Pendekar Bunga Cinta Chapter 111

NIC

"Silahkan lo jinkee duduk disini... " undang Cie Keng Thay yang sengaja berdiri dan memberi hormat waktu si tukang obat itu sudah berdiri dihadapannya; agaknya Cie Keng Thay dapat menyelami lagak dan gaya si tukang obat itu sehingga Cie Keng Thay sengaja menyebut dengan memakai istilah lo jinkee.

Setelah sekarang berada berdekatan maka pemuda Cie Keng Thay dapat bertambah jelas melihat guci arak yang tergantung di bagian leher si tukang obat.

Dengan didahului oleh tawanya yang ramah; maka si tukang obat duduk berhadapan dengan Cie Keng Thay dan setelah saling memperkenalkan diri, maka keduanya mulai membicarakan tentang peristiwa pertempuran tadi, dan Cia Hay Eng atau si tukang obat itu menyatakan khawatir; kalau kalau pihak hartawan Tan Kim An akan mengambil tindakan pembalasan, meskipun si tukang obat merasa yakin dan percaya bahwa 'siao kouwnio' tadi sangat gagah dan mahir ilmu silatnya.

“Mengapa lojinkee mengatakan siao kouwnio, padahal maksud lo jinkee adalah pemuda yang tadi telah memberikan pertolongan ?” tanya Cie Keng Thay, sedangkan didalam hati dia merasa curiga, sebab tadinya dia sudah mendengar percakapan antara Cia Hay Eng dengan Go Hong Lian, dan waktu itu Cia Hay Eng juga telah terlepas bicara dan memakai istilah 'siao kouwnio' yang kemudian telah diralat. Akan tetapi sekarang mengapa lagi lagi Cia Hay Eng masih memakai istilah ‘siao kouwnio’. Sementara itu sejenak Cia Hay Eng mengawasi muka Cie Keng Thay yang duduk dihadapannya; setelah itu dia perdengarkan suara tawa yang ramah dan dia berkata :

"Eh; maaf, aku yang sudah tua kan salah lihat. Maksudku siao siangkong tadi sangat gagah dan mahir ilmu silatnya, siapakah namanya?"

Pemuda Cie Keng Thay perlihatkan senyumnya, sambil dia menggelengkan kepala:

"Aku justeru tidak tahu karena tidak kenal. Bukankah lo jinkee sudah saling berkenalan tadi ...?"

“Eh, bukankah kalian sudah saling mengenal? aku lihat

tadi sambil makan perhatian kau banyak ditujukan padanya

?” kata lagi Cia Hay Eng dengan lagak jenaka; membikin Cie Keng Thay merah mukanya, karena tidak menduga tukang obat itu sempat memperhatikan dia sambil memperdagangkan obatnya.

"Memang benar perhatianku tadi banyak ditujukan kepadanya, karena..." pemuda ini tidak meneruskan perkataannya, karena dia merasa tidak perlu memberitahukan perihal semalam dia telah memberi bantuan kepada Go Hong Lian.

“Karena apa ?" tanya Hay Eng yang kelihatan ingin

mengetahui.

“Akh; tidak apa apa ..” sahut Cie Keng Thay agak gugup.

"Hayaa, kalian anak anak muda kadang-kadang membikin aku pusing kepala . ," kata lagi Cia Hay Eng namun dia sambung dengan suara tawanya untuk kemudian diminumnya araknya yang baru disediakan oleh seorang pelayan. Sehabis dia minum maka si penjual obat itu yang menyambung bicara.

".. menurut kata beberapa orang kenalanku, diatas gunung Hiong lam san yang letaknya tidak jauh terpisah dengan dusun ini katanya ada sebuah sarang berandal yang dipimpin oleh seorang laki laki galak bernama Ma Kong Ek, apakah hiantit mengetahui .. ?”

Cie Keng Thay manggut membenarkan dan berkata. "Memang benar bahwa diatas gunung Hiong lam san

terdapat kawanan berandal yang terkenal ganas dan kejam

akan tetapi mereka tidak pernah mengganggu dusun kami.."

Si tukang obat Cia Hay Eng tertawa setelah itu dia berkata lagi.

“Kau mengatakan kawanan berandal itu tidak mengganggu dusun ini kedengarannya memang mengherankan, akan tetapi setelah terjadinya peristiwa perkelahian tadi dan setelah aku mengetahui bahwa disini terdapat seorang hartawan yang bernama Tan Kim An, maka aku yakin bahwa antara si hartawan dan pihak berandal itu mempunyai hubungan yang erat . ,”

Pemuda Cie Keng Thay kelihatan kaget. Dia tidak heran kalau Cia Hay Eng mengetahui tentang kawanan berandal di atas gunung Hiong lam san, sebab memang sudah diketahui oleh banyak orang, akan tetapi apa yang menyebabkan si tukang obat merasa yakin bahwa antara pihak penjahat dengan pihak hartawan Tan Kim An terdapat hubungan yang erat ? Apakah melulu sebab dusun Lam hoan ceng tidak pernah diganggu oleh kawanan penjahat itu ? "Bagaimana lo jinkee bisa mengetahui bahwa antara mereka terdapat hubungan yang erat ...?" akhirnya sengaja Cie Keng Thay menanya.

“Oleh karena aku lihat, dua dari ketiga orang orang yang berkelahi tadi adalah rombongan pihak berandal, sedangkan yang seorang lagi adalah tukang pukulnya hartawan Tan Kim An ...” si tukang obat Cia Hay Eng.

Tiba tiba Cie Keng Thay bangun berdiri dari tempat dia duduk. Dia memerlukan menjura memberi hormat dan berkata :

“Lo-jinkee, maafkan mataku yang buta karena tidak mengetahui bahwa lo-jinkee sebenarnya adalah seorang locianpwee dari kalangan rimba persilatan,,..."

"Hayaaa...." kata Cia Hay Eng sambil dia memberikan tanda dengan tangannya, supaya Cie Keng Thay duduk lagi, setelah itu baru dia meneruskan perkataannya :

“kau anak muda benar benar membikin aku jadi pusing kepala. Kau tanya; aku jawab, akan tetapi tiba tiba kau menuduh aku sebagai seorang tetua dikalangan rimba persilatan. Kalau pihak berandal atau pihak hartawan Tan itu mendengar perkataan kau, maka kepalaku bisa copot. Hayaaa..."

Meskipun dia berkata begitu, akan tetapi si tukang obat itu tidak kelihatan marah, sebaliknya lagi lagi dia tertawa sambil dia bangkit untuk bangun berdiri, dan meninggalkan Cie Keng Thay yang tidak mencegah, karena pemuda ini merasa terpesona penuh keraguan.

Setelah merasa sudah cukup lama berada ditempat itu, maka akhirnya Cie Keng Thay pulang ke rumahnya, sementara pikirannya penuh dengan tanda tanya mengenai si tukang obat Cia Hay Eng dan si pemuda Go Hong Lian yang gagah perkasa.

Esok paginya lagi lagi Cie Keng Thay telah datang di rumah penginapan itu, dan dia menemui si tukang obat Cia Hay Eng sedang duduk seorang diri menghadapi araknya.

"Hayaa, Cie hiantit, aku sangka kau menginap disini, akan tetapi tadi malam aku mencari cari kau dan kau tidak kelihatan…” demikian si tukang obat menyambut kedatangan Cie Keng Thay dengan serangkaian perkataan, sedangkan sikapnya kelihatan gugup sekali.

“Adakah suatu keperluan yang menyebabkan lo cianpwee mencari cari siaotit ?” tanya Cie Keng Thay sambil dia perlihatkan senyumnya, padahal dia merasa heran karena katanya Cia Hay Eng mencari dia semalam.

“Lo lyianpwee, lo jinkee; hayaa! tadi malam aku benar benar memerlukan kau, sebab telah terjadi suatu pertempuran antara siao kouwnio; eh, siao siangkong yang telah didatangi oleh serombongan orang orang dari pihak hartawan Tan dan kawanan berandal dari gunung Hiong lam san...”

Si tukang obat Cia Hay Eng berhenti sebentar dan mengawasi muka Cie Keng Thay yang kelihatan terkejut, namun pemuda itu tersenyum waktu mendengar Cia Hay Eng lagi lagi telah memakai istilah 'siao kouwnio' yang kemudian dia ralat menjadi ‘siao siangkong’.

Posting Komentar