatuh di dalam lumpur pula.

Jari-jari tangannya menggigil ketika ia membuka bungkusan pakaiannya. Ia teringat akan obat-obat yang diberikan kepadanya oleh Lo Han Cinjin. Tangkai daun merah itu masih ada, bahkan tidak layu, satu hal yang benar-benar luar biasa. Maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu memetik sehelai daun dan makan daun itu yang rasanya asam sekali.

Benar-benar manjur daun itu, karena tak lama kemudian ia merasa tubunya segar dan rasa sakit-sakit itu lenyap. Mulailah Cui Giok memperhatikan keadaan di sekitarnya. Ketika ia memandang ke atas, ia melihat betapa sinar terang masuk bagaikan benang-benang emas, akan tetapi sinar itu tertutup oleh awan putih yang bergerak-gerak. Itulah embun atau halimun yang memenuhi sumur itu.

Anehnya dari atas mengalir masuk angin sejuk yang membuat dasar sumur itu mempunyai hawa udara yang bersih dan segar. Dasar itu merupakan guha yang amat luas, semacam bilik terkurung batu-batu karang yang bersinar-sinar. Cui Giok mulai memeriksa ke sekeliling ruangan itu dan mencari jalan keluar. Akan tetapi hatinya bagaikan disayat pisau ketika ia mendapat kenyataan betapa tempat ini merupakan kurungan baginya untuk selama hidupnya. Tidak ada terowongan atau jalan keluar sama sekali dan memanjat ke atas merupakan sebuah ketidak mungkinan yang tak dapat dibantah lagi. Batu-batu karang itu selain tajam, juga amat licin, maka tak dapat dipanjat. Sedangkan dinding pada tempat ia jatuh, terdiri dari tanah lembek yang lebih sukar lagi untuk digunakan sebagai jalan keluar.

Ia memandang lagi ke atas ke arah sinar-sinar itu lalu berteriak memanggil sambil mengerahkan seluruh khikangnya. Akan tetapi, ketika suaranya kembali lagi ke bawah meninggalkan gema suara yang amat menyeramkan dan aneh.

Cui Giok menjadi putus asa dan tak terasa lagi ia menjatuhkan diri di atas tanah yang berpasir lalu menangis.

“Ibu ..... ibu, bagaimana jadinya dengan anakmu ini ?” ia menangis sambil menjambak-

jambak rambutnya. “Apakah aku harus tinggal di tempat ini sampai mati?”

Sampai lama Cui Giok menangis sambil berlutut di atas tanah. Akan tetapi siapakah yang akan dapat mendengar semua ratapannya? Sampai kering air matanya ditumpahkan. Sampai parau suaranya karena banyak meratap tangis. Akhirnya timbullah semangat kegagahannya. Ia duduk dan menetapkan hatinya. Sudah jelas bahwa ia harus mati di tempat ini, karena siapakah yang dapat menolongnya? Pada saat bahaya maut berada di depan mata terbayanglah semua peristiwa yang pernah dialami selama hidupnya.

Posting Komentar