yang nampaknya sedang sakit, akan tetapi ia cantik sekali. Kawan kami yang sekarang telah mati itu hendak mengganggunya karena tertarik oleh kecantikannya. Akan tetapi wanita yang kelihatan lemah tak berdaya itu lalu menyambitkan sebuah benda yang mengenai kepala kawan kami itu. Kawan kami roboh dan binasa disaat itu juga. Aku dan kawanku yang tadi lalu mengangkat mayatnya dan lari dari situ. Aku tertarik melihat cahaya yang bersinar dari luka di kepalanya dan ketika kuambil benda itu ”
Tiba-tiba Gwat Kong mencekik lehernya.
“Cepat ceritakan di mana adanya wanita itu!” teriaknya bagaikan orang kalap. “Di ..... kuil itu ..... di atas bukit ini ”
Gwat Kong segera menotok pundak si muka merah yang roboh dengan tubuh lumpuh. “Kau takkan dapat bergerak selama dua puluh empat jam. Kalau kau ternyata membohong, aku akan datang lagi untuk mengambil nyawamu!” Setelah berkata demikian bagaikan terbang cepatnya, Gwat Kong lalu mendaki bukit Kam-hong-san.
Benar saja, di puncak bukit yang sunyi itu ia melihat sebuah kuil bobrok. “Cui Giok ! Ia memanggil lalu berlari cepat menghampiri kuil.
“Gwat Kong !” Terdengar jawaban lemah. Bukan main girangnya hati Gwat Kong. Hanya
seorang saja di dunia ini yang dapat memanggil namanya dengan nada semanis dan semerdu itu, Cui Gioklah orangnya. Dengan airmata bercucuran, Gwat Kong mempercepat larinya, memasuki kuil dan ia melihat isterinya berbaring di atas lantai dengan wajah pucat!
“Cui Giok, isteriku !” Ia menubruk dan memeluk isterinya yang membalas dengan pelukan
mesra dan tangis terisak-isak. “Gwat Kong ...... suamiku yang baik ...... akhirnya kau datang juga akhirnya kita bertemu
juga !”
Gwat Kong tak dapat menjawab, hanya merangkul kepala isterinya dan didekap pada dadanya dengan erat. Sampai lama mereka merangkul itu dengan hati yang hanya Thian saja yang tahu betapa bahagianya. Sudah tiga bulan mereka berpisah semenjak diterbangkan oleh burung rajawali itu.
Memang Cui Giok dibawa terbang jauh sekali oleh burung rajawali yang membawanya dan akhirnya burung itu tak kuat lagi dan jatuh mati di bukit itu. Cui Giok yang ikut jatuh menderita pada kakinya. Dengan amat lemah dan susah payah, nyonya muda yang sedang mengandung ini dapat menuju ke kuil itu dan tinggal di situ sampai tiga bulan lamanya. Ia memaksa diri untuk bergerak mencari makan pada saat ia sudah tak dapat menahan laparnya lagi. Akan tetapi akhirnya ia tidak tahan dan jatuh sakit di lantai kuil!
Ketika ketiga orang penjahat itu datang mengganggu ia tidak kuasa mempertahankan diri, maka terpaksa ia menyerang mereka dengan batu permata yang dibawanya dari guha neraka itu.
Dengan amat gelisah, Gwat Kong merawat isterinya. Biarpun tidak banyak, Gwat Kong pernah mempelajari ilmu pengobatan dari Bok Kwi Sianjin, maka lambat laun sembuhlah penyakit isterinya, sungguhpun tubuhnya masih amat lemah. Gwat Kong mengajak isterinya berpindah tempat ke sebuah kampung kecil di lereng bukit Kam-hong-san. Berbulan-bulan mereka tinggal di situ dan datanglah saatnya Cui Giok melahirkan seorang anak perempuan yang mungil dan sehat.
Akan tetapi kesehatan Cui Giok yang memang sudah amat terganggu itu, makin menjadi buruk setelah ia melahirkan anaknya. Mukanya selalu pucat dan tubuhnya lemah.
Sungguhpun ia selalu tersenyum dan matanya bersinar-sinar gembira melihat anaknya.
“Gwat Kong !” katanya pada suatu malam, beberapa hari setelah ia melahirkan. “Kasihan
kau, suamiku ”
“Eh, aneh sekali kau ini, Cui Giok,” jawab Gwat sambil mengelus-elus rambut isterinya yang kusut. “Mengapa kau berkasihan kepadaku? Kaulah yang harus dikasihani.”
Cui Giok tersenyum pahit. “Kau, memang seorang suami yang baik! Kau telah mengorbankan cita-cita dan kebahagiaanmu untukku. Ah, Gwat Kong sungguh aku orang yang paling berbahagia di muka buni ini!”
“Aku apa maksudmu, isteriku?”
“Gwat Kong, aku tahu kau masih menyinta Tin Eng, bukan?”
Bukan main terkejutnya hati Gwat Kong mendengar ini dan melompat berdiri. “Cui Giok. !
Apa maksudmu berkata demikian?”
Cui Giok tersenyum dan memegang tangan suaminya. “Tidak apa-apa, jangan kaget. Aku tahu bahwa kau telah menyinta dia sebelum bertemu dengan aku. Malahan tadi kau mengigau dalam tidurmu, menyebut-nyebut namanya, seperti juga yang seringkali kau lakukan ketika kita berada di guha neraka itu.”
“Cui Giok !” Akan tetapi ia melihat isterinya tersenyum tenang.
“Aku tidak cemburu, suamiku. Juga tidak iri hati. Dengarlah, aku minta kau suka bawa Tin Eng ke sini, aku ..... aku perlu bicara kepadanya, perlu meninggalkan pesanan ”
“Meninggalkan pesanan ? Apa maksudmu?” Wajah Gwat Kong menjadi pucat.
“Suamiku, aku tak perlu menyembunyikan lebih lama lagi. Aku mendapat luka di dada yang amat parah. Ketika aku jatuh dengan burung itu ... ah, kasihan kau, suamiku jangan kaget
....., aku .... aku sering muntah darah ”
“Cui Giok !” Gwat Kong memeluk sambil mengalirkan air mata dari kedua matanya.
“Tenanglah, suamiku. Hadapilah kehendak Thian dengan gagah. Sekarang setelah kau mengetahui keadaanku, lekaslah kau pergi ke Kiang-sui bawa Tin Eng ke sini. Kecuali ......
kecuali kalau ia sudah menikah dengan lain orang “
“Ia belum menikah .......” jawab Gwat Kong tak sadar. “Akan tetapi aku tidak mau
meninggalkan kau dalam keadaan begini!”
“Suamiku, juga kau tidak mau kalau kutekankan bahwa ini merupakan permintaanku ?
Permintaan terakhir?”
“Cui Giok !“ Mereka saling rangkul dan terdengarlah isak dari tenggorokan Gwat Kong.
****
Setelah tiba di rumah, Liok-taijin memanggil Tin Eng. Setelah anaknya datang menghadap, ia lalu berkata, “Tin Eng, betul seperti dugaanmu dulu. Gan Bu Gi bukanlah manusia baik-baik. Ia seorang penjahat besar. Nona Tan Kui Hwa telah menceritakan kepadaku betapa jahatnya dia. Pertunanganan dengan dia kuputuskan hari ini juga!”
“Ayah!” Tin Eng memeluk ayahnya. “Terima kasih, ayah ”
Dengan perantaraan pembantunya dan penasehatnya, yakni Lauw Liu Tek, Liok-taijin memberitahukan hal ini kepada Gan Bu Gi, bahkan ia mengusir dan memberhentikan pekerjaan pemuda itu.