Pendekar Bunga Cinta Chapter 113

NIC

Ketika telah berada didalam kamar, maka Cia Hay Eng lalu berkata kepada kedua anaknya :

"Ah Ling, Ah Heng, kalian lekas undang Coa susiok ”

Kedua bocah yang sebenarnya bernama Cia Kun Liong dan Cia Kun Houw itu meninggalkan kamar dengan tergesa gesa, sementara Cia Hay Eng lalu mengajak pemuda Cie Keng Thay duduk.

“Cie hiantit, kita segera menghadapi suatu pekerjaan yang berat, akan tetapi aku yakin hiantit tak akan ragu ragu untuk memberikan bantuan. Akan tetapi siapakah sebenarnya guru hiantit ?”

Melihat kesungguhan si tukang obat mengucapkan perkataannya, maka tanpa ragu ragu Cie Keng Thay memberitahukan nama gurunya, dan tukang obat itu sejenak mengawasi muka Cie Keng Thay.

“Akh, kalau begitu kau adalah adik seperguruan dari Lie Thian Pa .." kata si tukang obat Cia Hay Eng, dan dia tidak menghiraukan waktu melihat Cie Keng Thay kelihatan heran, dan dia meneruskan perkataannya :

“, .. hiantit telah menyaksikan bahwa pihak berandal sedang membawa dia yang hiantit kenal dengan nama Go Hong Gie atau siao siangkong, akan tetapi hiantit tentu tak tahu bahwa dia sebenarnya adalah Go kouwnio. Nama lengkapnya Go Hong Lian, anak perempuan dari Tiat see ciang Go Ciang Hiu, dan yang sekaligus menjadi murid tunggal dari tayhiap Wie Beng Yam dan isterinya ”

" , . , , kemudian Cie hiantit juga baru saja mendengar bahwa Lauw kouwnio, atau yang dianggap menjadi isterinya Go kouwnio oleh pihak berandal telah ditangkap dan ditahan diatas gunung Hiong lam san. Lauw kouwnio ini sebenarnya anak perempuan dari teman seperjuanganku. Kedua ayah dan anak itu sedang melakukan suatu tugas penting buat perjuangan kita, akan tetapi di tengah perjalanan temanku dihadang oleh pihak orang orang yang menentang perjuangan kami dan menjelang ajalnya aku telah bertemu dengan dia, sehingga sempat dia memberitahukan bahwa anak gadisnya sedang meneruskan tugasnya dan melakukan perjalanan bersama Go Hong Lian yang menyamar sebagai seorang pemuda ,..”

“..aku cepat cepat menyusul karena aku tahu diatas gunung Hiong lam san dan didusun ini sedang berkumpul orang orang yang jadi penentang perjuangan kami ….”

“ . , . pada saat ini sebenarnya aku sedang ditugaskan membantu kegiatan perkembangan Cie hay cian Liong Siauw Cie Hay diatas gunung Pouw to san dekat laut Selatan yang juga dibantu oleh Kanglam liehiap Soh Sim Lan. Sudah beberapa kali terjadi bahwa pihak berandal diatas gunung Hiong lam san melakukan perampasan terhadap beberapa kiriman yang ditujukan kepada kami, dari itu kami ditugaskan untuk membasmi mereka dan merampas tempat mereka untuk dijadikan sebagai suatu tempat penghubung bagi kepentingan pihak kami. Hiantit tentu telah mengetahui tentang kekuatan pihak berandal diatas gunung Hiong lam san yang tidak boleh dianggap remeh, apalagi mereka sebenarnya mendapat bantuan dari si hartawan Tan Kim An, bahkan juga dari pihak pemerintah penjajah, sehingga untuk menghadapi mereka; maka aku memerlukan bantuan yang sedang aku tunggu kedatangannya, disamping aku telah mendapat bantuan dari Coa Beng Coan, seorang anggota terkemuka dari persekutuan Selendang merah..” "Selendang merah.,,?" ulang Cie Keng Thay tanpa terasa, akan tetapi tidak sempat menyambung perkataannya, sebab tiba tiba telah masuk seseorang sambil didahului oleh suara tawanya :

"Ha ha ha! ternyata Cia enghiong gemar menceritakan seseorang ..."

Itulah suara seorang laki laki yang usianya sudah mendekati empat puluh tahun, memiara kumis yang menambah kegagahan pada wajah mukanya, bertubuh tegap dan di kepalanya dia memakai ikat rambut dengan secarik kain warna merah. Dia bernama Coa Ceng Coan, si ruyung baja (ie kong-pian) yang memang sedang dibicarakan oleh Cia Hay Eng.

“Ha ha ha! syukur kau cepat datang ..." kata Cia Hay Eng, juga sambil dia tertawa dan lalu memperkenalkan sahabatnya itu kepada Cie Keng Thay, untuk kemudian dia ceritakan kepada sahabatnya tentang beberapa peristiwa yang telah terjadi, antara lain tentang Go Hong Lian yang sedang mendaki gunung Hiong lam san.

"Kalau begitu kita harus cepat cepat bergerak, buat menolong Lauw kouwnio supaya barang itu tidak terjatuh ditangan mereka..." kata Coa Beng Coan yang kelihatan terkejut.

“Barang apakah itu...?” tanya pemuda Cie Keng Thay yang tidak mengerti, oleh karena dia tidak mengetahui tentang adanya peta harta ditangan Lauw Lan Nio, sedangkan Cia Hay Eng sengaja tidak menyebutkan hal peta itu, waktu dia menceritakan perihal tugas Lauw Lan Nio.

Dilain pihak, Cia Hay Eng bukan tidak mendengar pertanyaan Cie Keng Thay, akan tetapi agaknya dia memang tidak mau menjelaskan, dari itu dia sengaja mengawasi sahabatnya dan mengajak sahabatnya itu bicara.

“Memang kita harus cepat cepat bergerak, akan tetapi sayangnya bantuan yang aku nantikan belum kunjung datang, sedangkan kekuatan pihak berandal tidak boleh kita anggap remeh ..."

“Cia enghiong saat ini aku sudah berhasil mengumpulkan kira kira sebanyak limapuluh orang anggota Selendang merah; mereka semuanya aku pesankan supaya bersiap siap menunggu perintah meskipun sekarang mereka berpencar didusun ini, untuk mencegah curiga pihak hartawan Tan , , .” kata Coa Beng Coan yang memberikan penjelasan tentang hasil kerjanya.

"Kalau begitu sebaiknya Coa hiantee siapkan mereka berkumpul diluar dusun Lam hoan ceng, dan nanti malam kita bergerak menyerang gunung Hiong lam san dengan 56 orang tenaga. Aku pikir sebaiknya kita menyerang diwaktu malam dan kita pecah tenaga kita menjadi tiga rombongan, jadi dalam hal ini aku harapkan bantuan dan kesediaan Cie hiantit , , .”

Agaknya ada beberapa persoalan yang masih belum dimengerti oleh pemuda Cie Keng Thay. Yang pertama adalah mengenai barang Coa Beng Coan katakan ada pada Lauw kouwnio, yang dia kuatirkan akan dirampas oleh pihak berandal, barang apakah itu? Cie Keng Thay merasa yakin bahwa barang itu bukan sembarang barang sebab nada bicara Coa Beng Coan terdengar lebih mementingkan barang itu dari pada keselamatan nyawa Lauw kouwnio dan Go Hong Lian.

Yang kedua adalah mengenai persekutuan Selendang merah, persekutuan apakah sebenarnya. Akan tetapi pada saat itu pemuda Cie Keng Thay bagaikan tidak mempunyai kesempatan bagi dia melakukan pertanyaan, sebab dilihatnya si tukang obat Cia Hay Eng berdua Coa Beng Coan sedang mengawasi, sehingga akhirnya dia manggut dan memberikan jawaban kesediaannya sehingga benar benar telah menggirangkan bagi si tukang obat Cia Hay Eng.

Sementara itu, Go Hong Lian dengan diantar oleh Sie Liu Hwa telah tiba di markas berandal diatas gunung Hiong lam san, dimana langsung dia dibawa menghadap kepada Ma Kong Ek, yang waktu itu ternyata sudah berkumpul dengan pemuda Leng Cun Siu yang menjadi pemimpin kedua, lalu dua bersaudara Yo Keng dan Yo Heng, juga hadir Ong Bun Kiat dengan temannya yang sekarang memakai pakaian seragam militer. Si pendeta Oey Goan Cu yang mendampingi hartawan Tan Kim An dan hartawan itu membawa lima orang kauwsu pilihan, ditambah lagi dengan seorang pemuda bermuka pucat seperti mayat hidup, yang katanya bernama Ho Teng Toan.

Mengenai Leng Cun yang menjadi pemimpin kedua diatas gunung Hiong lam san, sebenarnya dia adalah kakak seperguruan dari Sie Liu Hwa, dan guru mereka adalah si tosu Goan Cu.

Sementara itu Go Hong Lian yang menyamar sebagai seorang pemuda, tidak merasa gentar meskipun dia berada disarang berandal. Waktu kemudian dia mengetahui maksud pihak penjahat yang menghendaki peta harta dengan janji akan membebaskan Lauw Lan Nio, maka Go Hong Lian yakin bahwa pihak penjahat itu belum berhasil memperoleh peta yang berharga itu, yang entah disimpan dimana oleh Lauw Lan Nio.

Dengan siasat hendak menipu pihak penjahat, maka Go Hong Lian berlaku seolah-olah peta harta itu memang disimpan olehnya dan dia membangkang tidak mau menyerahkan peta harta itu.

Dipihak berandal, adalah si pemuda Ho Teng Toan yang kelihatan tidak dapat menahan sabar. Pemuda dengan muka bagaikan mayat hidup itu perdengarkan suara mengejek dan berkata :

"Mumm ! aku sudah mendengar perihal kau yang katanya gagah perkasa, akan tetapi cara kau menyamar aku tahu bahwa kau adalah seorang perempuan jalang !"

Semua yang hadir menjadi kaget waktu mendengar perkataan pemuda bermuka pucat itu, terlebih Sie Liu Hwa yang sedang tergila gila dengan Go Hong Lian.

Dalam hubungannya dengan Leng Cun Siu sebenarnya Sie Liu Hwa sudah berulang kali memadu kasih dan bermain cinta dengan kakak seperguruannya itu, akan tetapi waktu dia bertemu dengan Go Hong Lian yang menyamar sebagai seorang pemuda, maka Sie Liu Hwa sudah terpikat dan ingin bermain cinta, kalau perlu dengan membawa lari pemuda itu dari atas gunung Hiong lam san.

Waktu kemudian Sie Liu Hwa mendengar perkataan pemuda Ho Teng Toan, bahwa Go Hong Lian sebenarnya adalah seorang perempuan yang sedang menyamar sebagai seorang pemuda maka bukan main rasa kecewa Sie Liu Hwa, sehingga dari rasa kecewanya itu telah membangkitkan rasa marahnya.

Akan tetapi, sebelum dara itu sempat mengucap sesuatu perkataan, maka dilihatnya gurunya, yakni si tosu Oey Goan Cu telah bangun berdiri dari tempat duduknya, dan dengan muka bengis si tosu itu mendekati tempat Go Hong Lian duduk. Dilain pihak Go Hong Lian juga menjadi terkejut. Dia tidak tahu dimana letak kesalahannya sehingga mengakibatkan penyamarannya diketahui oleh Ho Teng Toan, pemuda yang bermuka pucat seperti mayat hidup itu.

Sesungguhnya dara dalam penyamaran itu tidak mengetahui; bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang 'biang' penyamar yang tiada taranya, oleh karena Ho Teng Toan sebenarnya adalah Hong bie kauwcu Gan Hong Bie yang saat itu sedang menyamar sebagai ujut seorang pemuda bermuka pucat seperti mayat hidup, suatu ujut penyamaran yang pernah waktu dia tempur dan binasakan Kim an ngo kiat atau lima persaudaraan Yo dari Kim an !

Posting Komentar