Disuatu saat Yo Jim tak berkesempatan berkelit dari serangan senjata gada sihantu Kang Hok, terpaksa Yo Jim harus menangkis memakai pedang yang ringan, dengan akibat terjadinya benturan yang keras menjadikan pedangnya patah menjadi dua !
Dalam kaget dan cemas Yo Jim lompat mundur akan tetapi dia disambar dengan suatu bacokan golok oleh Coa Wie Su.
Terpaksa dengan pedang buntung Yo Jim menangkis, akan tetapi waktu dia diserang lagi; maka tubuhnya melesat tinggi sampai dia berhasil hinggap dipuncak tertinggi dari pintu gerbang dusun Ong kee po; sedangkan dipihak musuh ternyata tidak ada yang mampu lompat setinggi itu buat menyusul dan tidak ada yang berani naik dengan bantuan tangga, takut terkena serangan Yo Jim yang berada diatas.
"Lekas panggil barisan panah .. , !” teriak Coa Wie Tong. Waktu kemudian Yo Jim diserang oleh panah-panah yang meluncur kearahnya, maka repot juga dia harus menangkis memakai pedangnya yang sudah buntung, sedangkan untuk berkelit tidak mungkin dia lakukan sebab tempat dia berdiri juga harus dibantu memakai tangan kiri.
Akhirnya Yo jim merambat naik kebagian yang lebih tinggi, dimana dia melihat ada tempat buat dia berlindung dari serangan anak panah, akan tetapi pada waktu dia sedang merambat, sebatang anak panah berhasil membenam dibagian dada sebelah kanan.
Dengan paksakan diri supaya tidak terjatuh Yo Jim merambat terus sampai dia berhasil mencapai tempat yang terlindung; membikin barisan tukang panah tidak berdaya.
“Kita berkemah disini !" kata si hantu Kang Hok yang
penasaran, " dia sudah terkena sebatang anak panah, kita
lihat berapa lama dia sanggup bertahan !"
Dilain bagian, rumah makan Thiam kie adalah sebuah rumah makan besar yang terkenal memiliki pelayan pelayan yang sombong bahkan juga pengurusnya; akan tetapi rumah makan ini ternyata selalu ramai dikunjungi banyak orang, dan tempatnya seringkali digunakan pesta-pesta perjamuan.
Dirumah makan Thiam kie ini justeru pernah terjadi pertempuran antara Yo Sam melawan rombongannya Coa Wie Tong yang waktu itu sedang berpesta, sampai pemuda Yo Sam kemudian berhasil bertemu dengan saudaranya yang tertua dan yang keempat.
Siang itu, seorang diri Lian Cay Hong singgah karena ingin mencoba masakan rumah makan Thiam kie yang memang terkenal lezat, meskipun mahal harganya !
Diruangan sebelah bawah sudah penuh dengan para tamu yang makan maupun hanya duduk minum arak; dari itu Lian Cay Hong naik ketingkat atas, dimana juga sudah banyak tamu, akan tetapi masih ada tempat buat dia.
Seorang pelayan menyambut dan mengantar Lian Cay Hong ketempat yang tersedia. Pelayan ini bersikap ramah karena melihat tamunya adalah seorang perempuan cantik dan gagah, yang bahkan dia anggap memiliki banyak duit.
Pada waktu Lian Cay Hong sedang asyik menikmati santapan yang dipesannya, maka sempat dia melihat naiknya seorang pemuda berpakaian serba ringkas, warna merah bercampur hitam yang menarik perhatian orang- orang yang melihat, sementara wajah muka pemuda itu selalu kelihatan berseri-seri, dan ditangan kanannya dia membawa cambuk dari kulit yang digulung, sedangkan dipinggangnya kelihatan bergantungan beberapa pisau- belati.
Dengan cara dia berpakaian seperti itu, maka kehadiran pemuda itu banyak menarik para tamu yang sedang makan, akan tetapi pemuda itu tidak menghiraukan bahkan tambah berseri-seri wajah mukanya seperti dia kelihatan bangga dan dia memilih tempat duduk yang tidak jauh terpisah dengan tempat Lian Cay Hong.
Berdampingan dengan meja tempat pemuda itu, terdapat meja seorang tamu laki laki yang sedang bersantap dengan lahapnya; sehingga mangkok nasi yang dipegang dengan tangan kirinya, hampir tak pernah jauh dengan mulutnya, mengakibatkan mukanya turut tertutup dengan mangkok nasi itu.
Oleh karena mukanya hampir selalu tertutup dengan mangkok nasi maka dia tidak mungkin melihat bahwa bungkusannya yang berada diatas meja bisa bergerak sedikit demi sedikit oleh karena dari kolong meja tempat dia duduk, si pemuda berbaju merah sedang mengkait bungkusan itu memakai cambuknya.
Akhirnya si pemuda berhasil mengambil dan membuka bungkusan itu ditempat dia duduk, mengambil sepotong uang perak yang bernilai ratusan tail, lalu bungkusan itu dia ikat lagi dan dia kembalikan ketempatnya memakai gagang cambuk; akan tetapi waktu diketahuinya bahwa tamu itu sedang menunda makanannya, maka sudah tentu tidak mungkin buat dia menempatkan bungkusan itu di atas meja, sebab pasti akan terlihat oleh karena itu si pemuda lalu melepaskan bungkusan itu dilantai, dikolong meja dekat kaki tamu itu.
Kemudian pula waktu tamu itu sudah selesai bersantap dan hendak melakukan pembayaran, maka dia mencari-cari bungkusannya yang dia tempatkan diatas meja tadi.
Sudah tentu tamu itu kemudian ribut kelabakan merasa kehilangan bungkusannya. Dia memanggil pelayan, akan tetapi sipelayan tentu saja tidak mengetahui, karena dia juga tidak melihat bahwa bungkusan itu ada di kolong meja.
Si tamu lalu ribut mengatakan dirumah makan itu ada pencurinya, dan si pengurus rumah makan harus bertanggung jawab atas bungkusannya yang hilang.
Si pelayan yang memang terkenal sombong, perlihatkan senyum mengejek dan menunjuk kebagian dinding, dimana terdapat tulisan berupa peringatan bagi setiap tamu, untuk berhati-hati dengan barang-barang bawaan, supaya jangan hilang atau tertinggal, sebab pihak rumah makan tidak bertanggung jawab.
"Hey, mengapa kalian ribut-ribut..?” terdengar tanya si pemuda berbaju merah dari tempat dia duduk, sambil dia mulai menikmati santapannya. “Tamu ini mengatakan bungkusannya dicuri orang..." sahut si pelayan sambil jari tangannya menunjuk si tamu yang sedang merah mukanya, merasa dihina oleh seorang pelayan.
“Bukankah itu bungkusannya ?" kata lagi si pemuda tetap dari tempat dia duduk dan tetap dengan muka berseri- seri sementara jari tangannya menunjuk kearah kolong meja.
“Hmmm! Bungkusan jatuh mengaku dicuri orang…” gumam si pelayan yang pergi tanpa mau mengambilkan bungkusan itu dari kolong meja.
Tamu itu kemudian mengambil bungkusan dan membukanya hendak mengambil uang buat membayar makanan akan tetapi sekali lagi dia menjadi terkejut, sebab satu-satunya uang perak miliknya sudah hilang dari dalam bungkusan itu.
Sekali lagi tamu itu ribut-ribut dan sekali lagi dia memanggil si pelayan akan tetapi dengan marah-marah si pelayan datang dan berkata:
“Kalau memang sudah tidak punya uang, bilang saja,
jangan sok berlagak bilang hilang ..."
Tamu itu tak kuasa menahan marahnya. Dia berdiri dan memukul muka pelayan itu dengan kepelan tangannya.
Pelayan itu terdorong beberapa langkah kebagian belakang sedangkan mulutnya mengeluarkan darah dan giginya yang sedang sakit hampir ikut copot.
"Hayaaa! ada tamu ngamuk sebab kagak punya duit !” teriak pelayan itu sambil dia menunjuk si tamu yang memukul itu, membikin semua tamu lain ikut menyaksikan peristiwa itu. Didalam pihak tamu yang kehilangan uang itu menjadi semakin marah terhadap si pelayan. Dikeluarkannya goloknya yang digantung di pinggangnya, lalu dia mendekati si pelayan yang hendak dia bacok.
Sudah tentu sipelayan menjadi sangat ketakutan juga tamu-tamu lain ada yang ketakutan akan tetapi si pemuda berbaju merah berdiri dan menghadang.
“Hayaaa, kenapa harus ribut-ribut…?” kata pemuda itu dengan mukanya yang tetap kelihatan berseri-seri.
"Kurang ajar, kau berani membela si pelayan...!” bentak tamu yang sedang marah-marah itu; lalu dia membacok dengan menggunakan goloknya, akan tetapi dia menjadi bingung sebab secara mendadak si pemuda sudah hilang dari hadapannya.
“Aku disini, belakangmu..!'' tiba tiba terdengar kata si pemuda.
Si tamu hendak memutar tubuh, namun dia tidak dapat melakukan sebab bajunya diraih dari bagian belakang, dan pada waktu itu dia memaksa dan berhasil menghadapi si pemuda, maka secepat itu pula sepasang pisau belati yang tajam menggurat mukanya pada bagian bawah hidungnya, atau tepatnya pada kumisnya yang tebal melintang.
Semua tamu lain yang ikut menyaksikan, sekarang menjadi tertawa, sebab melihat kumis sebelah kanan tamu itu sudah licin hilang, tinggal sisa kumis sebelah kiri yang masih utuh !
"Lihat, dia sekarang kehilangan kumisnya.. !” teriak si pelayan yang kelihatan girang, sampai dia bertepuk tangan.
Maka meledaklah kemarahan tamu itu, waktu dia meraba dan ikut mengetahui bahwa sebagian kumisnya sudah hilang. Dia lompat dengan suatu terkaman bagaikan harimau galak menerkam kambing sementara goloknya membelah bagaikan kwan kong membelah kepala harimau.
Muka si pemuda berbaju merah tetap berseri-seri dan lagi-lagi dia berhasil menghilang dari hadapan si tamu yang menyerang sehingga sia-sia gerak dan serangan sitamu itu.
"Ha ha ha, dia ada disana .. !" teriak sipelayan dan si tamu dengan marah-marah telah mengulang gerak serta serangannya; namun sekali lagi dia kehilangan sipemuda yang sangat lincah dan gesit gerak tubuhnya sebaliknya sitamu merasa nyeri pada mukanya, dan waktu sekali lagi dia meraba kumisnya, maka ternyata semua kumisnya sekarang sudah hilang!
Sekali lagi orang-orang pada tertawa akan tetapi Lian Cay Hong tetap asyik dengan hidangan makanannya, tanpa dia merisaukan segala yang terjadi dan tidak pula menghiraukan lirikan mata yang nakal dari si pemuda berbaju merah.
Dengan geraknya yang gesit dan lincah, si pemuda berbaju merah itu telah berhasil mempermainkan si tamu; lalu dengan sama gesitnya dia telah mengambil cambuk serta bungkusannya dari atas meja, dan dilain saat dia berada didekat jendela rumah makan, lalu dia berteriak kepada si pelayan :
“Hey pelayan, ini uang untuk membayar semua makanan yang aku dan tamu itu makan. Lebihnya kau boleh ambil untuk ketukang gigi..!”
Pemuda berbaju merah itu kemudian melontarkan sepotong uang perak kearah si pelayan, sedangkan si tamu lalu berteriak-teriak mengakui bahwa itulah uang perak miliknya yang hilang.
Pemuda berbaju merah itu tertawa dan berkata : "Betul, itulah uangmu. Kau kejar aku jika kau penasaran
. , , " dan pemuda itu lalu melompat turun melalui jendela dan menghilang.
Si tamu yang merasa dipermainkan, benar-benar menjadi sangat marah dan penasaran. Dia mengambil bungkusannya dan melihat keluar jendela. Dia merasa tidak sanggup lompat turun dari tempat yang setinggi itu, maka buru-buru dia lari turun melalui anak tangga untuk mengejar si pemuda pencuri tadi.
Bagi Lian Cay Hong, peristiwa tadi dia anggap adalah biasa terjadi buat orang-orang dikalangan rimba persilatan. Dia tidak menghiraukan sebaliknya dia membayar harga santapannya dan bergegas hendak pergi, akan tetapi tiba- tiba dia terpesona mendengarkan sisa percakapan seseorang
:
“…memang dia adalah si 'tangan panjang' Yo Gie, seorang pencuri budiman, oleh karena hasil curiannya selalu dia bagikan kepada orang orang yang membutuhkan bantuan, sedangkan orang yang dia curi biasanya bukan orang baik baik..."
Itulah kata kata seorang tua yang agaknya sudah biasa melakukan perjalanan jauh sehingga banyak dia mendengar berbagai peristiwa.
Segera Lian Cay Hong teringat dengan si bungsu, atau orang kelima dari persaudaraan Yo; dari itu cepat cepat dia turun dan keluar dari rumah makan itu.
"Kemana larinya orang orang yang berkelahi tadi…?" tanya dara yang perkasa itu kepada seseorang yang ditemuinya diluar rumah makan.
"Kesana , . " sahut orang yang ditanya, sambil dia menunjuk memakai jari tangannya. Dara yang perkasa itu mengucap terima kasih; lalu tanpa menghiraukan banyak orang orang yang melihat, dia gunakan ilmu lari cepat untuk mengejar Yo Gie sehingga dimata orang banyak, hanya suatu bayangan putih yang melesat dan cepat hilang dari pandangan mata !
Si tamu yang marah marah dan penasaran itu terus mengejar Yo Gie yang telah mencuri uangnya. Dia terus menyusul sampai ke perbatasan dusun, lalu tiba tiba dia menjadi terkejut karena seseorang telah lompat turun dari atas sebuah pohon untuk menghadang.
"Kurang ajar . , ,!” bentak tamu itu karena yang menghadang dia justeru adalah si pencuri yang mukanya kelihatan tetap berseri-seri.
"Kau kembalikan uangku . , . !" bentak tamu itu sambil dia menyerang memakai goloknya.
Kali ini Yo Gie memberikan perlawanan, bahkan dengan menggunakan cambuknya yang seringkali perdengarkan bunyi suara nyaring diangkasa.
Hanya dalam beberapa jurus, Yo Gie berhasil membikin lawannya mati daya. Cambuknya bergerak bagaikan naga sakti yang telah beberapa kali berhasil melibat kaki lawannya yang kemudian dia banting !
Akhirnya lawan itu benar benar merasa tobat dan berlutut didekat kaki Yo Gie ;
"Ampun, Tayhiap . , , " dia berkata seperti meratap. "Siapa nama kau ?" bentak Yo Gie.
"Siao Jin adalah Go Cay Sim ...!"
“Apa kerja kau didusun ini , , , ?"
“Siao jin bermaksud kedusun Ong kee po.." Didalam hati Yo Gie menjadi terkejut, entah ada urusan apa orang ini dengan pihak Ong-kee po.
"Apa keperluan kau kedusun Ong-kee po?” akhirnya Yo
Gie menanya lagi.
"Siao jin hendak menemui Biauw san tay-ong Kang Hok, siao jin membawa surat perkenalan dari seorang sahabat yang maksudnya supaya siao jin diterima bekerja ..”
"Mana surat perkenalan itu ...?"
"Ada didalam kantong baju siao jin .."
Dengan seenaknya Yo Gie meraba kantong baju Go Cay Sim dan berhasil dia menemukan surat perkenalan itu yang kemudian dia baca isinya.
“Hm, sekarang kau tak perlu lagi ke dusun Ong kee po, aku akan kesana dan kalau kau bertemu lagi dengan aku, tiada ampun lagi bagimu, mengerti .. !"
"Baik, tay hiap ..." sahut tamu itu yang jadi gemetar tubuhnya.