“Lebih baik kita menanti saja di sini sampai datangnya Kang-lam Ciu-hiap,” kata Pui Kiat. “Ku rasa betapapun juga dia tentu akan datang di sini!”
Karena tidak mendapat jalan lain, kawan-kawannya menyatakan setuju dan untuk menghibur hati mereka yang ruwet, mereka menuju ke kota Thay-liok-kwan tak jauh dari situ. Kota ini letaknya di tepi pantai sungai dan menjadi pusat keramaian yang cukup menarik. Di tepi-tepi sungai terdapat perahu-perahu besar yang dipergunakan untuk orang berpelesir di sepanjang tepi sungai, bahkan ada beberapa perahu besar yang dipergunakan sebagai restoran dimana orang dapat naik perahu sambil memesan makanan.
Ketika empat orang muda itu sedang berjalan-jalan di dekat sungai sambil melihat-lihat perahu yang dicat indah, tiba-tiba terdengar seruan orang,
“Omitohud, alangkah cantik-cantiknya!”
Mereka segera menengok ke belakang dan melihat seorang hwesio muda yang kepalanya gundul sedang memandang kepada Tin Eng dan Kui Hwa dengan mata yang kurang ajar dan mulut menyeringai. Tin Eng dan Kui Hwa hendak marah, akan tetapi Pui Kiat mengedipkan mata mencegah mereka mencari keributan di tempat itu. Dengan hati sebal mereka lalu naik ke perahu restoran mengambil tempat duduk dan memesan makanan.
Akan tetapi, baru saja makanan yang mereka pesan itu dikeluarkan, tiba-tiba perahu itu menjadi miring dan para pelayan berteriak-teriak bingung. Ketika keempat orang muda itu memandang keluar, ternyata hwesio kurang ajar itu dan sungguh mengherankan karena biarpun tubuhnya tidak berapa besar dan ia berjalan dengan perlahan namun perahu itu miring dan bergoyang-goyang seakan-akan ada seekor gajah yang berjalan di situ.
Diam-diam keempat orang muda itu terkejut sekali. Terang sekali bahwa hwesio itu mendemonstrasikan ilmu Jian-kin-cui (tenaga seribu kati) untuk membuat tubuhnya menjadi berat. Akan tetapi, empat orang muda itu maklum bahwa kalau tidak mempunyai ilmu tinggi, tak mungkin dapat membuat perahu besar menjadi miring dan bergoyang-goyang.
Sambil tertawa-tawa hwesio itu sengaja memilih meja di dekat empat orang muda itu dan duduk dengan mulut menyeringai dan lagak sombong lalu pesan makanan dan arak kepada pelayan. Tentu saja keempat orang muda itu merasa sebal dan mendongkol sekali.
Akan tetapi oleh karena hwesio itu tidak melakukan sesuatu, mereka tidak mempunyai alasan untuk menyatakan kedongkolan hati. Apalagi mereka maklum bahwa hwesio itu berkepandaian tinggi, maka lebih baik tidak mencari permusuhan dengan hwesio yang aneh ini.
Hwesio ini bukan lain ialah Tong Kak Hwesio, murid dari Lo Han Cinjin tokoh Kun-lun-pai itu, dan hwesio inilah yang pernah bertempur dan dikalahkan oleh Cui Giok. Ia pernah menjadi murid tersayang dari Lo Han Cinjin dan mempelajari ilmu silat Kun-lun-pai yang tinggi. Akan tetapi karena pada suatu hari ia mengganggu gadis kampung, ia mendapat marah besar dari suhunya dan kemudian diusir dan tidak diakui lagi menjadi murid kakek sakti itu.
Di dalam perantauannya, Tong Kak Hwesio bertemu dengan Liok-taijinpm dan menjadi sahabat baik dari Ang-sun-tek. Karena tahu bahwa hwesio ini selain mata keranjang juga mata duitan serta memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka Ang-sun-tek lalu mempergunakan tenaganya dan ketika ia sedang berusaha mencari tahu tentang rahasia peta harta terpendam di Hong-san itu, dari Tin Eng dengan perantara Liok-taijin.
Ia lalu minta pertolongan Tong Kak Hwesio untuk berangkat terlebih dahulu ke Hong-san dan menyelidiki keadaan murid-murid Hoa-san-paiyang telah berangkat ke tempat itu. Ang-sun- tek khawatir kalau-kalau murid-murid Hoasan itu mendahului mendapatkan harta itu.
Demikianlah, pada hari itu Tong Kak Hwesio bertemu dengan bekas suhunya bersama murid kecil suhunya itu yang hendak diganggunya sehingga ia bertempur dengan Cui Giok. Setelah ia dikalahkan, ia berlari cepat menuju ke Hong-san. Ia mencari-cari di sekeliling tempat itu. Akan tetapi ia tidak melihat murid-murid Hoa-san-pai, oleh karena pada waktu itu, Kui Hwa dan kawan-kawannya sedang bertempur melawan Badasingh di puncak Hong-san. Setelah Cui Giok terjerumus ke dalam jurang dan keempat orang muda itu turun gunung, barulah Tong Kak Hwesio melihat mereka sehingga ia menjadi girang sekali.
Tong Kak Hwesio memang mata keranjang dan mempunyai watak yang amat sombong dan mengagulkan kepandaiannya sendiri. Maka begitu melihat empat orang muda itu ia lalu mendekati mereka dengan terang-terangan. Kui Hwa dan kawan-kawannya tidak mau meladeninya, hanya makan dengan diam-diam saja dan cepat-cepat.
Setelah selesai mereka tanpa banyak cakap lalu meninggalkan perahu itu dan turun ke darat. Agaknya Tong Kak Hwesio maklum bahwa mereka merasa mendongkol kepadanya maka ia hanya makan minum sambil tertawa-tawa. Ia tidak mau turun tangan, oleh karena Ang-sun- tek hanya pesan agar supaya mengikuti dan menyelidiki keadaan mereka dan jangan mengganggu mereka sebelum melihat bahwa mereka telah mendapatkan harta pusaka itu. Kui Hwa, Tin Eng dan kedua saudara Pui itu berjalan-jalan dengan hati rusuh dan bingung. Gwat Kong yang ditunggu-tunggu belum juga datang. Dalam kesempatan ini, Kui Hwa bertanya tentang Gwat Kong kepada Tin Eng yang segera menceritakan riwayat Gwat Kong.
“Enci Kui Hwa, harap kau jangan kaget mendengar siapa adanya Gwat Kong itu. Karena ia telah bercakap-cakap dengan aku tentang dirimu dan berbeda dengan kebiasaan umum, pemuda itu sama sekali tidak mengandung hati dendam kepadamu.”
Kui Hwa terkejut sekali dan memandang kepada kawannya dengan alis berkerut. “Apa maksudmu, adik Tin Eng?”
“Enci Hwa, bukankah kau puteri tunggal dari mendiang Tan-wangwe yang tinggal di Lam- hwat?”
Kui Hwa mengangguk dengan heran. “Bagaimana kau bisa tahu tentang mendiang ayahku?”
“Gwat Kong yang menceritakannya kepadaku. Kau kenal atau pernah mendengar pembesar di Lam-hwat itu yang bernama Bun-tihu? Tentu kau tahu pula akan permusuhan yang terjadi antara ayahmu dengan Bun-tihu?”
Kui Hwa menghela napas panjang. “Aku tidak tahu jelas. Memang aku tahu bahwa mendiang ayahku pernah melakukan sesuatu dosa terhadap Bun-tihu, karena sebelum meninggal dunia, ayah seringkali menyebut-nyebut nama Bun-tihu. Akan tetapi entah dosa apa yang diperbuatnya. Hanya setelah ayah menutup mata, beberapa kali ada orang datang menyerang rumah ayah dan mereka itu semua terpaksa ku lawan dan aku usir. Memang aku selalu masih memikirkan mengapa ayah dimusuhi orang-orang kang-ouw, sedangkan ibu juga tidak memberi keterangan sesuatu. Ada hubungan apakah hal ini dengan diri Gwat Kong?”
Tin Eng mengangguk-angguk. “Kalau begitu, kau sama sekali belum tahu tentang peristiwa itu, cici. Karena kita sudah menjadi kawan baik, maka tiada salahnya kalau aku menuturkannya kepadamu. Akan tetapi harap kau jangan salah duga, karena aku sependapat dengan Gwat Kong, yaitu bahwa perbuatan-perbuatan orang tua tiada sangkut pautnya dengan keturunannya.”
Kui Hwa mendengarkan dengan wajah berubah agak pucat. “Ceritakanlah, adikku.”
“Menurut penuturan yang kudengar, ayahmu dahulu adalah seorang hartawan besar dan pada suatu hari, ayahmu berurusan dengan para petani karena berebut tanah. Yang menjadi tihu ketika itu adalah Bun-tihu dan di dalam pemeriksaan pengadilan akhirnya Bun-tihu menangkan para petani itu. Ayahmu di denda dan tanah yang diperebutkan itu harus diberikan kepada para petani.
Hal ini agaknya membuat ayahmu marah sekali. Tak lama kemudian serombongan pencuri mengganggu Lam-hwat dan mereka ini bahkan berani mencuri cap kebesaran dari pembesar tinggi. Seorang di antaranya tertangkap. Dalam pengakuannya ia menyatakan bahwa pemimpin rombongan pencuri itu adalah Bun-tihu itulah. Sebagai buktinya, di dalam
kamar Bun-tihu itu, ketika dilakukan penggeledahan, ditemukan cap kebesaran yang tercuri itu. Kui Hwa mendengarkan dengan mata terbelalak.
“Dan kau bilang bahwa semua itu adalah tipu muslihat mendiang ayahku?” tanyanya dengan bibir gemetar.
“Sabar, cici! Aku sih tidak bisa berkata apa-apa, karena ketika hal itu terjadi, aku mungkin masih orok dan berada di pangkuan ibuku. Sekarang baik kulanjutkan cerita ini. Bun-tihu ditangkap dan harta bendanya dirampas. Karena merasa malu atas peristiwa ini, Bun-tihu lalu membunuh diri dalam tahanan!”
“Kasihan!” kata Kui Hwa. “Ia mati dalam penasaran kalau memang betul ia tidak melakukan kejahatan itu.”
“Semua penduduk Lam-hwat menyintai Bun-tihu dan tahu bahwa selama menjadi pembesar, Bun-tihu terkenal adil. Maka biarpun ada pengakuan maling itu, hampir semua orang tidak dapat percaya akan hal itu,” kata Tin Eng.
“Setelah Bun-tihu membunuh diri, maka isterinya yang sudah jatuh miskin, lalu pergi bersama seorang puteranya, mengembara dan hidup sengsara sampai tiba masanya ia meninggalkan dalam keadaan amat menderita.”
“Aduh, benar-benar kasihan nasibnya. Kalau memang ayah yang melakukan fitnah, amat besar dosa yang diperbuat oleh mendiang ayah!” kata Kui Hwa dengan terharu.
“Nah, demikianlah ceritanya. Dan tentu kau dapat menduga, bahwa putera Bun-tihu itu bukan lain ialah Bun Gwat Kong sendiri yang semenjak kecil hidup terlunta-lunta sebagai anak yatim piatu. Kemudian ia menjadi pelayan dari ayah. Kami menganggap ia seorang pelayan biasa dan aku ... aku bahkan memperlakukan secara sewenang-wenang. Siapa tahu bahwa dia adalah pendekar perkasa yang berilmu tinggi!”
Menutur sampai di sini, tiba-tiba Tin Eng menjadi terharu karena teringat akan kasih sayang pelayan itu kepadanya. Ia menggunakan sapu tangannya untuk mencegah runtuhnya dua butir air mata.
Kui Hwa menarik napas panjang berulang-ulang.
“Dan dia tidak menaruh hati dendam kepadaku?” tanyanya. Guha
TIN Eng menggelengkan kepala. “Dia sudah bicara dengan aku tentang hal ini. Memang tadinya mendendam kepada ayahmu, bahkan sudah mencari ke Lam-hwat untuk membalas dendam. Akan tetapi ia mendengar bahwa ayahmu telah meninggal dunia maka ia menghabiskan urusan itu sampai di situ saja dan biarpun ia ingin bertemu dengan kau untuk menguji kepandaian, akan tetapi ia sama sekali tidak merasa sakit hati kepadamu.”
“Biarlah, biar dia mendendam kepadaku. Biar kalau dia datang nanti, kami bertempur untuk menentukan kemenangan. Aku tidak menyesal mati di ujung pedangnya kalau memang ayah bersalah!” Tin Eng memegang tangan Kui Hwa. “Cici, jangan kau berkata demikian. Apakah kau hendak memperbesar dosa yang telah dilakukan oleh mendiang ayahmu? Gwat Kong tidak mendendam kepadamu. Apakah kau bahkan hendak memusuhinya, setelah ayahmu mencelakakan ayahnya?”
Kui Hwa berdiri dengan muka pucat. “Tin Eng ...!! Benar-benarkah ayah melakukan fitnahan keji itu?”
Tin Eng menghela napas. “Apa yang harus kukatakan? Itu memang kenyataan, cici Hwa. Hampir semua penduduk Lam-hwat mengetahui hal itu. Ayahmu telah menyewa penjahat- penjahat untuk memfitnah Bun-tihu. Akan tetapi, sudahlah. Tidak baik membicarakan kesalahan orang yang telah meninggal. Apalagi kalau orang itu, ayahmu sendiri.”
Kui Hwa berdiri bagaikan patung, dadanya turun naik dan kedua matanya basah, “Ayah ..... kau yang berdosa .... aku, anakmu yang terhukum ...,” bisiknya perlahan.
Tin Eng memeluknya dan kedua orang gadis itu sama-sama mengeluarkan air mata. Tin Eng maklum bahwa yang dimaksudkan oleh Kui Hwa adalah peristiwa yang menimpa dirinya karena perbuatan Gan Bu Gi. Sungguhpun ia belum tahu dengan jelas apakah yang terjadi antara kedua orang itu.
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan orang dan keadaan menjadi amat ribut. “Penculik .....!!! Tangkap ... tangkap ..!!”
Orang-orang berlari-lari membawa senjata dan ketika Kui Hwa dan Tin Eng menengok dan berlari ke tempat itu, diikuti oleh Pui Kiat dan Pui Hok yang juga telah mendengar suara ribut-ribut itu. Mereka berempat melihat bayangan hitam yang amat tinggi besar berlari memanggul seorang wanita muda yang menjerit-jerit