Pendekar Pemabuk Chapter 86

NIC

Mendengar suara ini, hwesio tadi menjadi pucat dan ketika pedang Cui Giok agaknya tertahan karena gadis ini pun mendengar seruan itu. Hwesio itu lalu melompat jauh dengan gerakan Naga hitam menembus langit. Ia berlompatan beberapa kali dan tubuhnya lenyap di balik pohon-pohon yang banyak tumbuh di atas bukit.

Cui Giok berpaling dan memandang kepada orang yang berseru memuji tadi. Ia melihat seorang kakek berjenggot panjang keputih-putihan yang membawa sebuah keranjang obat dan guci arak tergantung di pinggangnya. Melihat sikap kakek ini, ia dapat menduga bahwa ia berhadapan dengan seorang sakti, maka ia cepat menyimpan pedangnya dan menjura dengan penuh hormat. Sementara itu, anak kecil tadi menghampiri kakek itu dan berkata,

“SUHU, ilmu pedang cici ini benar-benar hebat sekali!”

“Nona,” terdengar kakek tua itu berkata dengan suaranya yang halus dan sabar. “Apakah kau anak murid dari Sie Cui Lui?”

“Sie Cui Lui adalah kakekku, locianpwe. Teecu bernama Sie Cui Giok. Tidak tahu, siapakah locianpwe yang terhormat dan siapa pula adanya hwesio jahat tadi? Mengapa ia hendak menangkap adik kecil ini?”

Kakek ini menghela napas. “Biarpun amat memalukan untuk mengaku. Akan tetapi terus terang saja, hwesio itu adalah muridku sendiri. Lima tahun yang lalu, ia masih menjadi muridku yang baik, akan tetapi ia menyeleweng dan melakukan perbuatan zinah yang jahat, sehingga aku terpaksa mengusirnya dan tidak mengakui sebagai murid. Semenjak itu, ia merasa sakit hati dan karena tidak berani membalas dendam kepadaku, agaknya ia hendak menyakiti hatiku dengan menculik muridku yang kecil ini. Nona, ketahuilah aku adalah Lo Han Cinjin dari Kun-lun-san. Kakekmu Sie Cui Lui itu telah dikenal baik padaku.” Kemudian ia berpaling kepada muridnya dan berkata,

“Cu Ek, hayo kau menghaturkan terima kasih kepada nona ini yang telah membantu dan menolongmu.”

Kui Cu Ek lalu menghampiri Cui Giok dan menjatuhkan diri berlutut, akan tetapi Cui Giok segera mengangkatnya bangun dan berkata sambil tertawa,

“Adik yang baik, ilmu pedangmu benar-benar mengagumkan sekali!”

“Belum ada sepersepuluh bagian dari kepandaian cici yang gagah,” kata anak kecil itu dengan suaranya yang nyaring.

Lo Han Cinjin berkata lagi, “Dengan sepasang pedang dapat mendesak dan mengalahkan muridku yang tersesat tadi telah menunjukkan bahwa kepandaianmu sudah cukup tinggi. Sebenarnya kau hendak kemanakah?”

Dengan singkat Cui Giok menuturkan bahwa ia sedang menuju Hong-san untuk mencari guha Kilin di mana tersimpan harta pusaka itu.

Kakek itu menarik napas panjang.

“Sayang .... sayang .... agaknya manusia takkan terlepas dari pengaruh harta ...” Ia lalu merogoh keranjang obatnya dan mengeluarkan sebatang ranting yang penuh daun berwarna merah.

“Nona, kau telah bertemu dengan aku. Itu berarti ada jodoh. Aku tadi secara kebetulan sekali mendapatkan daun Ang-giok (daun bermata merah) ini. Karena tidak perlu bagiku, terimalah daun ini. Jangan kau anggap remeh daun ini karena segala luka di dalam tubuh dapat sembuh dengan mudah apabila orang yang terluka itu makan sehelai daun ini. Dan karena kau melakukan perantauan, terimalah lima butir pel ini. Kalau kau berada jauh dari rumah orang dan kehabisan ransum, sebutir pel ini kalau kau telan akan melindungi pencernaanmu dan kau dapat bertahan tidak makan sampai sepekan lamanya tanpa merasa lapar.”

Dengan girang Cui Giok menerima obat mujijat itu yang disimpannya di dalam buntalan pakaian yang diikatkan pada punggungnya, lalu menghaturkan terima kasih. Akan tetapi, tanpa berkata sesuatu lagi kakek yang aneh lalu menggandeng tangan muridnya dan pergi dari situ.

Di kemudian hari, anak kecil yang bernama Kui Cu Ek itu, akan menjadi seorang pendekar gagah perkasa yang menggemparkan dunia persilatan dengan ilmu pedang Sin-tiauw-kiamsut. Dia inilah yang akan mengharumkan nama Kun-lun-pai di kemudian hari.

Sementara itu, Cui Giok melanjutkan perjalanannya menuju ke Hong-san. Setelah dekat bukit itu, ia menyelidiki dengan penuh perhatian, akan tetapi tidak bertemu dengan orang-orang yang dicarinya, yakni anak murid Hoa-san-pai yang bernama Tan Kui Hwa, Pui Kiat dan Pui Hok itu. Maka, ia langsung mendaki bukit Hong-san untuk mencari di puncak bukit itu. Sama sekali ia tidak tahu bahwa pada hari itu juga, pagi tadi, tiga orang murid Hoa-san-pai yang dicarinya itu telah naik pula ke Hong-san. Bahkan tidak disangkanya sama sekali bahwa di tempat itu ia akan bertemu dengan Tin Eng, gadis puteri Liok-taijin yang telah seribu kali membuat ia cemburu itu, karena agaknya Gwat Kong amat memperhatikan gadis itu.

****

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Tin Eng, Kui Hwa, Pui Kiat dan Pui Hok naik ke Hong-san pada pagi hari itu dengan maksud mencari harta pusaka dan kalau perlu membinasakan penjaga guha Kilin, yakni raksasa hitam yang menurut Kui Hwa bernama Badasingh.

Benar saja sebagaimana telah dituturkan oleh Kui Hwa, ketika mereka tiba di puncak itu, di depan guha Kilin, kelihatan Badasingh, orang tinggi besar yang seperti raksasa itu duduk di atas batu sambil memukul-mukulkan rantai bajanya ke atas batu karang, menerbitkan suara keras dan batu karang itu pecah berkeping-keping bagaikan batu merah dipukul oleh besi. Wajah raksasa hitam itu nampak muram.

“Mari kita hampiri dia!” ajak Kui Hwa dan dengan hati berdebar keempat orang muda itu berjalan menghampiri raksasa yang mengerikan ini.

Badasingh menengok cepat dan ketika melihat dua orang gadis cantik dan dua orang pemuda mendatangi, ia segera bangun berdiri. Bukan main tingginya orang ini. Kalau berdiri di dekat Pui Kiat dan Pui Hok yang sudah cukup tinggi itu barangkali hanya akan setinggi pundaknya.

“Kalian siapakah? Dan mau apa datang ke tempat ini?”

Badasingh bertanya dengan suaranya yang besar dan kaku, sedangkan sepasang matanya yang hitam bersinar tajam itu ditujukan kepada Kui Hwa dan Tin Eng. Kedua orang gadis ini merasa bulu tengkuk mereka meremang karena pandang mata itu sungguh-sungguh kurang ajar, bagaikan pandang mata seorang rakus memandang semangkok masakan yang enak dan masih mengebul hangat.

“Kami datang hendak menyelidiki guha ini dan mencari tempat penyimpanan harta terpendam,” kata Kui Hwa terus terang karena tahu bahwa raksasa ini telah mengetahui tentang harta itu. Ia hendak melihat bagaimana sikap raksasa itu setelah mendengar bahwa mereka datang untuk keperluan yang sama.

Untuk sesaat, wajahnya yang hitam itu bergerak-gerak marah mendengar ucapan ini. Akan tetapi kemudian ia tertawa bergelak-gelak sehingga suara ketawanya menggema di empat penjuru.

“Kalian, orang-orang kecil lemah ini? Ha ha ha! Kalian mau melihat guha Kilin? Boleh, boleh! Nah, mari lihatlah, kuantarkan!”

Pui Kiat dan Pui Hok melangkah maju ke arah guha diikuti oleh Kui Hwa dan Tin Eng. Ketika mereka masuk ke dalam guha itu, mereka berseru penuh kengerian karena di dalam guha itu ternyata merupakan sebuah sumur besar atau jurang yang tak berdasar saking dalamnya. Yang nampak hanya kehitaman di bawah jurang itu tak dapat diukur berapa dalamnya. Melihat adanya beberapa kelelawar beterbangan di permukaan jurang, keluar masuk ke dalam sumur itu, maka dapat diduga bahwa tempat itu tentu amat dalam. Untuk menuruni jurang itu amat sukar, karena pinggirnya terdiri dari batu cadas yang amat licin dan tajam. Jalan masuk ke dalam guha itu semuanya penuh oleh jurang itu, hanya sebagian kecil saja di sebelah kanan terdapat batu karang yang dapat dijadikan tempat untuk berdiri atau duduk. Akan tetapi lebarnya hanya kira-kira satu kaki saja. Oleh karena itu, memasuki guha Kilin ini pada waktu gelap sungguh merupakan jalan maut yang mengerikan karena begitu masuk, orang akan terguling ke dalam jurang.

“Ha ha ha! Kalian mau masuk ke dalam? Masuklah!” Sambil berkata demikian, membuat gerakan tangan dan menyerang ke arah Pui Kiat dan Pui Hok.

Bukan main kagetnya Tin Eng dan Kui Hwa melihat ini dan untung sekali kedua gadis itu berdiri di belakang si raksasa sehingga mereka dapat bergerak cepat. Bagaikan sudah diatur lebih dahulu, Tin Eng menggerakkan tangan memukul ke lambung raksasa itu, sedangkan Kui Hwa menangkap kedua tangan kedua suhengnya dan menariknya ke belakang.

Raksasa itu dengan amat mudahnya dapat mengelak dari pukulan Tin Eng dan ketika keempat orang muda itu melompat ke belakang dengan muka pucat dan marah, ia tertawa bergelak dan melangkah maju mengejar mereka dengan sikap mengancam dan menakutkan.

“Ha ha ha! Kalian orang-orang lemah ini tak mungkin dapat mengambil harta itu untukku. Karena itu, kalian hrs mati di sini akan tetapi hanya kamu berdua yang harus mati!” Ia menunjuk kepada Pui Kiat dan Pui Hok.

“Dua orang bidadari manis ini harus mengawani aku di sini. Aku kesepian sekali dan amat haus. Kalian berdua, gadis-gadis manis, kalian akan dapat menghibur hatiku. Kalian menjadi pengganti anggur yang segar! Ha ha ha!”

Posting Komentar