Esok paginya Go Hong Lian keluar dari kamarnya hendak melakukan penyelidikan. Dusun tempat dia menginap itu ternyata adalah dusun Lam hoan ceng, yang meskipun tidak besar akan tetapi cukup ramai. Didusun Lam hoan ceng itu terdapat seorang pemuda gagah yang bernama Cie Keng Tay yang selama sepuluh tahun telah belajar ilmu silat pada seorang sakti diatas gunung Ngo tay san.
Sejak kecil Cie Keng Tay sudah ditinggal mati oleh ibunya. Didusun Lam hoan ceng itu hanya ada ayah dan adik perempuan yang baru berusia lima belas tahun namun sejak kecil sudah kena penyakit sinting.
Kemudian terjadi ayahnya Cie Keng Thay juga wafat; sehingga pemuda yang baru berumur duapuluh satu tahun itu harus bertanggung jawab atas adiknya, meskipun hasrat hatinya sebenarnya dia ingin merantau mengamalkan ilmu kepandaiannya seperti pesan gurunya.
Tidak jauh terpisah dari rumahnya pemuda Cie Keng Thay, terdapat rumah seorang hartawan besar yang bernama Tan Kim An yang sebenarnya adalah seorang okpa (hartawan yang kejam), yang erat hubungannya dengan pihak pemerintah penjajah.
Selama beberapa waktu lamanya Cie Keng Thay mengetahui tentang berbagai perbuatan kejam dan ganas dari hartawan Tan Kim An yang banyak memiara kauwsu atau tukang pukul bayaran; akan tetapi Cie Keng Thay tidak kelihatan menentang sebab dia selalu memikirkan adiknya sehingga tak mau diperlihatkan sikap bermusuhan selagi pihak okpa itu juga tak menghiraukan dia.
Adalah pada hari itu Cie Keng Thay melihat adanya suatu kesibukan yang luar biasa dirumahnya hartawan Tan Kim An; karena hartawan itu telah mendapat kunjungan dari sejumlah orang orang gagah yang kelihatan bermuka bengis, antara lain ada seorang tosu atau pendeta yang kemudian dia ketahui bernama Oey Goan Cu, lalu ada lagi seorang laki laki muda yang menarik perhatian Cie Keng Thay sebab dia melihat kulit muka laki laki muda itu sangat pucat seperti orang yang kurang darah atau bahkan seperti mayat hidup, yang katanya bernama Ho Teng Toan dan berasal dari luar perbatasan kota Gan bun koan, didalam wilayah kekuasaan orang orang Watzu.
Dipihak hartawan Tan Kim An, sesungguhnya dia sangat girang dengan kedatangan kelompok orang orang gagah itu; demikian juga dengan Ong Bun Kiat yang memang telah lebih dulu menjadi tamunya hartawan Tan Kim An dan diantara kelompok orang orang gagah itu, terdapat dua orang saudara seperguruan dari Ong Bun Kiat, yang bernama Yo Keng dan Yo Heng, dua orang laki laki yang pernah bertempur melawan Go Hong Lian; mendampingi si tosu yang ternyata bernama Oey Goan Cu.
Perjalanan Ong Bun Kiat bersama rekannya adalah untuk menangkap Lauw Keng Lim; akan tetapi setelah mereka dikalahkan oleh Go Hong Lian yang menyamar sebagai seorang pemuda, maka Ong Bun Kiat berdua rekannya meminta bantuan pada pihak berandal Ma Kong Eng diatas gunung Hiong lam san yang letaknya tidak jauh terpisah dari dusun Lam hoan ceng.
Sementara itu Ong Bun Kiat berdua rekannya tidak ikut membantu Ma Kong Eng yang mengejar kedua dara Go Hong Lian dan Lauw Lan Nio, sebab mereka mendatangi hartawan Tan Kim An dan menceritakan tentang adanya peta harta, yang katanya harus dirampas atas perintah dari pemerintah penjajah yang menjanjikan pangkat sekiranya hartawan Tan Kim An bersedia memberikan bantuan.
Sudah tentu hartawan Tan Kim An menjadi sangat kaget ketika mendengar berita adanya peta harta itu. Dihadapan Ong Bun Kiat dia telah menyatakan kesediaannya untuk memberikan bantuan; sementara dalam hati dia merencanakan suatu daya supaya dia dapat memiliki sendiri peta harta itu.
Malam harinya Cie Keng Thay memerlukan mengintai gerak gerik pihak hartawan Tan Kim An; sampai dilihatnya rombongan mereka mendatangi tempat menginapnya Go Hong Lian berdua Lauw Lan Nio, sampai kemudian dilihatnya Go Hong Lian yang menyamar sebagai seorang pemuda sedang mengejar tiga orang dari pihaknya hartawan Tan Kim An.
Waktu itu Cie Keng Thay tidak mengetahui kalau didalam kamar masih ada dara Lauw Lan Nio oleh karena itu Cie Keng Thay ikut melakukan pengejaran untuk di waktu perlu dia hendak memberikan bantuan bagi Go Hong Lian yang dia sangka adalah seorang pemuda.
Sebagai akibat pemuda Cie Keng Thay turut melakukan pengejaran, maka dia tak mengetahui bahwa ada rombongan lain dari pihak hartawan Tan Kim An, yang dengan mudah telah berhasil menangkap dara Lauw Lan Nio.
Pemuda Cie Keng Thay kemudian sengaja memakai tutup muka dengan secarik kain agar tidak mudah dikenal oleh pihak musuh, lalu dia memberikan bantuan disaat selagi Go Hong Lian menghadapi ancaman maut. Akan tetapi pemuda ini kemudian jadi merasa kecewa dengan sikap Go Hong Lian yang telah meninggalkan dia sehabis mengucapkan terima kasih.
Esok paginya, meskipun dia ragu ragu; namun Cie Keng Thay memerlukan datang ke tempat Go Hong Lian menginap. Pemuda ini tiba disaat Go Hong Lian sedang keluar dari rumah penginapan, oleh karena Go Hong Lian bermaksud melakukan penyelidikan dan mencari jejak Lauw Lan Nio yang telah hilang. Dara dalam penyamaran itu tidak mengenali pemuda Cie Keng Thay yang semalam telah memberikan bantuan, sebaliknya pemuda Cie Keng Thay harus mengikuti langkah kaki Go Hong Lian, sampai kemudian dilihatnya dara dalam penyamaran itu kembali ketempat penginapan dan duduk seorang diri diruangan tamu untuk memesan makanan.
Pemuda Cie Keng Thay ikut memasuki rumah penginapan itu, yang sekaligus merupakan rumah makan, sementara di halaman luar dari rumah penginapan itu, terdengar bunyi suara alat tabuhan dari serombongan tukang obat keliling yang terdiri dari seorang laki laki setengah tua, bertubuh agak gemuk dan bermuka ramah penuh tawa dibantu oleh dua anak laki laki berumur antara sembilan tahun yang sedang memukul alat tabuhan.
Saat itu perhatian Cie Keng Thay lebih banyak ditujukan kepada Go Hong Lian sehingga dia tidak mendengarkan segala ocehan dari si tukang obat yang sedang memuji dan menawarkan obatnya kepada para calon pembeli yang banyak berkumpul ditempat itu.
Disuatu saat Cie Keng Thay menjadi terkejut waktu dara dalam penyamaran itu juga menatap dia, membikin untuk sesaat pandang mata mereka saling bertemu sampai tiba tiba Cie Keng Thay melihat pemuda itu menunduk dengan lagak seperti seorang anak gadis yang merasa malu malu.
Oleh karena perhatiannya Cie Keng Thay dipusatkan kepada dara dalam penyamaran itu maka diapun tidak menyadari bahwa di ruangan tamu itu sejak tadi telah hadir tiga orang laki laki dari pihak hartawan Tan Kim An; yang juga sedang memperhatikan Go Hong Lian. Tiga orang laki laki itu kemudian keluar mendekati si tukang obat. Salah seorang diantara mereka kemudian memegang leher baju si orang tua tukang obat:
“Hentikan permainan yang berisik ini...!” bentak laki laki itu dengan lagak yang garang sambil dia mendorong si penjual obat yang terjerumus kearah salah seorang temannya dan temannya itu dengan perdengarkan suara tawa menghina ikut mendorong tubuh si tukang obat bagaikan mereka sedang main bola.
"Ayah, ayah , ..!” terdengar pekik suara kedua bocah si tukang obat keliling; yang jadi menangis akan tetapi tidak berdaya memberikan pertolongan.
Pemuda Cie Keng Thay menjadi tersentak dan hendak memberikan pertolongan, akan tetapi dia teringat bahwa dia masih perlu untuk tidak perlihatkan sikap menentang pihak hartawan Tan Kim An, sampai kemudian dilihatnya bahwa dengan suatu gerak burung garuda menembus angkasa yang indah lincah, maka Go Hong Lian telah bergerak melesat dan dalam waktu sekejap dia telah berada didekat ketiga laki laki galak yang sedang mempermainkan orang-tua tukang obat keliling itu.
Dengan memakai sebelah kakinya, maka dara dalam penyamaran itu menendang seorang laki laki yang baru saja mendorong tubuh si penjual obat, membikin laki laki yang galak itu menjadi terlempar jatuh: lalu dengan pedang siap ditangan maka Go Hong Lian menghadapi kedua laki laki galak yang kelihatan marah.
Dilain pihak, si penjual obat yarg melihat gelagat itu lalu berteriak hendak mencegah terjadinya orang orang berkelahi :
"Hayaaa; kalian jangan berkelahi, jangan berkelahi .. !" Akan tetapi teriak si penjual obat itu sia-sia belaka, oleh karena perbuatan ketiga laki laki galak itu memang sengaja buat memancing kemarahan Go Hong Lian; dan disaat berikutnya ketiga laki laki galak itu juga sudah mempersiapkan senjata mereka, lalu mereka mendahulukan melakukan penyerangan sambil perdengarkan teriak memaki.
Dengan perlihatkan senyum mengejek, dara dalam penyamaran itu bergerak dengan tipu 'tjoan hwa jiauw wie’ (menerobos bunga bunga mengitari pohon), sehingga dengan mudah Go Hong Lian dapat menghindari dari tiga serangan yang mengarah dirinya; sementara kaki kanannya berhasil menendang betis salah seorang lawan, yang rubuh terjungkal dengan perdengarkan pekik suara kesakitan.
Dua laki laki yang ikut mengepung itu menjadi bertambah marah. Keduanya mengulang serangan mereka dan mengulang suara makian mereka dengan perkataan yang tidak sopan.
"Hayaaa; jangan berkelahi. Jangan berkelahi...” masih si tukang obat keliling terus berteriak teriak sambil dia mengulapkan sepasang tangannya membikin lagaknya itu bagaikan seorang sedang menari, mengitari orang orang sedang bertempur; dan perbuatan si tukang obat itu telah menambah kemarahan laki laki yang kena tendang tadi sehingga setelah dia bangun berdiri, maka dengan langkah kaki pincang laki laki itu mendekati si penjual obat yang lalu dia tendang!
Si penjual obat sangat terkejut dan sangat ketakutan. Belum sampai kaki laki laki sampai sasaran tendangannya maka tubuh si tukang obat sudah terpental berputar diudara lalu terjatuh duduk di atas kursi dekat pemuda Cie Keng Thay yang masih duduk dan berhasil membikin Cie Keng Thay jadi tersenyum menganggap lucu. Sejenak si penjual obat keliling itu mengawasi Cie Keng Thay; lagaknya seperti orang marah sebab merasa ditertawakan, akan tetapi dia cepat cepat berdiri lagi dan dengan langkah kaki terbungkuk bungkuk dia mendekati lagi tempat pertempuran.
Dilain pihak Go Hong Lian telah perlihatkan kemahirannya dalam mempergunakan ilmu silat pedang Thian hiang kiam hoat ciptaan Thian hiang siancu yang mengutamakan kegesitan tubuh, bergerak keberbagai penjuru, membikin ketiga lawannya jadi mati daya dan siasat berikutnya mereka melarikan diri dengan tubuh terkena luka luka ringan akibat Go Hong Lian sengaja tidak bermaksud membunuh mereka.
Diantara suara banyaknya orang orang yang memberikan pujian bagi Go Heng Lian yang menyamar sebagai seorang pemuda; maka si penjual obat telah mendekati dan berkata :
“Hayaaa, siao kouwnio, eh, siao siangkong telah menanam benih permusuhan,” kata si penjual obat yang kelihatan sangat gugup, namun tak lupa dia menjura memberi hormat dan mengucap terima kasih.
Dalam kagetnya, dara dalam penyamaran itu cepat cepat lompat menyamping karena tidak mau menerima ucapan terima kasih orang tua penjual obat itu yang menjura dihadapannya; dan kagetnya dara dalam penyamaran itu adalah karena si penjual obat telah terlepas mengucap kata 'siao kouwnio', meskipun yang kemudian diralat menjadi 'siao siangkong'. Didalam hati dia berpikir apakah orang tua itu mengetahui tentang penyamarannya?
“Ah ling, Ah heng; lekas ucapkan terima kasih kepada siao siangkong...” kata lagi si penjual obat kepada kedua bocah yang membantu dia menjual obat, sedangkan si tukang obat itu lalu mengemasi barang barang miliknya yang berantakan.
H )X( ) (
DUA ANAK laki laki kecil itu ternyata bernama Cia Kun Liong dan adiknya bernama Cia Kun Houw, sedangkan ayahnya atau sipenjual obat itu bernama Cia Hay Eng. Mereka mengaku berasal dari dusun Hek-ek chung dekat kota Yang kiok, biasa melakukan perjalanan jauh melulu untuk menjual obat; dan didusun Lam hoan ceng itu mereka menginap ditempat yang sama dengan Go Hong Lian.
Adalah merupakan suatu kebiasaan yang cukup aneh dari si penjual obat Cia Hay Eng, karena meskipun usianya belum tua benar, akan tetapi dia selalu berlaku bagaikan dia sudah menjadi seorang kakek. Seorang kakek yang bahkan gemar minum arak, sehingga dilehernya dia sengaja mengalungi dengan sebuah guci tempat arak yang diikat memakai seutas tali dari otot sapi. Dan guci tempat arak yang selalu tergantung dilehernya itu, kelihatan sudah ada yang bolong di bagian atas menandakan guci arak itu mungkin sudah setua dia umurnya!
Dilain pihak, pemuda Cie Keng Thay kelihatan puas dengan kesudahan dari tindakan Go Hong Lian yang menyamar sebagai seorang pemuda.
Cie Keng Thay baru saja menyelesaikan makannya, ketika dilihatnya si penjual obat telah selesai menyimpan alat perabotnya dan sedang mendatangi hendak memilih tempat duduk yang tidak jauh terpisah dari tempat Cie Keng Thay; lalu si tukang obat itu memesan arak pada seorang pelayan.
Kemudian waktu si penjual obat ini beralih pandangan dan bertemu dengan pandangan mata Cie Keng Thay maka kelihatan situkang obat itu bersenyum menyatakan sudah hilang rasa mendongkolnya; dan situkang obat itu bahkan berdiri lalu mendekati tempat pemuda itu duduk.