"Mereka yang datang tadi malam; ternyata orang orang yang mahir ilmu silatnya serta sudah terkenal keganasan mereka, karena mereka dua saudara Yo Keng dan Yo Heng, serta Leng Cun Siu yang menjadi pemimpin kedua pihak berandal diatas gunung Hiong lam san, yang bahkan membawa enam orang pengawal pilihan ..” "Lo cianpwee, kau benar benar hebat !" Cie Keng Thay memberikan pujian dan memutus perkataan si tukang obat Cia Hay Eng, dan karena dia merasa kagum dengan pengetahuan si tukang obat itu yang mengetahui nama nama pihak gerombolan penjahat dari atas gunung Hiong lam sam.
“Hebat. Apanya yang hebat .." gerutu Cia Hay Eng; akan tetapi dia meneruskan perkataannya:
" .. tadi malam kebenaran aku belum tidur waktu mereka datang, dan langsung telah terjadi pertempuran antara mereka melawan siao kouwnio yang gagah perkasa itu. Agaknya dua bersaudara Yo Keng dan Yo Heng sudah pernah bertempur dengan siao kouwnio itu, sebab kedua bersaudara itu sambil bertempur telah perdengarkan suara gerutuan mereka, yang mengatakan bahwa mereka pernah dikalahkan oleh siao kouwnio itu melulu sebab sudah dibokong oleh temannya siao kouwnio yang katanya memakai tutup muka dengan secarik kain warna hijau, sehingga tidak dikenali siapa orangnya; sedangkan aku si orang tua merasa yakin bahwa temannya siao kouwnio itu adalah kau ..,”
"Aih, lo cianpwee sudah tambah melantur dan sembarangan menuduh ...” bantah Cie Keng Thay, akan tetapi sambil dia bersenyum sedangkan Cia Hay Eng tidak menghiraukan dan meneruskan perkataannya ;
“Sepasang golok dari dua bersaudara Yo Heng dengan dahsyat telah melakukan berbagai serangan maut, namun sekali waktu aku melihat siao kouwnio itu bergerak dengan jurus dari "peng see lok dan” (burung belibis turun dipasir), yakni disatu pihak pedangnya dapat menghalau goloknya Yo Keng, lalu ujung pedangnya yang terpental secara tidak langsung telah menyambar Yo Heng yang memang masih terluka sebab pundaknya masih dibalut, sehingga kelihatannya Yo Heng tidak berdaya menghindar dari ancaman maut yang datangnya diluar dugaan itu. Akan tetapi syukur bagi Yo Heng, karena waktu itu Leng Cun Siu ikut melompat mendekati sambil dia menghalau pedangnya siao kouwnio memakai senjatanya yang istimewa; yang merupakan sebatang pedang ceng liong kiam!"
“Pedang ceng liong kiam ? bukankah pedang itu menjadi miliknya persekutuan ‘ceng liong pang' diatas gunung ceng liong-san ?" tanya Cie Keng Thay yang menjadi terkejut, sampai dia memutuskan perkataan si tukang obat Cia Hay Eng.
"Aku tidak perduli tentang pedang siapa ? akan tetapi yang aku lihat pedang ceng liong kiam dipakai oleh Leng Cun Siu. Dan kau jangan memutus dulu ceritaku," sahut si tukang obat Cia Hay Eng; akan tetapi tidak lupa dia minum araknya sebelum dia menyambung mengoceh :
"... maka pedang ceng liong kiam saling bentur dengan pedang ku tie kiam yang dipegang oleh siao kouwnio itu; sampai mengeluarkan lelatu anak api, namun kedua pedang pusaka itu ternyata tiada yang rusak ataupun cacad."
"Tunggu! Lo cianpwee tadi mengatakan pedang siao kouwnio itu adalah pedang 'ku tie kiam' adalah miliknya tayhiap Wei Beng Yam, mungkin dia , . , "
"Hayaa kau anak muda kenapa suka jadi anak bandel ? Kau dengarkan dulu ceritaku, habis itu baru kau bertanya. Siao kouwnio itu melompat mundur hendak memeriksa pedangnya; juga Leng Cun Siu melakukan hal yang sama. Akan tetapi Yo Keng telah pergunakan kesempatan itu, dan dengan cara keji dia membokong siao…siao… siao siangkong itu dengan suatu bacokan maut, sedangkan siao siangkong itu bagaikan tidak menyadari akan adanya serangan bokongan itu, untung bahwa pada waktu itu; aku yang sedang asyik menonton telah dibentur oleh salah seorang berandal, sehingga tubuhku terjerumus membentur tubuh Yo Keng mengakibatkan serangan bokongan itu menyeleweng lewat disisi tubuhnya siao siangkong .. "
Sekali lagi Cia Hay Eng menunda perkataannya, sebab dia merasa perlu untuk minum araknya, sedangkan waktu itu pemuda Cie Keng Thay kelihatan bersenyum mengandung arti.
"Dalam marahnya, Yo Keng berteriak seperti maling kesiangan, lalu dia memerintahkan semua kawanan berandal mengepung siao siangkong, dan aku yang tanpa disengaja telah berada didalam kancah pertempuran; melulu sebab aku terbentur orang sehabis aku mencari kau yang tidak aku lihat…”
“Sayang sekali…" gumam Cie Keng Thay bagaikan dia tidak sengaja.
"Sayang? Apa maksud kau dengan kata sayang itu..” tanya Cia Hay Eng, dan sekali lagi dia pergunakan kesempatan itu buat dia minum araknya.
“Sayang sekali bahwa aku tidak hadir pada kesempatan lo cianpwee perlihatkan kesaktian . ,”
“Hayaaa ! kau benar benar telah menghina aku si orang tua sudah dekat dengan liang kubur , ." kata Cia Hay Eng; dan arak yang masih ada dimulutnya hampir menyambar muka Cie Keng Thay kalau tidak keluar dari mulutnya.
Dan disaat si tukang obat itu hendak meneruskan perkataannya maka tiba tiba dia menunda sebab pandangan matanya mengawasi arah pintu rumah penginapan itu; kelihatan seperti terkejut sehingga Cie Keng Thay memutar tubuh buat ikut melihat. Ternyata waktu itu kelihatan ada seorang perempuan muda yang sedang memasuki ruang tamu di rumah penginapan itu. Dengan langkah kaki yang gagah dan galak perempuan muda itu mendekati tempat pengurus rumah penginapan; sementara ditangannya kelihatan dia membawa pedang dengan sarungnya yang indah.
Waktu sudah berhadapan dengan pengurus rumah penginapan, perempuan muda itu dengan suara garang telah menanyakan nama Go siangkong.
(umurnya tentu lebih muda dari aku…) pikir Cie Keng Thay didalam hati; sedangkan si tukang obat Cia Hay Eng kedengaran berkata dengan suara perlahan :
"Hayaa, dia juga mencari siangkong…"
"Oh, menjadi Go siangkong itu adalah nama dia? entah siapa nama perempuan yang baru datang itu…?” kata Cie Keng Thay, juga dengan suara yang perlahan.
“Khabarnya dia bernama Sie Liu Hwa, keponakan luar dari Ma Kong Ek, kepala berandal diatas gunung Hiong lam san…” sahut Cia Hay Eng yang kelihatan sedang memikirkan sesuatu.
Disaat berikutnya mereka melihat Go Hong Lian telah keluar dengan cara berpakaian yang tetap seperti seorang pemuda, dan dara dalam penyamaran sepasang matanya melirik kearah si tukang obat yang duduk bersama Cie Keng Thay.
“Apakah siangkong yang bernama Go Hong Gie ?" terdengar Sie Liu Hwa menanya sambil dia berdiri dan memberi hormat sementara jelas kelihatan mukanya dihias dengan seberkas senyum, oleh karena dia sedang menghadapi muka yang tampan dari pemuda yang sedang dia ajak bicara. “Benar ----“ sahut dara dalam penyamaran itu, sedangkan di dalam hati dia yakin bahwa tamu ini tentu sudah bertemu dengan Lauw Lan Nio; sebab hanya kepada Lauw Lan Nio dan ayahnya dia pernah membohong memakai nama Go Hong Gie.
"Namaku Sie Liu Hwa .." terdengar lagi kata dara yang menjadi tamu itu bahkan mengundang atau mempersilahkan Go Hong Lian duduk; setelah itu dia menambahkan perkataannya :
“…pamanku adalah Ma Kong Ek, pemimpin pertama dari orang orang gagah yang bermukim diatas gunung Hiong lam san."
Di dalam hati Go Hong Lian merasa terkejut, akan tetapi tidak dia perlihatkan pada wajah mukanya yang kelihatan tetap bersikap tenang.
Memang telah diketahuinya bahwa Ma Kong Ek adalah pemimpin berandal diatas gunung Hiong lam san, akan tetapi dia tak menduga bahwa kepala berandal itu mempunyai keponakan perempuan yang cantik dan genit seperti Sie Liu Hwa yang sedang duduk berhadapan dengan dia.
"Pada waktu ini istri siangkong yang semula kami kenal dengan nama Lauw kouwnio berada diatas gunung Hiong lam san; akan tetapi jangan siangkong cemas sebab keselamatan isterinya siangkong kami jamin.”
Sekarang benar benar Go Hong Lian menjadi terkejut oleh karena sesungguhnya dia tidak menyangka kalau Lauw Lan Nio telah ditahan oleh pihak berandal diatas gunung Hiong lam san sebab menurut penyelidikan yang telah dia lakukan maka dia merasa bahwa Lauw Lan Nio menjadi tawanan pihak hartawan Tan Kim An didusun itu. “Sebenarnya pamanku sedang berada dalam keadaan marah marah, dia hendak datang sendiri buat menemui siangkong; akan tetapi aku mencegah sebab yakin akan terjadi perselisihan yang tidak ada gunanya padahal maksud kami adalah hendak mengadakan suatu pembicaraan dengan siangkong dan kedatanganku ini adalah untuk mengundang siangkong singgah ditempat kami ..."
Si tukang obat Cia Hay Eng berdua pemuda Cie Keng Thay yang sejak tadi memang sedang mendengarkan pembicaraan yang dilakukan oleh Sie Liu Hwa berdua Go Hong Lian akhirnya kedua orang ini menjadi terkejut ketika mengetahui bahwa dara dalam penyamaran itu menyatakan kesediaannya ikut dengan Sie Liu Hwa untuk mendaki gunung Hiong lam san.
CIA HAY ENG berdua Cie Keng Thay merasa yakin bahwa Go Hong Lian akan terperangkap disarang berandal, akan tetapi waktu pemuda Cie Keng Thay bergerak hendak merintang, maka Cia Hay Eng telah menekan lengan pemuda itu yang masih berada di atas meja, membikin si pemuda menunda niatnya sedangkan matanya mengawasi si tukang obat, lalu ganti mengawasi Go Hong Lian yang waktu itu sedang mengikuti Sie Liu Hwa meninggalkan rumah penginapan.
Dengan memberikan suatu aba aba memakai sudut matanya, si tukang obat Cia Hay Eng memberitahukan adanya lima orang laki laki yang menjadi pengawal Sie Liu Hwa sehingga kalau tadi Cie Keng Thay bergerak merintang, pasti telah terjadi suatu pertempuran.
"Mereka itu adalah kawanan berandal dari atas gunung Hiong lam san .. , ." kata Cia Hay Eng perlahan, lalu dia mengajak Cie Keng Thay singgah dikamarnya, yang letaknya sebenarnya terpisah tidak jauh dengan kamar yang disewa oleh Go Hong Lian.