Ong Sin Ho semakin jadi tertawa, semakin menjadi heran sampai kemudian dia melihat bertambah cepat tubuh Yo Toa berputar; membikin dia yang waspada dan tetap mengawasi jadi merasa pening, sampai kemudian dia menutup sepasang matanya sebentar, maksudnya untuk menghilangkan rasa pening; dan waktu dia membuka lagi sepasang matanya; maka Yo Toa yang tetap berputar kelihatan bertambah mendekati, lalu menyeruduk menyerang memakai palunya yang berat.
Ong Sin Ho menangkis seperti biasa, tetapi dia menjadi terkejut sebab sekarang tubuh Yo Toa tidak terdorong, sebaliknya malah Ong Sin Ho yang terdorong mundur beberapa langkah kebelakang!
Dapat dibayangkan bahwa tenaga serangan Yo Toa, dan juga daya tahannya sudah merupakan tenaga lima orang yang berkumpul bersatu padu ! Meskipun Yo Toa tadi menyerang, namun tubuhnya tetap berputar, sampai pada giliran perputaran Yo Sun yang menghajar Ong Sin Ho selagi jago tua itu terdorong mundur.
Dengan mengerahkan tenaganya, meskipun hanya sebelah tangan yang memegang goloknya, Ong Sin Ho menangkis tudung caping Yo Sun, sampai suara benturan berbunyi keras dan sekali lagi tubuh Ong Sin Ho terdorong mundur, sedangkan tubuh Yo Toa yang masih berputar, memberikan giliran buat Yo Sam yang menyerang memakai senjatanya.
Ong Sin Ho berteriak kaget, dia terpaksa harus lompat menjauh, tidak menangkis akan tetapi berkelit menghindar, namun dia kalah cepat sebab senjata Yo Sam berhasil memutuskan tali pinggang pakaiannya.
Dan tubuh Yo Toa yang masih berputar meskipun Ong Sin Ho sudah memisah diri agak jauh, dan yang mendapat giliran menyerang justru adalah Yo Gie dengan cambuknya yang panjang.
Bunyi suara cambuk itu menggema keras, sedangkan Ong Sin Ho sangat marah karena merasa sedang dipermainkan. Dia mengerahkan tenaga dan dengan tabah dia pun menyambuti dan membiarkan lengan kirinya kena dilibat cambuk, lalu dia menarik keras, namun hasilnya tubuh Yo Toa berlima tidak bergerak sebaliknya Ong Sin Ho justeru yang tertarik mendekati tempat ke lima bersaudara itu berdiri, dan menjadi giliran Yo Jim yang menikam memakai pedangnya.
Sekali lagi terdengar pekik-teriak suara Ong Sin Ho akan tetapi jago tua ini benar benar sangat tangkas dan gagah sebab selagi dia terjerumus ke depan dan melihat giliran Yo Jim yang hendak menyerang dengan pedang, maka dia justeru sengaja membuang dirinya bergulingan dilantai, sehingga nyaris dia dari tikaman Yo Jim bahkan berhasil dia menjauhi diri dari tempat ke lima bersaudara itu.
Si bungsu Yo Gie habis sabar. Dia berteriak dan lompat turun dari tubuh Yo Toa karena dia tidak mau membuang kesempatan selagi tubuh Ong Sin Ho bergulingan dilantai. Cambuknya menggema dan berulangkali berhasil menghajar tubuh Ong Sin Ho yang terpaksa harus terus bergulingan, sampai disuatu saat jago tua itu berhasil meraih ujung cambuk yang mengarah dia lalu dia menarik sekuat tenaga, membikin tubuh Yo Gie seperti terbang di udara kena daya tariknya !
Dara Lian Cay Hong berteriak kaget, sebab Yo Gie bertindak menyeleweng dari ilmu 'ngo houw tay sin kang' sehingga bukan saja keadaan Yo Gie menjadi berbahaya, bahkan semua saudaranya ikut berantakan kedudukannya.
Akan tetapi Yo Gie cukup tabah dan banyak akalnya. Dia membiarkan tubuhnya terbang akan tetapi gagang cambuknya tetap dia pegang erat erat. Tubuhnya yang terbang itu melewati tiang kaso rumah yang melintang, dan waktu tubuhnya turun sebab tertahan dengan tarikan ujung cambuk yang masih membelit dilengan kanan Ong Sin Ho, maka jago tua yang sedang tidak siaga itu kena tertarik, sampai dia ikut tergantung.
Si bungsu Yo Gie yang cerdas dan banyak akal itu, sengaja membiarkan tubuhnya terayun terus bahkan berputar membelit tiang kaso yang melintang, dan sekaligus membelit leher Ong Sin Ho yang tidak sempat melibatkan ujung cambuk pada lengannya; sehingga pada detik berikutnya tubuh Ong Sin Ho yang tergantung; menjadi tidak berdaya sebab batang lehernya ikut tercekik atau terlibat cambuk si bungsu Yo Gie, yang bahkan telah mengikat erat erat cambuk itu diatas tiang kaso. Tak kuasa Ong Sin Ho melepaskan diri, dan Yo Toa yang tubuhnya cukup tinggi dan besar, kemudian menyeruduk seperti seekor banteng gila dan palu baja yang berat lalu menghantam lutut kanan Ong Sin Ho yang masih bergantung tidak berdaya, mengakibatkan tulang lutut itu hancur, disusul kemudian dengan terkaman si gagak putih Yo Jim yang melesat dan pedangnya membenam dibagian dada kiri Ong Sin Ho; sementara Yo Sam yang ikut bergerak bagaikan kilat cepatnya dia merobek perut Ong Sin Ho, dan Yo Sun lompat bagaikan terbang membabat batang leher Ong Sin Ho memakai tudung capingnya yang tipis tetapi tajam sehingga batang leher Ong Sin Ho putus dan tubuhnya jatuh terbanting dilantai, akan tetapi sisi kepalanya masih tetap tergantung oleh cambuk yang membelit ditiang kaso !
"Dari itu benar benar pinnie sangat tidak mengerti, betapa Hong bie kauwcu Gan Hong Bie dapat membinasakan Kim an ngo kiat…" akhirnya Cay Hong suthay alias Lian Cay Hong berkata dengan suara perlahan, selagi dia masih menghadapi pemuda Pauw Keng Thian; sementara pada sepasang matanya terlihat ada butir-butir air mata.
"Mungkin waktu itu Kim an ngo kiat tak berkesempatan mempersiapkan ilmu 'ngo houw tay sin kang' .. " sahut Pouw Keng Thian yang ikut menjadi iba dengan nasib Kim an ngo kiat lima bersaudara.
Memang pada kesempatan bertempur melawan Hong bie kauwcu dan rombongannya; tak ada kesempatan buat lima bersaudara Yo menggunakan ilmu ngo houw tay sin kang sebab meskipun sudah lewat puluhan tahun, akan tetapi ternyata si bungsu Yo Gie masih tidak dapat mengendalikan diri bahkan dia menjadi orang pemarah, sehingga dia kena serangan bisa racun selekas dia memukul Hong bie kauwcu yang sedang memakai baju bulu yang tajam seperti duri duri landak!
Dipihak Cay Hong Suthay yang sangat penasaran dengan kekalahan Kim an ngo kiat melawan Hong bie kauwcu Gan Hong Bie hampir saja biarawati itu lupa bahwa dia sudah hidup mengasingkan diri berkenaan dengan hasratnya yang hendak mencari Hong bie kauwcu. Akan tetapi akhirnya dia menyadari diri sehingga sekali lagi dia menyebut 'o mi to hud' setelah itu pun menjadi teringat dengan salah seorang sahabatnya yang masih giat merajalela di kalangan rimba persilatan yakni si jeriji sakti Phang Bun Liong dari persekutuan Hek liong pang.
"Hayaa! aku hampir lupa dengan dia akan aku putuskan jari tangannya itu kalau dia tidak mau membasmi persekutuan Hong bie pang…" demikian Cay Hong Suthay berkata seperti pada dirinya sendiri; setelah itu dia memerintahkan Pouw Keng Thian buat mengunjungi tempat kediaman It cie sian Phang Bun Liong yang menjadi ketua Hek liong pang dan untuk maksud itu sengaja dia telah menulis surat untuk dibawa oleh Pouw Keng Thian.
Sekali lagi, pemuda Pouw Keng Thian terpaksa harus menunda niatnya yang hendak menyambangi makam kedua orang tuanya, sebaliknya dia langsung menuju perbatasan utara, buat menemui Phang Bun Liong dengan membawa surat dari Cay Hong suthay.
( X ) 3(
JAUH disebelah utara, disebuah kota kecil yang letaknya dekat perbatasan daerah Kang lam terdapat seorang pemuda yang bernama Ong Tiong Kun.
Pemuda Ong Tiong Kun ini berasal dari keluarga hartawan; masih punya hubungan keluarga dengan Kanglam liehiap Soh Sim Lan, dari itu tidak heran kalau saban hari pakaian Ong Tiong Kun dibikin dari bahan yang mahal harganya, disamping dia biasa hidup hambur tidak sayang mengeluarkan uang buat menolong setiap orang yang memerlukan bantuannya.
Oleh karena caranya yang hambur itu maka kedua orang tuanya membatasi pemberiannya kepada Ong Tiong Kun, sehingga pemuda ini kemudian menyusuri daerah Kanglam hendak mencari kerja buat membiayai kebutuhannya sendiri.
Berhari hari Ong Tiong Kun berkeliaran didaerah Kang lam yarg luas namun dia belum berhasil mendapat pekerjaan yang cocok buat dirinya.
Pada suatu hari dengan kudanya dia menyusuri tepi pantai laut In tay, dan pada waktu Ong Tiong Kun mencapai bagian yang sunyi dari tempat yang masih jauh terpisah dia melihat adanya seorang wanita yang sedang berjalan menuju ketengah laut bebas sampai kemudian kelihatan tubuh wanita itu ditelan gelombang laut.
Melihat adanya kejadian itu, maka didalam hati Ong Tiong Kun merasa yakin bahwa wanita itu sengaja membiarkan dirinya ditelan gelombang yang ganas, atau dengan kata lain wanita itu memang bermaksud membunuh diri dilaut yang bebas!
Namun demikian, sudah tentu Ong Tiong Kun tidak dapat membiarkan seseorang mati dihadapan matanya; sehingga tanpa memikir panjang dia melompat turun dari kudanya lalu dengan beberapa kali lompatan dia berhasil menceburkan diri kedalam laut, berenang dengan gayanya yang lincah dan mahir, untuk dilain saat dia berhasil meraih tubuh wanita itu, untuk dia seret dan biarkan terbaring dipantai. Kemudian Ong Tiong Kun berdiri dan menjadi terpesona mengawasi wajah muka wanita yang sedang rebah pingsan itu, oleh karena dia melihat suatu wajah muka yang cantik dengan tubuh ramping, dan dilihat dari pakaiannya wanita itu, maka Ong Tiong Kun yakin kalau wanita itu pandai ilmu silat.
Dengan hati berdebar keras, Ong Tiong Kun mendekati lagi wanita muda yang masih rebah pingsan itu; lalu dengan gerak berhati hati dia membalik tubuh wanita itu sampai rebah tengkurap, kemudian dia meraba dibagian punggung wanita muda itu, untuk dia menyalurkan tenaga dalamnya, berusaha mengeluarkan air laut yang sudah kena ditelan oleh wanita itu.
Setelah selesai dengan usahanya memberikan pertolongan pertama, maka wanita muda itu kelihatan mulai sadar dari pingsannya; membuka sepasang matanya dan kelihatan terkejut bercampur kecewa, sebab mendapati dirinya belum binasa, karena adanya seorang pemuda yang telah memberikan pertolongan.
Dengan suatu gerak yang diluar dugaan Ong Tiong Kun, maka wanita cantik itu lompat dan lari hendak menceburkan lagi dirinya ke tengah laut.
Sejenak Ong Tiong Kun menjadi kelabakan, akan tetapi dia cukup tangkas untuk melakukan pengejaran dan menerkam tubuh wanita itu, sampai keduanya terjatuh dan bergumul ditepi Iaut yang tidak dalam airnya.
Waktu Ong Tiong Kun sedang merangkul tubuh wanita muda itu dengan sepasang tangannya, maka dengan secara mendadak Ong Tiong Kun perdengarkan suara terkejut dan buru buru melepaskan rangkulannya, sebab wanita muda itu dilihatnya menyerang bagian leher Ong Tiong Kun dengan menggunakan dua jari tangan yang lurus, tegang bagaikan wanita muda sedang menggunakan ilmu jeriji sakti atau It ci sian.
Akan tetapi agaknya si cantik itu sengaja hanya menggertak sebab waktu Ong Tiong Kun sudah melepaskan rangkulannya maka wanita muda itu batal menyerang, sebaliknya dia lompat untuk lari meninggalkan Ong Tiong Kun dan dia lari tidak lari ketengah laut, akan tetapi menyusuri tepi pantai.
Andaikata pada saat Ong Tiong Kun membiarkan saja wanita muda itu menghilang; maka urusan akan menjadi selesai atau berakhir, akan tetapi darah muda Ong Tiong Kun menyebabkan dia lari mengejar, karena merasa penasaran wanita muda itu dapat melepaskan diri dari rangkulannya tadi, melulu karena telah menggertak dengan menggunakan jurus dari ilmu It ci sian !
Dipantai laut yang bebas, agaknya wanita muda itu merasa sukar untuk membebaskan diri dari kejaran Ong Tiong Kun; sehingga dia lari kedekat tempat adanya beberapa perahu rusak yang sudah tidak dipakai lagi, dimana dia lari berputar ganti arah, yang menyebabkan Ong Tiong Kun menjadi bertambah penasaran; dan selagi pemuda itu hendak melompati perahu buat menerkam wanita muda itu, maka dari bagian belakang ada seseorang yang membokong dia, memukul dengan sebatang kayu pendayung yang cukup panjang.
Sebagai seorang yang mahir ilmu silatnya, Ong Tiong Kun dapat merasakan angin serangan yang datang dari arah belakangnya. Dan saat itu dia tidak sempat memutar tubuh, akan tetapi dia lompat mundur sehingga dia menerjang orang yang sedang menyerang dia; sementara kayu pendayung itu lewat diatas kepalanya; menghantam badan perahu mengakibatkan kayu patah menjadi dua! Laki laki pembokong yang diterjang dengan punggung Ong Tiong Kun itu terjatuh duduk dengan sebelah tangan masih memegang sisa kayu pendayung, dan Ong Tiong Kun yang sempat memutar tubuh melihat laki laki itu yang tubuhnya sebenarnya dua kali lebih besar dari tubuhnya, menandakan laki laki itu memiliki tenaga yang besar.
Segera Ong Tiong Kun hendak lompat buat menendang muka laki laki yang sedang terjatuh duduk itu, akan tetapi mendadak datang serangan dari seorang laki laki lain, yang menyerang dengan menebarkan jala penangkap ikan; membikin tubuh Ong Tiong Kun kena terperangkap bagaikan terbungkus namun pemuda itu mengamuk meskipun dia diterkam oleh dua laki laki yang dia tidak kenal itu.
Setelah sesaat terjadi pergumulan, maka Ong Tiong Kun berhasil melepaskan diri dari bungkusan jala; lalu lengan kirinya berhasil menyikut muka laki laki yang menjala tadi, sedangkan kakinya mengirim suatu tendangan geledek yang berhasil melempar tubuh laki laki yang besar tubuhnya.
Waktu Ong Tiong Kun hendak menyerang lagi kedua laki laki itu, maka terlihatlah olehnya bahwa wanita muda yang hendak bunuh diri tadi, sedang melarikan kuda miliknya pemuda itu.
Segera Ong Tiong Kun batalkan niatnya yang hendak menyerang kedua laki laki lawannya; sebaliknya dia berteriak dan mengejar wanita muda yang membawa lari kuda miliknya, lalu tanpa memikir panjang Ong Tiong Kun mendekati dua ekor kuda yang sedang diikat, yang rupanya milik kedua laki laki yang dia tempur tadi, dan ia mengambil seekor kuda buat dia pakai mengejar wanita maling kuda itu. Dua ekor kuda lari cepat bagaikan terbang, mereka ngebut saling kejar tanpa menghiraukan adanya beberapa orang yang berlalu lintas ikut memperhatikan sampai keduanya memasuki kota In tay yang ramai; dimana tidak mungkin lagi mereka ngebut, dan Ong Tiong Kun kehilangan orang yang dikejarnya.
Pemuda Ong Tiong Kun menjadi gelisah, akan tetapi dia harus menyusuri kota In tay, sampai kemudian dia menemukan kudanya yang sedang diikat didepan suatu tempat penginapan, sehingga Ong Tiong Kun yakin bahwa wanita muda yang dikejarnya tentu berada didalam rumah penginapan itu.
Ong Tiong Kun turun dan ikat kuda curiannya di dekat kuda miliknya, setelah itu dengan langkah kaki yang tenang dia memasuki rumah penginapan itu.