“Cui Giok ....! Cui Giok !”
Akan tetapi tidak ada yang menyahut, hanya burung-burung kecil di pohon-pohon berterbangan karena kaget.
Ia tiba di sebuah dusun. Orang-orang dusun itu heran melihat seorang pemuda yang pakaiannya compang camping berlari-lari cepat bagaikan kijang.
“Adakah kalian melihat seekor burung rajawali terbang di atas kampung ini?” tanya seorang pemuda itu berkali-kali kepada siapa saja yang dijumpainya di jalan.
Orang-orang dusun itu menggeleng kepala. Tidak saja mereka tak melihat burung rajawali bahkan mereka lalu menganggap Gwat Kong seorang yang miring otaknya. Gwat Kong tidak memperdulikan pandangan orang-orang kepadanya, lalu berlari lagi cepat-cepat ke utara, tak memperdulikan sesuatu. Ia harus dapat mencari isterinya yang tercinta.
“Cui Giok .........! Cui Giok !” suara panggilannya ini terdengar sampai jauh malam
sehingga orang-orang kampung yang mendengar ini merasa heran dan menggelengkan kepala, kasihan kepada orang muda yang mereka sangka gila itu. Memang Gwat Kong seperti telah menjadi gila. Ia berlari-lari terus ke sana ke mari, mencari-cari Cui Giok sambil memanggil- manggil, kemudian melanjutkan larinya ke utara.
**** Kita tinggalkan dulu Gwat Kong yang mencari isterinya bagaikan gila itu dan marilah kita menengok Tin Eng yang sudah lama kita tinggalkan. Semenjak di bawa turun dari Hong-san oleh ayahnya dan menganggap bahwa Gwat Kong yang terjerumus ke dalam jurang itu sudah tewas, Tin Eng seakan-akan berubah menjadi seorang gadis lain. Kalau dahulu wataknya gembira dan jenaka, kini ia berubah pendiam, tak mau banyak bicara dan wajahnya yang cantik itu selalu muram.
Setibanya di rumah, ia menyembunyikan diri di dalam kamarnya. Jarang sekali mau keluar dan ia lebih suka membaca kitab kuno atau menyulam, atau termenung. Baru sekarang
setelah Gwat Kong tewas, ia merasa betapa besar ia menyinta pemuda itu, dan alangkah menyesalnya bahwa ia tidak menyatakan perasaan hatinya kepada pemuda itu dulu-dulu sebelum Gwat Kong tewas. Ia maklum betapa besarnya cinta kasih Gwat Kong kepadanya, sehingga pemuda itu rela menjadi pelayan yang rendah sampai bertahun-tahun, hanya untuk dapat dekat dengan dia.
“Gwat Kong !” seringkali ia menyebut nama ini sambil menghela napas dan hatinya terasa
makin patah.
Betapapun besar gemas dan marahnya hati Liok Ong Gun karena kebandelan Tin Eng yang sudah berkali-kali membantah kehendak ayahnya dan sudah dua kali melarikan diri dari rumah sehingga setidaknya mendatangkan rasa malu kepadanya, namun sebagai seorang ayah yang hanya mempunyai anak tunggal, Liok-taijin merasa gelisah dan kasihan juga melihat keadaan anaknya itu. Terutama sekali nyonya Liok dengan segala daya upaya ia mencoba untuk menghibur hati anaknya.
“Tin Eng, mengapa kau selalu nampak susah hati sehingga membikin orang tuamu ikut merasa bingung dan susah?” kata Liok-taijin pada suatu hari ketika ia bersama isterinya mengunjungi kamar anaknya. “Gwat Kong sudah tewas dalam kecelakaan, untuk apa kau berkabung untuk seorang yang tidak ada hubungannya dengan kita?”
“Aku cinta kepadanya, ayah,” jawab Tin Eng sambil menundukkan mukanya.
Kalau dulu Tin Eng berani mengucapkan pengakuan seperti ini, tentu Liok-taijin akan menjadi marah sekali. Akan tetapi pemuda itu telah mati, maka ia hanya memandang dengan penasaran dan berkata,
“Sungguh kau memalukan hatiku, Tin Eng! Kau menyinta seorang pemuda bekas pelayan, seorang yatim piatu yang tidak diketahui siapa orang tuanya, seorang pemuda keturunan rendah?”
“Ayah,” kata Tin Eng sambil mengangkat mukanya, memandang ayahnya dengan berani, “aku tidak mengukur kemuliaan hati seseorang dari pangkat dan kedudukannya. Gwat Kong seorang pemuda berhati mulia. Dapatkah ayah menyangkal bahwa selama ia bekerja di sini, ia melakukan sesuatu yang tidak baik? Bukankah ia selalu jujur, sopan-santun dan setia?”
“Betul, ... betul ....... akan tetapi ”
“Akan tetapi ayah masih menganggap dia seorang rendah! Ayah tahu, bahwa Bun Gwat Kong itu sebenarnya adalah putera tunggal dari mendiang Bun-tihu yang terkenal adil dan jujur di kota Lam-hwat!” Benar-benar tercengang Liok-taijin mendengar ini. Ia sudah mendengar dan tahu akan nama Bun-tihu. “Mengapa, kau tidak menceritakan hal ini dahulu! Akan tetapi ah apa gunanya
kita mempercakapkan keadaan Gwat Kong? Dia sudah meninggal dunia, tak perlu dipikirkan lagi. Kau harus dapat menginsafi keadaan dan melihat kenyataan. Kau harus siap pula menghadapi pernikahan dengan Gan-ciangkun.”
“Ayah !”
“Tin Eng,” kata ibunya. “Ayah dan ibumu sudah tua, kau sudah cukup dewasa. Bahkan sudah lebih dari cukup usiamu untuk menikah. Aku dan ayahmu ingin sekali melihat kau berumah tangga dan hidup bahagia. Kau hanya sekali ini dapat berlaku bakti dan menyenangkan hati orang tuamu, nak.” Suara nyonya Liok tergetar karena keharuan hatinya sehingga Tin Eng ikut pula terharu. Ia memeluk ibunya dan menangis.
“Ibu, aku tidak ingin menikah biar dengan siapapun juga.”
“Tin Eng, benar-benarkah kau hendak menjadi seorang anak tunggal yang puthauw (tidak berbakti), yang menghancurkan kebahagiaan ayah-ibumu sendiri?” kata Liok Ong Gun.
Mendengar ucapan ini, Tin Eng hanya bisa menangis, kemudian ia memaksakan diri berkata, “Betapapun juga, ayah. Berilah waktu kepadaku, berilah waktu setahun lagi!”
“Setahun? Terlalu lama, anakku. Kau harus tahu bahwa yang menjadi perantara adalah susiok-couw! Pernikahan dilangsungkan setelah selesai diadakan pibu antara Go-bi-pai dan Hoa-san-pai!”
Tin Eng terkejut. Hampir ia lupa akan hal itu. Telah menjadi cita-citanya dan cita-cita Gwat Kong untuk berusaha mendamaikan antara dua cabang persilatan ini. Kini cita-cita ini harus ia lanjutkan, biarpun kepandaiannya tidak mencukupi. Ia dapat bekerja sama dengan Kui Hwa yang tentu akan datang di tempat itu juga.
“Ayah, bilakah diadakan pibu itu?”
“Apakah kau sudah lupa? Pada permulaan musim Chun, jadi kira-kira sepekan lagi.” “Apakah ayah juga ikut ke sana?”
“Tentu saja, kita harus kalahkan orang-orang yang sombong.” “Ayah, aku ikut!”
“Eh??” Liok Ong Gun ragu-ragu karena ia telah melihat betapa puterinya ini bersahabat dengan orang-orang Hoa-san-pai. “Untuk apa kau ikut?”
“Ayah, aku ingin menonton adanya pibu itu. Ayah harus perbolehkan aku ikut kali ini. Kalau tidak, aku akan rewel lagi dan takkan menurut kehendakmu.” Terpaksa pembesar itu meluluskan permintaan Tin Eng. Diam-diam pihak Go-bi-pai telah bersekutu dengan banyak orang. Tidak saja mendapat bantuan dari Kim-san-pai, yakni Gan Bu Gi dan suhunya, juga suhengnya akan tetapi pihak Go-bi-pai dengan perantaraan dan pengaruh Liok-taijin telah dapat bantuan dari perwira-perwira kota raja termasuk Liok-taijin pun! Bahkan Liok-taijin telah menyanggupi permintaan susiok-couwnya untuk bertemu di puncak Thay-san dan membawa sepasukan perwira Sayap Garuda.
Beberapa hari kemudian, berangkatlah pasukan Liok-taijin dan Tin Eng ikut dalam rombongan yang berkuda itu. Mereka menuju ke utara dan melakukan perjalanan dengan cepat.
Pihak Go-bi-pai dan pihak Hoa-san-pai tidak mengira bahwa tokoh-tokoh besar mereka, yakni ketua Go-bi-pai sendiri, Thay Yang Losu dan ketua Hoa-san-pai, Pek Tho Sianjin akan datang sendiri ke tempat itu bukan untuk mengadu kepandaian, melainkan untuk mendamaikan murid-muridnya. Hanya Sin Seng Cu seorang yang mengetahui akan hal ini, karena ketika Gwat Kong datang menghadap Pek Tho Sianjin, ia hadir pula di puncak Hoa-san-pai.
Demikianlah, setelah kedua rombongan yang bermusuhan itu berkumpul di puncak Thay-san dan keadaan menjadi tegang oleh karena anak murid kedua pihak sudah merasa “panas”.
Tiba-tiba berkelebat tiga bayangan dan tahu-tahu tiga orang kakek telah berada di tengah- tengah mereka. Mereka bertiga ini bukan lain ialah Thay Yang Losu ketua Go-bi-pai, Pek Tho Sianjin ketua Hoa-san-pai dan Bok Kwi Sianjin ahli Sin-hong-tung-hoat yang bertindak sebagai pendamai.
MELIHAT ketua mereka, tentu saja kedua pihak terkejut dan semua orang lalu berlutut.
“Murid Go-bi-pai semua yang hadir di sini!” terdengar Thay Yang Losu berkata dengan suaranya yang sabar, akan tetapi berpengaruh. “Pinceng sudah maklum akan maksud kalian mengadakan pertemuan dengan kawan-kawan dari Hoa-san-pai. Semua ini adalah gara-gara murid Seng Le Hosiang yang biarpun sudah tua akan tetapi masih saja tidak dapat mengendalikan nafsu hatinya! Dengan perbuatan ini, mengadakan permusuhan dan pibu dengan golongan lain tanpa memberitahu kepada pinceng, kalian telah melakukan pelanggaran besar. Mulai sekarang, segala permusuhan pihak manapun juga harus dibikin habis! Segala peristiwa yang terjadi, yang timbul karena urusan pribadi antara anak murid Go- bi-pai dan anak murid Hoa-san-pai, harus diselesaikan dengan cara damai, atau kalau tidak mungkin, akan diadili oleh ketua Go-bi-pai dan Hoa-san-pai sendiri. Siapa di antara kalian yang berani melanggar, pinceng akan turun tangan melakukan hukuman dan pelanggarannya takkan diaku sebagai anak murid Go-bi-pai lagi. Pinceng selesai bicara, supaya menjadi perhatian!”
Kini Pek Tho Sianjin yang maju dan berkata dengan suaranya yang tinggi. “Juga kepada semua anak murid kami dari Hoa-san-pai hendaknya diperhatikan baik-baik apa yang pinceng akan ucapkan ini. Sesungguhnya kalian semua hanya terbawa-bawa oleh nafsu dan kekerasan hati Sin Seng Cu, kakek yang sudah berobah menjadi anak kecil ini. Maka, sebagaimana yang kalian dengar diucapkan oleh Thay Yang Losu, mulai saat ini segala permusuhan dihabiskan dan dibubarkan. Pinto mengharap kepada kedua pihak, apabila melihat perbuatan-perbuatan yang melanggar perikemanusiaan atau melanggar watak seorang gagah, baik pelanggar itu anak murid Go-bi-pai, janganlah hendaknya turun tangan sendiri sehingga menimbulkan permusuhan, akan tetapi laporkanlah kepada kami yang wajib menghukum anak murid yang murtad dan menyeleweng! Untungnya ada Bok Kwi Sianjin yang memberitahukan kepada pinto dan kepada Thay Yang Losu. Kalau tidak, bukankah hari ini akan terjadi banjir darah di tempat suci ini?”
Semua anak murid Go-bi-pai dan Hoa-san-pai tentu saja tidak berani membantah atau membuka mulut mendengar ucapan-ucapan ketua mereka. Bahkan yang mereka tadinya sudah panas hati dan gatal tangan, kini bungkam dan menundukkan muka tak berani berkutik!
Hanya mereka yang hanya terbawa-bawa dan pada lubuk hatinya tidak menyetujui permusuhan ini, menjadi lega dan girang.
Bok Kwi Sianjin lalu berkata sambil tertawa bergelak.
“Bagus, bagus! Memang Go-bi-pai dan Hoa-san-pai adalah dua cabang persilatan yang besar dan anak-anak muridnya terkenal gagah perkasa dan menjunjung tinggi pribadi dan kebajikan. Mereka ini masih dapat dimaafkan dengan adanya permusuhan ini karena masing-masing tidak dapat menahan nafsu hati! Akan tetapi yang paling menyebalkan adalah orang-orang yang ikut membonceng dalam pertikaian ini, pihak-pihak ketiga yang memancing ikan di air keruh yang mempergunakan kerusuhan ini untuk mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri.