“Badasingh ...!!” seru Kui Hwa dan kawan-kawannya.
Ternyata bahwa yang menculik wanita muda itu benar-benar adalah raksasa hitam di puncak Hong-san itu. Sedangkan keempat pendekar muda itu sendiri tak berdaya menghadapi Badasingh, apalagi penduduk kota itu. Mereka hanya dapat berteriak-teriak, akan tetapi gerakan Badasingh yang amat cepat itu hampir tak terlihat oleh mata mereka. Mereka hanya melihat bayangan hitam berkelebat cepat dan mendengar jerit tangis wanita yang terculik itu.
“Celaka! Si bedebah itu telah berani turun gunung untuk menculik wanita!” kata Pui Kiat. “Apa yang kita harus lakukan?” tanya Pui Hok dengan muka pucat.
“Kejar dia dan tolong wanita itu!” Tin Eng dan Kui Hwa berkata berbareng sambil mencabut senjata masing-masing.
Akan tetapi, Pui Kiat menggelengkan kepala. “Dia bukan lawan kita, akan sia-sia saja. Wanita itu tidak akan tertolong, bahkan kita sama dengan mengantar nyawa!” “Habis apakah kita harus diam berpeluk tangan saja melihat kejahatan ini?” kata Tin Eng dengan penasaran.
Tiba-tiba Kui Hwa teringat akan sesuatu dan berkata, “Ah, mengapa aku begitu bodoh? Menanti kedatangan Kang-lam Ciu-hiap belum tentu kapan? Dan kalau didiamkan saja, kasihan nasib wanita itu. Mengapa kita tidak minta pertolongan Huang-ho Sam-kui? Mereka cukup gagah dan dengan tenaga kita ditambah lagi dengan mereka bertiga, mustahil kita takkan dapat binasakan siluman itu, menolong wanita tadi!”
Kawan-kawannya teringat pula akan hal ini. Mengapa tidak Huang-ho Sam-kui? Sungguhpun kepala-kepala bajak, akan tetapi telah mereka kenal baik setelah mereka bertempur. Dan agaknya kalau mereka datang minta pertolongan mereka takkan menolak.
Diam-diam dengan cepat mereka berempat lalu berlari menuju ke hutan yang dijadikan sarang para bajak itu.
Kedatangan mereka disambut oleh para bajak dengan penuh kecurigaan. Mereka itu masih teringat kepada empat orang muda yang dahulu pernah mengamuk. Akan tetapi dengan cepat Kui Hwa berkata,
“Kami ingin bertemu dengan pemimpin-pemimpinmu. Di manakah adanya Huang-ho Sam- kui? Beritahukan bahwa kami datang untuk sesuatu yang amat penting.
Para bajak itu memberi laporan dan tak lama kemudian muncullah tiga orang kepala bajak itu. Huang-ho Sam-kui yang gagah, dan tidak ketinggalan mereka membawa senjata dayung mereka yang lihai.
Melihat kedatangan empat orang muda ini, mereka bertiga menjura dan Louw Tek yang tertua berkata,
“Saudara-saudara yang gagah mengunjungi tempat kami, ada maksud apakah?”
“Sam-wi Tay-ong,” kata Kui Hwa dengan cepat. “Kami datang untuk minta pertolongan dari sam-wi yang gagah perkasa. Baru saja terjadi hal yang membutuhkan pertolongan kita, dan karena kami berempat merasa tidak kuat menghadapi lawan yang amat tangguh, maka sengaja datang mohon bantuan.”
Dengan singkat ia lalu menceritakan tentang penculikan wanita yang dilakukan oleh Badasingh itu. Mendengar ini, ketiga bajak sungai itu saling pandang dengan muka berobah.
“Jadi siluman barat itu kini berada di puncak Hong-san?” “Sam-wi sudah mengenal siluman itu?”
“Siapa yang tidak mengenal Badasingh, siluman hitam dari barat yang amat jahat dan lihai itu? Beberapa tahun yang lalu, pernah ia membuat geger di daerah ini dan tak seorangpun dapat melawannya karena ia memang amat lihai.
“Kalau begitu tentu Sam-wi suka membantu kami untuk menggempur dan membinasakannya,” kata Kui Hwa. Louw Tek mengangguk-angguk. “Memang semenjak mendengar namanya, kami bertiga ingin sekali bertemu dengan siluman itu dan membunuhnya. Akan tetapi telah bertahun-tahun ia tidak muncul, agaknya kembali ke barat. Sekarang setelah ia muncul kembali, sudah tentu kami akan berusaha membunuh atau mengusirnya. Apalagi mendapat bantuan saudara- saudara berempat yang gagah.”
“Kalau begitu mari kita berangkat!” seru Tin Eng. “Kasihan wanita itu!”
Untuk mempercepat perjalanan, Huang-ho Sam-kui mengajak empat orang muda itu untuk menggunakan sebuah perahu besar. Dengan lajunya perahu itu meluncur menuju ke Hong- san. Setelah tiba di kaki bukit itu, mereka mendarat dan segera berlari-lari ke atas bukit.
Mereka tidak melihat raksasa hitam itu di depan guha Kilin dan selagi mereka menduga-duga, tiba-tiba terdengar jeritan seorang wanita dari sebuah guha di dekat guha Kilin. Cepat-cepat mereka lalu berlari memburu ke tempat itu.
Dengan penerangan cahaya matahari yang menyinari guha itu, mereka dapat melihat betapa wanita yang terculik tadi meringkuk di sudut guha dalam keadaan ketakutan bagaikan seekor kelinci yang tersasar memasuki lobang harimau. Sedangkan si raksasa hitam sambil tertawa- tawa girang duduk memandang wanita itu dan tangan kanannya memegang seguci arak yang tadi dirampoknya dari kota bersama dengan wanita muda itu.
“Badasingh, siluman jahat! Keluarlah untuk menerima binasa!” Kui Hwa berseru keras sambil mengacung-ngacungkan pedangnya.
Melihat kedatangan orang-orang yang mengganggu kesenangannya itu, Badasingh mengeluarkan gerengan marah dan keluarlah ia sambil menyeret rantai bajanya.
“Tin Eng, kaulah yang bertugas menolong wanita itu apabila siluman itu telah bertempur dengan kami dan bawa wanita itu keluar guha dan suruh dia turun gunung lebih dulu,” Kui Hwa berbisik.
Badasingh benar-benar marah ketika melihat bahwa di antara tujuh orang yang datang itu, yang empat adalah orang-orang yang dulu pernah dikalahkannya. Ia tertawa bergelak dan berkata kepada Kui Hwa,
“Apakah kau datang hendak menemani aku? Bagus, bagus!”
“Bangsat rendah!” Kui Hwa memaki marah dan segera memberi tanda kepada kawannya yang menyerang maju berbareng.
“Kalian mencari mampus!” Badasingh membentak keras dan menggerakkan rantai bajanya bagaikan kitiran.
Kui Hwa, Pui Kiat, Pui Hok dan ketiga Huang-ho Sam-kui lalu menyambutnya, sedangkan Tin Eng segera melompat masuk ke dalam guha untuk menolong wanita itu. Melihat hal ini, Badasingh berseru keras dan hendak mengejar. Akan tetapi keenam orang lawannya menggerakkan senjata dan menghalanginya mengejar Tin Eng. Bukan main marahnya Badasingh dan segera mainkan rantainya makin cepat dan keras pula sehingga enam orang pengeroyoknya terpaksa berlaku amat hati-hati. Huang-ho Sam-kui dengan berbareng memukulkan dayungnya yang besar. Akan tetapi dengan mudah saja tiga dayung itu ditangkis oleh rantai baja sehingga terdengar suara keras dan bunga-bunga api beterbangan ke atas.
Dayung dari Huang-ho Sam-kui itu bukanlah dayung biasa terbuat daripada kayu, akan tetapi adalah dayung istimewa yang terbuat dari baja tulen. Karena memang bukan dayung yang dibuat untuk keperluan mendayung perahu, akan tetapi khusus untuk senjata mereka.
Pertempuran berjalan amat serunya dan biarpun dikeroyok enam orang yang kepandaiannya tidak rendah, namun Badasingh dapat mempertahankan diri dengan baik. Bahkan ia dapat membalas dengan serangan-serangan yang sekali saja mengenai tubuh lawan tentu akan mendatangkan bahaya maut.