Pendekar Pemabuk Chapter 103 (Tamat)

NIC

Bukan main marahnya Gan Bu Gi, akan tetapi karena alasan yang dipergunakan oleh Liok- taijin adalah bahwa hal ini ada hubungannya dengan nona Tan Kui Hwa, pemuda ini tak dapat berkata sesuatu. Bahkan ia merasa malu untuk menghadap kepada calon mertuanya itu. Ia pergi tanpa meninggalkan sepatah pun kata.

Akan tetapi, lima hari kemudian pada siang hari datanglah Seng Le Hosiang. Kedatangan hwesio ini amat aneh, karena ia tidak terus masuk ke gedung itu, melainkan datang dari atas genteng! Dari atas genteng, ia memaki-maki Liok Ong Gun. “Liok Ong Gun, manusia tak berbudi! Kau membikin malu susiok-couwmu! Lekas menghadap kesini untuk menerima hukumanmu sebagai murid Go-bi-pai yang menyeleweng!”

Bukan main takut dan terkejutnya Liok Ong Gun. Bersama beberapa orang pembantunya dan perwira sayap garuda, ia naik ke atas genteng, juga Tin Eng ikut melompat naik.

“Kau menyalahi janji, bahkan membatalkan pertunanganan anakmu dengan Gan-ciangkun. Kau mengusirnya dan memberhentikan jabatannya. Apa maksudmu? Apakah sengaja hendak membikin pinceng mendapat malu besar?”

Liok Ong Gun terkejut sekali ketika melihat susiok-couwnya itu memegang tongkat kekuasaan sebagai tokoh Go-bi-pai yang berhak menghukum murid-murid yang murtad. Cepat ia berlutut dan memberi penjelasan. Menceritakan bahwa Gan Bu Gi telah berlaku keji terhadap Tan Kui Hwa, murid Hoa-san-pai itu.

“Ah, kau lebih percaya omongan seorang murid Hoa-san-pai dari pada pinceng? Bagus! Pendeknya, pernikahan itu harus dilanjutkan, ... harus dilangsungkan! Kalau tidak, terpaksa pinceng akan menghukummu dengan pukulan tongkat ini, demikian juga seluruh keluargamu!”

Seorang perwira sayap garuda yang belum lama bekerja pada Liok-taijin, amat tidak senang dengan sikap hwesio ini, maka ia melangkah maju dan berkata, “Losuhu sebagai seorang suci, losuhu tidak seharusnya bersikap seperti ini!”

Seng Le Hosiang memandang dengan marah. Sekali ia ulurkan tangannya dan mendorong, tubuh perwira itu terlempar tinggi dan jatuh ke atas genteng. “Pergilah kau, anjing!” maki Seng Le Hosiang dengan marah, lalu katanya kepada Liok Ong Gun,

“Dengarlah, Liok Ong Gun! Biarpun kau seorang pembesar, namun kau tetap murid Go-bi-pai dan pinceng berhak menghukummu!” Setelah berkata demikian, hwesio itu berkelebat dan lenyap dari situ!

Bukan main bingungnya hati Liok Ong Gun menghadapi peristiwa ini. Untuk membantah ia tidak berani dan untuk menerima Gan Bu Gi sebagai mantu iapun tidak suka.

“Ayah, kita tidak berdaya menghadapi Seng Le Hosiang yang kejam itu. Baik, ayah terima saja permintaannya dan pernikahan dilangsungkan pada hari itu.”

“Apa? Kau rela melakukan pengorbanan ini?”

Tin Eng tersenyum. “Tentu saja tidak, ayah. Akan tetapi aku mempunyai akal. Dahulu, enci Kui Hwa sudah berjanji bahwa apabila aku terpaksa kawin dengan pemuda itu, enci Kui Hwa akan datang dan membuka rahasia Gan Bu Gi di depan umum! Dengan demikian, maka pernikahan tentu akan bubar dan tidak jadi. Hari kelimabelas masih dua pekan lagi, maka sekarang aku hendak menulis surat kepada enci Kui Hwa.”

Maka kedua ayah dan anak itu lalu mengadakan perundingan dan sehelai surat lalu ditulis. Seorang pesuruh yang tangkas diutus mengantarkan surat itu kepada Tan Kui Hwa di Kang- lam. Pesuruh itu kembali membawa jawaban Tan Kui Hwa yang menyanggupi permintaan tolong Tin Eng, maka keluarga Liok menarik napas lega. Pesta kawin dilakukan dengan amat meriah dan tamu-tamu dari seluruh penjuruh memerlukan datang, juga banyak orang-orang dari kalangan kang-ouw datang menghadiri pesta itu.

Penduduk Kiang-sui tentu saja tidak membuang kesempatan ini dan datang menyaksikan dari luar pekarangan gedung.

Ketika pengantin laki yang nampak gagah dan tampan sudah tiba dan baru saja sepasang pengantin hendak melakukan upacara sembahyang, tiba-tiba Kui Hwa yang semenjak tadi sudah berada di situ berdiri dan berseru keras.

“Cuwi sekalian, dengarlah keteranganku. Perkawinan ini tak dapat dilanjutkan! Pengantin laki-laki sebenarnya telah mempunyai isteri!”

Tentu saja semua orang menjadi gempar mendengar suara ini dan semua mata ditujukan kepada Kui Hwa yang berdiri dengan gagahnya.

“Kau mau tahu siapa isteri pengantin laki-laki. Akulah orangnya! Aku telah menjadi isterinya karena kekejian, bukan karena upacara perkawinan yang syah. Ketika cabang persilatan Hoa- san-pai masih dimusuhi oleh Kim-san-pai, aku pernah tertawan oleh pemuda busuk ini. Dan dalam keadaan tak berdaya, ditambah bujukan-bujukan yang menyatakan hendak mengawiniku, pemuda berhati binatang ini telah melakukan kekejian terhadapku. Akan tetapi semua itu hanya merupakan tipuan belaka, dan setelah ia melakukan perbuatan terkutuk, ia tidak mengawiniku, bahkan menghina dan meninggalkanku! Adik Tin Eng kawin padanya karena paksaan. Karena pemuda busuk itu dapat membujuk Seng Le Hosiang, sehingga tokoh Go-bi-pai yang tua tapi bodoh itu memaksa Liok-taijin sebagai murid Go-bi-pai untuk mengawinkan puterinya kepada pemuda she Gan yang jahanam ini!”

Mendengar ini, Seng Le Hosiang melompat maju dan hendak menyerang Kui Hwa dengan bentakan, “Perempuan busuk pergi kau dari sini!”

Akan tetapi pada saat itu, bayangan yang amat cepat berkelebat keluar dari kelompok penonton dan bayangan ini menangkis pukulan Seng Le Hosiang yang ditujukan kepada Kui Hwa. Orang ini adalah Gwat Kong yang mempergunakan kesempatan itu untuk menolong Kui Hwa.

“Gwat Kong !” Seruan ini terdengar dari beberapa buah mulut, dan yang paling keras

terdengar dari Tin Eng yang memandang dengan mata terbelalak heran, seakan-akan tidak percaya kepada sepasang matanya sendiri.

Akan tetapi Seng Le Hosiang yang marah sekali telah menyerang kembali. Kini bahkan mempergunakan tongkatnya yang selalu dibawa, namun Gwat Kong berlaku waspada dan telah mencabut pedang Sin-eng-kiam dan sulingnya. Keadaan menjadi kacau balau dan saat itu digunakan oleh Kui Hwa untuk menyerang Gan Bu Gi.

Gadis ini selama berbulan-bulan telah melatih diri dan siap untuk melakukan pembalasan. Kepandaiannya telah banyak maju. Pertempuran hebat terjadi. Di antara para penonton yang menjadi panik, tak seorangpun maju membantu, hanya menonton sambil mundur dari tempat agak jauh. Hampir berbareng dengan robohnya tubuh Kui Hwa dan Gan Bu Gi, tubuh Seng Le Hosiang terhuyung-huyung dengan muka pucat, karena dadanya telah kena totokan sulit Gwat Kong yang mendatangkan luka parah di bagian dalam. Kui Hwa tertusuk dadanya oleh pedang Gan Bu Gi, akan tetapi sebaliknya, Gan Bu Gi lehernya hampir putus terbabat oleh pedang Kui Hwa.

Dalam keadaan yang makin panik dan ribut itu, Gwat Kong cepat melompat ke arah Tin Eng dan berkata, “Tin Eng, hayo kau ikut denganku!” Tangannya menangkap lengan Tin Eng dan sekali melompat ia telah berada di luar gedung. Bukan main ributnya keadaan pesta itu dan beberapa orang perwira yang mengejar Gwat Kong terpaksa kembali dengan tangan kosong, oleh karena kepandaian mereka masih jauh untuk dapat menyusul Gwat Kong!

****

Ketika Gwat Kong dan Tin Eng tiba di rumah Gwat Kong di lereng gunung Kam-hong-san itu, keadaan Cui Giok makin payah. Tin Eng sudah mendengar penuturan Gwat Kong dalam perjalanan menuju ke tempat itu dan dengan suka hati Tin Eng memenuhi undangan Cui Giok itu. Ia amat terharu melihat keadaan nyonya muda itu dan menubruknya sambil menangis.

“Ah, girang sekali hatiku kau datang, adikku yang manis!” kata Cui Giok yang bangkit dari tidurnya. Anaknya yang masih kecil dipondong oleh pengasuh dari kampung itu.

“Enci Cui Giok, aku telah mendengar semua pengalamanmu bersama Gwat Kong di guha neraka itu. Kau ..... sungguh patut dikasihani enci ”

Cui Giok tersenyum, “Kau baik sekali, Tin Eng. Dengarlah, kau juga suamiku. Aku tahu bahwa kalian masih saling cinta dan aku akan rela melihat kalian terangkap menjadi suami isteri ”

“Enci Cui Giok !” Tin Eng berseru dengan muka merah, akan tetapi air matanya

mengucur.

“Tentu kau sudah mendengar dari Gwat Kong bahwa keadaanku amat payah. Kematian akan datang menjemputku tak lama lagi. Tin Eng dan kau juga Gwat Kong, aku hanya akan menitip Lan-lan kepada kalian. Jagalah baik-baik anak itu. Juga batu-batu permata yang kami ambil dari guha itu boleh kau berikan kepada kedua orang she Pang atau tidak! Itu bukan urusanku, dan ....” Sampai di sini ia terisak menangis. “Dan sampaikan hormat dan

permintaan ampunku kepada ibu ..... ibuku yang tercinta yang telah lama kutinggalkan!”

“Enci Cui Giok !” Tin Eng merangkul dan mencium kening dengan hati amat berat dan

terharu. “Jangan berkata demikian, enci. Kau seorang wanita yang berhati mulia, karenanya kau akan panjang usia. Kau akan sembuh kembali dan percayalah, aku rela melihat Gwat Kong menjadi suamimu. Kau ..... kau seribu kali lebih baik dari pada aku ”

Sementara itu, Gwat Kong hanya dapat duduk dengan kepala tunduk. Hatinya terasa hancur dan saking terharunya, ia tidak dapat berkata sesuatu.

Pada saat itu, dari luar terdengar teriakan orang, “Hai, Kang-lam Ciu-hiap! Keluarlah kau! Sekarang tiba saatnya untuk menetapkan siapa yang lebih lihai antara Barat, Timur, Selatan dan Utara!” Gwat Kong terkejut. Itulah suara Ang Sun Tek, ahli Pat-kwa To-hoat yang dulu dicari-cari oleh Cui Giok. Cepat ia melompat keluar dan benar saja, di situ telah berdiri delapan orang yang dikepalai oleh Ang Sun Tek.

“Bun Gwat Kong!” kata Ang Sun Tek sambil tersenyum mengejek. “Kau telah berjanji untuk mengadu kepandaian, akan tetapi kami tunggu-tunggu tak juga kau datang. Ketika kami mendengar tentang kematianmu, kami penasaran sekali. Akan tetapi, tiba-tiba kau muncul lagi dan membawa lari puteri Liok-taijin. Kami sengaja tidak menghalangimu dan diam-diam mengikuti jejakmu sampai di tempat ini. Nah, sekarang cobalah kau melepaskan diri dari Pat- kwa-tin! Apakah ahli Im-yang Kiam-hoat itu masih ada? Suruh dia keluar sekalian!”

“Dia sudah menjadi isteriku dan kini sedang menderita sakit. Jangan kau mengganggu kami, Ang Sun Tek!”

Akan tetapi pada saat itu, terdengar seruan gembira, “Ah, telah lama aku menanti datangnya saat ini.”

Dan tahu-tahu Cui Giok telah berdiri di belakang suaminya dengan sepasang pedangnya di kedua tangannya.

“Liok-te Pat-mo, lekas kalian perlihatkan Pat-kwa-tin itu kepada kami!” “Cui Giok, kau ” kata Gwat Kong.

“Biarlah, suamiku. Saat ini merupakan kegembiraan terakhir bagiku!” Cui Giok yang gagah perkasa itu memotong kata-kata suaminya.

Sementara itu, Ang Sun Tek dan kawan-kawannya sudah mencabut golok masing-masing, lalu mereka mengurung Gwat Kong dan Cui Giok, merupakan bentuk segi delapan dengan kedudukan yang kuat sekali.

“Bersiaplah, kami menyerang!” tiba-tiba Ang Sun Tek berseru. Gwat Kong cepat mencabut keluar Sin-eng-kiam dan sulingnya, sedangkan Cui Giok mainkan sepasang pedangnya dengan cepat. Sungguh amat mengherankan dan mengagumkan nyonya muda itu. Dalam keadaan lemah dan sakit tiba-tiba seperti mendapat tenaga dan semangat baru. Gerakannya bahkan lebih cepat dari biasanya.

Kedua suami isteri ini ketika berada di guha neraka telah melatih diri dengan rajinnya sehingga kepandaian mereka sudah meningkat banyak. Tadinya Gwat Kong amat cemas memikirkan isterinya. Akan tetapi ketika melihat betapa gagah Cui Giok menggerakkan sepasang pedangnya, timbul kegembiraannya. Dan iapun lalu mainkan Sin-eng Kiam-hoat dan Sin-hong-tung-hoat dengan pedang dan sulingnya.

Pertempuran berjalan dengan amat seru dan hebatnya sehingga sepuluh orang itu seakan-akan lenyap dalam gulungan banyak sinar senjata yang indah sekali, kelihatannya. Betapapun lihai Pat-kwa-tin itu, namun akhirnya Ang Sun Tek dan kawan-kawannya harus mengakui keunggulan ilmu pedang Im-yang Siang-kiam-hoat dan ilmu tongkat Sin-hong Tung-hoat itu.

Setelah bertempur kira-kira lima puluh jurus, tiga orang anggota Pat-kwa-tin roboh. Seorang tertotok oleh suling Gwat Kong. Orang kedua terbacok lengan kanannya oleh pedang Gwat Kong pula dan orang ketiga roboh karena kena disambar pahanya oleh pedang di tangan Cui Giok.”

Ang Sun Tek marah dan penasaran sekali melihat tiga orang kawannya dirobohkan. Sambil berseru nyaring, ia lalu mendesak Cui Giok karena ia tahu bahwa nyonya muda ini sedang menderita sakit. Goloknya menyambar ke arah leher Cui Giok dan ketika Cui Giok menangkis dengan pedang kirinya, kakinya menendang dengan hebatnya ke arah perut nyonya muda itu.

Hal ini mengejutkan Cui Giok, maka tangkisan pedang kirinya menjadi lemah ketika ia menggerakkan pedang di tangan kanannya untuk membacok kaki yang menyambar perutnya itu. Dua hal terjadi dengan hampir berbareng yang mengakibatkan Ang Sun Tek menjerit dan roboh dengan paha terbacok putus dan Cui Giok terhuyung-huyung dengan pundak kiri berlumuran darah karena bacokan golok, karena tangkisannya kurang kuat.

Tin Eng yang menonton di depan pintu karena ketika hendak membantu dilarang oleh Gwat Kong dan Cui Giok, segera berlari maju dan memeluk nyonya muda itu. Sedangkan Gwat Kong dengan suara mengguntur membentak empat orang anggauta Pat-kwa-tin,

“Tahan! Setelah Ang Sun Tek roboh, apakah kalian masih mau mencari mampus? Sudahlah, isteriku terluka dan empat orang kawanmu juga terluka. Ang Sun Tek mendapat luka parah karena salahnya sendiri. Pergilah kalian dari sini dan jangan mengganggu kami lagi!” Empat orang itu maklum bahwa mereka takkan dapat mengalahkan orang muda yang lihai itu, maka lalu menggotong tubuh kawan-kawannya dan pergi dari tempat itu.

Cui Giok dibaringkan di dekat pembaringan anaknya, dijaga oleh Tin Eng dan Gwat Kong. Keadaannya makin payah.

“Cui Giok, mengapa kau memaksa diri keluar membantuku ?” Gwat Kong menyatakan

penyesalannya.

Cui Giok tersenyum, “Apakah artinya luka sedikit di pundak ini? Lukaku di dalam dada sudah tak dapat diobati lagi, dan aku girang dapat membuktikan bahwa Im-yang Kiam-hoat tak

kalah hebatnya oleh Pat-kwa To-hoat!”

Dengan penuh perhatian, Tin Eng merawat Cui Giok. Akan tetapi nyonya muda ini ketika jatuh dengan burung rajawali yang membawanya dulu, telah menderita luka di dalam tubuh yang hebat. Darah tubuhnya telah terganggu oleh luka ini dan hanya berkat latihan bertahun- tahun maka ia masih tahan hidup selama ini.

Tiga hari kemudian, pada suatu pagi yang cerah, ia nampak gembira sekali dan menyuruh Tin Eng membawa Lan-lan, anak kecil itu untuk diletakkan di sebelahnya. Ia menciumi anak itu dengan penuh kasih sayang, lalu berkata kepada Tin Eng,

“Tin Eng, jadilah seorang isteri yang setia untuk Gwat Kong dan ibu yang bijaksana untuk Lan-lan ”

Tin Eng hanya dapat menahan runtuhnya air mata dan menganggukkan kepalanya. Gwat Kong tidak kuat melihat keadaan ini dan keluar dari kamar, duduk di ruang depan sambil melamun. Tiba-tiba terdengar jerit Tin Eng dan ketika Gwat Kong memburu masuk, ternyata Cui Giok sudah menarik napas terakhir sambil memeluk anaknya. Jerit tangis terdengar memenuhi rumah kecil di lereng itu dan tetangga-tetangga datang melayat.

Setelah jenazah Cui Giok dirawat dan dikubur, maka Gwat Kong dan Tin Eng yang menggendong anak kecil itu, pergi dari Kam-hong-san, menuju hidup baru yang penuh dengan kebahagiaan namun penuh pula dengan kenangan mengharukan.

Beberapa bulan kemudian, Pang Gun dan Pang Sin Lan di kotaraja didatangi Tin Eng yang membawa batu-batu permata itu. Akan tetapi kedua putera pangeran itu menolak dan memberikan benda-benda itu kepada Tin Eng, karena mereka telah kawin dengan orang-orang hartawan di kota raja dan tidak membutuhkan benda-benda berharga itu. Maka pergilah Tin Eng kembali ke tempat suami dan anak tirinya dan hiduplah ia penuh kebahagiaan sampai di hari tua.

TAMAT

Posting Komentar