Pendekar Pemabuk Chapter 85

NIC

“Lopek, biarpun mantumu seorang kepala bajak, akan tetapi anakmu telah menjadi isterinya dan kau lihat sendiri anakmu tidak menyesal menjadi isterinya. Oleh karena itu, kau tak perlu lagi ribut-ribut!”

Kakek nelayan itu berdiri sambil menundukkan mukanya yang pucat, matanya sayu dan nampak sedih sekali.

“Aku ditinggal seorang diri .... aku sudah tua siapa yang akan merawatku kalau aku sakit

...?” Setelah berkata demikian, ia menjatuhkan diri berlutut di atas tanah sambil menangis.

Kui Hwa berpaling memandang Louw Tek. “Orang dahulu berkata bahwa mau kepada anak perempuannya harus mau menerima orang tuanya pula. Oleh karena itu, kuharap sam-wi tay- ong suka pula menerima kakek ini agar supaya dia selalu dekat dengan anak perempuannya.

Ketiga kepala bajak menerima baik usul ini dan demikianlah, pertempuran yang hebat itu berakhir dengan perdamaian yang menyenangkan kedua pihak.

Kui Hwa lalu mengajak kedua suhengnya dan Tin Eng pergi dari situ dan menuju ke bukit Hong-san. Di tengah jalan mereka saling menuturkan pengalamannya masing-masing.

Setelah menuturkan pengalamannya, Tin Eng bertanya kepada Kui Hwa, Apakah kau tidak bertemu dengan Kang-lam Ciu-hiap Bun Gwat Kong?”

Kui Hwa menggelengkan kepala, akan tetapi kedua saudara Pui segera menuturkan pertemuan mereka dengan pemuda itu. “Dia tentu sudah berada di tempat ini!” kata Tin Eng penuh harapan, akan tetapi sungguh heran mengapa ia tidak bertemu dengan kalian?”

Ketika Kui Hwa menceritakan tentang raksasa hitam itu, semua kawannya mendengarkan dengan terheran-heran.

“Orang itu benar-benar hebat dan mengerikan. Aku sendiri tidak berani untuk mendekati gua itu karena kepandaiannya amat tinggi dan aku takkan dapat menang. Maka aku sengaja menanti di sini dan kebetulan sekali ini hari tidak saja ji-wi suheng yang datang, akan tetapi juga adik Tin Eng. Dengan tenaga kita berempat ku rasa kita tak perlu takut menghadapi raksasa yang menjaga gua itu!”

Oleh karena pertempuran tadi amat melelahkan Kui Hwa, juga kedua saudara Pui dan Tin Eng yang baru datang masih merasa lelah, maka mereka mengambil keputusan untuk menyerbu ke atas puncak Hong-san pada keesokan harinya.

****

Semenjak berpisah dengan Gwat Kong, Cui Giok melakukan perjalanan seorang diri untuk memenuhi permintaan Gwat Kong yakni menuju ke Hong-san menyusul murid-murid Hoa- san-pai yang sedang mencari gua Kilin tempat penyimpanan harta pusaka. Ia tidak mengambil jalan air seperti yang lain. Akan tetapi ia melakukan perjalanan darat melalui sepanjang pantai sungai Huang-ho sebelah kiri.

Pada suatau hari, ketika ia sedang berlari cepat di sepanjang lembah sungai Huang-ho, melalui bukit-bukit kecil yang ditutup oleh rumput hijau yang indah, tiba-tiba ia melihat seorang anak laki-laki tanggung berusia kurang lebih sebelas tahun sedang bersilat seorang diri di dekat pantai. Cui Giok amat tertarik melihat gerakan kaki tangan anak itu amat lincah dan tangkasnya. Sedangkan wajah anak kecil itu amat tampan dan sepasang matanya bersinar.

Sebelum Cui Giok menghampiri, tiba-tiba ia melihat bayangan seorang hwesio berkelebat keluar dari belakang pohon. Hwesio ini masih mudah dan wajahnya menyeramkan sekali, sepasang matanya mengandung nafsu jahat.

“Ha ha ha! Bagus!” kata hwesio itu sambil melompat ke depan anak itu. “Kau tentulah murid si tua bangka dari Kunlun. Anak baik, bukankah kau murid Kun-lun-pai? Gerakanmu jelas menyatakan bahwa kau anak murid Kun-lun-pai.”

Anak itu berhenti berlatih silat dan memandang dengan matanya yang tajam.

“Losuhu, siapakah? Teecu memang benar anak murid Kun-lun-pai. Nama teecu Kwie Cu Ek dan suhu adalah Lo Han Cinjin dari Kun-lun-pai.

Hwesio itu tertawa bergelak dan memandang ke kanan kiri.

“Dimana adanya Lo Han Cinjin?” Dari suaranya ternyata bahwa ia merasa takut.

“Suhu sedang memetik daun obat di bukit itu dan teecu diharuskan menanti di sini berlatih silat.” “Bagus! Kalau begitu, kau harus ikut padaku!”

“Tidak bisa losuhu. Tanpa perintah suhu, teecu tidak berani meninggalkan tempat ini,” jawab anak yang bernama Kwi Cu Ek itu dengan tegas.

“Apa? Kau berani membantah kehendakku? Hayo ikut!” Sambil berkata demikian si gundul itu mengulurkan tangannya hendak menangkap pundak anak itu. Akan tetapi dengan gesit anak itu mengelak dan melompat ke belakang. Cui Giok diam-diam merasa kagum dan senang melihat anak yang lincah itu. Akan tetapi hwesio tadi menjadi marah dan terus menyerang untuk menangkap anak itu.

Tiba-tiba anak itu berseru keras dan tahu-tahu sebatang pedang kecil telah ia cabut dari punggungnya dan dengan pedang di tangan, ia menghadapi hwesio itu. Sepasang matanya menyinarkan keberanian luar biasa sehingga hwesio itu menjadi tercengang juga.

“Eh, eh tua bangka itu sudah melatih pedang padamu?” kata hwesio itu yang terus menubruk. Anak itu menggerakkan pedangnya dan terkejutlah hwesio tadi ketika melihat betapa gerakan pedang anak itu tak boleh dipandang ringan.”

“Kau sudah dapat mainkan Sin-tiauw-kiam-sut? Hebat!” katanya dan ia lalu meloloskan sabuknya yang terbuat dari pada sutera hijau. Sekali ia menggerakkan tangannya, sabuk itu meluncur ke arah leher anak itu, yang segera menangkisnya dengan pedang. Akan tetapi ujung sabuk melibat pedangnya dan sekali betot terlepaslah pedang itu dari pegangan.

Anak itu terkejut dan hendak melarikan diri. Akan tetapi dengan sekali lompatan saja, hwesio itu telah mengejarnya dan dapat memegang pundaknya dengan cengkeraman tangan erat sehingga anak itu meringis kesakitan.

Pada saat itu Cui Giok muncul dan membentak, “Bangsat gundul, sungguh tak tahu malu!”

Hwesio itu terkejut dan melepaskan cengkeramannya. Ketika melihat seorang gadis cantik jelita berdiri di depannya dengan pedang di tangan kanan dan kiri, ia terkejut sekali.

“Ha ha ha!” katanya sambil memandang kagum. “Kalau anak setan itu tidak mau ikut, lebih baik kau saja ikut kepadaku!”

Sambil berkata demikian, ia menggerakkan sabuknya yang lihai itu untuk merampas kedua pedang di tangan Cui Giok. Dara perkasa ini sengaja tidak mengelak sehingga ujung sabuk itu membelit pedang di tangan kirinya. Tiba-tiba Cui Giok membetot pedangnya untuk membikin putus sabuk itu.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika mendapat kenyataan bahwa sabuk itu amat kuat dan tenaga pemegangnya juga luar biasa besarnya. Tak disangkanya sama sekali bahwa hwesio itu demikian lihai dan besar tenaga lweekangnya. Maka dengan cepat ia lalu menggerakkan pedang di tangan kanannya untuk membabat putus sabuk yang melibat pedang kirinya. Hwesio itu ternyata lihai dan cepat gerakannya karena sebelum pedang Cui Giok membabat sabuknya ia telah melepaskan kembali libatan sabuk dan kini sabuknya bergerak-gerak bagaikan ular menyerang ke arah jalan darah Cui Giok, merupakan totokan-totokan yang berbahaya.

Akan tetapi ia mengeluh di dalam hati ketika mendapat kenyataan bahwa gadis itu bukan merupakan lawan yang empuk baginya. Sepasang pedang ditangan nona itu, yang memainkan ilmu pedang Im-yang Siang-kiam-hoat benar-benar luar biasa sekali sehingga beberapa kali hwesio itu harus melompat jauh dengan kaget karena hampir saja ia menjadi korban ujung pedang.

Juga Cui Giok merasa amat penasaran. Hwesio itu hanya memegang sehelai senjata sabuk, akan tetapi amat sukar baginya untuk mengalahkannya. Maka ia makin marah dan mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk mendesak sehingga hwesio itu terpaksa harus mengakui keunggulan Cui Giok. Ia hanya dapat mengandalkan ginkangnya untuk melompat ke kanan kiri menghindarkan diri dari bahaya maut yang tersebar dari sepasang pedang di tangan nona itu.

Setelah bertempur kurang lebih tiga puluh jurus, hwesio itu tak tahan lagi. Tiba-tiba terdengar suara halus memuji,

“Im-yang Siang-kiam-hoat benar-benar hebat!”

Posting Komentar