Pendekar Bunga Cinta Chapter 115

NIC

Si tosu Oey Goan Cu lompat menghindar waktu dilihatnya ada sesuatu benda yang melayang kearahnya. Waktu benda itu jatuh di tempat bekas dia berdiri, maka dilihatnya benda itu merupakan suatu bungkusan, dan menurut suara yang tadi dia dengar; dikatakan bahwa bungkusan itu berisi obat buat mereka yang amat berguna bagi yang kena bisa racun dari 'tok beng oey hong ciam'. Oey Goan Cu merasa yakin bahwa obat yang dimaksud adalah obat untuk menyembuhkan orang orang yang terkena bisa racun tok beng oey hong ciam, akan tetapi siapakah gerangan orang itu? mengapa dia menolong tetapi tidak mau memperlihatkan diri ?

Sebelum bungkusan tadi dilontarkan kearahnya, sempat pula Oey Goan Cu mendengar suara seseorang yang mengajak Go Hong Lian lari, dengan menyebut 'Lian jie’ atau 'anak Lian', oleh karenanya tosu itu berpendapat yang menolong mereka adalah ayahnya Go Hong Lian yang entah siapa namanya, namun yang bisa dia tanyakan kepada Lauw Lan Nio yang masih ditahan oleh mereka.

Di lain pihak, Go Hong Lian lari menyusuri gunung Hiong lam san dengan mengikuti seseorang yang lari disebelah depannya, dan yang dia yakin adalah gurunya yakni tayhiap Wei Beng Yam.

Disepanjang jalan yang menyusuri gunung Hiong lam san, sempat Go Hong Lian melihat adanya beberapa orang penjaga pihak penjahat; yang sudah rubuh tidak berdaya, tanpa cedera dan tidak binasa akan tetapi terkena ilmu menotok jalan darahnya, tentunya telah dilakukan oleh gurunya, dan orang orang itu akan sembuh pada batas waktu pengaruh menotok jalan darah itu berakhir.

Setelah tiba dikaki gunung Hiong lam san maka dilihat Go Hong Lian bahwa gurunya tidak mengambil arah tempat penginapan, akan tetapi dara dalam penyamaran itu tidak menghiraukan dan dia terus lari mengikuti.

Disuatu tempat yang cukup sunyi; tayhiap Wei Beng Yam duduk dibawah suatu pohon yang lebat, juga Go Hong Lian ikut duduk setelah lebih dahulu dia memberi hormat kepada gurunya. “Kau minumlah ini , ,” kata gurunya sambil menyerahkan suatu tempat arak dan Go Hong Lian tahu bahwa isinya adalah anggur dari sari kolesom, untuk melepas haus dan menambah tenaga.

Mengawasi muridnya yang sedang menyamar sebagai seorang pemuda, maka tayhiap Wei Beng Yam kelihatan menjadi tersenyum dan setelah muridnya ikut tersenyum kemalu-maluan, maka guru itu berkata:

"Lian jie, kau telah salah memilih kawan." Dara dalam penyamaran itu tidak segera memberikan jawaban. Dia mengawasi gurunya dengan hati merasa heran, sebab sejak dia meninggalkan gunung Oei san atau tempat gurunya, dia baru berteman dan berkenalan dengan Lauw Lan Nio serta ayahnya, mengapa gurunya mengatakan dia telah salah memilih kawan?

Sementara itu tayhiap Wei Beng Yam bagaikan tidak menghiraukan dengan yang dipikirkan oleh muridnya, dan dia berkata lagi.

" , , sebentar lagi kalau sudah malam, kau pulang ketempat penginapan dan kemaskan bawaanmu lalu kau teruskan perjalananmu.”

“Akan tetapi suhu, aku justeru hendak menolong Lauw

kouwnio , . ,”

“Justeru karena dia itu; maka aku mengatakan kau telah salah memilih kawan,,,” kata lagi gurunya yang lalu menjelaskan lebih lanjut.

Ternyata waktu Go Hong Lian berdua Lauw Lan Nio sedang bertempur melawan rombongannya Ma Kong Ek; seseorang telah menyaksikan dan orang itu mengenali ilmu silat Go Hong Lian, sebab diantaranya dara dalam penyamaran itu memainkan jurus jurus ilmu silat ciptaan orang itu, yang sebenarnya adalah Sin eng Kiu It, si garuda sakti yang menjadi ayahnya Kiu Siok Ing, isterinya tayhiap Wei Beng Yam.

Sin eng Kiu It bukan tidak mengetahui bahwa anak dan menantunya mempunyai seorang murid, akan tetapi murid perempuan, bukan murid laki laki.

Setelah jago tua itu meneliti lebih cermat, maka dia tertawa seorang diri, sebab dia menyadari bahwa Go Hong Lian sedang menyamar sebagai seorang pemuda.

Kemudian Sin eng Kiu It mengikuti perjalanan kedua dara itu sampai mereka tiba di tempat penginapan di dusun Lam hoan ceng dan jago tua ini bahkan sempat mencuri dengar pembicaraan tentang peta harta, sampai dia menjadi terkejut waktu diketahuinya hadirnya Cia Hay Eng, si Dewa mabok yang menjadi pembantu utama dari gerakan 'si-orang gagah' yang selalu memakai selubung penutup kepala, yang waktu itu sedang dihebohkan disebelah selatan negeri cina.

“ , , muridku, aku hanya mengetahui sedikit mengenai 'si orang gagah' yang dimaksud, disamping aku juga mengetahui serba sedikit tentang Kim Lun Hoat ong yang bermaksud hendak merebut pemerintahan dari tangan ayahnya sendiri. Baik ‘si orang gagah' itu maupun Kim Lun Hoat ong, tetap merupakan orang orang Mongolia dan negeri kita akan tetap dijajah oleh bangsa asing, kalau gerakan mereka berhasil untuk mengambil alih pemerintahan, dari itu aku tidak mau kau melibatkan diri dalam gerakan mereka, sampai nanti disuatu saat ada bangsa kita sendiri yang bangkit semangatnya untuk mengusir kaum penjajah ..."

Go Hong Lian tidak mengucap apa apa, akan tetapi dia mendengar dengan penuh perhatian, sehingga jelas bagi dia tentang siapa sebenarnya Lauw Lan Nio berdua ayahnya, yang mengabdi atau menjadi pendukung gerakan dari 'si orang gagah' yang ternyata juga bermaksud hendak merebut pemerintahan yang sekarang, Hasrat hatinya ingin Go Hong Lian menanya kepada gurunya tentang siapa gerangan nama 'si orang gagah' yang dimaksud, akan tetapi pada saat itu gurunya mengatakan bahwa guru itu sedang tergesa-gesa hendak menemui Kanglam liehiap Soh Sim Lan, yang katanya juga berada disekitar tempat itu, sehingga sekali lagi sang guru memesan supaya Go Hong Lian meneruskan perjalanannya, tanpa menghiraukan urusan politik.

Setelah berpisah dan sesuai dengan pesan gurunya, maka Go Hong Lian tiba di tempat penginapan ketika hari sudah berganti menjadi malam.

Suasana ditempat penginapan kelihatan sunyi, Go Hong Lian tidak bertemu dengan si tukang obat Cia Hay Eng yang ternyata adalah ‘si dewa mabok' yang memang sudah sangat terkenal namanya, dan Go Hong Lian tidak pula bertemu dengan Cie Keng Thay yang dia belum kenal namanya akan tetapi wajah muka pemuda itu berkesan baik didalam hatinya.

Sejenak Go Hong Lian berdiam didalam kamarnya, mengenangkan masa pergaulannya dengan Lauw Nio, setelah itu dia selesaikan pembayaran sewa kamar, dan malam itu juga dia meneruskan perjalanannya menuju gunung Hiong lam san tanpa dia mengetahui malam itu telah terjadi suatu pertempuran yang menentukan diatas gunung Hiong lam san antara pihaknya Cia Hay Eng melawan pihak Ma Kong Ek, didalam usaha hendak merebut peta harta yang disimpan oleh Lauw Lan Nio.

Sambil melakukan perjalanan ditengah malam itu, Go Hong Lian sangat terpengaruh dengan perkataan gurunya, tanpa sempat dia mengetahui tentang siapa gerangan nama ‘si orang gagah’ yang gerakannya dibantu atau didukung oleh si dewa mabok Cia Hay Eng serta Lauw Lan Nio berdua ayahnya.

Dibeberapa tempat Go Hong Lian melakukan perjalanan dengan menggunakan ilmu lari cepat, dan dilain saat dia berjalan perlahan sambil dia menikmati cahaya sinar bulan yang tidak terlalu terang, bahkan bintang bintang juga kurang memancarkan sinarnya.

Perjalanan seorang diri, sehabis dia biasanya ditemani oleh Lauw Lan Nio maka terasa benar Go Hong Lian menjadi kesepian. Hanya suara binatang binatang malam yang didengarnya sebagai ganti suara dara Lauw Lan Nio; yang biasanya banyak bicara dan banyak tertawa.

Setelah beberapa hari melakukan perjalanan seorang diri maka hari itu dia memasuki suatu dusun yang tidak terlalu ramai; dan Go Hong Lian memesan kamar pada satu satunya rumah penginapan yang terdapat didusun itu.

Di hari berikutnya ketika dia sudah berkemas hendak meneruskan perjalanannya maka dia memerlukan kebelakang hendak ke kamar kecil, akan tetapi waktu dia kembali kekamarnya, alangkah terkejutnya karena dia mendapati pedang dan bungkusannya hilang dicuri seseorang.

Go Hong Lian keluar dan berpapasan dengan seorang pelayan, akan tetapi pelayan itu mengatakan tidak melihat seseorang yang memasuki kamar tamunya itu, sehingga dengan tergesa gesa Go Hong Lian bergegas hendak mengejar orang yang mencuri pedangnya, sampai kemudian dia melihat seseorang yang sedang berjalan membawa bungkusannya, sehingga terjadi dia bertempur dengan orang itu dan bertemu dengan pemuda Pouw Keng Thian; dan mereka akhirnya kembali kedusun tempat semalam Go Hong Lian menginap, lalu keduanya saling menceritakan tentang dirinya masing masing.

Malam harinya mereka beristirahat didalam kamar masing-masing, akan tetapi sampai larut malam keduanya tak tidur, sebaliknya mereka siap dan siaga menantikan kedatangan pihak penjahat yang mereka yakin akan kembali lagi.

Pukul dua menjelang subuh, Pouw Keng Thian keluar dari kamarnya melalui jendela. Dia lompat naik keatas genteng, akan tetapi baru saja kakinya mencapai tempat tujuan, mendadak suatu bayangan hitam lompat dan mendekati dia.

"Pouw heng...” tegur suara halus yang ternyata adalah

suara Go Hong Lian.

Sejenak Pouw Keng Thian diam terpesona. Siang hari tadi dia melihat dara itu berpakaian sederhana warna hijau, dengan rambut dikepang dua seperti orang perempuan desa; sekarang dia melihat dara itu berpakaian serba ringkas warna hitam, sedangkan rambutnya diikat menjadi satu, dibiarkan memanjang kebagian punggung. Tubuh langsing dari dara itu kelihatan jelas dengan pakaiannya yang serba ketat itu.

"Lian moay, kau belum tidur . , . ?" sahut Pouw Keng Thian dengan nada menanya, lalu keduanya lompat turun dengan niat menyambung pembicaraan akan tetapi niat itu mereka batalkan ketika dari jauh mereka melihat adanya dua sosok bayangan hitam yang sedang mendatangi tempat mereka menginap.

Segera Pouw Keng Thian memerintahkan Go Hong Lian masuk kedalam kamar, sedangkan dia lalu umpatkan diri diatas sebuah pohon didekat jendela kamar dara itu. Kedua bayangan yang sedang mendatangi itu memang bermaksud mencari Go Hong Lian, salah seorang dari mereka adalah yang siang tadi bertempur dengan Go Hong Lian, sampai kemudian dia dikalahkan oleh Pouw Keng Thian.

Laki laki yang bermuka bengis itu sebenarnya bernama To Tian Bu, si kepala lembu hitam dan bersama kawannya yang bernama Lie Kong Cit, mereka pernah mencuri bungkusan berikut pedang 'ku tie kiam', di saat dara Go Hong Lian sedang meninggalkan kamarnya.

Adalah menjadi maksudnya Tio Tian Bu buat menunggu dan menyergap dara Go Hong Lian didalam kamarnya, sebab dia sangat terpikat dengan kecantikan perempuan desa yang berjalan seorang diri itu, akan tetapi diluar dugaan mereka mendengar suara tawa mengejek dari seorang laki laki yang berada diluar kamar dara Go Hong Lian.

Kedua pencuri itu sangat terkejut karena seseorang telah melihat perbuatan mereka. Keduanya lompat keluar dari jendela, dan masih sempat melihat adanya seseorang yang dari bagian belakang kelihatan berkaki buntung sebelah, berjalan pincang dengan bantuan sebatang tongkat besi panjang yang bahkan melebihi tinggi tubuh orang itu, dan tongkat besi itu perdengarkan bunyi suara gemercik dari genta genta kecil yang bergantungan dibagian kepala tongkat itu.

Posting Komentar