“Lopek, kesukaran apakah yang kau derita? Ceritakan kepadaku, barangkali aku dapat menolongmu. Aku tidak kaya akan tetapi percayalah, pedangku ini sudah banyak menolong orang yang tertindas!”
Mendengar ucapan ini, kakek itu lalu mengeringkan air matanya dan berkata dengan suara ragu-ragu, “Siocia, benar-benarkah kau pandai bertempur menggunakan pedang?”
Kui Hwa tersenyum. “Pandai sih tidak. Akan tetapi sudah banyak penjahat mengakui kelihaianku sehingga mereka memberi julukan Dewi Tangan Maut kepadaku!”
Mendengar ini, kakek itu segera memberi hormat dan berkata dengan girang, “Ah, tidak tahunya nona adalah seorang pendekar pedang. Agaknya Thian yang menurunkan lihiap ke sini untuk menolongku!”
“Sudahlah, lopek, jangan banyak sungkan. Ceritakanlah semua penderitaanmu kepadaku!”
Kakek itu menghela napas berkali-kali, kemudian ia menuturkan keadaannya. “Aku mempunyai seorang anak perempuan yang sudah remaja puteri, dan sungguhpun aku sendiri yang menyatakan, akan tetapi anakku itu termasuk golongan gadis cantik. Di dalam hutan Ban-siong-lim terdapat serombongan bajak laut yang kejam. Sungguh pun mereka itu jarang sekali mau mengganggu kampung kami yang miskin. Akan tetapi, pada suatu hari kepala bajak laut yakni kepalanya yang termuda karena mereka itu mempunyai tiga orang pemimpin, mengadakan perjalanan untuk melihat-lihat di kampung kami. Sungguh tak beruntung sekali, anak perempuanku berada di luar rumah dan terlihat olehnya. Kepala bajak itu merasa suka dan tanpa banyak cakap lagi ia membawa pergi anakku!”
“Bangsat kurang ajar!” Kui Hwa memaki gemas.
“Ibu anak itu telah lama meninggal dunia dan aku hanya hidup berdua dengan anakku itu, maka dapat lihiap bayangkan betapa hancurnya hatiku. Dengan melupakan bahaya, aku lalu mengejar sampai ke hutan Ban-siong-lim itu untuk minta kembali anak perempuanku. Akan tetapi, kepala bajak itu minta uang tebusan sebanyak tiga ratus tail. Darimana aku dapat mengumpulkan uang sebanyak itu? Maka, aku berusaha untuk menjala terus menerus siang malam untuk menebus anakku. Akan tetapi agaknya Thian sedang memberi hukuman kepadaku, lihiap. Buktinya, jalaku jarang sekali menghasilkan sesuatu!” Kakek itu lalu menangis lagi.
“Lopek!” kata Kui Hwa sambil memegang pundak nelayan itu. “Sudahlah, jangan kau menangis. Antarkan aku ke tempat bajak sungai itu dan akulah yang akan mengambil kembali anak perempuanmu!”
Kakek itu memandang dan nampaknya terkejut dan cemas. “Akan tetapi mereka itu lihai
sekali, lihiap.”
“Apakah kau tidak percaya kepadaku?”
Kakek itu tidak berkata sesuatu, lalu mendayung perahunya ke pinggir. “Mari kita berangkat sekarang juga, lihiap,” katanya.
Demikianlah Kui Hwa bersama nelayan tua itu pergi ke hutan Ban-siong-lim yang berada di tepi sungai. Kedatangan mereka disambut oleh tiga orang kepala bajak yang bertubuh tegap- tegap. Tentu saja tiga orang bajak itu memandang kepada Kui Hwa dengan mata terbelalak saking kagum. Belum pernah mereka melihat seorang gadis secantik itu.
Sebelum tiba di tempat itu, Kui Hwa telah bertanya kepada nelayan itu tentang keadaan ketiga orang kepala bajak ini. Ketiganya adalah bajak-bajak sungai Huang-ho yang amat terkenal dan disebut Huang-ho Sam-kui (Tiga setan dari Huang-ho). Yang tertua bertubuh pendek tegap berkepala botak bernama Louw Tek, yang kedua Louw Siang dan yang ketiga masih muda dan tampan juga bernama Louw Liu. Ketiga orang bajak sungai itu bukanlah bajak- bajak biasa, karena mereka benar-benar memiliki ilmu silat yang tinggi. Mereka itu adalah murid-murid Butongsan yang menyeleweng.
Ketika berhadapan dengan tiga orang kepala bajak itu, tanpa memperdulikan anggauta- anggauta bajak yang jumlahnya belasan itu dan yang mengurung tempat itu sambil tertawa- tawa, Kui Hwa bertanya,
“Kalian bertigakah yang disebut Huang-ho Sam-kui?”
Louw Tek melangkah maju dan berkata, “Benar nona manis. Apakah kehendakmu mencari kami bertiga?”
“Tak lain aku datang untuk mengambil kembali anak perempuan dari nelayan tua ini. Sambil berkata demikian, Kui Hwa mencabut pedangnya. “Tinggal kalian pilih saja. Kembalikan anak perempuan itu atau kalian akan berkenalan dengan Dewi tangan maut!”
Huang-ho Sam-kui itu saling pandang, kemudian meledaklah suara ketawa mereka, diikuti oleh suara ketawa dari sekalian anak buahnya. Untuk daerah ini, nama Dewi Tangan Maut memang tidak dikenal. “Sungguh lucu kakek nelayan ini. Agaknya ia merasa kasihan kepada kita, sehingga mengantarkan seorang anak perempuan yang lebih cantik lagi. Lui-te (adik Lui), jangan kau iri hati. Kau sudah mendapat bunga harum dari dusun itu dan yang kini adalah bagianku,” kata Louw Tek kepada adiknya yang hanya tersenyum-senyum memandang kepada Kui Hwa dengan amat kurang ajar.
Bukan main marahnya Kui Hwa mendengar ucapan yang amat menghinanya itu.
“Kalian memang sudah bosan hidup!” serunya dan ia menerjang dengan pedangnya. Pada saat itu ketiga kepala bajak itu melompat ke belakang dan melihat lompatan mereka itu bukan main terkejut hati Kui Hwa. Dari cara mereka melompat ke belakang amat cepat dan lincahnya itu, tahulah Kui Hwa bahwa ketiga orang lawannya ini adalah orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi. Sungguh mengherankan, di daerah ini benar-benar banyak terdapat orang pandai. Baru saja ia bertemu dengan raksasa hitam dan si kate yang berilmu tinggi dan sekarang ia menghadapi tiga orang kepala bajak yang berkepandaian tinggi pula.
Akan tetapi ia tidak takut dan menyerang dengan pedangnya. Melihat gerakan pedang gadis itu lihai dan cepat, kepala bajak yang tertua, yakni Louw Tek, segera mengangkat dayungnya menangkis sambil berkata kepada kedua adiknya.
“Jangan kalian membantu, biar aku sendiri mencoba kepandaian calon nyonyaku!”
Maka bertempurlah Kui Hwa melawan Louw Tek yang benar-benar tangguh. Sebetulnya dalam hal kepandaian silat, Kui Hwa tak usah kalah oleh Louw Tek, hanya saja dalam hal tenaga ia masih kalah. Apalagi orang she Louw itu mempunyai senjata istimewa, yakni sebatang dayung yang panjang dan berat sehingga ia merupakan lawan yang benar-benar berbahaya.
Pada saat pertempuran berjalan seru, dari tengah sungai tampak sebuah perahu di dayung ke pinggir dan dua orang pemuda melompat ke darat sambil mencabut pedangnya.
“Sumoi, jangan takut, kami datang membantumu!” Orang-orang ini bukan lain adalah Pui Kiat dan Pui Hok. Besarlah hati Kui Hwa melihat kedatangan kedua suhengnya ini dan pertempuran makin hebat, karena kini Louw Siang dan Louw Lui maju menyambut kedua saudara Pui itu dan pertempuran terjadilah dengan sengitnya. Para anggauta bajak sungai melihat ketangguhan ketiga orang murid Hoa-san-pai itu, menjadi tidak sabar dan mereka mulai maju mengeroyok.
Kepandaian Kui Hwa dan kedua suhengnya sesungguhnya berimbang dengan kepandaian Huang-ho Sam-kui, maka setelah anak buah bajak sungai yang rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan itu maju membantu, tentu saja ketiga murid Hoasan itu mulai terdesak hebat dan terkurung rapat. Namun mereka melakukan perlawanan sengit dan mati-matian sehingga pertempuran berjalan lama dan di antara anggauta-anggauta bajak ada beberapa orang yang sudah menjadi korban pedang Kui Hwa dan kedua suhengnya.
Betapapun juga, para bajak itu masih mengurung terus, sehingga keadaan tiga orang muda itu makin berbahaya. Sukar bagi mereka untuk dapat meloloskan diri, karena selain kurungan amat rapat, juga ketiga Huang-ho Sam-kui itu mainkan dayung mereka dengan amat cepatnya sehingga Kui Hwa dan kedua saudara Pui harus menggerakkan seluruh kepandaian dan perhatian. Pada saat yang amat genting itulah muncul Tin Eng. Dengan amat ganas Tin Eng menyerbu dari luar kepungan dan dengan ilmu pedangnya Sin-eng Kiam-hoat yang lihai. Dalam beberapa gebrakan saja ia telah berhasil merobohkan beberapa orang bajak. Hal ini menimbulkan panik dan kekacauan pada pihak pengeroyok dan memperbesar semangat perlawanan Kui Hwa dan kedua saudara Pui. Dibantu oleh Tin Eng, mereka lalu menerjang ketiga orang Huang-ho Sam-kui sehingga mereka ini terpaksa mundur.
Kui Hwa maklum bahwa biarpun Tin Eng datang membantu, namun apabila pertempuran dilanjutkan, pihaknya tentu akan kehabisan tenaga, maka ia lalu mendekati Tin Eng dan berbisik,
“Kita tangkap kepala bajak termuda.”
Tin Eng tidak mengerti apakah kehendak kawannya itu dengan usul ini. Akan tetapi oleh karena ia tidak tahu asal usulnya pertempuran, ia hanya menganggukkan kepala dan menurut.
Demikianlah selagi Pui Kiat dan adiknya menghadapi Louw Tek dan Louw Siang, Kui Hwa berdua Tin Eng mendesak Louw Lui dengan hebat sekali. Sepasang pedang dari kedua orang dara itu membabat dan mengurungnya dengan gerakan luar biasa sehingga betapapun kosennya Louw Lui, ia menjadi bingung dan pening juga melihat sinar kedua pedang itu berkelebatan bagaikan dua ekor naga sakti mengurung tubuhnya.
Sebelum ia sempat minta bantuan pada kawan-kawannya, tiba-tiba ujung pedang Tin Eng telah melukai lengannya sehingga terpaksa ia melepaskan dayungnya dan Kui Hwa mengirim totokan ke arah lambungnya dan robohlah Louw Lui sambil mengaduh-aduh. Kui Hwa memburu dan menambah dengan totokan pada jalan darah thia-hu-hiat sehingga tubuh Louw Lui menjadi lemas tak berdaya sama sekali.
Louw Tek dan Louw Siang marah sekali dan sambil memutar dayungnya, kedua kepala bajak ini menyerbu Kui Hwa dan Tin Eng. Akan tetapi, sambil tekankan ujung pedang pada dada Louw Lui, Kui Hwa membentak,
“Mundur kalian dan tahan pertempuran ini. Kalau tidak pedangku akan menembus dadanya.”
Louw Tek dan Louw Siang terkejut dan melangkah mundur, lalu memberi perintah kepada anak buahnya untuk berhenti menyerang.
“Huang-ho Sam-kui!” kata Kui Hwa dengan gagah. “Kami sebetulnya tidak hendak mencari permusuhan dengan kalian. Kalau kau memang sayang kepada nyawa saudaramu ini, lekas keluarkan anak perempuan nelayan tua itu untuk ditukar dengan saudaramu ini!”
Karena maklum bahwa nyawa Louw Lui berada di ujung pedang Kui Hwa, terpaksa Louw Tek dan Louw Siang memberi tanda kepada anggauta-anggautanya untuk mundur. Kemudian Louw Tek menjura kepada Kui Hwa dan berkata,
“Lihiap, maafkanlah kami yang tadi tidak melihat orang-orang gagah. Kehidupan di tempat asing ini membuat kami berwatak kasar. Tentang anak perempuan nelayan itu, sesungguhnya ia menjadi isteri tercinta dari adik kami Louw Lui dan menurut pendapat kami yang bodoh, agaknya tidak kecewa ia menjadi isteri adik kami. Iapun mencintai suaminya ini.” “Bohong!” tiba-tiba nelayan tua itu berteriak dengan marah. “Anakku dibawa dengan paksa, siapa bilang tentang cinta? Hayo kembalikan anakku!”
Louw Tek terenyum dan memberi tanda kepada seorang anggauta bajak untuk menjemput “nyonya muda.”
Tak lama kemudian datanglah seorang wanita muda yang cukup manis diiringkan oleh bajak tadi.
“Bwee Kim ...!” Nelayan tua itu memanggil dan wanita muda itu cepat berpaling dan berseru, “Ayah !” Ia berlari menghampiri ayahnya dengan kedua tangan terpentang. Akan tetapi
ketika ia lewat di dekat Kui Hwa dan melihat Louw Lui ditodong dadanya dengan pedang dan lengan Louw Lui terluka mengeluarkan darah, tiba-tiba ia berhenti dan menubruk Louw Lui sambil menangis.
Hal ini sama sekali tak pernah diduga oleh nelayan tua itu, bahkan Kui Hwa sendiri menjadi pucat karena terkejut. Sementara itu, Louw Tek dan Louw Siang tersenyum saja melihat adiknya memeluk isterinya.
“Ah, kalau begitu, aku telah salah duga!” kata Kui Hwa yang lalu menyimpan kembali pedangnya dan menghampiri kakek nelayan itu.