Pendekar Pemabuk Chapter 87

NIC

“Siluman jahanam!” bentak Tin Eng dengan marah sekali. Hampir berbareng keempat orang muda itu mencabut pedang masing-masing dan menyerang dengan berbareng.

Akan tetapi keempatnya terpaksa harus meloncat mundur lagi karena sambil berseru keras, Badasingh memutar rantainya yang berat dan panjang itu sehingga merupakan segulungan sinar hitam menyambar di sekeliling tubuhnya. Empat orang muda itu tidak berani beradu senjata karena takut kalau pedang mereka akan rusak, maka mereka ini hanya mengandalkan kelincahan mereka untuk memasuki lowongan antara sambaran rantai baja. Namun kepandaian Badasingh benar-benar luar biasa, terutama sekali tenaganya yang hebat.

Ia melayani empat orang lawannya sambil mengeluarkan seruan-seruan liar bagaikan suara seekor beruang mengamuk. Kedua matanya terbelalak lebar, mulutnya menyeringai dan tangan kirinya yang tidak memegang senjata itu tidak tinggal diam, akan tetapi melakukan serangan-serangan mencengkeram dengan jari-jari tangannya yang panjang berbulu dan kukunya yang panjang dan tebal.

Badasingh benar-benar hebat. Biarpun yang mengeroyoknya adalah empat orang muda yang kepandaiannya telah cukup tinggi, namun ia tidak menjadi sibuk bahkan dapat mendesak dengan senjata rantai bajanya. Berkali-kali empat orang muda itu terpaksa harus melompat tinggi dan menjauhkan diri dari sambaran rantai yang besar dan berat itu, dan sukarlah bagi mereka untuk mendekati atau menyerang si raksasa. Sebaliknya, Badasingh juga merasa penasaran. Jarang ada orang yang kuat menghadapinya sampai puluhan jurus, maka tiba-tiba ia berseru keras dan dengan langkah lebar ia mendesak terus kepada Kui Hwa dan Tin Eng sehingga kedua nona itu menangkis pedang mereka terpental dan terlepas dari pegangan.

Sebelum hilang rasa kaget mereka, lengan kiri Badasingh telah terulur maju dan Kui Hwa kena ditangkap pundaknya. Saking kaget dan takutnya, Kui Hwa sampai menjadi lemas dan dengan gerakan luar biasa sekali, jari tangan Badasingh menotok dan menekan jalan darah gadis itu pada pundaknya sehingga tubuh Kui Hwa seakan-akan menjadi lumpuh.

Badasingh melepaskan Kui Hwa dan kini ia mengulurkan tangan hendak menangkap Tin Eng. Gadis ini tak mau menyerah begitu saja dan mengirim pukulan ke arah lengan yang terulur hendak menangkapnya. Akan tetapi jari tangan Badasingh yang panjang-panjang itu bergerak ke bawah dan tertangkaplah lengan Tin Eng.

“Ha ha ha! Kalian berdua nona manis harus menjadi penghiburku dan mengawani aku di tempat ini. Ha ha ha!” Juga Tin Eng dibikin tak berdaya oleh totokannya yang lihai.

Pui Kiat dan Pui Hok terkejut sekali dan mereka berlaku nekad. Dengan marah mereka maju menyerang lagi, akan tetapi agaknya mereka itu hanya hendak mencari kematiannya sendiri karena sebentar saja rantai baja yang hebat itu telah bergerak-gerak mengancam mereka.

Pada saat terjadinya pertempuran dan tertangkapnya Tin Eng dan Kui Hwa, datanglah Cui Giok. Dara perkasa ini dari jauh sudah mendengar gerakan-gerakan aneh dari mulut Badasingh dan mendengar pula suara senjata beradu, maka ia mempercepat larinya bagaikan terbang menuju ke arah suara itu.

Ketika ia tiba di situ, ia terkejut sekali melihat betapa dua nona muda telah tertangkap dan kini duduk di atas tanah dalam keadaan tertotok dan tidak berdaya sama sekali. Sedangkan dua orang pemuda sedang mengeroyok seorang raksasa hitam yang dahsyat dan mengerikan.

Sekali pandang saja, tahulah Cui Giok bahwa dua orang itu tentulah Pui Kiat dan Pui Hok. Akan tetapi ia merasa heran juga melihat adanya dua orang gadis di situ. Yang manakah gerangan yang bernama Kui Hwa? Akan tetapi ia tidak mau pusingkan semua itu karena ia melihat betapa kedua orang muda itu telah terdesak hebat dan keselamatan mereka terancam bahaya maut. Ia segera mencabut sepasang pedangnya dan melompat dengan gerakan Walet Hitam Keluar Dari Sarangnya, dan membentak,

“Siluman hitam, lihat pedang!”

Begitu tubuhnya tiba di depan Badasingh, ia lalu menyerang dengan kedua pedangnya ke arah kedua pundak raksasa itu. Badasingh melihat dua sinar cemerlang menyambar ke arah pundaknya menjadi terkejut sekali dan cepat berjumpalitan ke belakang sambil memandang. Alangkah girangnya melihat seorang gadis yang cantik jelita berdiri di depannya.

“Ha ha ha! Datang seorang lagi! Ha ha ha, bagus! Yang ini lebih hebat lagi, ha ha! Sekarang ada tiga! Cukuplah untukku!”

Sementara itu, Cui Giok bertanya kepada Pui Kiat dan Pui Hok, “Apakah jiwi yang bernama Pui Kiat dan Pui Hok?”

“Benar, nona,” jawab Pui Kiat sambil memandang heran. “Nona siapakah?”

“Aku datang mewakili Gwat Kong!” kata Cui Giok dan tubuhnya melayang ke arah Kui Hwa dan Tin Eng. Dua kali tepukan saja ia sudah membikin dua orang gadis itu pulih kembali jalan darahnya. Kui Hwa memandang kagum sedangkan Tin Eng memandang dengan heran.

Siapakah gadis ini yang menyebut nama Gwat Kong begitu saja?

Akan tetapi mereka tidak mempunyai kesempatan untuk banyak bicara. Karena pada saat itu, Badasingh yang merasa marah melihat Cui Giok membebaskan dua orang korbannya, telah datang untuk menangkap Cui Giok.

“Kalian berempat minggirlah, biarlah aku menghadapi siluman ini!”

Sambil berkata demikian, Cui Giok menyambut kedatangan Badasingh dengan sepasang pedangnya digerakan membuat penyerangan yang hebat dan berbahaya. Badasingh hanya menyeret rantainya karena tadinya ia hendak menawan hidup-hidup gadis cantik jelita ini. Akan tetapi ketika sepasang pedang itu menyerang dengan gerakan berlawanan yang aneh sekali, ia mengelak dan tetap saja ujung pedang di tangan Cui Giok berhasil menyerempet pundaknya.

Badasingh memekik keras dan mengeluarkan suara aneh, agaknya ia memaki-maki dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh Cui Giok dan kawan-kawannya dan melihat darah mengalir membasahi baju di bagian pundaknya. Badasingh menjadi marah sekali. Sambil mengeluarkan seruan-seruan keras, ia memutar-mutar rantai bajanya dan menyerang Cui Giok dengan hebatnya bagaikan serangan air hujan dari atas.

Kalau Badasingh mengira akan dapat mengalahkan gadis yang baru datang ini dengan serangan-serangannya yang mengandalkan tenaga besar dan kecepatan, ia kecele. Dara perkasa ini kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada keempat orang muda tadi dan gerakan sepasang pedangnya masih melebihi kecepatan rantai bajanya.

Cui Giok yang memiliki ilmu pedang Im-yang Siang-kiam-hoat dan berotak cerdik itu maklum bahwa kalau ia merasa gentar dan bertempur sambil menjauhkan diri maka tak mungkin akan dapat menang. Karena senjata lawannya yang panjang dan berat itu lebih menguntungkan pihak lawan. Oleh karena itu, ia mengandalkan ginkangnya dan sikap kedua pedangnya yang berdasarkan Im dan Yang yakni tenaga lemas dan kasar. Ia mendesak maju dan mengajak bertempur dari jarak dekat.

Tentu saja cara bertempur menghadapi seorang raksasa mengerikan seperti Badasingh dari jarak dekat membutuhkan ketabahan besar. Karena demikian berat dan cepatnya gerakan rantai itu sehingga angin pukulannya terdengar bersiutan memenuhi telinga dan angin itu membuat pakaian Cui Giok berkibar-kibar bagaikan tertiup angin badai.

Namun Cui Giok berlaku tabah dan ketika kedua pedangnya digerakkan dengan cepat dan sinar pedangnya bergulung-gulung dan menyelinap di antara sambaran rantai sehingga tubuhnya lenyap sama sekali terbungkus oleh gulungan sinar itu. Kalau Badasingh menjadi terkejut setengah mati melihat cara bertempur gadis yang lihai ini, adalah Kui Hwa, Tin Eng, Pui Kiat dan Pui Hok berdiri dengan bengong dan penuh kekaguman. Bagi Tin Eng dan dan kedua saudara Pui, mereka sudah menyaksikan kelihaian Kang-lam Ciu-hiap Gwat Kong dan merasa amat kagum. Akan tetapi agaknya gadis yang baru datang yang mengaku mewakili Gwat Kong ini, agaknya tidak kalah lihainya daripada Gwat Kong sendiri. Adapun Kui Hwa juga merasa kagum karena selama hidupnya belum pernah ia menyaksikan permainan pedang sehebat itu.

Tadinya keempat orang muda ini hendak membantu bahkan Kui Hwa dan Tin Eng sudah mengambil pedang mereka yang tadi terpental dan terlepas dari tangan. Akan tetapi mereka masih ragu-ragu karena larangan Cui Giok. Kini mereka tidak merasa ragu-ragu lagi akan kelihaian nona penolong itu dan mereka menonton dengan penuh harapan dan kekaguman.

Lambat akan tetapi pasti, Cui Giok mendesak lawannya dan kini seruan-seruan yang keluar dari mulut Badasingh adalah seruan-seruan kaget bercampur marah. Ia hanya dapat memutar rantai melindungi dirinya sambil mundur, akan tetapi masih saja ujung pedang Cui Giok berhasil melukai lengan kiri dan kulit lehernya.

Cui Giok makin bersemangat. Ia benci kepada raksasa hitam ini karena tadi melihat dengan jelas betapa raksasa hitam ini bermaksud keji terhadap dua orang gadis itu, dan hal ini memang amat dibenci oleh Cui Giok. Dengan dada penuh nafsu membunuh, ia terus mendesak dan menindih senjata lawan tanpa memberi kesempatan sama sekali kepada raksasa itu untuk balas menyerang atau melarikan diri.

Badasingh bingung sekali. Ia mundur terus dan kini ia telah mendekati guha Kilin di dalam mana terdapat jurang yang mengerikan dan gelap itu. Tiba-tiba Badasingh yang sudah tak tahan lagi menghadapi desakan sepasang pedang di tangan Cui Giok, melompat mundur ke dalam guha. Cui Giok masih sempat mengirim tusukan yang mengenai pahanya sehingga Badasingh menjerit kesakitan lalu melompat ke dalam mulut guha Kilin.

Cui Giok masih merasa penasaran dan cepat melompat pula ke dalam guha yang gelap. “Awas, jangan masuk !!!” Kui Hwa dan Tin Eng menjerit hampir berbareng. Akan tetapi

Cui Giok yang tidak tahu akan adanya bahaya di dalam guha, sudah melompat ke dalam dan terdengarlah jerit gadis itu mengerikan sekali ketika tubuhnya melayang ke bawah jurang yang amat gelap.

Ternyata bahwa Badasingh telah menggunakan akal memancing lawannya. Ia tahu bahwa di dalam guha itu hanya terdapat sebuah tempat di sebelah kanan, maka ketika ia melompat ke dalam guha yang gelap, ia melompat ke sebelah kanan, di atas batu karang yang lebarnya hanya satu kaki itu. Akan tetapi Cui Giok yang tidak tahu akan hal ini, langsung melompat dan terjerumus ke dalam sumur atau jurang itu.

Setelah gema jeritan Cui Giok itu lenyap, terdengar gema suara ketawa Badasingh yang bergelak-gelak dari dalam guha. Kui Hwa dan Tin Eng tadinya menutupi kedua matanya dengan tangan karena merasa ngeri, kini mereka menjadi marah sekali. Tin Eng dengan pedang ditangan melangkah maju dan memaki, “Siluman jahanam! Aku harus mengadu nyawa denganmu!” Ia hendak nekad dan menyerang raksasa itu, akan tetapi Kui Hwa, Pui Kiat dan Pui Hok memegang tangannya dan menariknya pergi dari situ.

“Adik Tin Eng, tak perlu membuang nyawa dengan sia-sia. Kita berempat bukanlah lawan siluman itu.”

“Tidak, tidak! Aku harus membalas kematian penolong kita itu!” kata Tin Eng sambil menangis. Akan tetapi Kui Hwa yang juga mengucurkan airmata itu memeluk dan menariknya dengan paksa.

Demikianlah keempat orang itu dengan hati sedih sekali turun dari gunung. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya Badasingh telah terluka berat juga di pahanya sehingga kalau mereka nekad menyerbu, belum tentu raksasa itu akan dapat mempertahankan dirinya.

Sampai merah kedua mata Tin Eng dan Kui Hwa menangisi nasib Cui Giok, gadis penolong yang belum mereka ketahui siapa namanya itu. Mereka tidak berdaya dan tak dapat berbuat lain kecuali menanti datangnya Gwat Kong. Mereka tidak tahu dimana adanya Gwat Kong, karena nona yang katanya mewakili Gwat Kong itu tak sempat memberi penjelasan sesuatu kepada mereka.

Posting Komentar